Sung Han merasa terkejut sekali saat melihat tubuh gurunya tiba-tiba jatuh terjengkang. Cepat dia menubruk dan menyambut tubuh Xiao Shi Yong yang terjadi perubahan hebat sekali.
Suara Sung Han tercekat di tenggorokan seolah ada sesuatu yang menahannya di sana. Mulutnya terbuka dan gemetar namun tak ada suara yang keluar saking ngerinya melihat pemandangan itu.
Gurunya, Xiao Shi Yong, tepat ketika menyerahkan pedang itu kepada Sung Han, tubuhnya mulai menua dan menua. Sampai penampilannya berubah menjadi tujuh puluh tahunan, dia jatuh.
Namun tak berhenti sampai di sana, tubuhnya terus menua dan mengering. Dagingnya seolah menguap entah kemana sehingga seiring berjalannya waktu, seluruh tubuh Xiao Shi Yong mengempis dan menyisakan tulang terbungkus kulit.
Hingga proses mengerikan itu berhenti saat kedua mata, lidah dan seluruh rambut di tubuh Xiao Shi Yong lenyap, menguap berubah menjadi seperti abu yang diterbangkan angin.
Hari itu, di tengah hutan yang amat sunyi, terdengar suara tangisan pemuda yang mengaung-ngaung memenuhi seluruh penjuru hutan. Bahkan para serigala dan hewan buas lain yang selalu aktif pada malam hari, hari itu mereka bahkan kesulitan bernafas saking takutnya mendengar teriakan pilu Sung Han.
...****************...
Pagi hari itu, sebuah gundukan tanah yang berupa kuburan baru tercipta di taman samping pondok Xiao Shi Yong.
Sung Han menaburkan seluruh bunga-bunga yang ada di taman untuk menghiasi kuburan baru gurunya itu. Suasana pagi ini sungguh suram di matanya. Semuanya nampak redup dan membosankan.
Ia tancapkan batu yang berbentuk datar di salah satu sisi kuburan. Menggunakan jarinya, dia mengukir batu itu dengan huruf-huruf indah berbunyi, "Xiao Shi Yong, cucu dari putri keluarga Xiao"
Sung Han menyatukan kedua lengan dan berdoa lama sekali. Hingga setengah jam kemudian, barulah nampak sepasang mata yang tadinya terpejam itu terbuka dan pemuda ini bangkit perlahan.
Dia menghampiri kandang kuda dimana hewan itu yang tak terlalu cerewet seperti biasanya ketika waktu makan. Agaknya kuda itu juga merasa berduka sekali atas kematian Xiao Shi Yong.
"Guruku sekaligus kawanmu sudah pergi...." ucapnya mengelus kepala serta punggung kuda itu dengan lembut. Hewan ini membalas perlakuan Sung Han dengan mengelus-eluskan kepalanya pada dada Sung Han.
Kuda itu berwarna hitam pekat, tapi agaknya bukan kuda biasa melihat dari postur tubuh dan ukurannya yang tinggi besar. Tak berlebihan untuk mengatakan jika kuda ini pastilah kuda perang.
Rambutnya sudah memanjang, ia ikat di bagian tengkuknya. Sedangkan Pedang Gerhana Matahari ia selipkan pada sabuknya yang berwarna hitam.
Sung Han menaiki punggung kuda, berjalan perlahan menuju taman dan memandang makam gurunya sejenak.
"Aku pergi....guru."
Tanpa menoleh lagi, ia pacu kudanya sampai jauh menuju kesembarang arah. Karena dahulu kala waktu ia kecil dan melarikan diri dari kejaran orang-orang Naga Hitam, dia tak tahu mana arah Utara, Selatan, Timur dan Barat.
Sampai kini pun dia tak sadar jika selama lima tahun ini, dia berada di salah satu lembah Pegunungan Tembok Surga yang sedikit berada di bagian Timur.
Sung Han melakukan perjalanan tanpa buru-buru, dia berjalan seenaknya karena memang tak tahu arah. Tapi betapa heran hatinya saat setelah dua hari berselang, masih saja dirinya belum keluar dari hutan.
Pagi, siang, malam pemandangan yang dilihatnya selalu sama. Pohon-pohon menjulang tinggi yang menutupi cahaya matahari sehingga membuat suasana teduh sungguh pun hari masih terik sekali.
Walaupun dia berjalan tak tentu arah dan hanya menurutkan perasaan hati saja, tapi sebenarnya dia sudah memutuskan tujuan pertamanya. Yaitu menyelidiki apakah sebab musabab yang menimbulkan konflik antara Naga Hitam dan Rajawali Putih. Dia menduga pasti ada kaitannya erat dengan kepala di dalam peti kecil tersebut.
Malam hari itu dia bermalam di sebuah padang rumput luas dengan ditemani api unggun kecil. Kudanya ia biarkan makan di sekitaran sana.
"Hem....apa itu?"
Tiba-tiba telinganya mendengar suara-suara banyak orang. Entah sedang apa namun suara itu sungguh berisik di telinga Sung Han. Tapi terdengar amat jauh.
Karena sama sekali tak ada pengalaman, Sung Han tidak sadar jika pendengarannya itu sudah di luar nalar. Sebagai ahli silat pun, jarak pendengaran Sung Han ini bisa dibilang sangat tajam.
Padahal jarak antara dirinya dengan gerombolan orang itu masih terpisah kurang lebih lima puluh meter, itu pun masih ditambah gemeresak rumput dan daun-daun pohon. Dapat dibayangkan seberapa tajam telinga Sung Han yang bisa mendengar suara orang di tengah-tengah bisingnya daun dan rumput yang saling beradu.
Karena penasaran, Sung Han memutuskan untuk melihat-lihat. Ia segera memadamkan api unggunnya dan menaiki pelana kuda. Berlandaskan cahaya bulan dan bintang, pemuda ini menghampiri tempat dimana suara itu berasal.
Beberapa saat kemudian, dia melihat ada banyak titik-titik merah bercahaya. Tahulah bahwa di sana itu terdapat segerombolan orang yang sedang berjalan entah kemana. Diam-diam Sung Han berpikir, mereka cukup berani melakukan perjalan pada malam hari.
Pemuda itu memelankan laju kuda dan mengikatnya pada salah satu batang pohon kuat di dekat situ. Ia berindap-indap untuk mendekati sekumpulan cahaya itu.
"I-ini...."
Betapa kaget hatinya ketika melihat sekumpulan belasan orang itu memakai pakaian serba hitam. Yang mengejutkan adalah, pakaian itu sama persis seperti pakaian orang-orang yang membantai Rajawali Putih pada saat itu!
Kemarahannya bangkit, tangannya terkepal dan nafasnya memburu. Tapi bagaimana pun juga, dia masih merasa jeri untuk mengamuk di sana. Mereka terdiri dari belasan orang dan dia seorang diri, tentu mustahil keluar hidup-hidup jika sampai mengacau!
Demikian pikirnya yang masih kekanak-kanakan karena selama lima tahun sama sekali tidak keluar hutan. Disamping pengalamannya yang masih kosong melompong, sebenarnya Sung Han mampu menghadapi belasan orang itu dan keluar sebagai pemenang dengan tubuh sehat tanpa luka. Namun dia sama sekali tidak sadar akan potensi diri sendiri.
Akhirnya, Sung Han memutuskan untuk memandang dan mendengar penuh perhatian. Ternyata rombongan ini setelah berjalan sejauh beberapa meter, mereka memutuskan untuk beristirahat.
"Orang-orang Rajawali Putih, sudah beberapa tahun ini menghilang." kata salah seorang dari rombongan itu.
"Memang betul itu, aku sungguh penasaran kenapa ketua serta tuan muda sama sekali tak mau mengambil tindakan tegas? Hal ini membuatku selalu tidak tidur nyenyak! Jelas-jelas Rajawali Putih yang membawa kepala tetua, tentu ada maksudnya!!" jawab temannya dengan raut muka marah.
Sung Han menahan nafas saking tegangnya. Tak pernah disangka bahwa sekali turun gunung, dia akan mendapatkan informasi sesuai seperti apa yang menjadi tujuannya!
Dia kembali memfokuskan pendengarannya saat dua orang terdekat itu berkata lagi.
"Kau pikir ketua takut?" tanya orang pertama.
"Mana mungkin! Kepandaian ketua tak kalah hebat seperti para pendekar sejati yang muncul hilang muncul hilang bagai setan! Entah mengapa tapi beliau selalu mengatakan pada kita untuk sabar dan sabar! Kau tahu sendiri bukan?" jawab orang kedua yang nampaknya selalu marah-marah.
"Aku setuju itu, tapi masalah ini memang membingungkan sekali! Entah bagaimana kejadiannya, tapi setelah mereka bentrok dengan kita, aku mendengar kabar bahwa Rajawali Putih juga terlibat ketegangan dan berbagai persoalan dengan partai lain. Apakah mungkin Rajawali Putih berbuat semena-mena? Aku rasa tak mungkin." ujar orang pertama yang agaknya lebih mengandalkan pikiran daripada emosi.
"Ah kau lemah! Bilang saja takut untuk melawan mereka."
"Hei, siapa takut? Aku hanya tidak ingin Naga Hitam dicap orang rimba persilatan sebagai golongan yang sesat!"
"Kenapa dengan itu!? Bukankah memang begitu kenyataannya selama ini?" orang pertama mulai emosi dan bersungut-sungut.
"Itu karena kalian belum bisa menghilangkan sifat semena-mena kalian yang dahulu! Aku anggota yang cukup baru dan aku kagum sekali dengan anggota lama yang masih mau insyaf untuk kembali ke jalan benar. Tapi kulihat dengan mataku, kalian masih nampak arogan!" orang kedua mulai meninggi suaranya.
Keributan ini akhirnya dihentikan oleh pihak ketiga yang menggebuk kepala mereka dengan tongkat kuningan seraya membentak. "Heh, bisa diam tidak!? Tidur dan istirahat agar kalian tidak tidur di tengah jalan!"
Dua orang itu nampak segan terhadap kakek bertongkat kuningan dan segera mentaati perintah.
Sung Han mengerutkan kening, apa maksudnya itu? Rajawali Putih menghilang, Naga Hitam perkumpulan yang dianggap sesat? Lalu apa-apaan dengan insyaf dan anggota baru, apa hubungannya?
Sung Han berpikir semua jawaban ini akan terjawab jika dia mengikuti rombongan itu. Maka setelah memutuskan demikian, pada keesokan harinya menggunakan kuda, dia membayangi rombongan itu dari belakang.
"Aku sungguh beruntung dalam hal ini. Semoga aksi mata-mataku bisa membuahkan hasil!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
Wan Trado
yg dijelaskan menjadi abu hanya mata, lidah dan rambut saja..
2025-02-18
1
Putra_Andalas
emg apa isi tu Kuburan..bknkah Jasadnya sdh Menguap jadi Abu & diterbangkan Angin..,??
2024-08-02
0
Yoihoi Yoi
Mangat Thor
2023-08-12
1