Empat belas orang itu sudah terkurung oleh dua puluh orang yang kesemuanya berpakaian seperti bandit, berperawakan kasar serta menyeramkan. Namun Naga Hitam menyambut mereka dengan sikap tak kalah seramnya.
Ketika Tongkat Emas Pencabut Sukma terhuyung, beberapa anggota segera melompat maju untuk menahan tubuh pria tua tersebut. Namun kakek itu sudah lebih dulu dapat mengendalikan diri. Tak berselang lama terdengar dia membentak.
"Kalian, apa-apaan soal wilayah ini? Di sini hutan biasa, dan setahuku markas Hati Iblis masih jauh di ujung Timur sana."
Kakek berambut dua warna terkekeh-kekeh ketika menjawab, "Heh Tongkat Emas Pencabut Sukma, memang tempat kami masih berdiri di sana. Tapi atas perintah pemimpin, kami hendak melebarkan sayap."
Yang dimaksud melebarkan sayap oleh Phu Kai adalah, Hati Iblis ingin memperluas wilayah kekuasaan. Hal ini membuat Tongkat Emas Pencabut Sukma beserta anak buah lain menjadi marah sekali. Terlihat mata mereka memerah dan berbagai amcam umpatan terdengar. Namun semua itu sudah terwakilkan dengan perkataan Tongkat Emas Pencabut Sukma.
"Hei Hati Iblis, katakan pada pemimpinmu kalau kami Naga Hitam menentang! Kalian para iblis tak boleh dibiarkan semakin merajarela!"
Phu Kiat, si rambut putih bersih bersinar itu tertawa bergelak sampai kedua pundaknya bergetar hebat. Lalu dia berseru untuk menjawab perkataan Tongkat Emas Pencabut Sukma.
"Kalau kalian ingin tahu, tujuan dari kegiatan ini memang untuk membuat Naga Hitam bermusuhan dengan kami. Lalu aku kurang setuju dengan pendapatmu yang mengatakan bahwa kami iblis. Naga Hitam, tak ingatkah soal masa lalu!? Kalian bahkan tak lebih manusia daripada kami!"
"Keparat!"
Sung Han menonton dengan hati tegang dan jantung berdebar. Kudanya sedikit meringkik namun segera ia pukul kepalanya agar hewan itu tetap bungkam. Kiranya sebentar lagi akan terjadi pertarungan antara empat belas orang itu melawan dua puluh orang dari perkumpulan Hati Iblis.
"Hati Iblis, apalagi itu?" gumam Sung Han bertanya-tanya.
Dan benar saja, tak berselang lama, dua rombongan orang itu sudah saling terjang dengan hebatnya.
Sama seperti saat di desa Batu Alam, tiga kakek berjuluk Tiga Iblis Muka Satu menghadapi Tongkat Emas Pencabut Sukma yang dibantu oleh dua kakek lainnya.
Hati Sung Han tertarik sekali. Baru pertama kali inilah dia menyaksikan secara langsung pertarungan antar para ahli silat. Diam-diam dia berpikir, seperti apakah kepandaian gurunya yang seolah tiada batas itu?
Beberapa menit berjalan, rombongan Naga Hitam mulai terdesak dan hanya mampu bertahan. Hal wajar karena Sung Han dapat melihat kepandaian individu antar kelompok cukup seimbang. Sehingga Naga Hitam yang hanya berjumlah empat belas orang, tentu kerepotan menghadapi pengeroyokan dua puluhan orang.
"Aauughhh!"
Terdengar pekik nyaring yang menyanyat hati. Kiranya satu orang dari anggota Naga Hitam sudah roboh tewas dengan leher hampir putus. Namun kembali terdengar suara nyaring ketika orang Naga Hitam lain menyabetkan senjatanya kearah orang Hati Iblis yang tadi melakukan pembunuhan pertama.
Dua kematian itu seolah menjadi awal dari kematian-kematian lain yang saling menyusul. Jeritan-jeritan di penghujung umur saat nyawa tercabut benar-benar membuat Sung Han merasa risih dan tidak nyaman.
Lama kelamaan, perasaan itu menjadi jengkel, dan disusul dengan kemarahan yang entah berasal darimana.
Dia memekik, dan dengan pekikan itu pula tubuhnya melayang menuju ke tengah gelanggang pertempuran. Dengan pekik yang sama pula, kudanya meringkik dan menendang-nendang tak karuan.
"Aduh–Aahhh!"
"Uaghh!"
"Kuda gila!"
Tangan Sung Han dengan cekatan menampar dada Tiga Iblis Muka Satu. Sedangkan empat kaki kuda itu menyepak perut serta ulu hati dari Tongkat Emas Pencabut Sukma dan dua kakek lain.
Sung Han berdiri tegak dengan kaki terpentang di tengah-tengah dua rombongan. Seketika pertempuran berhenti dan semuanya memandang kearah Sung Han serta seekor kuda hitam besar itu.
Hingga setelah keterkejutannya mereda, Phu Kai membentak. "Kau yang di desa itu? Sekarang hendak mencari ribut lagi hah?"
"Hah!?"
Sung Han membentak dan menginjak tanah. Seketika tanah yang dipijaknya melesak sampai betisnya. Sekitar tiga puluh senti dari lutut, retakan-retakan dalam terukir dengan jelas. Tentu saja hal ini membuat mereka semua terkejut sekaligus jeri.
Bagaimana tak jeri ketika menyaksikan seorang muda yang datang-datang sudah mengancam dengan tindakan? Agaknya hanya ketiga kakek dari dua rombongan saja yang masih punya nyali untuk bangkit dan memandang tajam.
"Anak muda, tolong jangan campuri urusan kami." Tongkat Emas berkata lunak. Agaknya dia sudah sedikit memandang mata kepada Sung Han akibat insiden di desa tersebut.
Mungkin dibilang naif, itu cocok sekali dengan Sung Han saat ini. Dia tadi tanpa pikir panjang dulu, langsung melompat ke tengah pertempuran hanya karena dorongan marahnya yang entah datang darimana.
Tapi yang jelas, sampai saat ini Sung Han belum merasa ada yang salah atas tindakannya.
"Kalian!" serunya menunjuk Tiga Iblis Muka Satu, "Kalian ini dari Hati Iblis bukan? Heh, melihat dari nama dan orangnya saja sudah terlihat perwujudan dari iblis-iblis sendiri." lanjutnya dengan senyum miring.
"Dan kau!" serunya lagi dan kali ini menunjuk Tongkat Emas Pencabut Sukma yang terkejut. "Kau, kau, kau dan kalian semua!" jari telunjuk Sung Han masing-masing menunjuk dua kakek di sebelah Tongkat Emas, dilanjutkan dengan seluruh anggota yang masih hidup.
"Aku masih ada urusan lama dengan Naga Hitam. Kebetulan sekali takdir mempertemukan kita di sini. Agaknya engkau dan dua orang sepuh itu cukup penting di dalam partai."
Tongkat Emas menjadi terkejut sekali. Dia serta dua kakek lain saling pandang dengan kening berkerut. Salah satu dari dua kakek itu bertanya, "Anak muda, urusan lama apakah itu?"
"Aku dahulu adalah kacung di jasa pengiriman barang Rajawali Putih. Sudah cukup penjelasannya, agaknya sampai sini kalian tidak cukup bodoh untuk membingungkan perkataanku."
Terkejutlah mereka semua. Tujuh orang yang tersisa dari Naga Hitam itu mengeluarkan seruan-seruan yang segera memecahkan kesunyian hutan.
Tongkat Emas yang menjadi pemimpin rombongan, menjadi berang dan maju setindak. "Kiranya orang Rajawali Putih ya? Bagus! Sudah lama aku ingin memunahkan kalian semua. Walaupun pemimpin dan tuan muda cukup berlunak hati dan berhalus sikap, namun saat ini tanpa adanya mereka siapa yang mampu melarangku? Hei bocah muda yang sombong lagak, hari ini kau akan mati di tangan Tongkat Emas Pencabut Sukma!"
Kemarahan Sung Han yang datang tanpa bersumber itu makin meluap-luap dan dia memandang tajam. Menghadapkan seluruh tubuhnya ke rombongan Naga Hitam ketika balas membentak.
"Kukira Naga Hitam merupakan sekumpulan orang gagah, mengingat kalian menjaga penduduk desa kala itu dari tangan iblis-iblis ini." katanya sambil menunjuk rombongan Hati Iblis di belakang tubuhnya, "Kiranya yang namanya Kadal Hitam dengan Hati Tikus tak ada bedanya selain yang satu jujur dan yang lainnya munafik!"
"Apa-apaan yang jujur dengan munafik!?" kali ini Tongkat Emas dan Phu Kai berseru bersamaan.
Sung Han tersenyum mengejek, tak sadar bahwa sifat rendah hatinya selama ini telah menguap. "Hati Tikus berbuat angkara murka secara jujur dan terbuka! Namun Kadal Hitam hanya pandai omong kosong dan main drama! Pura-pura melindungi desa? Bah, apa-apaan itu. Ternyata benar firasatku selama ini, Rajawali Hitam dihancurkan oleh sekelompok orang jahat!"
"Jangan asal bicara dan mengubah nama kebesaran! Kalian lah yang hanya putih namanya, hitam wujudnya. Kalian telah membunuh salah seorang tetua kami! Mana bisa kami maafkan begitu saja selain nyawa sebagai tebusan?"
Sampai di sini, tiba-tiba ada dua orang lelaki berumur kurang lebih dua puluh lima dan tiga puluh tahun. Meloncat dan berdiri di depan Sung Han. Menjura hormat kearah Tongkat Emas Pencabut Sukma dan dua kakek lain.
"Mohon jangan bertindak di luar kehendak pemimpin tuan. Berbahaya. Situasi ini berbahaya dan rumit sekali. Bertahun-tahun belum juga menemui titik terang, tentu ada yang tidak beres." lelaki berusia tiga puluhan itu berkata mengingatkan.
"Minggir engkau! Hanya anggota tingkat empat, punya apa kau bicara dan mengguruiku?"
"Tetua, ini perintah pemimpin! Kami hanya menyampaikan perintah pemimpin dan kami yakin anda tentu sudah sadar. Rajawali Putih, pemuda ini, belum tentu bersalah." ucap pula pria dua puluhan tahun.
Namun yang di dapat dua orang itu sungguh sial. Tepat ketika omongan pria itu berhenti, dua kakek yang selalu berdiri di kanan kiri Tongkat Emas berlompatan dan melempar tubuh dua orang itu ke samping.
"Diam!" seraya melempar, dua orang ini membentak.
Akibatnya, dua pohon lumayan besar tumbang terkena hantaman dua tubuh itu yang segera menjadi tak sadarkan diri. Sampai sini, saking tegangnya suasana tadi, tidak ada yang tahu akan seringaian Tiga Iblis Muka Satu.
"Tunggu apalagi, bunuh bocah arogan ini!"
"Naga Hitam! Sekumpulan tikus busuk, siapa takut dengan kalian!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
ok
2025-03-29
0
Yoihoi Yoi
lanjut
2023-08-12
1
Christian Sondakh
👍👍
2023-07-28
0