"Siing–siing!"
Orang-orang Naga Hitam yang melihat kelakuan Sung Han menjadi berang dan marah. Menganggap bocah itu hanya sombong dan besar mulut saja. Mereka sudah mencabut senjata masing-masing dan menyiapkan posisi.
Bahkan pria tinggi besar juga gendut, yang bernama Pat Kue, sudah maju dan menepuk-nepuk perutnya.
"Bocah, perutku ini sekeras batu dan sekokoh gunung. Selama ini baru dua orang ini dan guru besar saja yang mampu mengalahkannya." ujarnya menunjuk Gu Ren dan Bao Leng. Kemudian melanjutkan, "Kau buat aku mundur satu langkah dengan seranganmu, maka aku kalah."
Tantangan terbuka semacam ini pantang untuk ditolak, apalagi sebagai sesama pendekar. Karena jika Sung Han menolak, maka dia akan dicap sebagai pria pengecut.
Gu Ren yang melihat ini diam-diam merasa penasaran. Ingin dia lihat bagaimana kemampuan bocah yang ada di hadapannya ini. Maka dari itulah dia sama sekali tidak berusaha menghentikan.
"Kau takut?" Bao Leng memanas-manasi, lalu disusul oleh kekehan penuh ejekan dari Pat Kue.
"Kau kami undang sebagai tamu, bukan sebagai tawanan. Tapi agaknya kau berkehendak sebaliknya, bocah arogan!" Pat Kue berkata. Masih terus menepuk-nepuk perutnya.
Sung Han dapat melihat tatapan remeh dan merendahkan dari orang-orang Naga Hitam. Mereka berbisik-bisik yang intinya merendahkan kemampuan Sung Han.
Sung Han menjadi panas hati, dia mengepalkan tangan erat dan menatap tajam.
"Jika itu mau mu, baiklah! Jangankan satu langkah, satu nyawamu pun bisa kumundurkan sampai keluar dari tubuh bolamu!"
Berkata demikian, Sung Han maju perlahan dan menggerak-gerakkan tangan kanannya. Begitu sampai di hadapan Pat Kue, terkejutlah ia dengan tinggi pria itu yang sungguh besar.
"Siluman? Besar sekali!!"
"Bersiaplah!!"
Sung Han mengangkat tangan dan tanpa basa-basi, ia layangkan kepalan tangan kanan ke arah pusar si gendut.
"Bughh–blubb!"
Tangan Sung Han rasanya seperti tenggelam dalam cairan tak berdasar. Tak berselang lama, terdengar suara seperti gelembung-gelembung udara dari dalam perut Pat Kue.
Celakanya, orang-orang malah salah sangka dan berpikir Sung Han tidak sekuat itu sampai Pat Kue pun tidak bergerak. Namun mereka langsung terdiam ketika dari kerongkongan Pat Kue, terdengar suara seperti air mendidih dan keluar buih-buih melalui mulutnya.
Beberapa detik setelah itu, Pat Kue roboh pingsan dengan mata mendelik dan mulut berbusa.
Sung Han berkacak pinggang dan kembali berkata dengan sedikit congkak, "Siapa lagi?"
Tak ada yang berani menjawab pertanyaan itu, begitu pula dengan Gu Ren dan Bao Leng. Keduanya sama-sama terkejut dan syok menyaksikan kepandaian bocah itu yang cukup hebat.
Untuk membuat Pat Kue mundur atau bahkan terpental, bagi keduanya tidak terlalu sulit. Namun untuk mengaduk-aduk perut tebal itu seperti yang dilakukan Sung Han tadi, mereka masih ragu dapat melakukannya.
"Ehm..." Gu Ren terbatuk mencoba menenangkan suasana. "Anak muda, guru besar memanggilmu dengan terhormat." lanjutnya seolah melupakan Pat Kue yang tergeletak hampir seperti tewas.
"Beginikah cara Naga Hitam mengundang tamu terhormat. Wah....wah...sangat menghormati sekali, aku kagum."
Pujian Sung Han ini jelas dimaksudkan untuk mengejek. Namun Gu Ren mencoba lebih sabar dan menceritakannya. Soal kejadian di hutan kala itu, bentrokan dengan Hati Iblis dan kemunculannya yang tiba-tiba.
"Dua orang juniorku inilah yang datang melapor. Aku sudah menceritakan kepada guru besar dan sudah mendiskusikannya pula. Beliau ingin bertemu denganmu, harap kau sudi datang untuk bicara."
Sung Han memandang penuh selidik, kedua tangannya terkepal erat dan mulutnya bergemelutuk. Ia memandang Bao Leng, ingin sekali ia sobek-sobek mukanya itu yang telah membunuh Tang Qian di depan matanya.
Namun tiba-tiba, pandangannya tertutup oleh tubuh tegap seseorang. Kiranya orang itu adalah Gu Ren yang sudah berdiri di hadapannya.
"Anak Muda...aku tahu siapa adanya engkau. Akulah yang menyelamatkanmu dahulu–"
"Kalau begitu terima kasih, karena budi baik paman, aku saat ini masih hidup dan bisa mematikan dia!" katanya sinis seraya menunjuk Bao Leng yang sudah melotot.
Gu Ren menghela nafas dan menurunkan tangan Sung Han perlahan. "Ini kesalah pahaman, jelas kesalah pahaman. Datanglah ke markas kami dan kita diskusikan. Dendam lama tidak membawa manfaat." katanya sabar.
Sung Han menatap sepasang mata Gu Ren. Ia benci tatapan itu. Ia amat membencinya!! Tatapan penuh rasa kasihan seperti itu, seolah dia adalah anak kecil yang tak mampu melakukan apa-apa!
"Apa-apaan tatapanmu itu?" ucap Sung Han dingin, "Aku tak butuh rasa kasihan darimu!" lanjutnya seraya mencengkeram tangan Gu Ren yang sebelumnya berada di pundaknya.
Gu Ren lantas mundur selangkah dan tersenyum masam, "Benar kata guru...api di hati akan sulit untuk dipadamkan." gumamnya perlahan.
Sung Han benar-benar jengah dengan tatapan penuh iba dari Gu Ren itu. Dia tidak ingin dikasihani!! Menurutnya mendapat rasa iba dan kasihan dari orang lain itu adalah suatu kelemahan. Entah berasal darimana pemikiran ini, padahal gurunya sama sekali tidak pernah berpendapat demikian. Namun tidak tahu bagaimana, dari lubuk hati Sung Han, pendirian seperti ini seolah sudah tertanam.
Tidak ingin terus mendapat tatapan seperti itu, dia kemudian berkata.
"Baik aku akan ikut!"
Ucapan ini mengejutkan Gu Ren dan membuatnya tersenyum sumringah. Namun kembali senyum pahit tercipta saat mendengar kelanjutan dari kalimatnya.
"Kau dulu sudah menyelamatkanku, maka aku berterima kasih. Tapi kau adalah pemimpin mereka, apalagi dia!" ucapnya kembali melirik Bao Leng. "Kau pemimpin musuhku dan ingat, aku ikut denganmu kali ini hanya untuk membuktikan kalau aku bukan pengecut! Aku tetap musuh kalian jika kalian mau memusuhiku. Dan aku tetap menjadi musuh kalian kalau pun kalian menginginkan sebaliknya."
"Anak muda, kenapa kau begitu...."
"Jangan mengguruiku!" Sung Han mencengkeram dadanya, "Luka yang ada di sini, sudah hampir mengering. Tapi setelah bertemu dengan gerombolan kalian di desa itu, perlahan mulai terbuka dan rasa sakit itu kembali....."
Sung Han menatap tajam, penuh ancaman membunuh, "Hari itu....lima tahun lalu.....akan selalu kuingat!"
Gu Ren hanya mampu memandang dengan kening berkerut.
...****************...
Kursi kebesaran itu kosong, dan ruangan besar ini pun juga kosong. Barulah terisi oleh manusia saat Sung Han, Gu Ren, Bao Leng dan Pat Kue memasuki ruangan.
Sung Han selalu berjalan di sisi Gu Ren, sedangkan Bao Leng berada di belakang bersama Pat Kue. Jika saja tidak dalam posisi seperti ini, bisa-bisa Sung Han dan Bao Leng akan geger.
Sampai di tangga yang menghubungkan dengan kursi kebesaran, ketiga anggota Naga Hitam itu berlutut. Kemudian Gu Ren, mewakili rekan-rekannya berkata.
"Guru, kami sudah membawanya."
Hanya kesunyian yang menjadi jawaban dari perkataan Gu Ren ini. Tak ada jawaban, atau apapun yang bisa dijadikan sebagai tanggapan daripada ucapan lelaki paruh baya itu.
Sung Han yang mulai bingung, segera terperanjat saat tahu-tahu di kursi kebesaran itu sudah duduk seseorang.
Seorang pria botak yang berpakaian hitam-hitam. Di dadanya ada sulaman naga emas. Sekali pandang, jika saja jubah itu berwarna merah atau emas, tentu orang mengira kalau kakek ini adalah kaisar.
"Terima kasih Gu Ren, dan selamat datang untukmu, anak muda."
Ucapan ini terdengar seperti dari alam lain. Entah Giok Shi ingin mengetes kemampuan Sung Han atau bagaimana, namun pemuda ini mengerti kalau orang itu mengerahkan tenaga dalam di setiap kalimatnya.
Sung Han menerima tantangan ini. Dia menjuara hormat dan menjawab tak kalah seram.
"Terima kasih atas undangan dari anda." suara yang lebih kuat dari Giok Shi terdengar. Bahkan suara Sung Han, seolah datangnya dari langit dan hebatnya, mulut pemuda itu sama sekali tidak bergerak.
Melihat ini, Giok Shi tersenyum. "Kalian duduklah dimana saja."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
oklah
2025-03-29
0
Christian Sondakh
👍👍
2023-07-28
0