Di ruangan yang luas itu, terdapat kursi-kursi yang ada di sebelah pinggir, menempel pada tembok.
Mendengar perintah guru mereka, Gu Ren, Pat Kue dan Bao Leng menggerakkan tangan dan tahu-tahu kursi itu sudah berada di tangan mereka. Seolah-oleh mereka baru saja melakukan daya sedot untuk menarik kursi itu dari kejauhan.
Saat mendudukkan diri, ketiganya melirik Sung Han seakan menunggu aksi yang serupa. Pemuda ini sadar jika tiga orang itu ingin mengujinya. Diam-diam dia merasa mendongkol sekali kepada ketiganya, padahal malam itu mereka sudah lihat sendiri bagaimana kepandaiannya.
Sung Han menghela nafas dan mengangkat tangan, mengarahkan telapaknya pada salah satu kursi. Tangan itu bergerak sedikit seperti berkedut, lalu kursi yang ada di sudut ruangan terangkat dan "terbang" menuju ke arahnya.
"Bruk!"
Lebih hebat daripada tiga orang lainnya. Jika mereka tadi begitu kursi sampai, harus segera ditangkap, kali ini Sung Han tanpa menangkapnya kursi itu seolah sudah mempersilahkan Sung Han untuk duduk. Segera pemuda ini duduk di sana dan membiarkan tatapan tiga orang itu yang kagum sekali.
"Ketua Naga Hitam, hendaknya lekas bicara apa yang harus kita bicarakan?" tanya Sung Han tanpa basa-basi lagi.
Tiga orang ini melotot, ucapan Sung Han terlalu tidak sopan dan blak-blakan. Namun Giok Shi hanya tersenyum dan menjawab halus. "Tentu saja, ini tentang keberlangsungan Naga Hitam dan Rajawali Putih. Ah, sebelum itu, perkenalkan namaku Giok Shi."
"Rajawali Putih sudah menyembunyikan diri sejak bertahun-tahun lalu bukan? Lalu apa maksudnya?" tanya Sung Han.
"Bukankah engkau ini dahulunya merupakan kacung dari Rajawali Putih? Nah, tentu saja masih berhubungan."
Sung Han memandang tajam penuh selidik. Mencoba menyelami mata sipit yang seakan tak bisa marah itu. "Apa maksudmu?" bertanyalah ia.
Giok Shi menghela nafas dan mulai menjelaskan. Dahulu, lebih tepatnya lima tahun lalu, saat bentrokan dua perkumpulan terjadi, sebenarnya Giok Shi sudah merasakan firasat buruk akan hal ini.
Dia berpikir pastilah ada seseorang atau sekelompok lain yang sengaja mengadu domba Rajawali Putih dengan Naga Hitam. Dia pun sejatinya merasa kecewa sekali kepada para anak buahnya yang serta merta menurunkan tangan maut kepada para pengantar barang Rajawali Putih.
"Ucapan anda tidak berdasar dan membingungkan. Untuk apa seseorang atau sekelompok orang ini mengadu domba kita?" ucapan Sung Han menjadi lebih halus karena dia sendiri merasa sungkan kepada Giok Shi yang selalu sabar menghadapinya.
"Kitab-kitab dan pusaka warisan Raja Dunia Silat. Kau tahu itu anak muda. Baik engkau maupun kami sama-sama memiliki tujuan yang sama, bukankah Rajawali Putih juga ingin mengumpulkan kitab-kitab itu? Tentu pihak ketiga ini ingin memanfaatkan keuntungan selagi kita bertempur dan menjadi lemah, mereka akan bergerak."
"Untuk tidak menghalangi mereka mencari kitab-kitab itu?" sambung Sung Han.
"Benar."
Sung Han menatap Bao Leng yang juga sedang menatapnya. Lalu pandangan Sung Han berkilat dan segera ia tunjuk hidung Bao Leng yang menjadi kembang kempis.
"Kalau gurunya berkata seperti itu, kenapa muridnya ini bertindak lain? Dia yang membantai orang-orang Rajawali Putih tepat di depan mataku!!" teringat akan Tang Qian, kemarahannya bangkit.
Anehnya, Bao Leng yang berangasan dan berwatak kasar itu kali ini hanya diam.
"Anak muda, waktu itu....maafkanlah kami yang bodoh ini. Muridku–"
"Brakk!!"
Kursi yang diduduki Sung Han hancur seketika. Pemuda itu sudah bangkit berdiri bahkan tangan kirinya sudah menggenggam batang pedang gerhananya. Matanya berkilat-kilat memancarkan aura bengis yang kuat.
"Pembunuhan banyak nyawa, pertumpahan darah dan tangisan keluarga mereka, hanya kau bayar dengan satu kata maaf? Bercandamu tidak lucu!!!"
Bertepatan dengan ini, suhu ruangan menjadi panas sekali dan tempat pijakan Sung Han sebelumnya pecah tak karuan.
Bao Leng, Gu Ren dan Pat Kue cepat berdiri dan menyiapkan senjata mereka. Bao Leng dengan golok, Gu Ren dengan pedang dan Pat Kue dengan perutnya yang ampuh.
"Anak muda, kendalikan dirimu. Dengarkan dulu–Uaghhh!"
Perkataan Pat Kue belum selesai saat dia melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu perutnya sudah kena cium sepatu orang. Kiranya Sung Han bergerak cepat untuk menendang perut bagian bawahnya dan melemparkan Pat Kue sampai kepalanya menembus dinding.
"Tahan bocah!" Gu Ren berseru. Namun Bao Leng yang juga sudah marah malah menerjang maju dengan goloknya.
Golok itu berputar-putar hebat sekali, tubuh Bao Leng yang besar ternyata mampu bergerak sangat cepat. Ketika golok menyambar membelah angin, terdengar suara berdesing tajam yang menuju ke leher Sung Han.
"Rebah!!"
Pekik Sung Han nyaring sekali sampai membuat seluruh ruangan bergetar. Sedetik kemudian, tangan kanan Bao Leng sudah terpelintir dan tubuhnya terbanting ke lantai dengan wajah yang mendarat lebih dulu.
"Mati!!" Sung Han mengangkat tangan, ingin memberi pukulan maut kepada Bao Leng. Namun sedetik kemudian, seolah seperti ada tenaga gaib yang mendorong tangannya, tubuhnya terseret dan ia terhuyung sampai jauh.
Sung Han terbelalak, kagum sekaligus kaget dengan tindakan itu. Sampai kini selama dalam masa petualangannya, bahkan Tongkat Emas Pencabut Sukma dibarengi Tiga Iblis Muka Satu belum mampu mendesaknya sama sekali. Lalu kini tiba-tiba ada tenaga yang begitu dahsyat mendorongnya, siapa yang tak terkejut.
Saat dia memandang, kiranya Giok Shi, ketua perkumpulan Naga Hitam itu sudah berdiri dengan satu kipas yang telah terbuka di tangan kanan.
"Kau....." geram Sung Han.
Saat itu, berturut-turut sebanyak dua puluh lima orang sudah datang ke ruangan besar ini untuk melihat apa yang terjadi. Mereka tadi begitu terkejut mendengar suara ribut-ribut dari sini, sehingga lekas datang untuk melihat.
Namun dapat dibayangkan betapa terkejut hati mereka saat menyadari begitu sampai di ambang pintu, pemandangan yang dilihat adalah sosok Pat Kue dan Bao Leng, murid-murid utama Naga Hitam yang tergeletak pingsan. Mereka juga terkejut sekali atas kehadiran ketua mereka yang selama ini telah menyembunyikan diri.
"Anak muda, tenang dan jangan terbakar api dendam...." ucap Giok Shi perlahan.
"Jadilah diriku untuk merasakan apa yang kurasakan! Jangan hanya berkata omong kosong!"
Kembali perasaan familiar merasuki dada Sung Han. Perasaan marah yang tiba-tiba saja timbul entah dari mana. Sung Han tidak paham akan perasaan ini, namun sama seperti waktu di hutan itu, dia tidak merasa bersalah atas tindakannya!
Setelah membentak, Sung Han maju dan mengirimkan sebuah serangan tapak berhawa panas. Ilmu yang ia gunakan ini merupakan ilmu silat tingkat tinggi pertama yang diajarkan oleh gurunya. Sebuah ilmu silat tangan kosong bernama Tangan Panas Inti Matahari.
Sesuai namanya, hawa panas yang keluar dari ilmu ini sangatlah luar biasa. Apalagi ditambah latihan terakhir Sung Han yang bertapa di bawah sinar matahari dan bulan selama berhari-hari. Tentu jika lawannya tidak memiliki kepandaian tinggi, sudah pasti tubuhnya akan gosong.
Namun yang dilawannya kali ini adalah tokoh kosen yang telah pula mendapatkan satu dari tiga kitab pusaka Raja Dunia Silat. Bahkan kipas di tangan Giok Shi itu merupakan pasangan dari kitab ilmu warisannya yang bernama Gulungan Ombak Samudra. Sebuah ilmu yang dahulu dimiliki Raja Dunia Silat yang berjuluk Topeng Putih.
Giok Shi mengibaskan kipasnya, suara deru badai terdengar dan segera hawa panas yang timbul dari tangan Sung Han itu ditindih oleh angin badai ini. Sedetik kemudian, tak memberi kesempatan Sung Han untuk terkejut, Giok Shi mengeluarkan satu kipas lainnya dan melakukan gerakan yang sama.
"Swooshh–Swoosshh!!"
Sung Han terdorong bahkan terbang sejauh beberapa tombak. Namun dengan bersalto beberapa kali di udara, dia mampu menetralkan efek serangan dan mendarat dengan sempurna.
Akan tetapi saat memandang, kiranya Giok Shi sudah tidak berada di tempatnya. Membuat Sung Han bingung bukan main.
"Dimana dia?"
Belum juga rasa terkejutnya hilang, dia sudah mendengar angin tajam dari arah tengkuknya. Saat hendak membalikkan tubuh dan mengirim serangan balasan, ternyata tengkuknya sudah lebih dulu kena totok oleh ujung kipas Giok Shi.
Tubuh Sung Han melemah, lalu lambat laun pandangannya mulai kabur dan akhirnya gelap total. Pingsan.
"Bahaya benar....jika aku tak menggunakan ilmu warisan ini, meragukan sekali rasanya aku bisa menang. Anak muda, siapa gurumu?" gumam Giok Shi dengan wajah cemas.
Saat itu Bao Leng dan Pat Kue sudah bangun dan melihat Sung Han yang tergeletak lemas.
"Ah....bocah sialan!" Bao Leng menerjang dengan goloknya. Namun tubuhnya terpelanting saat terkena sambaran kipas gurunya.
"Jangan lancang! Dia bukan musuh tapi berbahaya sekali! Gu Ren, bawa ke ruang tahanan, kalian semua juga ikut!" katanya kepada Gu Ren dan dua puluhan orang di ambang pintu.
"Baik guru!"
"Ingat, perlakukan dia dengan baik! Dia bukan musuh kita dan juga menjadi korban, hanya saja jika dibiarkan di luar, tentu tempat ini sudah dibuat kacau olehnya." lanjut Giok Shi memperingatkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
azizan zizan
mau bilang goblok nanti kena hujat pulak.. mc nya terlalu bodoh menggunakan emosi Tampa berfikir.. sepatutnya gunalah akal sihat untuk berfikir apa yg gurunya ajar tidak d guna langsing.. menggunakan emosi padah nya berat gunakan akal fikiran yg jernih jika ingin membunuh bukan emosi..
2024-03-26
0
pendekar angin barat
terlalu naif MC nya marah marah nga keruan..
2023-09-06
0
Christian Sondakh
👍
2023-07-28
0