Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tanpa terasa tahun berganti tahun. Sudah lima tahun lamanya Sung Han tinggal di pondok sederhana milik Xiao Shi Yong dan menjadi murid lelaki itu.
Selama lima tahun ini, Xiao Shi Yong selalu merasa kagum akan perkembangan muridnya yang terus meningkat setiap hari. Sung Han ternyata cukup cerdik untuk menerima dan memahami setiap pelajaran yang diberikannya.
Padahal di luar tahunya, sebenarnya yang cerdik adalah Xiao Shi Yong sendiri. Cara melatihnya yang dengan memberi berbagai macam motivasi ringan kepada Sung Han, membuat semangat anak itu berkobar dan tak kenal lelah.
Contoh mudahnya adalah saat pertama kali berlatih, hanya dengan tujuan agar bisa memotong kayu dengan tangan, Sung Han berjuang mati-matian untuk mengisi tempat minum kuda dan tungku perapian yang sampai seminggu lamanya tak penuh-penuh juga.
Seiring berjalannya waktu, latihan meningkat. Yaitu Sung Han tidak diperbolehkan berhenti mengambil air dan kayu bakar sampai tengah hari. Meningkat ke level berikutnya, Sung han tidak diijinkan makan dan minum jika sampai malam hari sembilan tong besar belum terisi dan tumpukan kayu bakar belum dipenuhi.
Hingga ke tingkat yang paling ekstrim adalah, ketika pria berwajah tiga puluhan tahun itu berkata.
"Tidak boleh makan jika dalam sehari kau tak sanggup menebang lima batang pohon dengan tangan. Lalu kau tidak boleh minum jika kayu-kayu itu tak mampu kau potong menjadi kayu bakar."
Alhasil, mulai hari itu, tak jarang dalam sehari Sung Han hanya mampu makan tanpa minum. Bahkan sering kali sama sekali tak makan atau minum.
Setelah menyelesaikan latihan tak manusiawi itu, mulailah Sung Han dilatih ilmu-ilmu silat. Mulai dari gerakan paling dasar, menengah, sampai ilmu-ilmu silat tingkat tinggi.
Kecerdikan Xiao Shi Yong di sini adalah, orang itu sama sekali tidak menjejali pikiran muridnya dengan berbagai macam cita-cita yang muluk-muluk dan berlebihan. Seperti menjadi pendekar budiman, penindas kejahatan, menolong kaum lemah, atau bahkan balas dendam. Xiao Shi Yong sama sekali tidak melatih muridnya untuk tujuan seperti itu.
Dia sudah terlalu malas untuk mengarang cerita seperti itu dan membuat macam-macam alasan menggiurkan agar Sung Han menjadi pendekar besar. Dia hanya bermodalkan tak boleh makan dan minum kalau latihan tidak selesai. Hasilnya, Sung Han menjadi pemuda yang tangguh dan kuat untuk ukuran anak seumurannya.
"Membersihkan kandang kuda, membersihkan sekitar rumah, mengambil persediaan air, menyiram tanaman di kebun, mengisi persediaan kayu bakar. Hem....semua sudah selesai."
Pemuda berambut panjang yang dikuncir pada bagian tengkuk itu berdiri di depan pondok sembari tangannya menghitung-hitung pekerjaannya.
Wajahnya cukup tampan, dengan kulit putih dan alis tebal. Dagu yang runcing disertai rahang yang kuat. Matanya berwarna kuning cerah seperti cahaya rembulan itu sungguh menenangkan. Siapa lagi kalau bukan Sung Han.
"Oh, kau sudah bangun?" terlihat gurunya keluar dari pondok sambil menguap. Hebatnya, jika diperhatikan sama sekali tak ada perubahan pada wajah orang itu selama lima tahun ini.
"Oh guru, semua sudah kulakukan. Tugas rumah sudah selesai." jawab Sung Han.
"Ah...sepagi ini kau sudah selesaikan? Kalau begitu waktunya berlatih silat..." ujarnya setengah memgantuk dan sesekali menguap. Dia berjalan perlahan menghampiri Sung Han yang sudah waspada.
"Awas serangan!!" pekik Xiao Shi Yong tiba-tiba ketika tubuhnya meluncur ke depan dengan serangan tapak terbuka.
Sung Han yang sudah waspada cepat melempar tubuh ke kiri disertai sebuah tendangan kilat kaki kanannya yang menuju perut Xiao Shi Yong.
"Bugh–dess!"
Xiao Shi Yong melihat itu, maka dia tahan dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menyambar cepat ke wajah Sung Han yang segera miringkan kepala.
"Craaasss!!" sambaran angin dari sabetan tangan itu sungguh luar biasa. Tanah dan rerumputan yang kena sambar langsung beku seketika saat angin dingin dari tangan Xiao Shi Yong menerpanya.
"Gila, setiap harinya kekuatan guru meningkat! Apakah dia tak punya batasan!?" batin Sung Han bertanya-tanya.
Keduanya bertarung sengit, saling pukul memukul dengan hebatnya sampai-sampai tak jarang jika ada sambaram angin yang nyasar membuat daun pohon serta berbagai tanaman beku atau hangus terbakar.
Mencapai jurus keempat puluh, Xiao Shi Yong yang merasa sudah cukup menghentakkan kedua tangan yang segera ditangkis Sung Han dengan menyilangkan tangannya ke depan dada. Alhasil, tubuh pemuda itu terpental dengan dadanya yang serasa panas dingin.
"Ughh..." keluhnya ketika ada sedikit cairan merah kental di ujung bibir.
"Cukup!"
Xiao Shi Yong mendekati muridnya dan menyalurkan sedikit tenaga dalam untuk mengobati luka muridnya. Setelah Sung Han sudah pulih, Xiao Shi Yong menyuruh kepada pemuda itu untuk duduk di dalam pondok.
"Ada apa guru? Adakah sesuatu yang penting?" tanya Sung Han penasaran karena tidak biasanya gurunya bersikap seserius ini.
Xiao Shi Yong menjawab setelah menarik nafas benerapa kali, "Ya, memang penting sekali. Ini masalah paling penting semenjak engkau memutuskan menjadi muridku."
Sung Han terperanjat dan kaget sekali, tapi dia tetap diam untuk mendengarkan perkataan selanjutnya.
"Kau...sama sekali belum tahu siapa aku bukan?"
"Belum guru." jawab Sung Han cepat-cepat.
Xiao Shi Yong terkekeh-kekeh dan membuat Sung Han keheranan karena kekehan itu beda dari biasanya. Sayup-sayup dia juga mendengar ucapan gurunya yang amat lirih hampir tak terdengar.
"Sudah tiba....waktunya sudah tiba...."
Sung Han tak tahu apa maksud dari perkataan itu.
"Sung Han, naiklah ke atas tebing tinggi itu. Lakukan pengumpulan hawa sakti di sana, serap inti tenaga matahari dan bulan tanpa henti sampai aku membangunkanmu." ujarnya tiba-tiba sambil tangan kananya menunjuk kearah kiri, di mana tebing itu berada.
Kemudian dia melanjutkan, "Jika kau telah lulus dalam latihan ini, maka saat itu pula kau akan mengetahui siapa gurumu. Dan kau akan menjadi pewaris dari pedang ini."
Sung Han tentu saja kaget mendengar itu, karena selama lima tahun ini dia hanya dilatih ilmu silat dan menghimpun tenaga dalam serta cara pengolahannya. Untuk hawa sakti, mendengar saja baru sekali ini.
Apalagi tentang diberikannya pedang itu, sebuah pedang yang ia lihat gurunya sama sekali tidak pernah mencabutnya. Bahkan diam-diam dia pernah berpikir pedang itu hanya pedang mainan saja.
"Maaf guru, hawa sakti? Apa itu?"
"Lakukan saja perintahku dan kelak kau akan tahu sendiri. Untuk sekarang kau belum mampu menahannya jika kuajari soal hawa sakti itu."
"Tapi jika memang begitu, mengapa guru memintaku untuk menghimpun hawa sakti? Bagaimana cara melakukannya?" Sung Han makin kebingungan sehingga terus bertanya.
"Lakukan seperti menghimpun tenaga dalam, kelak kau akan tahu apa dan bagaimana cara memghimpun hawa sakti." jawab gurunya masih sama seperti tadi. Dan membuat Sung Han makin bingung.
Tapi karena tak ada alasan membantah, juga karena berbakti pada gurunya, dia tidak bertanya lagi dan cepat mendaki tebing tinggi itu untuk kemudian bermeditasi di sana. Mengumpulkan hawa sekitar untuk diolah menjadi tenaga dalam.
Dari depan pondoknya, Xiao Shi Yong memandang muridnya yang berada di puncak tebing dengan senyum tipis. Di tangan kanannya sudah tergenggam sebatang pedang yang selama ini belum pernah sekali pun Sung Han melihat bilahnya.
Lelaki ini memandang langit, menerawang jauh entah apa itu.
"Kakak....sepertinya, sebentar lagi aku akan pulang..." gumamnya lirih.
Kemudian pandangannya beralih ke pedang di tangannya yang berukiran sangat indah itu.
"Pedang Gerhana Matahari, agaknya kau telah memiliki tuan baru dan kewajibanku sudah lewat."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
Wan Trado
ya jelas bingung lah, belajar tenaga dalam / lwe kang saja tidak bisa tanpa bimbingan guru, apalagi tenaga sakti / sin kang
2025-02-18
1
adhy nofx
mantap
2025-03-29
0
Lalu Ell Leo
g ada nama ilmu yg di ajarkan jd kurang menarik bacanya ni kan cerita silat bukan novel pervintaan
2023-09-01
0