Desa yang cukup luas, tanah yang subur serta angin pagi yang lembut ini sangatlah menenangkan batin dan pikiran.
Sawah-sawah luas serta tanah ladang besar membuat penduduk di desa ini menggantungkan hidup pada dua aset itu. Menjadi petani, atau berkebun.
Desa Batu Alam, bertempat di sepanjang lereng pegunungan Puncak Merah yang berada tepat di sebelah Timur Pegunungan Tembok Surga. Maka tak heranlah bahwa sumber daya alam di desa ini amatlah melimpah ruah.
Pagi hari itu orang-orang desa melihat segerombolan orang terdiri dari belasan orang, berpakaian serba hitam datang dari kejauhan. Melihat dari pakaian serta raut wajah mereka, orang akan langsung mengenal kalau yang datang ini berasal dari rimba persilatan.
Buru-buru orang-orang yang ada di sana menyingkir guna memberi jalan pada belasan orang lewat ini. Apalagi ketika mata mereka tanpa sengaja menangkap gambar sulaman naga emas di dada kiri masing-masing orang, maka bergidiklah mereka dan tak berani mengangkat muka lagi.
"Kita berhenti di sini untuk istirahat sekaligus makan." ucap seorang kakek tua yang membawa tongkat kuningan.
Mereka memasuki kedai makan itu dan segera duduk seenaknya tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Kakek tua tadi langsung menyebutkan pesanannya sebelum para pelayan datang. Tapi anehnya, sama sekali tidak ada pelayan yang berani melawan dan lekas menyiapkan pesanan kakek itu.
Sikap kakek ini tentu saja tak berbeda jauh dengan para anggotanya. Agaknya hanya beberapa orang sajalah yang masih memiliki sopan santun dalam berbicara dan memesan makanan.
Saat belasan orang ini menyantap makanan, serentak mereka mendengar suara langkah kuda yang berhenti di depan rumah makan. Sontak mereka semua menengok untuk mengetahui siapa yang datang. Ternyata hanyalah seorang pemuda yang membawa pedang di pinggang.
"Bung pelayan, siapkan semangkuk bakmi dan air hangat!" ujar pemuda yang baru datang ini dengan senyum lebar.
Tapi bukannya berbalik menuju dapur dan menyiapkan makanan, pelayan gendut itu malah berlari menyambut kedatangan pemuda ini dengan langkah tergopoh-gopoh. Wajahnya penuh keringat dan suaranya agak gemetar saat berkata.
"Maaf sebesarnya tuan muda, tapi saat ini kami sedang kedatangan rombongan dari Naga Hitam. Bisakah tuan muda cari rumah makan lain untuk mengisi perut, aku tak ingin ketenangan mereka dan tuan muda terganggu."
Pemuda yang bukan lain adalah Sung Han itu terbengong juga kaget. Ekspresi terkejut nampak jelas di matanya.
"Sama-sama manusia, sama-sama bawa senjata, sama-sama datang untuk makan dan memberimu rejeki. Kenapa perlakuan antara aku dan mereka amat jauh dari kata sama?" berkata demikian, Sung Han juga mengedarkan pandangannya.
Kali ini wajah pelayan itu nampak memucat dan mulutnya gemetaran. Dianggapnya pemuda ini belum mengenal siapa adanya Naga Hitam yang amat tersohor juga ditakutki itu.
"Tuan muda...hati-hati kalau bicara!" pelayan itu sedikit membentak.
Makin heranlah hati Sung Han dan dia membalas, "Apa maksudmu? Apa hubungan antara Naga Hitam dan diriku yang seorang lewat sedang kelaparan?"
"Tuan muda!"
"Brak!"
Pelayan itu makin pucat dan menggigil tubuhnya ketika salah seorang dari belasan orang itu menggebrak meja dengan kasar. Pelayan ini cepat menyingkir seolah tidak ingin ikut campur dengan urusan ini.
"Bocah...apa pedangmu hanya pajangan?" kata orang yang tadi menggebrak meja. Seorang pria empat puluhan tahun dengan rambut dan jenggot berwarna dua.
"Mana mungkin begitu paman? Pedangku ini tentu ada gunanya dan aku tak akan membawa benda ini jika sekiranya tidak dibutuhkan." jawab Sung Han tanpa rasa takut. Diam-diam inilah yang dia kehendaki, melihat sikap arogan perkumpulan Naga Hitam.
"Bagus, sekarang gunakan pedang itu dan pertanggung jawabkan kelakuanmu yang telah mengganggu ketenangan kami!" orang ini berseru dan tanpa aba-aba, tubuhnya melesat cepat menubruk Sung Han yang menjadi terkejut.
"Whoaaa!" pekik Sung Han seraya menekuk lututya ke belakang, membuat posisinya terlentang dengan tumpuan kedua kaki sampai ke lutut. Sebelum orang itu lanjut menyerang, Sung Han sudah mengantisipasinya dengan elakan ke samping kiri yang berupa bergulingan sejauh dua tombak.
"Tunggu...tahan!!"
Akan tetapi seruan Sung Han ini hanya dijawab dengan tinjuan menyamping mengarah pipi kanan Sung Han. Sung Han yang merasakan betapa angin kencang menyambar sebelum kepalan tangan itu sampai, menjadi waspada dan kembali menghindar.
Pemuda ini sama sekali belum berpengalaman dan baru sekali inilah menguasai silat. Sehingga dia belum tahu apapun akan pertarungan silat. Andai saja dia mau, sebenarnya Sung Han mampu meremukkan batok kepala lawannya hanya dalam sekali tampar.
Tapi dasar wataknya yang tidak sombong dan selalu menghargai orang, dia menganggap kalau lawannya ini bukan lawan lemah. Maka dia berlaku hati-hati sekali. Padahal dia tidak tahu jika dibandingkan dengan kepandaiannya, maka kepandaian musuhnya itu tak lebih besar dari jari kelingking.
"Tahan, tahan! Eh....eh...kenapa ini? Beginikah watak Naga Hitam yang katanya tersohor di setiap sudut daratan?"
Sambil terus menghindar, mulut Sung Han tak pernah berhenti mengoceh untuk melontarkan kalimat-kalimat ejekan kepada Naga Hitam. Sengaja ia provokasi lawan agar mengetahui sifat asli dari orang-orang Naga Hitam.
Pertarungan berlanjut dan Sung Han terus mengelak ke sana-sini. Hingga pertandingan yang sebelumnya terjadi di dalam rumah makan, terus bergeser sampai ke luar bangunan dan di jalan raya. Sehingga pertandingan dua ahli silat ini sekejap saja sudah menarik perhatian orang banyak.
"Jangan hanya menghindar bocah tengik!"
"Sabarlah paman! Apa salahku terhadap kalian? Aku juga lapar dan ingin makan!!"
Akhirnya, karena merasa jengkel terus diserang dan didesak, Sung Han memutuskan untuk memberi satu dua pelajaran kepada orang itu.
Ia layangkan kepalan tangan kanan dengan seperempat tenaganya, menuju ke pelipis lawan. Namun terpaksa harus ia hentikan saat terdengar seruan bergema yang seakan berasal dari langit.
"Hahahaha....beginikah pemandangan dari para bandit yang berselimut kain putih? Hei kalian, jika hendak merampok desa ini lakukan saja asal dengan ijinku tentunya!"
Sesaat kemudian, terlihat bayangan belasan orang berkelebat dan di situ sudah berdiri tiga belas orang rombongan Naga Hitam yang tadi berada di rumah makan
Hal ini adalah suatu keberuntungan bagi lawan Sung Han tadi karena seandainya bentakan misterius itu tidak datang, dapat dipastikan pukulan Sung Han mampu memecahkan arsitektur di seluruh wajah orang itu.
Perhatian Sung Han pun teralihkan dengan datangnya suara ini. Refleks dia menoleh kesana kemari untuk mencari sumber suara. Dia juga melihat para warga yang menjadi makin ketakutan dan berlarian menuju rumah masing-masing untuk kemudian menutup pintu jendela rapat-rapat.
"Ada apa ini, siapa yang datang?" gumam Sung Han sambil masih mengedarkan pandangannya.
Sikap keempat belas anggota Naga Hitam itu terlihat kereng dan menyeramkan. Kakek pembawa tongkat kuningan itu mewakili kawan-kawannya, membentak dengan suara nyaring penuh getaran tenaga dalam.
"Pengecutlah si penggonggong di balik kandang, gagah orangnya jikalau berani keluar saling berhadapan, siapa orangnya yang datang-datang membikin keributan!?"
Berturut-turut, munculah bayangan beberapa orang dan sekejap saja di sana sudah berdiri tiga orang kakek yang terlihat amat sepuh.
Kakek pertama memiliki rambut panjang riap-riapan, warnanya hitam pekat. Kakek kedua memiliki wajah serta postur tubuh yang sama persis dengan kakek pertama, namun rambutnya putih bersih berkilau. Sedangkan kakek ketiga juga berpenampilan sama seperti dua kakek lain, namun rambutnya ada yang putih dan hitam.
Ketiga orang itu menggunakan gelang-gelang perak besar di sepasang pergelangan tangannya. Sekaligus di setiap jari tangan yang keriputan itu, tersemat cincin batu akik warna hitam.
Begitu datang, ketiga kakek ini menampilkan seringaian dengan mata molotot lebar.
"Kiranya Tiga Iblis Muka Satu yang datang. Apakah yang melatar belakangi tindakan kalian yang begini arogan?" kembali kakek berambut putih panjang, bertongkat kuningan bertanya.
Kakek terdepan yang berambut dua warna, putih dan hitam maju selangkah dan berkata setelah terkekeh-kekeh. "Hm...Naga Hitam? Nama yang terlalu tinggi dan sombong untuk seukuran orang-orang macam kalian. Heh, Tongkat Emas Pencabut Sukma, engkaukah itu yang demikian sombongnya?"
Kakek bertongkat kuningan yang agaknya dijuluki Tongkat Emas Pencabut Sukma menjawab, "Memang benar itulah aku. Nah, Tiga Iblis Muka Satu, hendaknya jelaskan apa maksud kalian begitu datang sudah mengatakan perkataan yang demikian mencela?"
"Hahaha...hanya untuk mengisi waktu luang."
"Hanya saja kalian telah melanggar wilayah kami, tentu kami tak mampu tinggal diam." lanjutnya sambil terus terkekeh-kekeh.
"Hei orang tua keriputan, bisakah kau jelaskan apa yang menyebabkanmu memiliki tempat ini? Desa ini milik penduduk di sini, sama sekali bukan milik kalian atau siapa pun!" kali ini seseorang yang tadi bertanding melawan Sung Han menyahut.
"Tak ada yang bisa menolak keputusan kami!" tukas kakek berambut hitam dan mengirim pukulan jarak jauh menuju orang tersebut. Namun kakek berjuluk Tongkat Emas Pencabut Sukma sudah memutar tongkat dan menangkis serangan itu.
Dirinya melompat maju diikuti tiga kakek lainnya yang bersikap amat gagah. Bentakan nyaring dari Tongkat Emas Pencabut Sukma berhasil menggetarkan bumi tempat mereka berpijak.
"Apa-apaan pendapat itu? Kalian ini Dewa? Kalian pikir kami, Naga Hitam, takut hanya dengan iblis-iblis cilik peyot macam kalian? Ayo majau kalau mau buat perhitungan!"
"Hahaha....sembrono...sembrono, arogan dan angkuh sekali karena mampu bersembunyi di balik nama serta panji Naga Hitam. Nah, jangan salahkan kami jika saat engkau membuka mata, dirimu sudah disambut dengan jilatan api neraka." kali ini kakek rambut putih ikut bersuara.
"Jangan banyak omong dan tunjukan gigi kalian yang agaknya masih tajam seperti segala macam omongan itu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
lnjut
2025-03-29
0
Yoihoi Yoi
othor Melayu?
2023-08-12
1
Aneuk Perley Perhatian
apakah autor masih berumur 12 tahun..??? kenapa aku seperti membaca cerita anak anak..?? haiishhhh... mc tak jelas cerita tak jelas autor tak jelas.. bye bye lah
2023-03-14
3