"Maju!!"
Tongkat Emas Pencabut Sukma memberi perintah. Maka enam orang lainnya berteriak dan berturut-turut mulai mengepung Sung Han.
Kuda Sung Han mengkirik, dia terlihat marah dan merendahkan tubuhnya. Seolah ingin menerjang barisan enam orang itu dengan kepalanya yang keras.
Akan tetapi dia terhenyak saat mendengar seruan Phu Kai dari belakangnya yang juga memerintahkan anak buahnya untuk maju.
"Bagus, bagus sekali! Dua pengacau mengeroyok seorang bocah!" cela Sung Han.
"Tak peduli siapa adanya engkau, tapi setidaknya untuk saat ini sepertinya kami dan Naga Hitam sepemikiran!!" Phu Kai tertawa-tawa dan menerjang maju.
Serangan pertama yang mengarah kepada Sung Han adalah sebuah tusukan tombak kilat dari pasukan Naga Hitam, dan hawa pukulan dari Phu Kai.
Cepat dia merendahkan tubuh dan menggerakkan dua tangannya. Tangan kanan mengempit ujung tombak, sedangkan tangan kiri menotok pergelangan Phu Kai.
"Syutt–syutt!"
"Aiihh!" maklum akan kelihaian totokan lawan, Phu Kai menarik pulang tangannya. Namun tangan kanan Sung Han berhasil mencengkeram ujung tombak tajam itu dengan dua jari.
"Tendang!"
"Ehh–uaahhh!" pengguna tombak itu terpental saat kuda besar Sung Han menendangnya.
Sung Han merampas tombak itu dan memutarnya ke sekeliling tubuh saat hujan serangan mulai berdatangan. Bahkan kali ini seperti melupakan permusuhan yang lalu, Tiga Iblis Muka Satu bersama Tongkat Emas Pencabut Sukma mulai mengeroyok Sung Han dengan serangan-serangan maut.
Agaknya kuda milik Xiao Shi Yong itu bukanlah kuda biasa. Seekor kuda perang yang sudah mendapat latihan khusus dari Xiao Shi Yong langsung. Sehingga dia juga mengamuk dan membantu Sung Han dengan menendang ke sana-sini.
Tapi kuda tetaplah kuda dan manusia tetap manusia. Ilmu silat orang-orang yang ada di sana cukup tinggi untuk mencengkeram keempat kaki kuda dan mengunci pergerakannya.
"Pecahkan kepalanya!"
"Prookk!"
Kepala kuda hitam besar itu hancur dan dia berkelojotan sejenak sebelum jatuh tak bernyawa.
"Bangsat, tungganganku!" umpat Sung Han kesal.
Saat itu sabetan tongkat emas disertai pukulan tiga kepalan tangan Iblis Muka Satu sudah menerjang kearahnya. Masing-masing mengarah kepala, dada, lambung dan pusar.
Tapi Sung Han tak menjadi gugup, dia putar tombaknya dan...
"Trang–dess–dess–dess!"
Tiga serangan itu mampu dipatahkan dengan sempurna.
Namun Sung Han terpaksa harus menghadapi pengeroyokan banyak orang lainnya. Dan tak lama setelah itu empat orang kakek lihai ini sudah pulih dan kembali menerjangnya.
...****************...
"Jadilah orang baik...."
"Ehh?"
"Syutt–syuut!"
Sung Han bersalto dua kali di udara untuk menghindari tebasan dua pedang lawan. Begitu mendarat, gerakan tangkisan dan serangan balik dari tombaknya sedikit melemah.
"Jadilah....orang....baik...."
"Guru!"
Kembali satu sabetan pedang datang dari belakangnya menuju tengkuk. Cepat ia gerakkan tombak untuk menangkis, namun saat itu juga dari depan sudah menyambar dua serangan lawan lain.
"Hyeaaahhh!" Sung Han memekik dan memutar tongkat ke sekeliling. Angin badai tercipta untuk kemudian menerbangkan mereka semua ke kanan dan kiri, jatuh bergelimpangan dengan badan nyeri-nyeri.
"Benar....aku tak bisa begini....tak bisa asal melawan mereka yang tidak kukenal!"
"Hiaaatt!" Tongkat Emas bangkit dan menebaskan tongkatnya.
Sung Han dengan cepat menghindar ke kanan. "Tahan....Sung Han, tahan dirimu!"
"Mati kau bocah!! Semua, bangkit dan hadapi bocah ini!!" Phu Kiat, si rambut putih dari Hati Iblis itu berseru.
"Tahan Sung Han...!!!" ia kembali mengelak dengan loncatan ke belakang. Namun saat itu Phu Koan, si rambut hitam sudah mengirim serangan.
"Bresss!!" Sung Han refleks menangkis dan akibatnya sungguh mengerikan. Tangan kanan Phu Koan yang tadinya digunakan untuk menyerang, saat bertemu tangan Sung Han, seketika tulangnya berbelok arah dan sambungan sikunya hancur.
"Tahan....bertahanlah Sung Han....bertahan!!"
Sung Han terus menghindar dan menangkis sedapatnya mulai saat itu. Pesan gurunya tiba-tiba terngiang di kepalanya dan entah kenapa dia menjadi tak karuan.
Di satu sisi, dia teringat akan pesan gurunya dan sebagai murid, Sung Han berkewajiban untuk mentaati. Lalu di sisi lain, entah kenapa rasa amarah dan api dendam itu terus berkobar tanpa ia tahu pemantiknya.
"Ada apa dengan diriku?" gumam Sung Han bingung.
Namun hanya dengan tindakan kecil ini, dia menjadi lengah oleh sergapan Phu Kai yang datang dari belakang. Karena melamun, dia terlambat menyadari.
"Mati!!"
"Woahhh!"
"Wuut!"
Sung Han mengelak ke kanan, namun karena terlambat, tangan Phu Kai berhasil mengenai pinggangnya dan karena hal ini pula lah dia tak sengaja mencabut pedang Sung Han.
"Haha, pedang bagus!! Sekarang matilah dengan senjatamu sendiri!" Phu Kai kembali menerjang dengan bacokan mengarah ubun-ubun.
Tiba-tiba, suasana sekeliling terasa seperti melambat bagi Sung Han. Tatapan matanya kosong dan tangannya gemetaran. Kembali suara gurunya bergema di dalam kepala, namun lain kalimatnya.
"Pedang ini seperti nyawaku....aku lebih baik mati daripada pedang ini dicuri."
"....Aku lebih baik mati daripada pedang ini dicuri...."
"....Aku lebih baik mati...."
Masih dalam keadaan yang sama, tiba-tiba Sung Han merasa ada yang berkata dari dalam dirinya sendiri. Sebuah suara misterius. Saat dia mengenalnya, ternyata itu suara dirinya sendiri!!
"Yang mencuri harus mati...."
"Yang mencuri harus mati...."
"Bunuh....bunuh....bunuh....."
"Yang mencuri harus mati....bunuh....!"
Tebasan Pedang Gerhana Matahari makin dekat ke kepalanya. Agaknya Phu Kai belum sadar dengan sesuatu yang sedang ia gengam saat ini, sehingga bukannya menghiraukan pedang yang selalu dicarinya itu, dia justru berfokus untuk membunuh Sung Han.
"Apa yang kau lamunkan bocah!? Matilah! Hahaha!!" Phu Kai makin girang mengetahui Sung Han mematung. Mengira kalau pemuda itu sedang ketakutan hebat.
Tapi tak lama kemudian, terdengar seruan tertahan yang berhenti di tenggorokan. Phu Kai melebarkan mata begitu pula dengan semua orang yang lainnya.
"Mati....mati....yang mencuri harus mati....bunuh...." Sung Han bergumam tak jelas. Namun Phu Kai masih mampu mendengarnya.
"Kau....bocah...sialan...uhuk...!" Phu Kai menyemburkan darah segar.
Tangan kiri Sung Han, dalam detik-detik terakhir mampu menangkap tangan kanan Phu Kai. Lalu di saat bersamaan, tangan kanannya membentuk cakar dan menembus dada kiri Phu Kai. Hal ini Sung Han lakukan sekaligus untuk meremas jantung Phu Kai.
Sung Han menarik tangan kanannya yang sudah berwarna merah dan menggenggam sesuatu yang masih berdenyut. Phu Kai terkulai dan tewas dengan mata melotot.
Baik kedua kembaran Phu Kai, Tongkat Emas atau siapapun yang ada di sana, hanya mampu berdiri dengan bengong serta rasa ngeri yang teramat sangat.
Tatapan Sung Han yang tadinya lebar penuh ceria, berubah menjadi dingin menyeramkan. Aura yang menguar dari sekeliling pemuda itu seolah membuat oksigen menipis dan membuat nafas mereka sesak.
"Pedang ini....siapapun yang mencurinya....harus mati..." desis Sung Han dan mengedarkan pandangannya.
"Itu....pedang gerhana!" seru Tongkat Emas tanpa sadar. Seruan ini refleks membuat Sung Han menoleh kepadanya dan mengacungkan pedang itu.
"Kau tahu ini dan tentu hendak mencurinya bukan? Nah matilah menyusul orang ini!"
Tiba-tiba tubuhnya berkelebat, lalu mereka hanya melihat gulungan sinar hitam kemerahan dan pekikan tertahan. Saat semua berhenti, beberapa detik kemudian baru mereka sadar apa yang telah terjadi.
Kepala Tongkat Emas, tangan serta kakinya telah terpisah dari tubuhnya dengan Sung Han yang berdiri dan memasang ekspresi dingin di hadapan tubuh Tongkat Emas yang tercerai berai.
"Naga Hitam, kalian membantai keluargaku. Hati Iblis, ah...aku tak tahu siapa kalian tapi akan kuanggap kalau kalian berniat sama seperti pria peyot yang mencuri pedangku ini. Kalian semua, harus kubunuh!"
Mata Sung Han berkilat. Saat itu, tak ada yang mampu melarikan diri atau bahkan untuk menjerit. Seolah sedang kerasukan, Pedang Gerhana Matahari di tangan Sung Han menebar maut tanpa menyisakan satu pun nyawa.
"Mati...mati...mati....!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
mantap thor
2025-03-29
0
azizan zizan
guru nya udah pesan bukan, yang patut di bunuh ya bunuh yang patut di bantu ya di bantu bukah begitu pesan gurunya...
2024-03-21
0
azizan zizan
Thor kok mcnya kau buat jadi terlalu naif sangat2 kenapa Thor..??? musuh udah mau bunuh kok mc malah kau buat jd goblok gitu.. lah lah lah lah....
2024-03-21
0