"Tuan-tuan sekalian!"
Tongkat Emas Pencabut Sukma, bersama dua kakek lain sudah siap untuk maju memberi hajaran kepada tiga kakek yang datang tak diundang itu. Namun baik dirinya maupun Tiga Iblis Muka Satu serentak menghentikan gerakan masing-masing ketika ada pemuda tampan yang berdiri di tengah-tengah mereka.
"Bocah sialan! Minggir dari sana kalau masih ingin bernyawa!" seru seseorang yang tadi menyerang Sung Han dengan ganas.
"Anak muda, cukuplah bagi dirimu untuk mengganggu kami tadi dan kini sudah kumaafkan. Saat ini pergilah kalau memang masih ingin hidup." sahutan kakek tongkat kuning terdengar tegas dan berwibawa dengan pandang mata tajam.
Sung Han yang merasa dua rombongan ini membikin keributan, apalagi keributan di desa orang, menjadi marah sekali. Dalam pikirannya orang-orang ini tak lebih pintar dari anak kecil, hanya memikirkan ego masing-masing.
"Kalian ini para pendekar atau apa hah? Tak lihatkah di sini banyak penduduk berkeliaran, apa kalian ingin membunuh mereka!?"
Rombongan Naga Hitam melongo mendengar ucapan Sung Han barusan. Kakek tongkat emas maju selangkah ketika menjawab. "Bocah! Kalau kami tak turun tangan, maka tiga iblis inilah yang akan mengacau desa! Apa kau buta karena tak bisa melihat desa ini yang sedang terancam dengan kedatangan tiga tikus-tikus kotor ini? Kau ini siapa sih, datang-datang mengacau dan meracau tak jelas!?"
"Eh?"
Kali ini Sung Han yang tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Pasalnya, jelas terlihat oleh matanya tadi betapa empat belas rombongan Naga Hitam ini dengan arogan memesan makanan seperti tak memanusiakan si pelayan. Juga mereka berhasil membuat si pelayan takut, hal ini menimbulkan dugaan di hati Sung Han kalau rombongan Naga Hitam tidaklah baik-baik.
Tapi kali ini mereka malah ingin membela desa, dengan cara mengusir pergi tiga orang kakek yang berujuluk Tiga Iblis Muka Satu. Yang benar yang mana!? Naga Hitam itu jahat atau baik? Pertanyaan ini terus terulang di benaknya.
Saat sedang termenung dan memikirkan soal Naga Hitam, tiba-tiba telinga kiri dan kanannya merasakan kedatangan nyamuk yang terdengar jelas dari suaranya. Refleks dia mengibaskan tangan ke kanan dan kiri.
"Wus-wus."
"Plak-plak!"
Masih sibuk dalam lamunannya, Sung Han tidak sadar kalau keempat belas anggota Naga Hitam itu melongo dan terbengong. Mata mereka terbelalak seolah hendak keluar.
"Ah...jadi kalian ingin melindungi desa ini? Sudahlah, walaupun membingungkan tapi niat kalian sungguh mulia, sekarang hajar saja kakek-kakek ini! Eh–"
Ketika Sung Han berbalik, dia terperanjat sampai melompat setindak ke belakang. Matanya melotot memandang seseorang yang terlungkup di atas tanah.
"Kakek berjuluk Tongkat Emas Pencabut Sukma, hebat sekali engkau bisa merobohkan dia tanpa kuketahui!"
Sung Han berseru seraya menunjuk kakek berambut hitam legam yang sudah terlungkup di atas tanah, dengan pandangan kagum bukan main.
Kakek berjuluk Tongkat Emas Pencabut Sukma melotot dan menggertakkan gigi, "Bocah tengik! Jangan sombong kau kalau hanya menampar dia tanpa menoleh!" bentaknya.
"Aku tak menamparnya, siapa yang menampar!"
"Kau menggerakkan tangan kiri mu ke kanan dan kiri telinga, itu merupakan tamparan pada pergelangan tangannya dan secara tidak langsung kau menotoknya!"
"Apa?"
Kembali Sung Han terkejut sekali karena ternyata gerakan itulah yang membuat kakek rambut hitam tersungkur. Kiranya tadi ketika dia mengira ada nyamuk lewat, ternyata itu merupakan serangan kakek rambut hitam yang tanpa sadar ditangkisnya.
"Mana mungkin! Aku tak merasa mengeluarkan tenaga dalamku!"
Ternyata saat Sung Han sibuk membingungkan kejadian tadi, tiga kakek dari Naga Hitam dan Tiga Iblis Muka Satu telah bertanding hebat. Kiranya si kakek rambut hitam tadi tidak terluka parah dan hanya terkejut saja, sehingga dia bisa melawan dengan hebat.
"Hiyaaat!"
"Pang!"
Tongkat kuningan di tangan Tongkat Emas Pencabut Sukma berkelebat menuju pelipis kakek rambut dua warna. Tongkat itu mengeluarkan bunyi berdesingan saat membelah angin menuju target. Dilihat sekilas, senjata itu terlihat amat berat.
Namun dengan tangkas, kakek rambut dua warna mengangkat tangan kiri untuk menangkis. Tongkat itu berhasil ditahannya dan dibuat melekat pada tangan kiri. Kemudian dilanjut serangan susulan berupa pukulan tangan kanan ke dada Tongkat Emas Pencabut Sukma.
"Haaaa!"
"Dessss!"
Keduanya terlempar dan terhuyung beberapa langkah. Tadi saat Tongkat Emas Pencabut Sukma menggerakkan tangan kiri menangkis, dia merasa betapa ada hawa besar menghimpit dadanya dan membuatnya sesak. Namun di lain pihak, efek itu juga dirasakan oleh kakek berambut dua warna.
"Hehehe...kau makin hebat!" puji kakek rambut dua warna.
"Kau pun makin tangkas!"
Keduanya saling pandang sejenak, tak ada yang berbicara seolah hendak mengukur tingkat kepandaian lawan masing-masing. Akan tetapi saat keduanya hendak kembali bertempur, kembali Sung Han mengganggu.
Ketika keduanya meluncur cepat dengan tangan kanan terulur untuk mengirim pukulan maut, tiba-tiba berkelebat bayangan yang tahu-tahu sudah berdiri di antara mereka dan memapaki kedua serangan sekaligus dengan cara merentangkan kedua tangan.
"Desss!"
Baik Tongkat Emas Pencabut Sukma maupun kakek berambut dua warna terjengkang sejauh tiga tombak. Kemudian mereka berguling-guling untuk menetralkan daya hempas tenaga Sung Han yang luar biasa kuat.
Kejadian ini membuat pertandingan dua orang lainnya terhenti dan spontan perhatian mereka teralihkan. Keempat kakek itu memandang terbelalak kepada kakek pemimpin mereka yang memuntahkan darah segar.
"Phu Kai!" dua kakek rambut hitam dan putih menubruk kakek rambut dua warna yang agaknya bernama Phu Kai. Keduanya membantu Phu Kai berdiri dengan memapahnya.
"Senior!" dua orang kakek Naga Hitam juga melakukan hal yang sama. Mereka membantu Tongkat Emas Pencabut Sukma untuk bangkit dengan cara memapahnya.
Baik Phu Kai maupun Tongkat Emas Pencabut Sukma, keduanya memandang marah sekaligus jeri terhadap Sung Han yang berdiri acuh.
"Bocah! Siapa dirimu? Siapa gurumu?" tanya Tongkat Emas Pencabut Sukma.
"Hm...untuk apa kau mengetahuinya?"
Tongkat Emas Pencabut Sukma hanya mampu mendecih dan mencibir dalam hati. Takut kalau sampai keluar ke mulut, maka nyawanya mungkin tak akan selamat.
Sung Han melirik kearah Tiga Iblis Muka Satu yang juga memandangnya penuh kemarahan.
"Tak lekas pergi mau apa lagi? Aku masih berbaik hati tidak langsung mengambil nyawa kalian, para pengacau!" sentak Sung Han.
Tiga Iblis Muka Satu tak banyak cakap lagi sebelum pergi meninggalkan desa itu. Sedangkan Naga Hitam yang juga hendak pergi, harus menghentikan langkah ketika terdengar seruan Sung Han.
"Hei, apa maksud dari kakek-kakek itu yang mengatakan kalau kalian ingin merampok desa, benarkah itu? Apakah kalian memang bandit? Kalau benar seperti itu, aku tak bisa membiarkan kalian pergi begitu saja!"
Tongkat Emas Pencabut Nyawa serta seluruh pasukan melotot marah memandang Sung Han. Kemudian kakek bersenjata tongkat kuningan itu membentak, "Bocah tengik, jangan sok tahu tentang identitas Naga Hitam! Apanya yang bandit? Kami bukan bandit, Naga Hitam bukan bandit! Kalau memang kami bandit, kenapa kau hendak mencelakakan kami sedangkan tiga iblis sungguhan tadi kau lepas!?"
Sung Han tidak menghiraukan ungkapan itu dan hanya menganggap kalau ucapan kakek itu memang jujur. Sung Han mencoba memercayainya dan membiarkan rombongan Naga Hitam pergi meninggalkan desa Batu Alam dengan gurutuan sebal.
Menyisakan dia sendirian di jalanan desa itu. Mampu ia rasakan mata anak-anak dan ibu-ibu muda yang ketakutan memandang kearahnya. Sung Han tidak peduli, pikirannya terlalu kalut untuk memikirkan antara Naga Hitam dan Tiga Iblis Muka Satu.
"Naga Hitam, kalian ini apakah? Baik atau jahat? Golongan putih atau hitam? Kalau putih, kenapa dengan semena-mena kalian menentang dan membunuhi anggota Rajawali Putih saat itu? Kalau hitam, kenapa kalian membela desa ini dari tiga iblis itu? Ah...guru, apa yang harus kulakukan di saat seperti ini?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
mantap
2025-03-29
0
Yoihoi Yoi
awkwk polos dia
2023-08-12
1
Christian Sondakh
👍
2023-07-28
0