Chapter : 18 – Yu Ping

Sung Han mengerjap-ngerjapkan matanya saat merasakan kepalanya menyentuh sesuatu yang keras sekaligus dingin. Hal pertama yang dilihatnya adalah tembok batu berwarna hitam namun sedikit mengkilap.

Menolehkan sedikit kepalanya, dia melihat pagar besi yang kokoh kuat. Daripada disebut besi, lebih tepatnya pagar itu dibuat dari batu yang agaknya berbahan sama dengan ruangan ini.

Tak ada penerangan sama sekali kecuali sedikit cahaya lilin di depan ruangan Sung Han.

Pemuda ini bangkit duduk seraya melihat sekitar untuk menemukan pedangnya terletak di sudut ruangan. Sesaat dia bertanya-tanya, namun tak lama setelah itu Sung Han mencela.

"Bangsat, aku dimasukkan dalam kamar tahanan!"

Ia ambil pedang itu dan diselipkannya di pinggang sama seperti sebelumnya. Kemudian Sung Han berdiri dan menghadap pagar batu hitam mengkilap itu.

"Kalian pikir penjara seperti ini mampu memenjarakan aku!?"

Gumamnya perlahan dan mulai mengangkat tangan. Lalu dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, dia tinjukan kepalan tangan itu ke pintu pagar.

"Klang!!"

Suara nyaring terdengar. Namun bukannya pagar batu itu yang jebol, melainkan tangan Sung Han yang terasa nyeri. Untung bahwa tubuhnya sudah keras dengan hasil pelatihan gurunya, jika tidak agaknya tulang tangannya sudah remuk.

"Sialan, aku tidak bisa mengerahkan tenaga dalamku!?"

Walau bingung setengah mati, Sung Han kembali berusaha dan mencoba. Namun dalam percobaan-percobaan berikutnya, hasilnya masih sama dan tenaga dalamnya seperti terkunci di dalam tubuhnya setiap kali ia arahkan menuju tangan.

"Apa-apaan penjara ini? Hm...hebat juga Naga Hitam bisa memiliki tempat yang seperti ini. Kiranya dengan ini tidak akan ada tahanan pendekar kuat yang dapat kabur dengan mudah."

Setelah berputar-putar di ruangan sempit itu selama beberapa saat dan menemukan fakta bahwa memang batu tempat penjara ini terbentuk merupakan batu khusus, maka Sung Han tak ada pilihan lain selain duduk bersila.

Niat awalnya untuk bermeditasi, namun akhirnya ia urungkan karena meditasi pun percuma. Hawa alam seolah membentur suatu tembok dalam tubuh yang menghalanginya masuk ke dalam.

"Sialan! Nasib sial!" umpatnya keras.

Akhirnya Sung Han duduk diam dan memejamkan mata. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya ia tak mau memikirkan itu. Biarlah takdir berjalan semestinya, pikirnya.

Kurang lebih satu jam kemudian, sayup-sayup dia mendengar suara langkah kaki dan senandung seorang gadis. Langkah kaki itu seperti berjalan melompat-lompat dan mendengar dari suara senandungnya, Sung Han menaksir umurnya tak lebih dari lima belas tahun.

Tak berselang lama, Sung Han melihat seorang gadis berpakaian serba hitam, pakaian seraga Naga Hitam.

Rambutnya di gelung di kanan dan kiri kepala dengan ikatan sebuah sutra merah. Matanya lebar, pipinya bersemu kemerahan saking putih wajahnya. Mulutnya yang merah itu selalu tersenyum lebar.

Tanpa sadar Sung Han terbelalak dan bergumam lirih, "Tang....Qian....?"

Gadis itu memandang bingung dengan miringkan kepala, "Kakak inikah yang menjadi tamu di sini?"

Sung Han tak merespon karena wajah itu sangat mirip dengan Tang Qian. Entah mirip atau dia sendiri yang kebayakan berkhayal.

Gadis kecil tiga belas tahun itu nampak jengah dan menampar pintu pagar batu.

"Hey, jangan menatapku seperti itu hidung belang!"

Seperti tersadar dari mimpi, Sung Han terperanjat dan memandang gadis itu. Ternyata dia membawa senampan makanan hangat.

"Kau mau apa kemari?" tanya Sung Han ketus.

"Ketua menyuruhku mengirim makanan, nih makanlah. Makanan buatan kakak enak sekali loh...." ucap gadis itu yang seolah lupa akan kemarahannya.

Memang melihat makanan itu, Sung Han susah payah meneguk air liurnya. Perutnya memang lapar dan minta diisi, namun mengingat perlakuan Naga Hitam kepadanya, ia bersedekap dan memalingkan wajah.

"Hmph....tak sudi!"

"Ehh...." gadis itu nampak sedih, "Kakakku membuatkannya untukmu, setidaknya hargai dia!" serunya kemudian.

"Hargai? Hei adik kecil, Naga Hitam sama sekali tidak menghargai aku!! Memang kuakui sikapku amat kurang ajar kepada ketuamu, tapi tidak seharusnya mereka memenjarakan aku! Apakah ketuamu lupa akan kelakuan murid-muridnya lima tahun lalu?" bentak Sung Han yang sudah marah kembali.

Namun gadis itu malah memandang bengong dengan tatapan kosong. Mungkin karena pada waktu itu dia masih kecil, bahkan saat ini pun masih kecil, sehingga dia tak paham ucapan Sung Han.

"Ya...ya...baiklah, kalau begitu akan kusuapi engkau." katanya dan mengambil sumpit lalu mencomot pangsit di salah satu mangkok. "Buka mulutmu...." ucapnya lagi sambil membuka mulutnya sendiri. Sikapnya seperti seorang ibu yang hendak menyuapi anaknya.

"Apa-apaan dirimu!" bentak Sung Han, "Aku bilang tidak mau!!"

Gadis ini kembali memandang bingung, "Kakakku tubuhnya lemah dan sering sakit. Lalu ketika dia tak mau makan, aku selalu menyuapinya dan dengan cara itulah dia mau makan. Kupikir kau dan kakakku dalam keadaan yang sama?"

"Pemikiran dari mana itu!?"

Gadis itu masih setia menyodorkan pangsitnya. Namun karena lama Sung Han tak menyambut, akhirnya dia memakan sendiri pangsit itu setiap satu menit sekali jika Sung Han tak mau makan.

Sung Han merasa mendongkol, sejatinya dia juga ingin makan karena perutnya sudah "bernyanyi". Dia menunggu gadis itu pergi dan malah tak pergi-pergi.

Namun karena sudah tak tahan menyaksikan gadis itu makan sendiri, Sung Han tak peduli karena malu atau apa pun lagi. Saat gadis itu ingin kembali memasukkan pangsitnya ke mulut, cepat Sung Han menyosor dan memakan pangsit itu.

Akibatnya, dahi mereka tak sengaja bertemu dan gadis itu terbelalak. Dia terhipnotis dengan iris kuning Sung Han yang menurutnya sangat indah menenangkan.

Namun hanya sebentar saja karena Sung Han sudah menjauhkan lagi kepalanya.

Gadis itu tersenyum ceria, "Bagus...." tangannya terulur untuk mengelus kepala Sung Han.

"Tak usah berlaku seperti itu!" tukas Sung Han menyingkirkan tangan si gadis, "Aku bukan anak-anak!"

Lagi-lagi, tatapan bingung yang Sung Han terima dari gadis itu, "Kakakku bahkan lebih tua darimu. Tapi setiap kali kugosok kepalanya, dia nampak senang." gadis itu menyentuh dahi Sung Han dengan sumpit, "Eh kakak yang baik, apakah kau bukan manusia?"

Tak ada waktu mendebat, Sung Han hanya diam saja dan terus disuapi oleh gadis itu. Setelah selesai, gadis ini langsung pergi tanpa sepatah kata pun, membuat Sung Han bingung sekali.

"Eh...mana sikap ramah dan ceria tadi?"

...****************...

Hari-hari berikutnya, betapa mendongkol hatinya karena baik Giok Shi atau Gu Ren belum datang untuk membebaskannya. Yang datang hanyalah si gadis kecil yang mengaku bernama Yu Ping.

Setiap harinya, dengan telaten gadis itu menyuapi Sung Han. Dan pemuda itu juga tidak menolak lagi. Menganggap kalau acara suap-menyuap ini sebagai hiburan di penjara. Lagipula, dia juga butuh teman manusia di tempat sunyi ini.

Namun, pada hari kelima, saat Sung Han mendengar langkah kaki seseorang, dia tidak lagi menengar senandung kecil dari si manis Yu Ping. Dirinya bertanya-tanya.

Saat orang itu sudah sampai, lekas Sung Han menyambut.

"Yu Ping–Ughh!"

Yang didapatnya adalah siraman kuah panas dari salah satu mangkok makanan. Membuatnya gelagapan dan berguling-guling.

"Yu Ping, apa yang kau lakukan?" sentaknya.

"Heh....seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan terhadap adikku!? Setiap hari disuapi olehnya? Hei, kau memaksa dia kan, dasar cabul!!" bentak orang yang mengantarkan makanan itu.

Sung Han bengong, memandang kosong kearah wanita sembilan belas tahunan yang memandangnya dengan sinar berapi itu. Sekilas dia seperti melihat Yu Ping dewasa, namun wajah yang pucat serta bibir sedikit membiru itu segera menepis segala pemikirannya.

"Nah kan, kau memang cabul dan hidung belang! Melihat wanita penyakitan seperti aku saja sudah tak berkedip!" cela wanita itu dan menyodorkan makanannya dengan kasar.

"Eh...kakak Yu Ping?"

Sebelum orang itu pergi, dia berkata singkat, "Besok kau keluar dari sini."

Sung Han tak terlalu memedulikan hal itu dan dia cepat memakan makan malamnya.

...****************...

Sesuai perkataan dari kakak Yu Ping, keesokan paginya Giok Shi sendiri dan Gu Ren yang datang untuk membukakan pintu tahanan. Sung Han menatap dengan dingin.

"Sudah bosan mengeram aku di tempat seperti ini?" tanya pemuda itu.

Giok Shi menggeleng dan menghela nafas berat, "Bukan seperti itu anak muda. Harap kau jangan salah paham, kau di sini demi kemananmu. Dan setelah ini kau harus tinggal di markas kami untuk beberapa lama demi keamananmu pula."

Sung Han merasa muak dengan hal itu, "Apa maksudmu? Kau pikir aku tak bisa menjaga diri sendiri. Lalu, apa maksudmu berkata seperti itu? Mengasihani aku hah?"

"Bukan...bukan seperti itu. Anak muda, mungkin sekarang kau menjadi incaran daripada Hati Iblis."

"Bagus, aku tidak takut!!"

Namun sebelum Sung Han bangkit, Giok Shi sudah lebih dulu berkata, "Hati Iblis ingin menangkapmu karena pedangmu itu. Anak muda, pembantaian yang kau lakukan di hutan itu tidaklah bersih. Ada dua orang dari kami yang selamat dan ada seorang dari mereka yang berhasil lolos."

Sung Han nampak kaget, "Apa?"

"Pedang Gerhana Matahari, menurut laporan anak buahku, itulah perkataan yang diucapkan dari anggota Hati Iblis yang selamat. Namun beruntungnya dirimu karena orang itu menjadi gila setelah mengatakan itu. Mungkin batinnya terguncang setelah melihat apa yang kau lakukan saat itu, sehingga Hati Iblis tidak mengetahui wajahmu." kata Giok Shi, sinar matanya nampak prihatin.

Sung Han meloncat dan bersiap, "Oh, pedang inikan yang menjadi rebutan seluruh rimba persilatan? Nah...sekarang kau mau merebutnya?"

Giok Shi menggeleng, "Tidak....tidak...selama ada aku tak akan ada yang berani melakukan itu di sini. Lagipula aku sudah memiliki satu dari kitab Raja Dunia silat."

"Lalu, kau tidak mengambil pedang ini?"

Giok Shi mengerutkan kening, "Butuh penjelasan panjang. Mari ikut kami dan kita bicarakan sambil berjalan."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

BERSAMBUNG

Terpopuler

Comments

adhy nofx

adhy nofx

lanjut thor

2025-03-30

0

Ivan Sumampouw

Ivan Sumampouw

kenapa ceritanya jelek sekali 🤑

2023-08-14

2

Christian Sondakh

Christian Sondakh

👍👍

2023-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter : 1 – Awal
2 Chapter : 2 – Hati yang Berdarah
3 Chapter : 3 – Konflik
4 Chapter : 4 – Pertemuan Dengan Guru
5 Chapter : 5 – Tugas Ringan yang Sangat Berat
6 Chapter : 6 – Sudah Waktunya
7 Chapter : 7 – Jadilah Orang Baik
8 Chapter : 8 – Sang Pewaris
9 Chapter : 9 – Keributan di Desa
10 Chapter : 10 – Kibasan Pengusir Nyamuk
11 Chapter : 11 – Hati Iblis
12 Chapter : 12 – Kemarahan Tak Berdasar
13 Chapter : 13 – Penebar Maut
14 Chapter : 14 – Api di Hati
15 Chapter : 15 – Undangan
16 Chapter : 16 – Menemui Guru Besar Naga Hitam
17 Chapter : 17 – Tertangkap
18 Chapter : 18 – Yu Ping
19 Chapter : 19 – Penjelasan
20 Chapter : 20 – Aku Ingin Bicara
21 Chapter : 21 – Diskusi
22 Chapter : 22 – Senyum untuk Sung Han
23 Chapter : 23 – Pertunjukan Silat
24 Chapter : 24 – Pengepungan
25 Chapter : 25 – Satu Lawan Banyak
26 Chapter : 26 – Si Nenek Bibir Merah
27 Chapter : 27 – Malapetaka
28 Chapter : 28 – Perpisahan
29 Chapter : 29 – Sebatang Kara
30 Chapter : 30 – Kegemparan
31 Chapter : 31 – Penyerangan
32 Chapter : 32 – Cari Ribut
33 Chapter : 33 – Bisikan
34 Chapter : 34 – Penyerbuan [Bagian : 1]
35 Chapter : 35 – Perguruan Awan
36 Chapter : 36 – Orang Aneh
37 Chapter : 37 – Si Botak
38 Chapter : 38 – Mencari Jejak
39 Chapter : 39 – Keganjilan
40 Chapter : 40 – Darah
41 Chapter : 41 – Perpustakaan dan Prasangka
42 Chapter : 42 – Titik Terang
43 Chapter : 43 – Mengenaskan
44 Chapter : 44 – Wanita di Balik Kegelapan
45 Chapter : 45 – Tak Bisa Lolos Lagi
46 Chapter : 46 – Bu Cai
47 Chapter : 47 – Kau Orang Baik
48 Chapter : 48 – Kisah Masa Silam
49 Chapter : 49 – Sastrawan Pinggir Jalan
50 Chapter : 50 – Jurang Sungai
51 Chapter : 51 – Lembah Setan
52 Chapter : 52 – Cahaya di Dasar Jurang
53 Chapter : 53 – Kekacauan di Dasar Jurang
54 Chapter : 54 – Lelaki Berbaju Hitam
55 Chapter : 55 – Jebakan
56 Chapter 56 – Hujan Panah dan Batu
57 Chapter : 57 – Kekasih
58 Chapter : 58 – Hidup
59 Chapter : 59 – Goa
60 Chapter : 60 – Celaka, Pantas dan Untung
61 Chapter : 61 – Perempatan
62 Chapter : 62 – Pemilik Goa
63 Chapter : 63 – Seratus Hari [Bagian : 2]
64 Chapter : 64 – Putri Hati Iblis
65 Chapter : 65 – Pemuda Lapar
66 Chapter : 66 – Petaka Para Pendekar
67 Chapter : 67 – Pangeran Chang Song Ci
68 Chapter : 68 – Pendekar Gagal
69 Chapter : 69 – Satu Tujuan
70 Chapter : 70 – Mampir Sejenak
71 Chapter : 71 – Menyelidik
72 Chapter : 72 – Babi Galak
73 Chapter : 73 – Dua Lawan Banyak
74 Chapter : 74 – Melemah
75 Chapter : 75 – Bertemu
76 Chapter : 76 – Korban Pertama Gerhana Bulan
77 Chapter : 77 – Timbul Dendam
78 Chapter : 78 – Hilang
79 Chapter : 79 – Gadis Pencuri
80 Chapter : 80 – Serigala Tengah Malam
81 Chapter : 81 – Perang Kecil di Desa
82 Chapter : 82 – Seorang Pemuda
83 Chapter : 83 – Kambing Hitam
84 Chapter : 84 – Badai Salju Pembeku Darah
85 Chapter : 85 – Pengeroyokan
86 Chapter : 86 – Kedatangan Sung Han
87 Chapter : 87 – Siasat Topeng Emas
88 Chapter : 88 – Guru dan Murid
89 Chapter 89 – Jalan Terjal
90 Chapter : 90 – Mencurigakan
91 Chapter : 91 – Formasi Serigala Tengah Malam
92 Chapter : 92 – Kabur
93 Chapter : 93 – Kebetulan
94 Chapter : 94 – Pertukaran
95 Chapter : 95 – Cerobong Asap
96 Chapter : 96 – Tujuan Masing-Masing
97 Chapter : 97 – Perjalanan Sung Hwa
98 Chapter : 98 – Perkenalan
99 Chapter : 99 – Si Jubah Merah
100 Chapter : 100 – Penyelamat Sung Hwa
101 Chapter : 101 – Kerajaan Manusia Gunung
102 Chapter : 102 – Tentang Manusia Gunung
103 Chapter : 103 – Kekuatan dari Dewa
104 Chapter : 104 – Calon Pasutri [Bagian : 3]
105 Chapter : 105 – Penyerbuan di Selatan [][][]
106 Chapter : 106 – Jenderal Hong Ciu [][][]
107 Chapter : 107 – Siasat Kekaisaran Jeiji [][][]
108 Chapter : 108 – Pertempuran [][][]
109 Chapter : 109 – Murid Chunglai [][][]
110 Chapter : 110 – Tradisi Lima Tahun Sekali [][][]
111 Chapter : 111 – Rahasia Chunglai [][][]
112 Chapter : 112 – Puncaknya [][][]
113 Chapter : 113 – Perang Saudara [][][]
114 Chapter : 114 – Rencana Terakhir [][][]
115 Chapter : 115 – Wanita di Tengah Hutan [][][]
116 Chapter : 116 – Sastrawan Pinggir Jalan 2
117 Chapter : 117 – Geger di Kota Sutra Putih
118 Chapter : 118 – Penguntit
119 Chapter : 119 – Peti Hitam
120 Chapter : 120 – Tok Ciauw
121 Chapter : 121 – Penjara
122 Chapter : 122 – Kekuatan Baru
123 Chapter : 123 – Wajah di Balik Topeng
124 Chapter : 124 – Penculikan
125 Chapter : 125 – Kambing Hitam Lagi?
126 Chapter : 126 – Situasi Sulit
127 Chapter : 127 – Petualangan Bersama
128 Chapter : 128 – Pura-Pura Tidur
129 Chapter : 129 – Dendam Yang Membutakan
130 Chapter : 130 – Tuduh Menuduh
131 Chapter : 131 – Pertemuan di Gunung Angsa
132 Chapter : 132 – Ketua Golongan Sesat
133 Chapter : 133 – Sebuah Kutukan, Takdir Kita
134 Chapter : 134 – Kau Orang Baik 2
135 Chapter : 135 – Para Pemberontak
136 Chapter : 136 – Keadaan Saat Ini
137 Chapter : 137 – Kisah Kelam Ratu Elang
138 Chapter : 138 – Teror Rajawali Merah
139 Chapter : 139 – Bercakap-Cakap
140 Chapter : 140 – Nona Han
141 Chapter : 141 – Rencana Mereka
142 Chapter : 142 – Kesaksian Nona Han
143 Chapter : 143 – Sung Han dan Rajawali Merah
144 Chapter : 144 – Dia Inilah Orang yang Kau Maksudkan
145 Chapter : 145 – Pesan Guru
146 Chapter : 146 – Aku Tak Akan Membunuhmu
147 Chapter : 147 – Naga Sakti Ujung Timur
148 Chapter : 148 – Sastrawan Pinggir Jalan 3
149 Chapter : 149 – Rajawali Merah Asli
150 Chapter : 150 – Kau Orang Baik 3
151 Chapter : 151 – Misteri Serigala Tengah Malam
152 Chapter : 152 – Peringatan Orang-Orang Sawah
153 Chapter : 153 – Terjebak
154 Chapter : 154 – Pewaris Pusaka Keramat
155 Chapter : 155 – Lumpur Hisap
156 Chapter : 156 – Gerak-Gerik Aneh
157 Chapter : 157 – Jebakan Penyergap
158 Chapter : 158 – Kalah
159 Chapter : 159 – Tertawan Bersama
160 Chapter : 160 – Siasat Putri Chang Song Zhu
161 Chapter : 161 – Penguntitan
162 Chapter : 162 – Perjalanan Bersama
163 Chapter : 163 – Pemberontak Tuduh Pemberontak
164 Chapter : 164 – Perang Tanding Depan Benteng
165 Chapter : 165 – Jatuhnya Kepala Topeng Emas
166 Chapter : 166 – Terbukanya Sosok di Balik Topeng
167 Chapter : 167 – Berutang Lagi
168 Chapter : 168 – Kau Bukanlah Orang Baik
169 Chapter : 169 – Elang dan Rajawali
170 Chapter : 170 – Keganasan Rajawali
171 Chapter : 171 – Aku Bukanlah Orang Baik
172 Chapter : 172 – Ingin Bertemu Keluargaku
173 Chapter : 173 – Iblis Peti Goa Emas
174 Chapter : 174 – Perpisahan
175 Chapter : 175 – Bersekutu
176 Chapter : 176 – Mengejutkan
177 Chapter : 177 – Naga Sakti
178 Chapter : 178 – Rombongan
179 Chapter : 179 – Rombongan 2
180 Chapter : 180 – Jejaknya
181 Chapter : 181 – Negosiasi
182 Chapter : 182 – Datang Memenuhi Undangan
183 Chapter : 183 – Keputusan Kay Su Tek
184 Chapter : 184 – Goa Emas
185 Chapter : 185 – Orang yang Dihormatinya
186 Chapter : 186 – Para Ronin
187 Chapter : 187 – Tiga Jembel
188 Chapter : 188 – Pendekar dan Ronin
189 Chapter : 189 – Jangan Bunuh
190 Chapter : 190 – Pengecut
191 Chapter : 191 – Jebakan Pertama
192 Chapter : 192 – Jebakan Kedua
193 Chapter : 193 – Pilihan
194 Chapter : 194 – Asap Hitam
195 Chapter : 195 – Gempa
196 Chapter : 196 – Tempat Rahasia [Bagian : 4]
197 Chapter : 197 – Sosok Misterius
198 Chapter : 198 – Xian Fa
199 Chapter : 199 – Para Biksuni
200 Chapter : 200 – Tasbih
201 Chapter : 201 – Dugaan Yu Ping
202 Chapter : 202 – Kakak Adik
203 Chapter : 203 – Kawan Lama
204 Chapter : 204 – Menuju ke Tempat Pertarungan
205 Chapter : 205 – Keramaian di Puncak
206 Chapter : 206 – Pertarungan Mati-Matian
207 Chapter : 207 – Pertarungan Antar Pewaris
208 Chapter : 208 – Takdir
209 Chapter : 209 – Kisah Mereka
210 Chapter : 210 – Tujuan Berikutnya
211 Chapter : 211 – Sahabat Kami
212 Chapter : 212 – Sejarah Goa Emas
213 Chapter : 213 – Keadaan di Timur
214 Chapter : 214 – Belajar Kenal
215 Chapter : 215 – Keputusan Jenderal
216 Chapter : 216 – Perang Berat Sebelah
217 Chapter : 217 – Kau Orang Baik 4
218 Chapter : 218 – Keputusasaan Sung Han
219 Chapter : 219 – Rencana Penyambutan Lawan
220 Chapter : 220 – Pertempuran Kedua
221 Chapter : 221 – Enam Bulan Setelahnya [Bagian : 5]
222 Chapter : 222 – Kehidupan Mereka
223 Chapter : 223 – Situasi yang Kacau
224 Chapter : 224 – Seleksi Pengawal
225 Chapter : 225 – Lolos Seleksi
226 Chapter : 226 – Hok Liu
227 Chapter : 227 – Usaha Merobek Topeng
228 Chapter : 228 – Identitas Para Penyamar
229 Chapter : 229 – Tiga Sahabat
230 Chapter : 230 – Bakar Gudang
231 Chapter : 231 – Rencana yang Tidak Mulus
232 Chapter : 232 – Empat Lawan Tiga
233 Chapter : 233 – Sahabat
234 Chapter : 234 – Salah Paham
235 Chapter : 235 – Kita Semua Sahabat
236 Chapter : 236 – Penyerbuan Sang Putri
237 Chapter : 237 – Kegelisahan
238 Chapter : 238 – Keadaan yang Memburuk
239 Chapter : 239 – Kakek Pembawa Peti
240 Chapter : 240 – Pertemuan Tokoh-Tokoh Pertapa
241 Chapter : 241 – Pasukan Manusia Gunung
242 Chapter : 242 – Keputusan Raja Chunglai
243 Chapter : 243 – Pernikahan yang Terburu-Buru
244 Chapter : 244 – Kenangan Manis
245 Chapter : 245 – Perhatian Seorang Istri
246 Chapter : 246 – Semoga Saja Benar
247 Chapter : 247 – Ini yang Terakhir
248 Chapter : 248 – Awal dari Kejadian Besar
249 Chapter : 249 – Keluar Goa
250 Chapter : 250 – Kenakalan Istri
251 Chapter : 251 – Kerisauan Sung Han
252 Chapter : 252 – Laporan Sung Han
253 Chapter : 253 – Percakapan Suami Istri
254 Chapter : 254 – Kalian Keluargaku
255 Chapter : 255 – Kabar Buruk yang Tersembunyi
256 Chapter : 256 – Titah Kaisar
257 Chapter : 257 – Usul Sung Han
258 Chapter : 258 – Pembagian Kelompok Pasukan
259 Chapter : 259 – Pimpinan Tunggal
260 Chapter : 260 – Pertentangan Paham
261 Chapter : 261 – Perseteruan Mereka
262 Chapter : 262 – Rencana Pemilihan Pemimpin
263 Chapter : 263 – Pertemuan di Bukit
264 Chapter : 263 – Pertarungan Raja Dunia Silat
265 Chapter : 264 – Tugas Pertama
266 Chapter : 265 – Pertempuran Batin
267 Chapter : 266 – Siasat Sung Han
268 Chapter : 267 – Puncaknya
269 Chapter : 268 – Tugas Berikutnya
Episodes

Updated 269 Episodes

1
Chapter : 1 – Awal
2
Chapter : 2 – Hati yang Berdarah
3
Chapter : 3 – Konflik
4
Chapter : 4 – Pertemuan Dengan Guru
5
Chapter : 5 – Tugas Ringan yang Sangat Berat
6
Chapter : 6 – Sudah Waktunya
7
Chapter : 7 – Jadilah Orang Baik
8
Chapter : 8 – Sang Pewaris
9
Chapter : 9 – Keributan di Desa
10
Chapter : 10 – Kibasan Pengusir Nyamuk
11
Chapter : 11 – Hati Iblis
12
Chapter : 12 – Kemarahan Tak Berdasar
13
Chapter : 13 – Penebar Maut
14
Chapter : 14 – Api di Hati
15
Chapter : 15 – Undangan
16
Chapter : 16 – Menemui Guru Besar Naga Hitam
17
Chapter : 17 – Tertangkap
18
Chapter : 18 – Yu Ping
19
Chapter : 19 – Penjelasan
20
Chapter : 20 – Aku Ingin Bicara
21
Chapter : 21 – Diskusi
22
Chapter : 22 – Senyum untuk Sung Han
23
Chapter : 23 – Pertunjukan Silat
24
Chapter : 24 – Pengepungan
25
Chapter : 25 – Satu Lawan Banyak
26
Chapter : 26 – Si Nenek Bibir Merah
27
Chapter : 27 – Malapetaka
28
Chapter : 28 – Perpisahan
29
Chapter : 29 – Sebatang Kara
30
Chapter : 30 – Kegemparan
31
Chapter : 31 – Penyerangan
32
Chapter : 32 – Cari Ribut
33
Chapter : 33 – Bisikan
34
Chapter : 34 – Penyerbuan [Bagian : 1]
35
Chapter : 35 – Perguruan Awan
36
Chapter : 36 – Orang Aneh
37
Chapter : 37 – Si Botak
38
Chapter : 38 – Mencari Jejak
39
Chapter : 39 – Keganjilan
40
Chapter : 40 – Darah
41
Chapter : 41 – Perpustakaan dan Prasangka
42
Chapter : 42 – Titik Terang
43
Chapter : 43 – Mengenaskan
44
Chapter : 44 – Wanita di Balik Kegelapan
45
Chapter : 45 – Tak Bisa Lolos Lagi
46
Chapter : 46 – Bu Cai
47
Chapter : 47 – Kau Orang Baik
48
Chapter : 48 – Kisah Masa Silam
49
Chapter : 49 – Sastrawan Pinggir Jalan
50
Chapter : 50 – Jurang Sungai
51
Chapter : 51 – Lembah Setan
52
Chapter : 52 – Cahaya di Dasar Jurang
53
Chapter : 53 – Kekacauan di Dasar Jurang
54
Chapter : 54 – Lelaki Berbaju Hitam
55
Chapter : 55 – Jebakan
56
Chapter 56 – Hujan Panah dan Batu
57
Chapter : 57 – Kekasih
58
Chapter : 58 – Hidup
59
Chapter : 59 – Goa
60
Chapter : 60 – Celaka, Pantas dan Untung
61
Chapter : 61 – Perempatan
62
Chapter : 62 – Pemilik Goa
63
Chapter : 63 – Seratus Hari [Bagian : 2]
64
Chapter : 64 – Putri Hati Iblis
65
Chapter : 65 – Pemuda Lapar
66
Chapter : 66 – Petaka Para Pendekar
67
Chapter : 67 – Pangeran Chang Song Ci
68
Chapter : 68 – Pendekar Gagal
69
Chapter : 69 – Satu Tujuan
70
Chapter : 70 – Mampir Sejenak
71
Chapter : 71 – Menyelidik
72
Chapter : 72 – Babi Galak
73
Chapter : 73 – Dua Lawan Banyak
74
Chapter : 74 – Melemah
75
Chapter : 75 – Bertemu
76
Chapter : 76 – Korban Pertama Gerhana Bulan
77
Chapter : 77 – Timbul Dendam
78
Chapter : 78 – Hilang
79
Chapter : 79 – Gadis Pencuri
80
Chapter : 80 – Serigala Tengah Malam
81
Chapter : 81 – Perang Kecil di Desa
82
Chapter : 82 – Seorang Pemuda
83
Chapter : 83 – Kambing Hitam
84
Chapter : 84 – Badai Salju Pembeku Darah
85
Chapter : 85 – Pengeroyokan
86
Chapter : 86 – Kedatangan Sung Han
87
Chapter : 87 – Siasat Topeng Emas
88
Chapter : 88 – Guru dan Murid
89
Chapter 89 – Jalan Terjal
90
Chapter : 90 – Mencurigakan
91
Chapter : 91 – Formasi Serigala Tengah Malam
92
Chapter : 92 – Kabur
93
Chapter : 93 – Kebetulan
94
Chapter : 94 – Pertukaran
95
Chapter : 95 – Cerobong Asap
96
Chapter : 96 – Tujuan Masing-Masing
97
Chapter : 97 – Perjalanan Sung Hwa
98
Chapter : 98 – Perkenalan
99
Chapter : 99 – Si Jubah Merah
100
Chapter : 100 – Penyelamat Sung Hwa
101
Chapter : 101 – Kerajaan Manusia Gunung
102
Chapter : 102 – Tentang Manusia Gunung
103
Chapter : 103 – Kekuatan dari Dewa
104
Chapter : 104 – Calon Pasutri [Bagian : 3]
105
Chapter : 105 – Penyerbuan di Selatan [][][]
106
Chapter : 106 – Jenderal Hong Ciu [][][]
107
Chapter : 107 – Siasat Kekaisaran Jeiji [][][]
108
Chapter : 108 – Pertempuran [][][]
109
Chapter : 109 – Murid Chunglai [][][]
110
Chapter : 110 – Tradisi Lima Tahun Sekali [][][]
111
Chapter : 111 – Rahasia Chunglai [][][]
112
Chapter : 112 – Puncaknya [][][]
113
Chapter : 113 – Perang Saudara [][][]
114
Chapter : 114 – Rencana Terakhir [][][]
115
Chapter : 115 – Wanita di Tengah Hutan [][][]
116
Chapter : 116 – Sastrawan Pinggir Jalan 2
117
Chapter : 117 – Geger di Kota Sutra Putih
118
Chapter : 118 – Penguntit
119
Chapter : 119 – Peti Hitam
120
Chapter : 120 – Tok Ciauw
121
Chapter : 121 – Penjara
122
Chapter : 122 – Kekuatan Baru
123
Chapter : 123 – Wajah di Balik Topeng
124
Chapter : 124 – Penculikan
125
Chapter : 125 – Kambing Hitam Lagi?
126
Chapter : 126 – Situasi Sulit
127
Chapter : 127 – Petualangan Bersama
128
Chapter : 128 – Pura-Pura Tidur
129
Chapter : 129 – Dendam Yang Membutakan
130
Chapter : 130 – Tuduh Menuduh
131
Chapter : 131 – Pertemuan di Gunung Angsa
132
Chapter : 132 – Ketua Golongan Sesat
133
Chapter : 133 – Sebuah Kutukan, Takdir Kita
134
Chapter : 134 – Kau Orang Baik 2
135
Chapter : 135 – Para Pemberontak
136
Chapter : 136 – Keadaan Saat Ini
137
Chapter : 137 – Kisah Kelam Ratu Elang
138
Chapter : 138 – Teror Rajawali Merah
139
Chapter : 139 – Bercakap-Cakap
140
Chapter : 140 – Nona Han
141
Chapter : 141 – Rencana Mereka
142
Chapter : 142 – Kesaksian Nona Han
143
Chapter : 143 – Sung Han dan Rajawali Merah
144
Chapter : 144 – Dia Inilah Orang yang Kau Maksudkan
145
Chapter : 145 – Pesan Guru
146
Chapter : 146 – Aku Tak Akan Membunuhmu
147
Chapter : 147 – Naga Sakti Ujung Timur
148
Chapter : 148 – Sastrawan Pinggir Jalan 3
149
Chapter : 149 – Rajawali Merah Asli
150
Chapter : 150 – Kau Orang Baik 3
151
Chapter : 151 – Misteri Serigala Tengah Malam
152
Chapter : 152 – Peringatan Orang-Orang Sawah
153
Chapter : 153 – Terjebak
154
Chapter : 154 – Pewaris Pusaka Keramat
155
Chapter : 155 – Lumpur Hisap
156
Chapter : 156 – Gerak-Gerik Aneh
157
Chapter : 157 – Jebakan Penyergap
158
Chapter : 158 – Kalah
159
Chapter : 159 – Tertawan Bersama
160
Chapter : 160 – Siasat Putri Chang Song Zhu
161
Chapter : 161 – Penguntitan
162
Chapter : 162 – Perjalanan Bersama
163
Chapter : 163 – Pemberontak Tuduh Pemberontak
164
Chapter : 164 – Perang Tanding Depan Benteng
165
Chapter : 165 – Jatuhnya Kepala Topeng Emas
166
Chapter : 166 – Terbukanya Sosok di Balik Topeng
167
Chapter : 167 – Berutang Lagi
168
Chapter : 168 – Kau Bukanlah Orang Baik
169
Chapter : 169 – Elang dan Rajawali
170
Chapter : 170 – Keganasan Rajawali
171
Chapter : 171 – Aku Bukanlah Orang Baik
172
Chapter : 172 – Ingin Bertemu Keluargaku
173
Chapter : 173 – Iblis Peti Goa Emas
174
Chapter : 174 – Perpisahan
175
Chapter : 175 – Bersekutu
176
Chapter : 176 – Mengejutkan
177
Chapter : 177 – Naga Sakti
178
Chapter : 178 – Rombongan
179
Chapter : 179 – Rombongan 2
180
Chapter : 180 – Jejaknya
181
Chapter : 181 – Negosiasi
182
Chapter : 182 – Datang Memenuhi Undangan
183
Chapter : 183 – Keputusan Kay Su Tek
184
Chapter : 184 – Goa Emas
185
Chapter : 185 – Orang yang Dihormatinya
186
Chapter : 186 – Para Ronin
187
Chapter : 187 – Tiga Jembel
188
Chapter : 188 – Pendekar dan Ronin
189
Chapter : 189 – Jangan Bunuh
190
Chapter : 190 – Pengecut
191
Chapter : 191 – Jebakan Pertama
192
Chapter : 192 – Jebakan Kedua
193
Chapter : 193 – Pilihan
194
Chapter : 194 – Asap Hitam
195
Chapter : 195 – Gempa
196
Chapter : 196 – Tempat Rahasia [Bagian : 4]
197
Chapter : 197 – Sosok Misterius
198
Chapter : 198 – Xian Fa
199
Chapter : 199 – Para Biksuni
200
Chapter : 200 – Tasbih
201
Chapter : 201 – Dugaan Yu Ping
202
Chapter : 202 – Kakak Adik
203
Chapter : 203 – Kawan Lama
204
Chapter : 204 – Menuju ke Tempat Pertarungan
205
Chapter : 205 – Keramaian di Puncak
206
Chapter : 206 – Pertarungan Mati-Matian
207
Chapter : 207 – Pertarungan Antar Pewaris
208
Chapter : 208 – Takdir
209
Chapter : 209 – Kisah Mereka
210
Chapter : 210 – Tujuan Berikutnya
211
Chapter : 211 – Sahabat Kami
212
Chapter : 212 – Sejarah Goa Emas
213
Chapter : 213 – Keadaan di Timur
214
Chapter : 214 – Belajar Kenal
215
Chapter : 215 – Keputusan Jenderal
216
Chapter : 216 – Perang Berat Sebelah
217
Chapter : 217 – Kau Orang Baik 4
218
Chapter : 218 – Keputusasaan Sung Han
219
Chapter : 219 – Rencana Penyambutan Lawan
220
Chapter : 220 – Pertempuran Kedua
221
Chapter : 221 – Enam Bulan Setelahnya [Bagian : 5]
222
Chapter : 222 – Kehidupan Mereka
223
Chapter : 223 – Situasi yang Kacau
224
Chapter : 224 – Seleksi Pengawal
225
Chapter : 225 – Lolos Seleksi
226
Chapter : 226 – Hok Liu
227
Chapter : 227 – Usaha Merobek Topeng
228
Chapter : 228 – Identitas Para Penyamar
229
Chapter : 229 – Tiga Sahabat
230
Chapter : 230 – Bakar Gudang
231
Chapter : 231 – Rencana yang Tidak Mulus
232
Chapter : 232 – Empat Lawan Tiga
233
Chapter : 233 – Sahabat
234
Chapter : 234 – Salah Paham
235
Chapter : 235 – Kita Semua Sahabat
236
Chapter : 236 – Penyerbuan Sang Putri
237
Chapter : 237 – Kegelisahan
238
Chapter : 238 – Keadaan yang Memburuk
239
Chapter : 239 – Kakek Pembawa Peti
240
Chapter : 240 – Pertemuan Tokoh-Tokoh Pertapa
241
Chapter : 241 – Pasukan Manusia Gunung
242
Chapter : 242 – Keputusan Raja Chunglai
243
Chapter : 243 – Pernikahan yang Terburu-Buru
244
Chapter : 244 – Kenangan Manis
245
Chapter : 245 – Perhatian Seorang Istri
246
Chapter : 246 – Semoga Saja Benar
247
Chapter : 247 – Ini yang Terakhir
248
Chapter : 248 – Awal dari Kejadian Besar
249
Chapter : 249 – Keluar Goa
250
Chapter : 250 – Kenakalan Istri
251
Chapter : 251 – Kerisauan Sung Han
252
Chapter : 252 – Laporan Sung Han
253
Chapter : 253 – Percakapan Suami Istri
254
Chapter : 254 – Kalian Keluargaku
255
Chapter : 255 – Kabar Buruk yang Tersembunyi
256
Chapter : 256 – Titah Kaisar
257
Chapter : 257 – Usul Sung Han
258
Chapter : 258 – Pembagian Kelompok Pasukan
259
Chapter : 259 – Pimpinan Tunggal
260
Chapter : 260 – Pertentangan Paham
261
Chapter : 261 – Perseteruan Mereka
262
Chapter : 262 – Rencana Pemilihan Pemimpin
263
Chapter : 263 – Pertemuan di Bukit
264
Chapter : 263 – Pertarungan Raja Dunia Silat
265
Chapter : 264 – Tugas Pertama
266
Chapter : 265 – Pertempuran Batin
267
Chapter : 266 – Siasat Sung Han
268
Chapter : 267 – Puncaknya
269
Chapter : 268 – Tugas Berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!