Sung Han mengerjap-ngerjapkan matanya saat merasakan kepalanya menyentuh sesuatu yang keras sekaligus dingin. Hal pertama yang dilihatnya adalah tembok batu berwarna hitam namun sedikit mengkilap.
Menolehkan sedikit kepalanya, dia melihat pagar besi yang kokoh kuat. Daripada disebut besi, lebih tepatnya pagar itu dibuat dari batu yang agaknya berbahan sama dengan ruangan ini.
Tak ada penerangan sama sekali kecuali sedikit cahaya lilin di depan ruangan Sung Han.
Pemuda ini bangkit duduk seraya melihat sekitar untuk menemukan pedangnya terletak di sudut ruangan. Sesaat dia bertanya-tanya, namun tak lama setelah itu Sung Han mencela.
"Bangsat, aku dimasukkan dalam kamar tahanan!"
Ia ambil pedang itu dan diselipkannya di pinggang sama seperti sebelumnya. Kemudian Sung Han berdiri dan menghadap pagar batu hitam mengkilap itu.
"Kalian pikir penjara seperti ini mampu memenjarakan aku!?"
Gumamnya perlahan dan mulai mengangkat tangan. Lalu dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, dia tinjukan kepalan tangan itu ke pintu pagar.
"Klang!!"
Suara nyaring terdengar. Namun bukannya pagar batu itu yang jebol, melainkan tangan Sung Han yang terasa nyeri. Untung bahwa tubuhnya sudah keras dengan hasil pelatihan gurunya, jika tidak agaknya tulang tangannya sudah remuk.
"Sialan, aku tidak bisa mengerahkan tenaga dalamku!?"
Walau bingung setengah mati, Sung Han kembali berusaha dan mencoba. Namun dalam percobaan-percobaan berikutnya, hasilnya masih sama dan tenaga dalamnya seperti terkunci di dalam tubuhnya setiap kali ia arahkan menuju tangan.
"Apa-apaan penjara ini? Hm...hebat juga Naga Hitam bisa memiliki tempat yang seperti ini. Kiranya dengan ini tidak akan ada tahanan pendekar kuat yang dapat kabur dengan mudah."
Setelah berputar-putar di ruangan sempit itu selama beberapa saat dan menemukan fakta bahwa memang batu tempat penjara ini terbentuk merupakan batu khusus, maka Sung Han tak ada pilihan lain selain duduk bersila.
Niat awalnya untuk bermeditasi, namun akhirnya ia urungkan karena meditasi pun percuma. Hawa alam seolah membentur suatu tembok dalam tubuh yang menghalanginya masuk ke dalam.
"Sialan! Nasib sial!" umpatnya keras.
Akhirnya Sung Han duduk diam dan memejamkan mata. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya ia tak mau memikirkan itu. Biarlah takdir berjalan semestinya, pikirnya.
Kurang lebih satu jam kemudian, sayup-sayup dia mendengar suara langkah kaki dan senandung seorang gadis. Langkah kaki itu seperti berjalan melompat-lompat dan mendengar dari suara senandungnya, Sung Han menaksir umurnya tak lebih dari lima belas tahun.
Tak berselang lama, Sung Han melihat seorang gadis berpakaian serba hitam, pakaian seraga Naga Hitam.
Rambutnya di gelung di kanan dan kiri kepala dengan ikatan sebuah sutra merah. Matanya lebar, pipinya bersemu kemerahan saking putih wajahnya. Mulutnya yang merah itu selalu tersenyum lebar.
Tanpa sadar Sung Han terbelalak dan bergumam lirih, "Tang....Qian....?"
Gadis itu memandang bingung dengan miringkan kepala, "Kakak inikah yang menjadi tamu di sini?"
Sung Han tak merespon karena wajah itu sangat mirip dengan Tang Qian. Entah mirip atau dia sendiri yang kebayakan berkhayal.
Gadis kecil tiga belas tahun itu nampak jengah dan menampar pintu pagar batu.
"Hey, jangan menatapku seperti itu hidung belang!"
Seperti tersadar dari mimpi, Sung Han terperanjat dan memandang gadis itu. Ternyata dia membawa senampan makanan hangat.
"Kau mau apa kemari?" tanya Sung Han ketus.
"Ketua menyuruhku mengirim makanan, nih makanlah. Makanan buatan kakak enak sekali loh...." ucap gadis itu yang seolah lupa akan kemarahannya.
Memang melihat makanan itu, Sung Han susah payah meneguk air liurnya. Perutnya memang lapar dan minta diisi, namun mengingat perlakuan Naga Hitam kepadanya, ia bersedekap dan memalingkan wajah.
"Hmph....tak sudi!"
"Ehh...." gadis itu nampak sedih, "Kakakku membuatkannya untukmu, setidaknya hargai dia!" serunya kemudian.
"Hargai? Hei adik kecil, Naga Hitam sama sekali tidak menghargai aku!! Memang kuakui sikapku amat kurang ajar kepada ketuamu, tapi tidak seharusnya mereka memenjarakan aku! Apakah ketuamu lupa akan kelakuan murid-muridnya lima tahun lalu?" bentak Sung Han yang sudah marah kembali.
Namun gadis itu malah memandang bengong dengan tatapan kosong. Mungkin karena pada waktu itu dia masih kecil, bahkan saat ini pun masih kecil, sehingga dia tak paham ucapan Sung Han.
"Ya...ya...baiklah, kalau begitu akan kusuapi engkau." katanya dan mengambil sumpit lalu mencomot pangsit di salah satu mangkok. "Buka mulutmu...." ucapnya lagi sambil membuka mulutnya sendiri. Sikapnya seperti seorang ibu yang hendak menyuapi anaknya.
"Apa-apaan dirimu!" bentak Sung Han, "Aku bilang tidak mau!!"
Gadis ini kembali memandang bingung, "Kakakku tubuhnya lemah dan sering sakit. Lalu ketika dia tak mau makan, aku selalu menyuapinya dan dengan cara itulah dia mau makan. Kupikir kau dan kakakku dalam keadaan yang sama?"
"Pemikiran dari mana itu!?"
Gadis itu masih setia menyodorkan pangsitnya. Namun karena lama Sung Han tak menyambut, akhirnya dia memakan sendiri pangsit itu setiap satu menit sekali jika Sung Han tak mau makan.
Sung Han merasa mendongkol, sejatinya dia juga ingin makan karena perutnya sudah "bernyanyi". Dia menunggu gadis itu pergi dan malah tak pergi-pergi.
Namun karena sudah tak tahan menyaksikan gadis itu makan sendiri, Sung Han tak peduli karena malu atau apa pun lagi. Saat gadis itu ingin kembali memasukkan pangsitnya ke mulut, cepat Sung Han menyosor dan memakan pangsit itu.
Akibatnya, dahi mereka tak sengaja bertemu dan gadis itu terbelalak. Dia terhipnotis dengan iris kuning Sung Han yang menurutnya sangat indah menenangkan.
Namun hanya sebentar saja karena Sung Han sudah menjauhkan lagi kepalanya.
Gadis itu tersenyum ceria, "Bagus...." tangannya terulur untuk mengelus kepala Sung Han.
"Tak usah berlaku seperti itu!" tukas Sung Han menyingkirkan tangan si gadis, "Aku bukan anak-anak!"
Lagi-lagi, tatapan bingung yang Sung Han terima dari gadis itu, "Kakakku bahkan lebih tua darimu. Tapi setiap kali kugosok kepalanya, dia nampak senang." gadis itu menyentuh dahi Sung Han dengan sumpit, "Eh kakak yang baik, apakah kau bukan manusia?"
Tak ada waktu mendebat, Sung Han hanya diam saja dan terus disuapi oleh gadis itu. Setelah selesai, gadis ini langsung pergi tanpa sepatah kata pun, membuat Sung Han bingung sekali.
"Eh...mana sikap ramah dan ceria tadi?"
...****************...
Hari-hari berikutnya, betapa mendongkol hatinya karena baik Giok Shi atau Gu Ren belum datang untuk membebaskannya. Yang datang hanyalah si gadis kecil yang mengaku bernama Yu Ping.
Setiap harinya, dengan telaten gadis itu menyuapi Sung Han. Dan pemuda itu juga tidak menolak lagi. Menganggap kalau acara suap-menyuap ini sebagai hiburan di penjara. Lagipula, dia juga butuh teman manusia di tempat sunyi ini.
Namun, pada hari kelima, saat Sung Han mendengar langkah kaki seseorang, dia tidak lagi menengar senandung kecil dari si manis Yu Ping. Dirinya bertanya-tanya.
Saat orang itu sudah sampai, lekas Sung Han menyambut.
"Yu Ping–Ughh!"
Yang didapatnya adalah siraman kuah panas dari salah satu mangkok makanan. Membuatnya gelagapan dan berguling-guling.
"Yu Ping, apa yang kau lakukan?" sentaknya.
"Heh....seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan terhadap adikku!? Setiap hari disuapi olehnya? Hei, kau memaksa dia kan, dasar cabul!!" bentak orang yang mengantarkan makanan itu.
Sung Han bengong, memandang kosong kearah wanita sembilan belas tahunan yang memandangnya dengan sinar berapi itu. Sekilas dia seperti melihat Yu Ping dewasa, namun wajah yang pucat serta bibir sedikit membiru itu segera menepis segala pemikirannya.
"Nah kan, kau memang cabul dan hidung belang! Melihat wanita penyakitan seperti aku saja sudah tak berkedip!" cela wanita itu dan menyodorkan makanannya dengan kasar.
"Eh...kakak Yu Ping?"
Sebelum orang itu pergi, dia berkata singkat, "Besok kau keluar dari sini."
Sung Han tak terlalu memedulikan hal itu dan dia cepat memakan makan malamnya.
...****************...
Sesuai perkataan dari kakak Yu Ping, keesokan paginya Giok Shi sendiri dan Gu Ren yang datang untuk membukakan pintu tahanan. Sung Han menatap dengan dingin.
"Sudah bosan mengeram aku di tempat seperti ini?" tanya pemuda itu.
Giok Shi menggeleng dan menghela nafas berat, "Bukan seperti itu anak muda. Harap kau jangan salah paham, kau di sini demi kemananmu. Dan setelah ini kau harus tinggal di markas kami untuk beberapa lama demi keamananmu pula."
Sung Han merasa muak dengan hal itu, "Apa maksudmu? Kau pikir aku tak bisa menjaga diri sendiri. Lalu, apa maksudmu berkata seperti itu? Mengasihani aku hah?"
"Bukan...bukan seperti itu. Anak muda, mungkin sekarang kau menjadi incaran daripada Hati Iblis."
"Bagus, aku tidak takut!!"
Namun sebelum Sung Han bangkit, Giok Shi sudah lebih dulu berkata, "Hati Iblis ingin menangkapmu karena pedangmu itu. Anak muda, pembantaian yang kau lakukan di hutan itu tidaklah bersih. Ada dua orang dari kami yang selamat dan ada seorang dari mereka yang berhasil lolos."
Sung Han nampak kaget, "Apa?"
"Pedang Gerhana Matahari, menurut laporan anak buahku, itulah perkataan yang diucapkan dari anggota Hati Iblis yang selamat. Namun beruntungnya dirimu karena orang itu menjadi gila setelah mengatakan itu. Mungkin batinnya terguncang setelah melihat apa yang kau lakukan saat itu, sehingga Hati Iblis tidak mengetahui wajahmu." kata Giok Shi, sinar matanya nampak prihatin.
Sung Han meloncat dan bersiap, "Oh, pedang inikan yang menjadi rebutan seluruh rimba persilatan? Nah...sekarang kau mau merebutnya?"
Giok Shi menggeleng, "Tidak....tidak...selama ada aku tak akan ada yang berani melakukan itu di sini. Lagipula aku sudah memiliki satu dari kitab Raja Dunia silat."
"Lalu, kau tidak mengambil pedang ini?"
Giok Shi mengerutkan kening, "Butuh penjelasan panjang. Mari ikut kami dan kita bicarakan sambil berjalan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
lanjut thor
2025-03-30
0
Ivan Sumampouw
kenapa ceritanya jelek sekali 🤑
2023-08-14
2
Christian Sondakh
👍👍
2023-07-28
0