Kemana tujuan mereka pergi Sung Han sama sekali tidak tahu dan memang tidak ingin tahu. Sebenarnya dia ikut hanya karena menuruti paksaan dari Tang Qian yang juga sama tidak tahunya seperti dia soal kemana tujuan dari perjalanan kali ini.
Agaknya gadis itu pun tak terlalu peduli dengan tujuan perjalanan ini karena dia sedari berangkat sampai sekarang ini hanya asyik memandangi alam sekitar dengan senyum merekah.
"Woah....hey Sung Han lihat, bunga itu seperti mawar tapi juga seperti jamur. Oh...yang itu, seperti bunga lotus tapi bahkan lebih cantik lagi. Dan....woahh, gunung itu bentuknya seperti gadis cantik sedang tidur menyirih."
Demikianlah antara lain gadis itu berseru-seru penuh kekaguman akan sekitar yang memang harus diakui keindahannya. Bahkan Sung Han sendiri juga amat kagum akan semua itu. Tapi tentu saja yang paling menarik hatinya adalah sosok yang memaksanya ikut dalam perjalanan kali ini.
Sudah dua hari lamanya perjalanan ini berlangsung, sudah beberapa desa dan sawah terlewati sampai tibalah pagi ini di sebuah hutan rindang di salah satu lembah pegunungan.
Karena masih pagi, embun-embun serta kabut tipis belum terusir pergi dan akibatnya, hawa sekitar menjadi sejuk sekali. Diam-diam Sung Han sampai menggigil sampai giginya bergemelutuk.
"Nih pakai..."
Tanpa ragu-ragu, Tang Qian yang agaknya menyadari kondisi Sung Han segera menyelimutkan selimut tebal berbahan bulu beruang itu di tubuhnya. Dia juga memakai selimut itu kepada dirinya sendiri sehingga posisi Sung Han dan Tang Qian saat ini sedang berselimut dalam selimut yang sama.
Dengan gugup Sung Han berkata lirih, "Terima kasih..."
Satu jam berselang dan saat matahari mulai naik tinggi, tiba-tiba kereta tempat Sung Han dan Tang Qian berada berhenti. Di luar sana mereka juga mendengar seruan-seruan beberapa orang yang entah sedang membicarakan apa.
"Apa itu, ayo kita lihat!" ajak Tang Qian menarik lengan Sung Han untuk diajaknya keluar dari dalam kereta.
Ternyata di luar sana, anggota-anggota Rajawali Putih sudah berhadapan dengan beberapa orang yang bersikap mengancam. Di punggung dan pinggang mereka tersarung sebatang pedang, maka tahulah Sung Han bahwa para penghadang yang berjumlah lima orang ini adalah pendekar.
"Maaf kepada tuan-tuan, apakah sebab yang menjadikan anda berlima menghadang perjalanan kami?" tanya ayah Tang Qian sopan seraya membungkukkan badan.
Orang tertua dari lima orang itu segera maju dan membalas penghormatan Tang Qian sambil berkata, "Benarkah yang sedang berhadapan dengan kami ini adalah orang-orang dari jasa pengiriman Rajawali Putih?"
"Benar tuan."
"Kalau begitu beruntung bagi kami yang sudah menunggu beberapa hari di sini. Mohon maaf tuan sekalian, adakah tuan-tuan dari jasa pengirim Rajawali Putih ini membawa sebuah peti kecil kira-kira berukuran segini?" orang itu kembali berkata sembari memperagakan besar peti yang dimaksud dengan tangan.
Paman Tang mengerutkan kening dan teringatlah akan sebuah peti kecil yang diberikan oleh pengurus disaat mereka hendak berangkat. Dia memasang raut curiga dan bertanya, "Memang apa urusan tuan-tuan dengan peti tersebut?"
"Oh, jawaban anda menyatakan bahwa anda sudah tahu akan peti yang dimaksudkan. Bolehkah saya melihat isinya?"
Sampai sini pandangan paman Tang berubah menjadi tak senang, "Mohon maaf, tapi kerahasiaan barang pelanggan sudah menjadi tanggung jawab kami."
Mendengar jawaban ini, salah satu dari lima orang itu, yang wajahnya membayangkan watak keras dan kasar dengan penuh brewok maju selangkah dan menyela. "Jangan bohong kalian! Pura-pura tidak tahu dan mencoba menghindari kami?"
Tentu saja bentakan yang sekonyong-konyong terucap dari mulut orang tersebut membuat semua anggota Rajawali Putih mengerutkan kening heran. Sebelum ada yang sempat bertanya, orang yang tertua dari lima orang itu kembali berkata.
"Maafkan atas kekasaran kawan saya ini tuan, tapi tolong...ini perintah dari ketua kami dan harus dilaksanakan. Kami ingin melihat isi daripada peti itu."
Paman Tang selaku pimpinan perjalanan ini kelihatan ragu-ragu. Lantas dia berbisik-bisik kepada teman-temannya untuk menentukan keputusan apa yang paling tepat untuk saat ini.
Setelah beberapa menit berdiskusi, akhirnya paman Tang berkata, "Baiklah, sepertinya tuan-tuan sekalian tidaklah membohong dan sangat berhubungan dengan peti itu. Tapi mohon jangan ambil peti itu, barang itu tanggung jawab kami. Jika anda sekalian hendak mengambilnya, ambilah di rumah orang yang menjadi alamat dari pengiriman barang-barang ini."
"Itu tergantung situasi, tapi saya harus mengucapkan terima kasih." jawab orang tersebut.
Paman Tang mengangguk dan menggapai Sung Han untuk mendekat. Dia lantas meminta tolong kepada bocah cilik ini untuk mengambilkan peti tersebut. Setelah Sung Han sudah datang bersama peti yang dimaksud, sontak lima orang itu menampakkan ekspresi yang sulit diartikan dan menahan nafas.
"Silahkan tuan." paman Tang mempersilahkan.
Orang tertua tadi cepat-cepat mendekat dengan urat wajah yang seluruhnya menegang. Dia mencoba membuka peti itu namun nihil, tak ada hasil. Tapi jelas tergambar di wajahnya bahwa pria itu mengenali peti tersebut. Satu hal yang sangat membingungkan para pengirim barang.
"Buka paksa!" ujar salah satu dari lima orang itu yang agaknya tidak sabar.
Orang itu nampak sedikit ragu-ragu. Tapi setelah berpikir sejenak, akhirnya dia menurut juga untuk membukanya paksa.
Orang ini mengepalkan tangan kanannya erat, kemudian secepat kilat, dengan pengerahan tenaga dalam, dia meninjukan kepalan tangan kanan itu kearah peti. Seketika tutup peti terbuka dan nampaklah oleh semua orang apa yang berada di dalamnya.
"Aaaahhhh!!" Tang Qian sudah tak tahan untuk memekik dan memalingkan muka.
"Woah, apa ini!?" seru ayahnya tak kalah terkejutnya.
Terdengar seruan-seruan kaget melihat isi dari dalam peti tersebut. Namun yang paling kaget adalah orang yang membuka itu. Tak hanya kaget, dia juga merasa sedih sekali sampai tak tahan untuk menitikkan air mata.
"Ayah....."
"Bangsat kalian!! Beraninya bersekongkol dengan sekumpulan iblis itu dan memandang sebelah mata kepada perkumpulan Naga Hitam kami hah?" orang yang brewok dan berwatak keras tadi tiba-tiba membentak marah.
Ayah Tang Qian yang kebingungan dan kaget itu lekas berkata seraya menjura hormat, "Maaf tuan, tapi kami sama sekali tidak tahu menahu soal ini. Dan...ah, kiranya tuan-tuan dari perkumpulan Naga Hitam? Lalu, milik siapakah kepala ini?"
Memang isi daripada peti kecil itu adalah sebuah kepala, kepala manusia!! Melihat dari kerutan di wajahnya, orang ini tentu usianya tak kurang dari enam puluh tahun, rambut dan jenggotnya yang putih itu berubah menjadi warna merah terkena darahnya sendiri. Benar-benar keadaan yang mengenaskan.
"Bohong!!" seru pria yang lainnya.
"Kalian hendak lari dari kesalahan? Kalian sudah menginjak-injak harga diri kami, nah sekarang enyahlah kalian, Rajawali Putih!!" seru pria brewok tadi yang sudah mencabut pedang dan mengayunkannya kepada paman Tang.
"Berhenti, jangan serang!! Rajawali Putih belum tentu bersalah!! Ini pasti ada sesuatu!!" pria yang tertua dari lima orang itu berseru dan mencoba untuk mencegah. Tapi semua sudah terlambat, berbareng dengan bentakan brewok tadi, pertempuran kecil-kecilan pecah dan pihak Rajawali Putih mau tak mau harus melawan untuk melindungi diri.
"Hiiaatt!!"
Tang Qian melompat dan membantu ayahnya. Memang gadis kecil ini sungguh pun masih dua belas tahun, tapi sedikit banyak dia bisa main silat dikarenakan ayahnya yang mengajarinya langsung. Tapi bagaimana pun juga, empat orang lawan itu terlalu lihai untuk seukuran paman Tang, apalagi Tang Qian, sebentar saja dia sudah terpelanting.
Pihak Rajawali Putih memang menang jumlah, tapi ternyata empat orang lawan mereka itu lihai sekali sehingga pihak Rajawali Putih terdesak. Sedangkan pria tertua yang tadi menyebut ayah kepada sang "kepala", hanya mampu terbengong dan memandang sayu.
"Mati kau!!"
Sung Han yang bingung mau apa, karena tak bisa silat dan tak bisa membantu, menjadi kebingungan dan ketakutan. Apalagi ketika ada sebuah pedang menyambarnya dari belakang, dia memekik keras.
"Aaahhhh!!"
"Croookk!!"
Tubuh kecil itu terpelanting dan roboh dengan mandi darah. Matanya melotot dan mulutnya terbuka, membayangkan rasa sakit luar biasa. Sung Han terbalak ketika mengetahui siapa adanya orang tersebut.
"Tang Qian!!!" pekiknya histeris dan buru-buru menyambut tubuh itu.
"Tang Qian...kenapa?? Kenapa kau bodoh sekali!?" umpat Sung Han yang mulai mengangis.
"Uhuk..." dengan ekspresi yang masih sama, terbelalak kesakitan, Tang Qian memuntahkan darah segar.
Sung Han berniat menggendong gadis itu untuk dibawa ke tempat aman. Tapi tepat di depan matanya, di dalam pangkuannya, sebuah pedang meluncur deras dari atas menembus perut Tang Qian sampai menancap di pahanya.
"Tang Qiaaaaaannn!!"
Rasa sakit yang timbul dari tusukan di paha itu tak ia hiraukan, semua perhatiannya malah tertuju pada Tang Qian yang sekarat dan berkelojotan hebat. Wajahnya kian memucat dan darah mengucur deras dari perut dan mulut. Tak berselang lama, gadis itu berhenti berkelojotan bersamaan dengan melayangnya nyawa.
"Nah, kau akan menyusulnya." ucap orang yang membunuh Tang Qian dengan senyum lebar.
Saat Sung Han memandang, kiranya orang itu adalah lelaki brewok yang sikapnya beringasan tadi, yang memancing perkelahian ini. Maka tanpa rasa takut, Sung Han memandangnya tajam, sama sekali tak takut dengan pedang yang sudah tercabut dari perut Tang Qian dan sedang meluncur membacok kepalanya itu.
"Jangan bunuh anak kecil!! Hentikan semuanya!!"
Terdengar teriakan nyaring dan Sung Han merasakan ada seseorang yang mengangkatnya. Ternyata orang itu adalah orang tertua yang tadi menangisi "kepala" dalam peti. Karena menyelamatkan Sung Han, punggungnya kena gores pedang temannya sendiri.
Lalu sedetik kemudian, orang itu melemparkan Sung Han jauh ke dalam hutan seraya berseru. "Lari!!"
Ketika Sung Han melihat si brewok hendak mengejar, orang itu sudah lebih dulu menghadang. Ternyata, orang yang menjadi pemimpin para penghadang tadi bukanlah yang terkuat, justru sebaliknya. Tapi mungkin sekali karena kedudukannya yang tinggi sebagai anak dari pemilik kepala dalam peti, sehingga dia menjadi pemimpin rombongan.
Dengan pandangan nanar, Sung Han melihat mayat-mayat anggota Rajawali Putih yang bergelimpangan di sana-sini. Hanya paman Tang saja dan dua orang kawannya yang melawan mati-matian dan agaknya hampir tamat juga.
"Lari bocah!!" orang tertua dari lima orang itu kembali membentak. Kali ini mendorong Sung Han dengan hawa pukulannya untuk membuat pemuda itu menjauh.
Dengan tangis air mata dan luka dalam di hati mudanya, Sung Han tak punya pilihan lain selain lari sejauh-jauhnya. Sampai tubuh kecil yang malang itu menjauh, terdengar teriakan yang terus bergema di seluruh penjuru hutan.
"Tak akan kulupakan ini....! Tak akan kulupakan ini....! Tak akan kulupakan ini....! Akan kuingat wajah kalian....! Akan kuingat!!!"
Dia berlari tak tentu arah. Tak sadar bukannya berlari kearah Barat dimana markas Rajawali Putih berada, dia malah lari menuju Selatan yang menjadi tempat Pegunungan Tembok Surga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
vote meluncur
2025-03-29
0
adhy nofx
lanjt thor
2025-03-29
0
Manusia Biasa
Kukira Heroine, ternyata langsung mati. Tapi tak apalah malah tambah menarik
2023-05-14
3