Chapter : 2 – Hati yang Berdarah

Kemana tujuan mereka pergi Sung Han sama sekali tidak tahu dan memang tidak ingin tahu. Sebenarnya dia ikut hanya karena menuruti paksaan dari Tang Qian yang juga sama tidak tahunya seperti dia soal kemana tujuan dari perjalanan kali ini.

Agaknya gadis itu pun tak terlalu peduli dengan tujuan perjalanan ini karena dia sedari berangkat sampai sekarang ini hanya asyik memandangi alam sekitar dengan senyum merekah.

"Woah....hey Sung Han lihat, bunga itu seperti mawar tapi juga seperti jamur. Oh...yang itu, seperti bunga lotus tapi bahkan lebih cantik lagi. Dan....woahh, gunung itu bentuknya seperti gadis cantik sedang tidur menyirih."

Demikianlah antara lain gadis itu berseru-seru penuh kekaguman akan sekitar yang memang harus diakui keindahannya. Bahkan Sung Han sendiri juga amat kagum akan semua itu. Tapi tentu saja yang paling menarik hatinya adalah sosok yang memaksanya ikut dalam perjalanan kali ini.

Sudah dua hari lamanya perjalanan ini berlangsung, sudah beberapa desa dan sawah terlewati sampai tibalah pagi ini di sebuah hutan rindang di salah satu lembah pegunungan.

Karena masih pagi, embun-embun serta kabut tipis belum terusir pergi dan akibatnya, hawa sekitar menjadi sejuk sekali. Diam-diam Sung Han sampai menggigil sampai giginya bergemelutuk.

"Nih pakai..."

Tanpa ragu-ragu, Tang Qian yang agaknya menyadari kondisi Sung Han segera menyelimutkan selimut tebal berbahan bulu beruang itu di tubuhnya. Dia juga memakai selimut itu kepada dirinya sendiri sehingga posisi Sung Han dan Tang Qian saat ini sedang berselimut dalam selimut yang sama.

Dengan gugup Sung Han berkata lirih, "Terima kasih..."

Satu jam berselang dan saat matahari mulai naik tinggi, tiba-tiba kereta tempat Sung Han dan Tang Qian berada berhenti. Di luar sana mereka juga mendengar seruan-seruan beberapa orang yang entah sedang membicarakan apa.

"Apa itu, ayo kita lihat!" ajak Tang Qian menarik lengan Sung Han untuk diajaknya keluar dari dalam kereta.

Ternyata di luar sana, anggota-anggota Rajawali Putih sudah berhadapan dengan beberapa orang yang bersikap mengancam. Di punggung dan pinggang mereka tersarung sebatang pedang, maka tahulah Sung Han bahwa para penghadang yang berjumlah lima orang ini adalah pendekar.

"Maaf kepada tuan-tuan, apakah sebab yang menjadikan anda berlima menghadang perjalanan kami?" tanya ayah Tang Qian sopan seraya membungkukkan badan.

Orang tertua dari lima orang itu segera maju dan membalas penghormatan Tang Qian sambil berkata, "Benarkah yang sedang berhadapan dengan kami ini adalah orang-orang dari jasa pengiriman Rajawali Putih?"

"Benar tuan."

"Kalau begitu beruntung bagi kami yang sudah menunggu beberapa hari di sini. Mohon maaf tuan sekalian, adakah tuan-tuan dari jasa pengirim Rajawali Putih ini membawa sebuah peti kecil kira-kira berukuran segini?" orang itu kembali berkata sembari memperagakan besar peti yang dimaksud dengan tangan.

Paman Tang mengerutkan kening dan teringatlah akan sebuah peti kecil yang diberikan oleh pengurus disaat mereka hendak berangkat. Dia memasang raut curiga dan bertanya, "Memang apa urusan tuan-tuan dengan peti tersebut?"

"Oh, jawaban anda menyatakan bahwa anda sudah tahu akan peti yang dimaksudkan. Bolehkah saya melihat isinya?"

Sampai sini pandangan paman Tang berubah menjadi tak senang, "Mohon maaf, tapi kerahasiaan barang pelanggan sudah menjadi tanggung jawab kami."

Mendengar jawaban ini, salah satu dari lima orang itu, yang wajahnya membayangkan watak keras dan kasar dengan penuh brewok maju selangkah dan menyela. "Jangan bohong kalian! Pura-pura tidak tahu dan mencoba menghindari kami?"

Tentu saja bentakan yang sekonyong-konyong terucap dari mulut orang tersebut membuat semua anggota Rajawali Putih mengerutkan kening heran. Sebelum ada yang sempat bertanya, orang yang tertua dari lima orang itu kembali berkata.

"Maafkan atas kekasaran kawan saya ini tuan, tapi tolong...ini perintah dari ketua kami dan harus dilaksanakan. Kami ingin melihat isi daripada peti itu."

Paman Tang selaku pimpinan perjalanan ini kelihatan ragu-ragu. Lantas dia berbisik-bisik kepada teman-temannya untuk menentukan keputusan apa yang paling tepat untuk saat ini.

Setelah beberapa menit berdiskusi, akhirnya paman Tang berkata, "Baiklah, sepertinya tuan-tuan sekalian tidaklah membohong dan sangat berhubungan dengan peti itu. Tapi mohon jangan ambil peti itu, barang itu tanggung jawab kami. Jika anda sekalian hendak mengambilnya, ambilah di rumah orang yang menjadi alamat dari pengiriman barang-barang ini."

"Itu tergantung situasi, tapi saya harus mengucapkan terima kasih." jawab orang tersebut.

Paman Tang mengangguk dan menggapai Sung Han untuk mendekat. Dia lantas meminta tolong kepada bocah cilik ini untuk mengambilkan peti tersebut. Setelah Sung Han sudah datang bersama peti yang dimaksud, sontak lima orang itu menampakkan ekspresi yang sulit diartikan dan menahan nafas.

"Silahkan tuan." paman Tang mempersilahkan.

Orang tertua tadi cepat-cepat mendekat dengan urat wajah yang seluruhnya menegang. Dia mencoba membuka peti itu namun nihil, tak ada hasil. Tapi jelas tergambar di wajahnya bahwa pria itu mengenali peti tersebut. Satu hal yang sangat membingungkan para pengirim barang.

"Buka paksa!" ujar salah satu dari lima orang itu yang agaknya tidak sabar.

Orang itu nampak sedikit ragu-ragu. Tapi setelah berpikir sejenak, akhirnya dia menurut juga untuk membukanya paksa.

Orang ini mengepalkan tangan kanannya erat, kemudian secepat kilat, dengan pengerahan tenaga dalam, dia meninjukan kepalan tangan kanan itu kearah peti. Seketika tutup peti terbuka dan nampaklah oleh semua orang apa yang berada di dalamnya.

"Aaaahhhh!!" Tang Qian sudah tak tahan untuk memekik dan memalingkan muka.

"Woah, apa ini!?" seru ayahnya tak kalah terkejutnya.

Terdengar seruan-seruan kaget melihat isi dari dalam peti tersebut. Namun yang paling kaget adalah orang yang membuka itu. Tak hanya kaget, dia juga merasa sedih sekali sampai tak tahan untuk menitikkan air mata.

"Ayah....."

"Bangsat kalian!! Beraninya bersekongkol dengan sekumpulan iblis itu dan memandang sebelah mata kepada perkumpulan Naga Hitam kami hah?" orang yang brewok dan berwatak keras tadi tiba-tiba membentak marah.

Ayah Tang Qian yang kebingungan dan kaget itu lekas berkata seraya menjura hormat, "Maaf tuan, tapi kami sama sekali tidak tahu menahu soal ini. Dan...ah, kiranya tuan-tuan dari perkumpulan Naga Hitam? Lalu, milik siapakah kepala ini?"

Memang isi daripada peti kecil itu adalah sebuah kepala, kepala manusia!! Melihat dari kerutan di wajahnya, orang ini tentu usianya tak kurang dari enam puluh tahun, rambut dan jenggotnya yang putih itu berubah menjadi warna merah terkena darahnya sendiri. Benar-benar keadaan yang mengenaskan.

"Bohong!!" seru pria yang lainnya.

"Kalian hendak lari dari kesalahan? Kalian sudah menginjak-injak harga diri kami, nah sekarang enyahlah kalian, Rajawali Putih!!" seru pria brewok tadi yang sudah mencabut pedang dan mengayunkannya kepada paman Tang.

"Berhenti, jangan serang!! Rajawali Putih belum tentu bersalah!! Ini pasti ada sesuatu!!" pria yang tertua dari lima orang itu berseru dan mencoba untuk mencegah. Tapi semua sudah terlambat, berbareng dengan bentakan brewok tadi, pertempuran kecil-kecilan pecah dan pihak Rajawali Putih mau tak mau harus melawan untuk melindungi diri.

"Hiiaatt!!"

Tang Qian melompat dan membantu ayahnya. Memang gadis kecil ini sungguh pun masih dua belas tahun, tapi sedikit banyak dia bisa main silat dikarenakan ayahnya yang mengajarinya langsung. Tapi bagaimana pun juga, empat orang lawan itu terlalu lihai untuk seukuran paman Tang, apalagi Tang Qian, sebentar saja dia sudah terpelanting.

Pihak Rajawali Putih memang menang jumlah, tapi ternyata empat orang lawan mereka itu lihai sekali sehingga pihak Rajawali Putih terdesak. Sedangkan pria tertua yang tadi menyebut ayah kepada sang "kepala", hanya mampu terbengong dan memandang sayu.

"Mati kau!!"

Sung Han yang bingung mau apa, karena tak bisa silat dan tak bisa membantu, menjadi kebingungan dan ketakutan. Apalagi ketika ada sebuah pedang menyambarnya dari belakang, dia memekik keras.

"Aaahhhh!!"

"Croookk!!"

Tubuh kecil itu terpelanting dan roboh dengan mandi darah. Matanya melotot dan mulutnya terbuka, membayangkan rasa sakit luar biasa. Sung Han terbalak ketika mengetahui siapa adanya orang tersebut.

"Tang Qian!!!" pekiknya histeris dan buru-buru menyambut tubuh itu.

"Tang Qian...kenapa?? Kenapa kau bodoh sekali!?" umpat Sung Han yang mulai mengangis.

"Uhuk..." dengan ekspresi yang masih sama, terbelalak kesakitan, Tang Qian memuntahkan darah segar.

Sung Han berniat menggendong gadis itu untuk dibawa ke tempat aman. Tapi tepat di depan matanya, di dalam pangkuannya, sebuah pedang meluncur deras dari atas menembus perut Tang Qian sampai menancap di pahanya.

"Tang Qiaaaaaannn!!"

Rasa sakit yang timbul dari tusukan di paha itu tak ia hiraukan, semua perhatiannya malah tertuju pada Tang Qian yang sekarat dan berkelojotan hebat. Wajahnya kian memucat dan darah mengucur deras dari perut dan mulut. Tak berselang lama, gadis itu berhenti berkelojotan bersamaan dengan melayangnya nyawa.

"Nah, kau akan menyusulnya." ucap orang yang membunuh Tang Qian dengan senyum lebar.

Saat Sung Han memandang, kiranya orang itu adalah lelaki brewok yang sikapnya beringasan tadi, yang memancing perkelahian ini. Maka tanpa rasa takut, Sung Han memandangnya tajam, sama sekali tak takut dengan pedang yang sudah tercabut dari perut Tang Qian dan sedang meluncur membacok kepalanya itu.

"Jangan bunuh anak kecil!! Hentikan semuanya!!"

Terdengar teriakan nyaring dan Sung Han merasakan ada seseorang yang mengangkatnya. Ternyata orang itu adalah orang tertua yang tadi menangisi "kepala" dalam peti. Karena menyelamatkan Sung Han, punggungnya kena gores pedang temannya sendiri.

Lalu sedetik kemudian, orang itu melemparkan Sung Han jauh ke dalam hutan seraya berseru. "Lari!!"

Ketika Sung Han melihat si brewok hendak mengejar, orang itu sudah lebih dulu menghadang. Ternyata, orang yang menjadi pemimpin para penghadang tadi bukanlah yang terkuat, justru sebaliknya. Tapi mungkin sekali karena kedudukannya yang tinggi sebagai anak dari pemilik kepala dalam peti, sehingga dia menjadi pemimpin rombongan.

Dengan pandangan nanar, Sung Han melihat mayat-mayat anggota Rajawali Putih yang bergelimpangan di sana-sini. Hanya paman Tang saja dan dua orang kawannya yang melawan mati-matian dan agaknya hampir tamat juga.

"Lari bocah!!" orang tertua dari lima orang itu kembali membentak. Kali ini mendorong Sung Han dengan hawa pukulannya untuk membuat pemuda itu menjauh.

Dengan tangis air mata dan luka dalam di hati mudanya, Sung Han tak punya pilihan lain selain lari sejauh-jauhnya. Sampai tubuh kecil yang malang itu menjauh, terdengar teriakan yang terus bergema di seluruh penjuru hutan.

"Tak akan kulupakan ini....! Tak akan kulupakan ini....! Tak akan kulupakan ini....! Akan kuingat wajah kalian....! Akan kuingat!!!"

Dia berlari tak tentu arah. Tak sadar bukannya berlari kearah Barat dimana markas Rajawali Putih berada, dia malah lari menuju Selatan yang menjadi tempat Pegunungan Tembok Surga.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

BERSAMBUNG

Terpopuler

Comments

adhy nofx

adhy nofx

vote meluncur

2025-03-29

0

adhy nofx

adhy nofx

lanjt thor

2025-03-29

0

Manusia Biasa

Manusia Biasa

Kukira Heroine, ternyata langsung mati. Tapi tak apalah malah tambah menarik

2023-05-14

3

lihat semua
Episodes
1 Chapter : 1 – Awal
2 Chapter : 2 – Hati yang Berdarah
3 Chapter : 3 – Konflik
4 Chapter : 4 – Pertemuan Dengan Guru
5 Chapter : 5 – Tugas Ringan yang Sangat Berat
6 Chapter : 6 – Sudah Waktunya
7 Chapter : 7 – Jadilah Orang Baik
8 Chapter : 8 – Sang Pewaris
9 Chapter : 9 – Keributan di Desa
10 Chapter : 10 – Kibasan Pengusir Nyamuk
11 Chapter : 11 – Hati Iblis
12 Chapter : 12 – Kemarahan Tak Berdasar
13 Chapter : 13 – Penebar Maut
14 Chapter : 14 – Api di Hati
15 Chapter : 15 – Undangan
16 Chapter : 16 – Menemui Guru Besar Naga Hitam
17 Chapter : 17 – Tertangkap
18 Chapter : 18 – Yu Ping
19 Chapter : 19 – Penjelasan
20 Chapter : 20 – Aku Ingin Bicara
21 Chapter : 21 – Diskusi
22 Chapter : 22 – Senyum untuk Sung Han
23 Chapter : 23 – Pertunjukan Silat
24 Chapter : 24 – Pengepungan
25 Chapter : 25 – Satu Lawan Banyak
26 Chapter : 26 – Si Nenek Bibir Merah
27 Chapter : 27 – Malapetaka
28 Chapter : 28 – Perpisahan
29 Chapter : 29 – Sebatang Kara
30 Chapter : 30 – Kegemparan
31 Chapter : 31 – Penyerangan
32 Chapter : 32 – Cari Ribut
33 Chapter : 33 – Bisikan
34 Chapter : 34 – Penyerbuan [Bagian : 1]
35 Chapter : 35 – Perguruan Awan
36 Chapter : 36 – Orang Aneh
37 Chapter : 37 – Si Botak
38 Chapter : 38 – Mencari Jejak
39 Chapter : 39 – Keganjilan
40 Chapter : 40 – Darah
41 Chapter : 41 – Perpustakaan dan Prasangka
42 Chapter : 42 – Titik Terang
43 Chapter : 43 – Mengenaskan
44 Chapter : 44 – Wanita di Balik Kegelapan
45 Chapter : 45 – Tak Bisa Lolos Lagi
46 Chapter : 46 – Bu Cai
47 Chapter : 47 – Kau Orang Baik
48 Chapter : 48 – Kisah Masa Silam
49 Chapter : 49 – Sastrawan Pinggir Jalan
50 Chapter : 50 – Jurang Sungai
51 Chapter : 51 – Lembah Setan
52 Chapter : 52 – Cahaya di Dasar Jurang
53 Chapter : 53 – Kekacauan di Dasar Jurang
54 Chapter : 54 – Lelaki Berbaju Hitam
55 Chapter : 55 – Jebakan
56 Chapter 56 – Hujan Panah dan Batu
57 Chapter : 57 – Kekasih
58 Chapter : 58 – Hidup
59 Chapter : 59 – Goa
60 Chapter : 60 – Celaka, Pantas dan Untung
61 Chapter : 61 – Perempatan
62 Chapter : 62 – Pemilik Goa
63 Chapter : 63 – Seratus Hari [Bagian : 2]
64 Chapter : 64 – Putri Hati Iblis
65 Chapter : 65 – Pemuda Lapar
66 Chapter : 66 – Petaka Para Pendekar
67 Chapter : 67 – Pangeran Chang Song Ci
68 Chapter : 68 – Pendekar Gagal
69 Chapter : 69 – Satu Tujuan
70 Chapter : 70 – Mampir Sejenak
71 Chapter : 71 – Menyelidik
72 Chapter : 72 – Babi Galak
73 Chapter : 73 – Dua Lawan Banyak
74 Chapter : 74 – Melemah
75 Chapter : 75 – Bertemu
76 Chapter : 76 – Korban Pertama Gerhana Bulan
77 Chapter : 77 – Timbul Dendam
78 Chapter : 78 – Hilang
79 Chapter : 79 – Gadis Pencuri
80 Chapter : 80 – Serigala Tengah Malam
81 Chapter : 81 – Perang Kecil di Desa
82 Chapter : 82 – Seorang Pemuda
83 Chapter : 83 – Kambing Hitam
84 Chapter : 84 – Badai Salju Pembeku Darah
85 Chapter : 85 – Pengeroyokan
86 Chapter : 86 – Kedatangan Sung Han
87 Chapter : 87 – Siasat Topeng Emas
88 Chapter : 88 – Guru dan Murid
89 Chapter 89 – Jalan Terjal
90 Chapter : 90 – Mencurigakan
91 Chapter : 91 – Formasi Serigala Tengah Malam
92 Chapter : 92 – Kabur
93 Chapter : 93 – Kebetulan
94 Chapter : 94 – Pertukaran
95 Chapter : 95 – Cerobong Asap
96 Chapter : 96 – Tujuan Masing-Masing
97 Chapter : 97 – Perjalanan Sung Hwa
98 Chapter : 98 – Perkenalan
99 Chapter : 99 – Si Jubah Merah
100 Chapter : 100 – Penyelamat Sung Hwa
101 Chapter : 101 – Kerajaan Manusia Gunung
102 Chapter : 102 – Tentang Manusia Gunung
103 Chapter : 103 – Kekuatan dari Dewa
104 Chapter : 104 – Calon Pasutri [Bagian : 3]
105 Chapter : 105 – Penyerbuan di Selatan [][][]
106 Chapter : 106 – Jenderal Hong Ciu [][][]
107 Chapter : 107 – Siasat Kekaisaran Jeiji [][][]
108 Chapter : 108 – Pertempuran [][][]
109 Chapter : 109 – Murid Chunglai [][][]
110 Chapter : 110 – Tradisi Lima Tahun Sekali [][][]
111 Chapter : 111 – Rahasia Chunglai [][][]
112 Chapter : 112 – Puncaknya [][][]
113 Chapter : 113 – Perang Saudara [][][]
114 Chapter : 114 – Rencana Terakhir [][][]
115 Chapter : 115 – Wanita di Tengah Hutan [][][]
116 Chapter : 116 – Sastrawan Pinggir Jalan 2
117 Chapter : 117 – Geger di Kota Sutra Putih
118 Chapter : 118 – Penguntit
119 Chapter : 119 – Peti Hitam
120 Chapter : 120 – Tok Ciauw
121 Chapter : 121 – Penjara
122 Chapter : 122 – Kekuatan Baru
123 Chapter : 123 – Wajah di Balik Topeng
124 Chapter : 124 – Penculikan
125 Chapter : 125 – Kambing Hitam Lagi?
126 Chapter : 126 – Situasi Sulit
127 Chapter : 127 – Petualangan Bersama
128 Chapter : 128 – Pura-Pura Tidur
129 Chapter : 129 – Dendam Yang Membutakan
130 Chapter : 130 – Tuduh Menuduh
131 Chapter : 131 – Pertemuan di Gunung Angsa
132 Chapter : 132 – Ketua Golongan Sesat
133 Chapter : 133 – Sebuah Kutukan, Takdir Kita
134 Chapter : 134 – Kau Orang Baik 2
135 Chapter : 135 – Para Pemberontak
136 Chapter : 136 – Keadaan Saat Ini
137 Chapter : 137 – Kisah Kelam Ratu Elang
138 Chapter : 138 – Teror Rajawali Merah
139 Chapter : 139 – Bercakap-Cakap
140 Chapter : 140 – Nona Han
141 Chapter : 141 – Rencana Mereka
142 Chapter : 142 – Kesaksian Nona Han
143 Chapter : 143 – Sung Han dan Rajawali Merah
144 Chapter : 144 – Dia Inilah Orang yang Kau Maksudkan
145 Chapter : 145 – Pesan Guru
146 Chapter : 146 – Aku Tak Akan Membunuhmu
147 Chapter : 147 – Naga Sakti Ujung Timur
148 Chapter : 148 – Sastrawan Pinggir Jalan 3
149 Chapter : 149 – Rajawali Merah Asli
150 Chapter : 150 – Kau Orang Baik 3
151 Chapter : 151 – Misteri Serigala Tengah Malam
152 Chapter : 152 – Peringatan Orang-Orang Sawah
153 Chapter : 153 – Terjebak
154 Chapter : 154 – Pewaris Pusaka Keramat
155 Chapter : 155 – Lumpur Hisap
156 Chapter : 156 – Gerak-Gerik Aneh
157 Chapter : 157 – Jebakan Penyergap
158 Chapter : 158 – Kalah
159 Chapter : 159 – Tertawan Bersama
160 Chapter : 160 – Siasat Putri Chang Song Zhu
161 Chapter : 161 – Penguntitan
162 Chapter : 162 – Perjalanan Bersama
163 Chapter : 163 – Pemberontak Tuduh Pemberontak
164 Chapter : 164 – Perang Tanding Depan Benteng
165 Chapter : 165 – Jatuhnya Kepala Topeng Emas
166 Chapter : 166 – Terbukanya Sosok di Balik Topeng
167 Chapter : 167 – Berutang Lagi
168 Chapter : 168 – Kau Bukanlah Orang Baik
169 Chapter : 169 – Elang dan Rajawali
170 Chapter : 170 – Keganasan Rajawali
171 Chapter : 171 – Aku Bukanlah Orang Baik
172 Chapter : 172 – Ingin Bertemu Keluargaku
173 Chapter : 173 – Iblis Peti Goa Emas
174 Chapter : 174 – Perpisahan
175 Chapter : 175 – Bersekutu
176 Chapter : 176 – Mengejutkan
177 Chapter : 177 – Naga Sakti
178 Chapter : 178 – Rombongan
179 Chapter : 179 – Rombongan 2
180 Chapter : 180 – Jejaknya
181 Chapter : 181 – Negosiasi
182 Chapter : 182 – Datang Memenuhi Undangan
183 Chapter : 183 – Keputusan Kay Su Tek
184 Chapter : 184 – Goa Emas
185 Chapter : 185 – Orang yang Dihormatinya
186 Chapter : 186 – Para Ronin
187 Chapter : 187 – Tiga Jembel
188 Chapter : 188 – Pendekar dan Ronin
189 Chapter : 189 – Jangan Bunuh
190 Chapter : 190 – Pengecut
191 Chapter : 191 – Jebakan Pertama
192 Chapter : 192 – Jebakan Kedua
193 Chapter : 193 – Pilihan
194 Chapter : 194 – Asap Hitam
195 Chapter : 195 – Gempa
196 Chapter : 196 – Tempat Rahasia [Bagian : 4]
197 Chapter : 197 – Sosok Misterius
198 Chapter : 198 – Xian Fa
199 Chapter : 199 – Para Biksuni
200 Chapter : 200 – Tasbih
201 Chapter : 201 – Dugaan Yu Ping
202 Chapter : 202 – Kakak Adik
203 Chapter : 203 – Kawan Lama
204 Chapter : 204 – Menuju ke Tempat Pertarungan
205 Chapter : 205 – Keramaian di Puncak
206 Chapter : 206 – Pertarungan Mati-Matian
207 Chapter : 207 – Pertarungan Antar Pewaris
208 Chapter : 208 – Takdir
209 Chapter : 209 – Kisah Mereka
210 Chapter : 210 – Tujuan Berikutnya
211 Chapter : 211 – Sahabat Kami
212 Chapter : 212 – Sejarah Goa Emas
213 Chapter : 213 – Keadaan di Timur
214 Chapter : 214 – Belajar Kenal
215 Chapter : 215 – Keputusan Jenderal
216 Chapter : 216 – Perang Berat Sebelah
217 Chapter : 217 – Kau Orang Baik 4
218 Chapter : 218 – Keputusasaan Sung Han
219 Chapter : 219 – Rencana Penyambutan Lawan
220 Chapter : 220 – Pertempuran Kedua
221 Chapter : 221 – Enam Bulan Setelahnya [Bagian : 5]
222 Chapter : 222 – Kehidupan Mereka
223 Chapter : 223 – Situasi yang Kacau
224 Chapter : 224 – Seleksi Pengawal
225 Chapter : 225 – Lolos Seleksi
226 Chapter : 226 – Hok Liu
227 Chapter : 227 – Usaha Merobek Topeng
228 Chapter : 228 – Identitas Para Penyamar
229 Chapter : 229 – Tiga Sahabat
230 Chapter : 230 – Bakar Gudang
231 Chapter : 231 – Rencana yang Tidak Mulus
232 Chapter : 232 – Empat Lawan Tiga
233 Chapter : 233 – Sahabat
234 Chapter : 234 – Salah Paham
235 Chapter : 235 – Kita Semua Sahabat
236 Chapter : 236 – Penyerbuan Sang Putri
237 Chapter : 237 – Kegelisahan
238 Chapter : 238 – Keadaan yang Memburuk
239 Chapter : 239 – Kakek Pembawa Peti
240 Chapter : 240 – Pertemuan Tokoh-Tokoh Pertapa
241 Chapter : 241 – Pasukan Manusia Gunung
242 Chapter : 242 – Keputusan Raja Chunglai
243 Chapter : 243 – Pernikahan yang Terburu-Buru
244 Chapter : 244 – Kenangan Manis
245 Chapter : 245 – Perhatian Seorang Istri
246 Chapter : 246 – Semoga Saja Benar
247 Chapter : 247 – Ini yang Terakhir
248 Chapter : 248 – Awal dari Kejadian Besar
249 Chapter : 249 – Keluar Goa
250 Chapter : 250 – Kenakalan Istri
251 Chapter : 251 – Kerisauan Sung Han
252 Chapter : 252 – Laporan Sung Han
253 Chapter : 253 – Percakapan Suami Istri
254 Chapter : 254 – Kalian Keluargaku
255 Chapter : 255 – Kabar Buruk yang Tersembunyi
256 Chapter : 256 – Titah Kaisar
257 Chapter : 257 – Usul Sung Han
258 Chapter : 258 – Pembagian Kelompok Pasukan
259 Chapter : 259 – Pimpinan Tunggal
260 Chapter : 260 – Pertentangan Paham
261 Chapter : 261 – Perseteruan Mereka
262 Chapter : 262 – Rencana Pemilihan Pemimpin
263 Chapter : 263 – Pertemuan di Bukit
264 Chapter : 263 – Pertarungan Raja Dunia Silat
265 Chapter : 264 – Tugas Pertama
266 Chapter : 265 – Pertempuran Batin
267 Chapter : 266 – Siasat Sung Han
268 Chapter : 267 – Puncaknya
269 Chapter : 268 – Tugas Berikutnya
Episodes

Updated 269 Episodes

1
Chapter : 1 – Awal
2
Chapter : 2 – Hati yang Berdarah
3
Chapter : 3 – Konflik
4
Chapter : 4 – Pertemuan Dengan Guru
5
Chapter : 5 – Tugas Ringan yang Sangat Berat
6
Chapter : 6 – Sudah Waktunya
7
Chapter : 7 – Jadilah Orang Baik
8
Chapter : 8 – Sang Pewaris
9
Chapter : 9 – Keributan di Desa
10
Chapter : 10 – Kibasan Pengusir Nyamuk
11
Chapter : 11 – Hati Iblis
12
Chapter : 12 – Kemarahan Tak Berdasar
13
Chapter : 13 – Penebar Maut
14
Chapter : 14 – Api di Hati
15
Chapter : 15 – Undangan
16
Chapter : 16 – Menemui Guru Besar Naga Hitam
17
Chapter : 17 – Tertangkap
18
Chapter : 18 – Yu Ping
19
Chapter : 19 – Penjelasan
20
Chapter : 20 – Aku Ingin Bicara
21
Chapter : 21 – Diskusi
22
Chapter : 22 – Senyum untuk Sung Han
23
Chapter : 23 – Pertunjukan Silat
24
Chapter : 24 – Pengepungan
25
Chapter : 25 – Satu Lawan Banyak
26
Chapter : 26 – Si Nenek Bibir Merah
27
Chapter : 27 – Malapetaka
28
Chapter : 28 – Perpisahan
29
Chapter : 29 – Sebatang Kara
30
Chapter : 30 – Kegemparan
31
Chapter : 31 – Penyerangan
32
Chapter : 32 – Cari Ribut
33
Chapter : 33 – Bisikan
34
Chapter : 34 – Penyerbuan [Bagian : 1]
35
Chapter : 35 – Perguruan Awan
36
Chapter : 36 – Orang Aneh
37
Chapter : 37 – Si Botak
38
Chapter : 38 – Mencari Jejak
39
Chapter : 39 – Keganjilan
40
Chapter : 40 – Darah
41
Chapter : 41 – Perpustakaan dan Prasangka
42
Chapter : 42 – Titik Terang
43
Chapter : 43 – Mengenaskan
44
Chapter : 44 – Wanita di Balik Kegelapan
45
Chapter : 45 – Tak Bisa Lolos Lagi
46
Chapter : 46 – Bu Cai
47
Chapter : 47 – Kau Orang Baik
48
Chapter : 48 – Kisah Masa Silam
49
Chapter : 49 – Sastrawan Pinggir Jalan
50
Chapter : 50 – Jurang Sungai
51
Chapter : 51 – Lembah Setan
52
Chapter : 52 – Cahaya di Dasar Jurang
53
Chapter : 53 – Kekacauan di Dasar Jurang
54
Chapter : 54 – Lelaki Berbaju Hitam
55
Chapter : 55 – Jebakan
56
Chapter 56 – Hujan Panah dan Batu
57
Chapter : 57 – Kekasih
58
Chapter : 58 – Hidup
59
Chapter : 59 – Goa
60
Chapter : 60 – Celaka, Pantas dan Untung
61
Chapter : 61 – Perempatan
62
Chapter : 62 – Pemilik Goa
63
Chapter : 63 – Seratus Hari [Bagian : 2]
64
Chapter : 64 – Putri Hati Iblis
65
Chapter : 65 – Pemuda Lapar
66
Chapter : 66 – Petaka Para Pendekar
67
Chapter : 67 – Pangeran Chang Song Ci
68
Chapter : 68 – Pendekar Gagal
69
Chapter : 69 – Satu Tujuan
70
Chapter : 70 – Mampir Sejenak
71
Chapter : 71 – Menyelidik
72
Chapter : 72 – Babi Galak
73
Chapter : 73 – Dua Lawan Banyak
74
Chapter : 74 – Melemah
75
Chapter : 75 – Bertemu
76
Chapter : 76 – Korban Pertama Gerhana Bulan
77
Chapter : 77 – Timbul Dendam
78
Chapter : 78 – Hilang
79
Chapter : 79 – Gadis Pencuri
80
Chapter : 80 – Serigala Tengah Malam
81
Chapter : 81 – Perang Kecil di Desa
82
Chapter : 82 – Seorang Pemuda
83
Chapter : 83 – Kambing Hitam
84
Chapter : 84 – Badai Salju Pembeku Darah
85
Chapter : 85 – Pengeroyokan
86
Chapter : 86 – Kedatangan Sung Han
87
Chapter : 87 – Siasat Topeng Emas
88
Chapter : 88 – Guru dan Murid
89
Chapter 89 – Jalan Terjal
90
Chapter : 90 – Mencurigakan
91
Chapter : 91 – Formasi Serigala Tengah Malam
92
Chapter : 92 – Kabur
93
Chapter : 93 – Kebetulan
94
Chapter : 94 – Pertukaran
95
Chapter : 95 – Cerobong Asap
96
Chapter : 96 – Tujuan Masing-Masing
97
Chapter : 97 – Perjalanan Sung Hwa
98
Chapter : 98 – Perkenalan
99
Chapter : 99 – Si Jubah Merah
100
Chapter : 100 – Penyelamat Sung Hwa
101
Chapter : 101 – Kerajaan Manusia Gunung
102
Chapter : 102 – Tentang Manusia Gunung
103
Chapter : 103 – Kekuatan dari Dewa
104
Chapter : 104 – Calon Pasutri [Bagian : 3]
105
Chapter : 105 – Penyerbuan di Selatan [][][]
106
Chapter : 106 – Jenderal Hong Ciu [][][]
107
Chapter : 107 – Siasat Kekaisaran Jeiji [][][]
108
Chapter : 108 – Pertempuran [][][]
109
Chapter : 109 – Murid Chunglai [][][]
110
Chapter : 110 – Tradisi Lima Tahun Sekali [][][]
111
Chapter : 111 – Rahasia Chunglai [][][]
112
Chapter : 112 – Puncaknya [][][]
113
Chapter : 113 – Perang Saudara [][][]
114
Chapter : 114 – Rencana Terakhir [][][]
115
Chapter : 115 – Wanita di Tengah Hutan [][][]
116
Chapter : 116 – Sastrawan Pinggir Jalan 2
117
Chapter : 117 – Geger di Kota Sutra Putih
118
Chapter : 118 – Penguntit
119
Chapter : 119 – Peti Hitam
120
Chapter : 120 – Tok Ciauw
121
Chapter : 121 – Penjara
122
Chapter : 122 – Kekuatan Baru
123
Chapter : 123 – Wajah di Balik Topeng
124
Chapter : 124 – Penculikan
125
Chapter : 125 – Kambing Hitam Lagi?
126
Chapter : 126 – Situasi Sulit
127
Chapter : 127 – Petualangan Bersama
128
Chapter : 128 – Pura-Pura Tidur
129
Chapter : 129 – Dendam Yang Membutakan
130
Chapter : 130 – Tuduh Menuduh
131
Chapter : 131 – Pertemuan di Gunung Angsa
132
Chapter : 132 – Ketua Golongan Sesat
133
Chapter : 133 – Sebuah Kutukan, Takdir Kita
134
Chapter : 134 – Kau Orang Baik 2
135
Chapter : 135 – Para Pemberontak
136
Chapter : 136 – Keadaan Saat Ini
137
Chapter : 137 – Kisah Kelam Ratu Elang
138
Chapter : 138 – Teror Rajawali Merah
139
Chapter : 139 – Bercakap-Cakap
140
Chapter : 140 – Nona Han
141
Chapter : 141 – Rencana Mereka
142
Chapter : 142 – Kesaksian Nona Han
143
Chapter : 143 – Sung Han dan Rajawali Merah
144
Chapter : 144 – Dia Inilah Orang yang Kau Maksudkan
145
Chapter : 145 – Pesan Guru
146
Chapter : 146 – Aku Tak Akan Membunuhmu
147
Chapter : 147 – Naga Sakti Ujung Timur
148
Chapter : 148 – Sastrawan Pinggir Jalan 3
149
Chapter : 149 – Rajawali Merah Asli
150
Chapter : 150 – Kau Orang Baik 3
151
Chapter : 151 – Misteri Serigala Tengah Malam
152
Chapter : 152 – Peringatan Orang-Orang Sawah
153
Chapter : 153 – Terjebak
154
Chapter : 154 – Pewaris Pusaka Keramat
155
Chapter : 155 – Lumpur Hisap
156
Chapter : 156 – Gerak-Gerik Aneh
157
Chapter : 157 – Jebakan Penyergap
158
Chapter : 158 – Kalah
159
Chapter : 159 – Tertawan Bersama
160
Chapter : 160 – Siasat Putri Chang Song Zhu
161
Chapter : 161 – Penguntitan
162
Chapter : 162 – Perjalanan Bersama
163
Chapter : 163 – Pemberontak Tuduh Pemberontak
164
Chapter : 164 – Perang Tanding Depan Benteng
165
Chapter : 165 – Jatuhnya Kepala Topeng Emas
166
Chapter : 166 – Terbukanya Sosok di Balik Topeng
167
Chapter : 167 – Berutang Lagi
168
Chapter : 168 – Kau Bukanlah Orang Baik
169
Chapter : 169 – Elang dan Rajawali
170
Chapter : 170 – Keganasan Rajawali
171
Chapter : 171 – Aku Bukanlah Orang Baik
172
Chapter : 172 – Ingin Bertemu Keluargaku
173
Chapter : 173 – Iblis Peti Goa Emas
174
Chapter : 174 – Perpisahan
175
Chapter : 175 – Bersekutu
176
Chapter : 176 – Mengejutkan
177
Chapter : 177 – Naga Sakti
178
Chapter : 178 – Rombongan
179
Chapter : 179 – Rombongan 2
180
Chapter : 180 – Jejaknya
181
Chapter : 181 – Negosiasi
182
Chapter : 182 – Datang Memenuhi Undangan
183
Chapter : 183 – Keputusan Kay Su Tek
184
Chapter : 184 – Goa Emas
185
Chapter : 185 – Orang yang Dihormatinya
186
Chapter : 186 – Para Ronin
187
Chapter : 187 – Tiga Jembel
188
Chapter : 188 – Pendekar dan Ronin
189
Chapter : 189 – Jangan Bunuh
190
Chapter : 190 – Pengecut
191
Chapter : 191 – Jebakan Pertama
192
Chapter : 192 – Jebakan Kedua
193
Chapter : 193 – Pilihan
194
Chapter : 194 – Asap Hitam
195
Chapter : 195 – Gempa
196
Chapter : 196 – Tempat Rahasia [Bagian : 4]
197
Chapter : 197 – Sosok Misterius
198
Chapter : 198 – Xian Fa
199
Chapter : 199 – Para Biksuni
200
Chapter : 200 – Tasbih
201
Chapter : 201 – Dugaan Yu Ping
202
Chapter : 202 – Kakak Adik
203
Chapter : 203 – Kawan Lama
204
Chapter : 204 – Menuju ke Tempat Pertarungan
205
Chapter : 205 – Keramaian di Puncak
206
Chapter : 206 – Pertarungan Mati-Matian
207
Chapter : 207 – Pertarungan Antar Pewaris
208
Chapter : 208 – Takdir
209
Chapter : 209 – Kisah Mereka
210
Chapter : 210 – Tujuan Berikutnya
211
Chapter : 211 – Sahabat Kami
212
Chapter : 212 – Sejarah Goa Emas
213
Chapter : 213 – Keadaan di Timur
214
Chapter : 214 – Belajar Kenal
215
Chapter : 215 – Keputusan Jenderal
216
Chapter : 216 – Perang Berat Sebelah
217
Chapter : 217 – Kau Orang Baik 4
218
Chapter : 218 – Keputusasaan Sung Han
219
Chapter : 219 – Rencana Penyambutan Lawan
220
Chapter : 220 – Pertempuran Kedua
221
Chapter : 221 – Enam Bulan Setelahnya [Bagian : 5]
222
Chapter : 222 – Kehidupan Mereka
223
Chapter : 223 – Situasi yang Kacau
224
Chapter : 224 – Seleksi Pengawal
225
Chapter : 225 – Lolos Seleksi
226
Chapter : 226 – Hok Liu
227
Chapter : 227 – Usaha Merobek Topeng
228
Chapter : 228 – Identitas Para Penyamar
229
Chapter : 229 – Tiga Sahabat
230
Chapter : 230 – Bakar Gudang
231
Chapter : 231 – Rencana yang Tidak Mulus
232
Chapter : 232 – Empat Lawan Tiga
233
Chapter : 233 – Sahabat
234
Chapter : 234 – Salah Paham
235
Chapter : 235 – Kita Semua Sahabat
236
Chapter : 236 – Penyerbuan Sang Putri
237
Chapter : 237 – Kegelisahan
238
Chapter : 238 – Keadaan yang Memburuk
239
Chapter : 239 – Kakek Pembawa Peti
240
Chapter : 240 – Pertemuan Tokoh-Tokoh Pertapa
241
Chapter : 241 – Pasukan Manusia Gunung
242
Chapter : 242 – Keputusan Raja Chunglai
243
Chapter : 243 – Pernikahan yang Terburu-Buru
244
Chapter : 244 – Kenangan Manis
245
Chapter : 245 – Perhatian Seorang Istri
246
Chapter : 246 – Semoga Saja Benar
247
Chapter : 247 – Ini yang Terakhir
248
Chapter : 248 – Awal dari Kejadian Besar
249
Chapter : 249 – Keluar Goa
250
Chapter : 250 – Kenakalan Istri
251
Chapter : 251 – Kerisauan Sung Han
252
Chapter : 252 – Laporan Sung Han
253
Chapter : 253 – Percakapan Suami Istri
254
Chapter : 254 – Kalian Keluargaku
255
Chapter : 255 – Kabar Buruk yang Tersembunyi
256
Chapter : 256 – Titah Kaisar
257
Chapter : 257 – Usul Sung Han
258
Chapter : 258 – Pembagian Kelompok Pasukan
259
Chapter : 259 – Pimpinan Tunggal
260
Chapter : 260 – Pertentangan Paham
261
Chapter : 261 – Perseteruan Mereka
262
Chapter : 262 – Rencana Pemilihan Pemimpin
263
Chapter : 263 – Pertemuan di Bukit
264
Chapter : 263 – Pertarungan Raja Dunia Silat
265
Chapter : 264 – Tugas Pertama
266
Chapter : 265 – Pertempuran Batin
267
Chapter : 266 – Siasat Sung Han
268
Chapter : 267 – Puncaknya
269
Chapter : 268 – Tugas Berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!