Mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, mengambil nafas beberapa kali, pandangan yang tajam dan serius itu seolah menambah ketampanan dari bocah dua belas tahun ini.
Kayu yang mungkin memiliki garis tengah sepanjang satu jengkal, nampak berdiri kokoh di hadapannya. Sebatang kayu lapuk yang sudah bolong di sana-sini. Tapi karena masih awal-awal, anak itu tak berani menggunakan kayu yang lebih baik.
Di sebelah kanan sana, berjongkok seorang pria tiga puluhan sambil senyum-senyum. Dia sesekali memainkan rumput di bawahnya yang tanpa sadar malah ia makan sendiri. Anehnya setelah sadar bahwa yang dimakan itu rumput, orang itu tetap melanjutkan makannya dan tak berhenti sampai rumput tertelan.
"Hiaaaaa!!" teriak bocah itu lantang sembari mengayunkan tangannya kearah batang pohon lapuk itu.
"Bugh!"
"Adduuuhhh!!"
Terdengar suara nyaring ketika tangan putih halus yang bersih itu menghantam batang kayu. Akibatnya sungguh luar biasa, tangan yang sebelumnya putih itu seakan berubah sedikit lebih besar dengan warna membiru. Sedangkan kayu yang jadi sasaran, hanya jatuh saja tanpa luka dan masih sehat.
"Huahahaha....hahahaha...." pria yang jongkok itu tertawa terpingkal-pingkal.
Sedangkan bocah itu menoleh cepat dan berseru marah, "Guru, bagaimana cara guru melakukannya selama ini. Dari kemarin kulihat guru melakukannya dengan mudah, bahkan hanya satu jari."
"Hahaha...Sung Han, kau sekarang sudah percaya kan? Kayu itu tak selunak yang kau kira dan tanganmu tak sekeras yang kau bayangkan. Kayu lapuk hampir hancur saja kau masih kalah, apalagi kayu kuat yang selama ini kujadikan bahan mainan? Tentu tangamu sudah remuk!"
"Lalu bagaimana caranya, guru tak mengajariku sama sekali!" Sung Han merasa jengkel dan membanting kakinya. Sedangkan tangan kiri terus mengelus tangan kanannya yang nyeri bukan main.
Ketika tawa Xiao Shi Yong sudah mereda, dia bangkit dan berjalan kearah tumpukan kayu yang ia gunakan sebagai kayu bakar. Dia mengambil satu balok kayu sepanjang lengannya dan berdiameter sama seperti kayu Sung Han tadi, hanya bedanya kayu yang satu ini nampak lebih kokoh dan kuat.
Xiao Shi Yong membawa kayu itu ke hadapan Sung Han yang memandang penuh perhatian. Kemudian dia mengangkat satu jarinya dan berkata.
"Lihat ini." ucapnya singkat sambil mengayunkan jari telunjuknya ke batang kayu itu. Hasilnya luar biasa, seperti menebas benda lunak saja, kayu kuat itu langsung terbelah dengan bentuk yang rapi.
"Nah, itu! Bagaimana caranya!?" Sung Han menjadi histeris karena kagum akan aksi gurunya.
Xiao Shi Yong tersenyum sabar, sebenarnya dia memperlihatkan hal itu kepada bocah ini hanya untuk main-main dan menghiburnya saja. Karena masih sering dilihatnya dalam beberapa hari ini Sung Han nampak murung ketika ia tinggal sendiri. Xiao Shi Yong menduga bahwa hal itu dikarenakan matinya orang-orang Rajawali Putih itu.
"Kukira kemarin itu dia sudah mampu melupakannya, nyatanya belum. Hah...aku sudah terlalu sepuh untuk mengetahui isi hati anak kecil." keluhnya dalam hati.
Xiao Shi Yong menjelaskan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami oleh anak seumuran Sung Han. Tapi memang dasar anak itu yang sama sekali tak paham silat, maka dia hanya bengong saja ketika gurunya menjelaskan.
"Nah, kau sudah paham?" tanya Xiao Shi Yong yang sudah ke tujuh kalinya.
"Belum, sama sekali tak paham. Guru bicara berbelit-belit." sekarang Sung Han malah mencela cara gurunya menjelaskan.
Xiao Shi Yong terkekeh karena maklum bocah itu memang terlalu hijau untuk mengerti berbagai hal tentang tenaga dalam dan lain sebagainya. Maka dia memutuskan untuk melatih anak ini dari hal paling dasar, yaitu fisik.
"Ah...tak perlu pusing memikirkan itu. Sekarang, kau akan kuajari cara melatih fisikmu agar mumpuni untuk berlatih silat. Kau akan paham sendiri tentang cara memotong batang pohon ini nanti."
Sung Han menjadi bersemangat dan seolah melupakan rasa nyeri di tangannya, dia terus mendesak gurunya untuk segera melatihnya.
Maka saat itu, pelajaran pertama yang teramat sangat dasar adalah, mengambil air di sungai dan mengumpulkan kayu bakar. Sung Han disuruh mengambil air di sungai dan misinya adalah memenuhi ember kecil tempat minum kuda. Lalu untuk mencari kayu bakar, Xiao Shi Yong menyuruh Sung Han memenuhi tungku perapian dengan kayu-kayu kering.
Tentu saja hal ini membuat Sung Han mengerutkan kening dan sontak bertanya, "Guru, maaf saja tapi pekerjaanku di Rajawali Putih jauh lebuh berat dari ini. Aku disuruh mengisi beberapa gentong besar sampai penuh, menyapu halaman, membuang sampah, mengisi kayu bakar yang tempatnya sebesar kandang kuda itu, yang dimana setiap harinya selalu habis dan aku yang memenuhinya."
"Hahahaha....itu kan dulu. Sekarang lakukan perintahku tanpa banyak kata lagi, ingin kulihat apakah kau masih mampu beranggapan bahwa tugasku ini lebih ringan dari tugasmu dulu." Xiao Shi Yong tertawa dan ada nada mengejek di antara ucapannya. Hal ini membuat hati Sung Han terbakar dan cepat-cepat mengambil ember untuk pergi ke sungai dekat situ.
Selepas kepergian muridnya, Xiao Shi Yong tersenyum makin lebar. Senyum jahil yang amat menyebalkan.
"Hehehe..." dia terkekeh dan duduk di kursi depan, lalu memejamkan mata. Pura-pura tidur.
Dengan tekad ingin membelah kayu balok seperti gurunya, Sung Han segera melakukan tugas itu. Bocah ini memang cukup cerdik, saat dia mengambil air di sungai, dia juga memungut beberapa kayu bakar sehingga ketika pulang dia sudah membawa dua kebutuhan sekaligus, air dan kayu bakar.
Karena tempat minum kuda itu akan penuh kurang lebih sebanyak dua ember kecil yang dipegang Sung Han saat ini, maka dengan hati girang dia segera kembali ke sungai mengambil seember lagi untuk memenuhi tempat minum kuda yang sudah terisi setengah.
Mungkin karena memang bocah dan pikirannya masih pendek, sehingga cukup dengan motivasi agar dia mampu membelah sebatang kayu menggunakan tangan, Sung Han menjadi rajin sekali. Sehingga tak sampai lima menit, dia sudah kembali lagi membawa ember yang kedua.
"Eh, mataku tak mungkin salah lihat, anak seumuranku mana mungkin sudah rabun? Tadi sudah terisi setengah!"
Sung Han terkejut sekali ketika mengetahui tempat minum kuda itu sudah kosong tak berisi. Dia memandang gurunya yang enak-enak tidur mendengkur di teras rumah, kemudian dia beralih kepada kuda yang juga sedang menatapnya.
"Sialan!" bentaknya dan mengirim satu tinjuan ke kepala kuda. Kuda itu meringkik dan memperlihatkan sinar mata marah.
"Jangan kau minum dulu goblok! Jika begitu kapan aku akan selesai!?"
"Ngikk!!" seru sang kuda seperti paham akan ucapan Sung Han dan mencoba membantah.
"Jangan mengomel!" kembali satu tinjuan melayang di ubun-ubun kuda yang menjadi makin jengkel dan memilih tidur, tak mau meladeni Sung Han lagi.
Ketika bocah itu masuk ke dalam pondok dan melihat kearah perapian. Kembali hatinya terkejut sekali.
"Wah, tungkunya tadi sudah penuh, kenapa sekarang sudah kosong. Mana mungkin sudah habis terbakar, apakah ada pencuri di sini!?"
Tanpa pikir-pikir lagi, dia segera kembali ke sungai untuk mengumpulkan air dan kayu bakar. Kali ini dia berlaku cerdik, dia memperbanyak jumlah kayu bakar yang dibawanya pulang. Meski pun kerepotan, tapi dia sama sekali ridak mengeluh.
Setelah bolak-balik yang ke sekian kalinya, dia menjadi jengkel karena setiap kali pulang, tempat minum kuda dan tungku selalu kosong. Maka dia mengambil ember lain dan menggunakan dua ember, dia bolak-balik ke sungai dan pondok. Tapi hasilnya tak berbeda, tempat minum kuda dan tungku selalu kosong begitu dia pulang.
Entah bocah itu cerdik atau terlalu polos, dia tak berpikir bahwa ada seseorang yang selalu menguras air di kandang kuda dan kayu di tungku perapian. Siapa lagi orangnya kalau bukan Xiao Shi Yong yang mati-matian menahan tawanya dengan pura-pura tidur setiap kali muridnya pulang dari sungai.
Dia lah palakunya yang telah menguras air di tempat minum kuda untuk disiramkan ke taman sebelah rumah, dan membuangi kayu bakar di tungku perapian untuk membuatnya kosong kembali. Sung Han sama sekali tak berpikir sampai sana.
Hingga senja datang dan Sung Han pulang dengan raut putus asa saat mengetahui tempat minum kuda serta tungku kosong, Xiao Shi Yong bangun lalu menyapa.
"Bagaimana Sung Han, tugasmu sudah selesai?"
"Guru, tempat minum kuda dan tungku selalu kosong saat aku pulang!" keluh bocah itu.
Kemudian Xiao Shi Yong terkekeh dan lanjut berkata, "Nah, kau berani bilang bahwa tugasmu di Rajawali Putih lebih berat daripada yang ini? Hayo katakan lagi kalau kau masih punya keberanian!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
Wan Trado
umur tiga puluhan sudah merasa sepuh..??
2025-02-18
1
Fatimatuzzahra Fatimah
hehehe gurune somplak 😅😅😅
2023-09-14
0
Ismaeni
lanjuut
2023-03-05
1