Giok Shi mengajak Sung Han keluar dan berjalan menuju ke arah barat. Dari sini dia dapat melihat kalau penjara itu berada dekat sekali dengan jurang, di sebelah selatan sana adalah markas besar perkumpulan Naga Hitam.
Setelah menutup pintu lalu berpamitan kepada beberapa penjaga yang ada di sana, Gu Ren menghampiri Giok Shi dan Sung Han yang sudah menunggu.
"Mari...." ajak Giok Shi.
Sembari menikmati pemandangan pagi yang masih tebal akan kabut itu, Sung Han menghirup napas dalam-dalam. Seolah untuk melepas penat akibat bosan di penjara selama satu minggu.
Ia melihat ke bawah, ke arah jurang yang tak tampak dasarnya itu karena tertutup kabut tebal, lalu dia segera bertanya kepada Giok Shi.
"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?" kembali dia tak punya adab bicara, karena sedang jengkel dengan kelakuan lelaki tua ini.
Namun Giok Shi tak mempermasalahkannya dan tersenyum ketika menjawab, "Ini soal lima tahun lalu, dan sekarang, dan bentrokan antara Naga Hitam melawan Hati Iblis di hutan itu, dan masa depanmu."
Sung Han menoleh, tatapannya jelas menunjukkan ekspresi bingung yang segera ingin mendapat jawaban, "Masa depanku?"
Giok Shi mengangguk, "Dengarkan kisahku, sebelum itu siapa namamu?"
"Sung Han." jawab singkat Sung Han.
Giok Shi kembali mengangguk dan mulai bercerita.
Dahulu lima tahun lalu, ada salah seorang murid Naga Hitam yang melapor bahwasannya tetua atau murid dari Giok Shi ini sudah ditemukan. Namanya Gu Toan, dia adalah ayah dari Gu Ren sekaligus murid tertinggi dari Giok Shi.
Segera saja Giok Shi mengutus Gu Ren, Bao Leng dan tiga orang lain untuk menyusul ke tempat yang dikatakan murid itu. Tentu saja murid itu juga ikut.
"Seperti yang kau ketahui, setelah itu bentrokan terjadi dan pembunuhan-pembunuhan itu tak dapat terhindarkan." ucapnya dengan wajah sedih dan kerutan yang nampak makin dalam. Hal ini juga terlihat jelas di wajah Gu Ren.
"Lalu?"
"Lalu...."
Giok Shi melanjutkan, entah bagaimana sejak hari itu, Rajawali Putih selalu kena desak oleh partai-partai lain. Entah apa sebabnya Naga Hitam tidak tahu karena pada saat itu, dia mengeluarkan larangan untuk ikut campur.
Beberapa bulan kemudian, Rajawali Putih menghilang entah kemana. Lalu tak lama ini terjadi ketegangan antara Naga Hitam dan Hati Iblis. Juga ikut campurnya Sung Han, pemilik pedang gerhana, menjadikan urusan ini makin runyam.
"Hati Iblis itu tamak!" Giok Shi mengakhiri ceritanya.
Sedangkan Sung Han malah mengerutkan kening. "Bedanya dengan kalian ada di sebelah mana? Bukankah kalian juga memburu harta-harta itu?" nampak raut tak senang di wajah pemuda ini.
Kali ini Gu Ren menyahut, "Bukankah sama halnya dengan Rajawali Putih?" wajahnya juga menegang.
Tapi Sung Han lekas membantah, "Kakek Sie Kang mencoba mencari berbagai macam kitab dan pusaka itu agar tidak jatuh ke tangan orang salah!!"
"Kalau begitu sama dan sependapat dengan kami." Giok Shi cepat mengambil alih saat muridnya hendak membantah lagi.
Sung Han hanya bungkam, tak bisa menjawab perkataan itu. Perjalanan terus dilanjutkan dalam diam, Sung Han memilih untuk menyibukkan diri dengan melihat ke bawah jurang yang nampak indah dengan kabut-kabut tebal itu.
Dia memandang langit, langit biru cerah yang seolah tak berujung. Sambil melakukan hal ini, dia kembali bertanya. "Lantas, hubungan dengan masa depanku?"
Giok Shi mengangguk-angguk seraya mengelus jenggot panjangnya yang lancip. "Tentu saja ada?"
"Tolong jelaskan."
"Sung Han, awalnya kami mengurungmu karena jujur aku takut kalau kau mengacau di sini. Tapi menurut penuturan Yu Ping, kau adalah orang baik dan tak mencoba kabur, maka kami bebaskan."
"Jangan menutupi sikap burukmu dengan perkataan macam itu!" potong Sung Han cepat.
Giok Shi tersenyum sabar, "Baiklah....baiklah....kami salah marena terlalu curiga dengan orang muda."
Sung Han memalingkan wajahnya acuh.
"Lalu?" kembali pemuda itu bertanya.
"Melihat kau bukan seorang jahat, kami ingin melepaskanmu lalu melanjutkan obrolan kita waktu itu dan meluruskan segala macam permasalahan. Tapi beberapa waktu lalu kabar buruk terdengar, identitasmu telah diketahui dan akan berbahaya bagimu untuk berkeliaran di luar sana."
"Jadi?"
"Jadi, mohon tinggalah di sini beberapa waktu sampai keadaan reda."
Sung Han menghentikan langkah, melihat ini keduanya juga menghentikan langkah. Pandangan Sung Han jelas menunjukkan raut ketidak puasan. Perkataannya berupa nada penuh tuntutan.
"Maksudmu?"
"Seperti yang kubilang, kau tinggal–"
"Memang Naga Hitam itu orang jahat."
Gu Ren sudah panas hatinya dan cepat menarik pedang, "Apa katamu!?" namun tindakan ini dihentikan oleh Giok Shi yang segera bertanya.
"Apa maksudmu Sung Han?"
Jawab pemuda itu, "Kalian ingin mengumpulkan pusaka-pusaka itu agar tidak jatuh ke tangan orang jahat? Bah, omong kosong! Sekarang kalian ingin aku tinggal di sini karena menginginkan aku bergabung dengan Naga Hitam bukan? Andai saja aku tak memiliki pedang ini, mungkin sekarang kepalaku sudah kau lempar ke dalam jurang tak berdasar itu!"
Giok Shi dan Gu Ren serentak melebarkan matanya. Tak pernah mereka duga bahwasannya pemuda itu demikian besar rasa curiganya kepada lain orang.
Hal ini tidaklah aneh dan wajar. Sung Han merupakan pemuda yang belum berpengalaman, baru sekali ini dia mengembara seorang diri di dunia ramai.
Tragedi lima tahun lalu, pengeroyokan di hutan, dan yang baru-baru ini terjadi, dia dilumpuhkan lalu dijebloskan ke dalam penjara. Awalnya dia sudah berpikir Naga Hitam ini memang golongan orang baik, mengingat tindakan Tongkat Emas Pencabut Sukma yang membela desa Batu Alam waktu itu.
Tapi setelah beberapa lama ia melewati serangkaian kejadian bersama Naga Hitam, lalu kali ini malah dia merasa seolah ingin dimanfaatkan oleh partai itu, pendapat awalnya kian memudar dan lambat laun dia menganggap Naga Hitam merupakan sekumpulan orang jahat.
Kemarahannya kian membara saat tiba-tiba melihat Giok Shi tersenyum sabar dan Gu Ren menghela nafas lega. Dikira sedang mengejek, Sung Han membentak sambil menghentakkan kaki.
"Kalian mengejek? Atau meremehkan–huh?"
Dia merasa punggungnya menjadi berat, dan samar-samar ia mencium bau wangi bunga yang sangat menenangkan. Cepat ia menoleh untuk kemudian wajahnya kena sapu helaian rambut halus yang membuatnya sedikit gatal.
"Kakak sudah keluar....hahahaha!! Aku punya kawan baru!!" seru bocah kecil itu dengan suara melengking nyaring.
Lenyap sudah amarah Sung Han, digantikan dengan rasa heran yang teramat sangat. Berpikir beberapa saat, akhirnya dia mengenal suara itu.
"Yu Ping!?"
Buru-buru ia gerakkan tangannya ke belakang untuk menyangga tubuh gadis itu, karena saat ini Yu Ping sudah bergelantungan di punggungnya.
"Kenapa kau kemari?" tanyanya kemudian.
"Dia merengek untuk datang menjemputmu. Sebagai kakak yang baik, aku khawatir meninggalkan dia sendirian kepada pria bejat macam dirimu!"
Jawaban dingin dan mendatangkan hawa mencekam ini datang dari gadis lain. Sung Han menoleh untuk menemukan kakak dari Yu Ping.
"Eh....nona...."
"Yu Ceng."
"Em...nona Yu Ceng, apa maksudnya ini?" tanya Sung Han sedikit sungkan. Namun sebagai tanggapan, Yu Ceng justru mendengus dan membuang muka.
"Sung Han, beberapa waktu ke depan kau akan tinggal bersama mereka. Tempatmu di sana." ucap Giok Shi menjawab kebingungan Sung Han seraya menunjuk puncak salah satu bukit.
Terlihat di sana, sebuah bukit kecil sebelah barat markas utama agak ke utara, berdiri pemukiman penduduk yang cukup lumayan. Tidak besar tidak kecil.
Di sekeliling pemukiman itu, samar-samar Sung Han melihat pagar tembok dan menara pengintai. Ia mengerutkan kening.
"Tuan, mohon penjelasan?" walau pun sudah sedikit tenang, namun ucapannya tetap ketus.
Giok Shi tersenyum ramah dan menjelaskan.
Naga Hitam ini terbagi menjadi dua kelompok. Satu adalah para mantan bandit yang tinggal di markas utama, yang biasa disebut sebagai anggota lama. Dan satu lagi adalah anggota baru.
"Anggota baru tinggal di bukit itu." jelas Giok Shi.
"Kenapa begitu? Bukankah seharusnya para mantan bandit bejat tak beradab itu yang harus ada di sana!?" Sung Han nampak tak puas.
"Itu keinginan kami!" potong Yu Ceng cepat-cepat. "Jangan banyak omel, apakah bisa? Jangan seperti anak kecil yang bandel!! Sekarang cepat ikut aku!"
"Tapi urusanku dengan dia...."
"Sudahlah, kapan-kapan aku datang ke sana dan kita lanjutkan pembicaraan yang tertunda ini." Giok Shi menjura, diikuti Gu Ren. "Kami pamit."
"Eh tunggu–Sialan! Mereka kabur!" umpat Sung Han saat tiba-tiba dua orang itu sudah melesat dan jauh dari tempatnya berdiri.
"Nah kakak....eh....eh....siapa?" tanya Yu Ping dengan polosnya.
"Sung Han, apa kau lupa? Satu minggu lamanya, tiga kali sehari kau bolak balik ke kamar tahananku, setiap kali kau datang kau menanyakan hal yang sama."
"Hehe...."
Sung Han hanya menghela nafas mengetahui kelakuan bocah itu.
"Cepat ikuti aku! Jangan coba-coba kau curi adikku!"
Perkataan ketus itu menyadarkan Sung Han yang cepat berlari menyusul.
"Apa maksdunya semua ini? Giok Shi, apa maumu?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
yoihooi
2025-03-30
0
Yoihoi Yoi
aowkwkwk
2023-08-13
1