Suasana pesta mendadak chaos.
Timothi yang seolah sudah tak punya muka itu menarik tangan Nyonya-nya untuk menyingkir dari pemburu berita yang menggila. Di ruangan dalam yang kosong tapi sudah terisi banyak furniture itu mereka mengunci diri.
Tempat ini baru sekali. Dari penataan ruangan, mungkin tempat ini akan difungsikan sebagai kantor.
Sania Narita melempar tas mahalnya ke atas sofa. Dadanya terasa sesak. Ditatapnya Timothi dengan marah.
"Timo! Apa yang kamu lakukan pada saya? Kamu menjijikkan! Kamu tahu ini bisa jadi skandal besar. Status saya masih jadi istri Rius. Kamu gila, ya.
Cari para wartawan itu. Suruh kemari biar kubayar agar bungkam. Saya ingin foto-foto atau video yang mereka ambil ke arah kita tadi dihapus! Saya akan bayar berapapun!" Sania berteriak seperti orang kesetanan. Berdirinya mulai limbung dan ia menjatuhkan dirinya ke sofa.
Timothi yang berusia 40 tahunan itu membuang muka. Tak berani ia menatap Sang Nyonya. Hidung mancungnya makin terlihat mencuat dari samping begini.
Timothi adalah pria keturunan Meksiko. Di usianya yang sudah cukup berumur, ia masih terlihat gagah dan tampan. Tapi mau setampan apapun dia, walau ia juga sudah duda, tak pernah sekalipun terbersit dalam hati Nyonya Sania kalau ia ingin main gila dengan tangan kanannya sendiri.
"Tidak bisa, Nyonya. Mereka media besar. Banyak yang punya basis digital. Mereka mungkin sudah menyiarkan secara live. Tak ada yang bisa dihapus atau diselamatkan." Timothi berkata lirih tanpa melihat ke arah Nyonya Sania.
Sania Narita menjatuhkan dirinya di sofa. Ia merasa sangat marah.
"Siapa yang menyuruh kamu melakukan ini? Siapa? Rius? Kamu dibayar berapa, hah? Kaamu menghianati kepercayaan saya!" ucap Sania sambil masih memegang dadanya yang makin sesak.
"Maafkan saya, Nyonya. Putra saya tertangkap karena penyalahgunaan obat terlarang untuk ketiga kalinya. Ancaman hukumnya berat. Saya sudah bilang pada Nyonya kemarin tapi Nyonya bilang tidak bisa menolong. Pak Rius menawarkan bantuan.
Bagaimanapun senakal-nakalnya anak itu, dia tetap anak saya dan saya tidak ingin dia dituntut hukuman mati. Kalau Mas Antara terjerat hal serupa, pasti Anda akan berbuat apapun kan untuk menyelamatkannya?
Tolong maklumi saya, Nyonya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Tapi ini resiko yang harus saya tempuh untuk imbalannya," ucap Timothi lalu ia berjalan menuju pintu dan pergi.
Tangan Sania Narita makin gemetar. Diusapnya bibirnya yang sempat terjamah. Entah separah apa gambar atau video yang mungkin bisa tertangkap kamera tadi, tapi ia yakin pasti akan sangat parah.
Sania menyandarkan bahunya pada sofa dengan pasrah. Ia tahu riwayatnya sudah tamat.
Kalau tuntutan cerainya terhadap Rius lebih dulu dirilis, maka insiden ini tidak akan terlalu parah. Kesannya mereka memang sudah hendak berpisah dan mungkin Sania mengencani lelaki lain. Tapi sayangnya wartawan belum mencium gelagat apapun di antara mereka. Rius dan Sania masih dianggap pasangan pengusaha yang harmonis.
Sania merasa kalah. Jebakan Rius ia makan tanpa sisa. Timothi juga sama saya. Ia dijadikan umpan menjijikkan. Lalu apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Sania tak bisa berpikir jernih sekarang. Untuk bernapas saja sulit.
"Di mana Antara? Kenapa ia tidak mencariku?" Sania merintih lirih. Ia merasa kepalanya makin berat. Dirabanya tasnya untuk mencari ponselnya. Niatnya ia ingin menghubungi Antara untuk menyelamatkannya dari sini.
Di luar pasti masih banyak wartawan dan ia butuh menemui dokter segera. Sania Narita tahu kondisi kesehatannya tidak baik-baik saja sekarang.
***
Suasana gempar. Wartawan ingin meringsak masuk ke area pesta. Orang-orang jadi tahu insiden yang barusan terjadi.
Memang semuanya sudah dirancang seperti ini. Tim Rius memasukkan orang-orangnya untuk menyamar sebagai wartawan gadungan. Fungsi mereka untuk menghasut wartawan lain agar beringas begini.
Lalu pihak keamanan juga sudah diberitahu untuk pura-pura kewalahan menghadapi kebrutalan pemburu berita. Jadi situasi kacau ini sebenarnya memang sengaja dibuat.
Para tamu pesta mulai berbisik-bisik. Kayesa yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatap Antara dan saling memberi kode lewat mata. Maklum, dalam keadaan begini Megan masih mengawasi mereka.
"Mamamu," ucap Kayesa ke arah Antara dengan gerakan mulutnya.
Antara yang lama-lama tahu apa yang sedang terjadi dari bisikan orang-orang itu langsung berlari keluar. Ia tahu mamanya pasti sedang berada di suatu tempat dan ingin diselamatkan. Dicarinya ponsel di kantong celananya. Di saat yang sama mamanya meneleponnya.
"Mama! Mama di mana?"
Antara berlari dan terus menatap sekeliling. Tempat ini asing. Maklum saja gedungnya baru dan belum beroperasi. Ia pun baru pertama kali ke sini. Jadi ia bingung melihat banyak ruangan dan pintu. Mamanya dimana?
"Ambulance!" Antara berteriak tapi seolah tak ada yang peduli. Semua sibuk ingin masuk ke dalam gedung.
Suara nafas mamanya di telepon makin terdengar sesak dan sulit.
***
Rius naik ke podium dengan Kayesa yang ia minta berdiri di belakangnya. Memang rencananya ia akan naik podium tapi untuk memberikan sambutan pada tamu. Hanya saja kali ini momennya berbeda.
Rius berpura-pura panik dan syok. Entah dari mana ia belajar berakting samahir itu, hingga orang-orang langsung diam begitu ia mengetuk-ngetuk mikrofon itu.
"Oke. Kekacauan tidak terhindarkan karena insiden tak terduga ini. Jadi agar sama-sama tertib, tim saya memutuskan untuk memperbolehkan wartawan meliput masuk.
Setelah semua tenang dan siap, baru saya akan bicara," ucap Rius lalu ia menyeka keringat di dahinya dan terus memasang wajah sedih.
Hiruk pikuk wartawan berebut tempat. Para tamu juga ingin mendapat posisi di depan.
Sambil menunggu, Rius menghadap belakang, membelakangi pada tamu yang sudah berdiri dengan penuh penasaran menunggu komentarnya.
Rius merapatkan badannya ke arah Kayesa seolah ingin berbisik. Tapi sentuhan intens di lengan Kayesa membuat gestur itu seolah-olah mereka memang sedang berbicara mesra. Rius tentu sengaja melakukannya.
"Wajahmu jangan kaku begitu. Pura-puralah menghiburku. Kalau nanti aku kelihatan sedih, marah, dan frustasi; mendekatlah dan elus punggungku.
Kamera akan terus menyorot ke arahmu, juga tatapan semua orang. Jangan kecewakan aku Kayesa! Ingat kamu sudah tanda tangan," ucap Rius dengan nada semi mengancam.
Kata-kata Rius di telinga Kayesa membuatnya merasa mendidih. Kayesa cukup cerdas untuk tahu kalau ini semua adalah siasat Rius. Ini semua sudah ia rencanakan.
Kayesa pun sadar, Nyonya Sania yang berniat datang untuk mendukungnya itu malah dijebloskan begini.
Kayesa menunduk. Dilihatnya sepatu Rius melangkah ke depan lagi ke arah podium. Kayesa ingin menangis tapi ia menahan. Ia tak ingin menjadi bagian dari sandiwara bodoh dan jahat ini tapi ia tak punya pilihan.
"Perhatian semuanya!" Rius mulai bicara.
Semua orang yang tadinya ribut langsung senyap.
"Pertama-tama maafkan saya kalau pestanya jadi kacau begini. Saya juga tak menduga akan begini jadinya. Seharusnya kita sedang bersenang-senang.
Awalnya pesta ini saya adakan untuk mengundang kolega saya dalam rangka peresmian bisnis baru saya. Sekaligus juga sebagai tempat bagi saya untuk memperkenalkan istri baru saya. Gadis di belakang saya adalah istri kedua saya. Namanya Kayesa," ucap Rius lalu ia sedikit menengok ke belakang.
Kayesa tahu Rius akan marah kalau sekarang ia tak mengangkat wajahnya. Maka ia berusaha menegarkan hatinya dan berusaha menatap ke depan.
Kayesa tercekat. Semua orang di ruangan pesta ini menatap ke arahnya. Bibirnya tang seharusnya tersenyum tipis dan kepalanya yang seharusnya mengangguk sopan terasa kaku.
Semua seolah membeku. Mata Kayesa mulai berkaca-kaca. Situasi macam apa yang sedang dihadapinya ini?
Kayesa menyapu pandangan ke seluruh penjuru dan tidak menemukan Antara dimana pun.
Lututnya terasa goyah.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments