10. Foto Diam-Diam

Kayesa membuang muka, menghindari tatapan Antara padanya. Ia sebenarnya sudah berjanji akan merahasiakan ini dari Antara.

Tapi kejadian itu kan sudah 7 tahun lebih. Situasi sekarang pun juga berubah. Mereka terikat sebuah hubungan rumit yang tak disangka-sangka.

Nyonya Sania yang dulu mendatanginya dengan angkuh itu jadi madunya. Lalu Antara yang dulu pacarnya kini jadi anak tirinya.

Malam makin naik ke peraduan tapi bulan bersinar makin terang. Antara tak sabar lagi karena Kayesa tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Ia memegang pundak Kayesa dan meraba pelan pipi gadis itu agar menatap ke arahnya. Ia tidak ingin Kayesa menghindari pandangannya lagi. Antara ingin tahu apa maksud Kayesa dengan semua kata-katanya ini.

Mamanya jahat? Mengancam? Maksudnya apa?

Kayesa menampik pelan tangan Antara dan meluruskan posisi duduknya. Bagaimanapun ia merasa sentuhan ini tidak pantas. Walaupun hanya sentuhan wajar, tapi posisi mereka sekarang berbeda. Dia ibu tiri dan Antara ini jadi anaknya.

"Aku tahu dulu kisah cinta kita itu tidak penting. Cuma cinta monyet. Seberapa banyak sih orang yang menikahi cinta pertamanya? Cinta monyetnya saat masa sekolah? Ya mungkin ada. Tapi tidak banyak.

Hanya saja, mamamu mungkin mencemaskan masa depanmu. Dia tidak ingin kamu berakhir menikahi gadis miskin sepertiku.

Entah tahu dari mana, tapi mamamu menemuiku, bahkan sudi datang jauh-jauh ke rumah kontrakan lamaku dan ayah. Rumah kecil di dekat sekolah kita dulu. Sekolah SMA favorit yang menerima aku karena aku dapat beasiswa.

Kalau aku tak dapat beasiswa, mungkin aku akan berakhir di sekolah biasa dan tak pernah bertemu denganmu. Ayah begitu bangga aku mendapatkan kesempatan itu. Jadi kita pindah ke kontrakan kecil itu agar dekat dengan sekolah. Katanya biar aku tidak capek-capek naik angkot jauh-jauh.

Rumah kecil itu sangat berarti untukku dan ayah. Tapi mamamu datang dan meludah seolah-olah itu tempat paling menjijikan di dunia yang pernah ia datangi."

"Tunggu! Mamaku datang ke rumahmu?" Antara yang tidak tahu apa-apa soal ini tampak sangat terkejut.

7 tahun berlalu dan kini ia mulai tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ia mulai meraba alasan sebenarnya Kayesa yang tiba-tiba menjauhinya di sekolah dan memutuskan hubungan mereka dengan sepihak karena alasan yang menurutnya membingungkan.

"Iya. Dia datang diantar sopir. Tentu mobil mewahnya tidak bisa masuk sampai ke halaman rumah. Dia turun di ujung gang diantar pengawalnya. Sepatu hak tingginya yang mahal itu jadi kotor karena becekan.

Ayahku tergopoh-gopoh mengambilkan minum yang lalu dia singkirkan dari hadapannya dengan jijik. Ayah yang bingung bertanya ada apa dan aku hanya menunduk di kursi dengan tangan gemetar.

Mamamu tidak banyak basa-basi. Kata-katanya cukup jelas dan terngiang-ngiang di telingaku sampai sekarang." Kayesa menjeda ceritanya untuk mengambil nafas.

Kenangan ini begitu berat dan traumatik. Bahkan untuk diceritakan kembali.

"Dia bilang padaku untuk tahu diri. Jangan dekati putraku lagi. Kamu ini gadis miskin yang tidak pantas. Tahun depan Antara akan kuliah di London. Jangan rusak masa depannya dengan kegatalanmu mendekatinya." Kayesa menirukan kata-kata Nyonya Sania waktu itu sambil tertawa getir.

Tawa yang ditanggapi Antara dengan rahang mengatup dan wajah yang langsung memerah.

Sungguh namanya bilang begitu? Astaga! Kenapa bisa ia sampai tidak tahu? Bahkan mamanya menghiburnya waktu dia bilang dia habis putus dari pacarnya. Ternyata mamanya dalang dari semua ini. Dalang dari patah hati pertamanya.

"Ya, mamamu bilang begitulah kurang lebihnya. Dan yang lebih parah dia mengancamku. Dia bilang dia donatur terbesar di Yayasan SMA kita dulu. Namaku bisa dicoret dari daftar penerima beasiswa kapanpun dia mau.

Ayahku diam saja. Aku tahu dia sangat marah karena putrinya dihina. Tapi mendengar beasiswa dicabut dan melihat tanganku berusaha menggenggam tangannya untuk menahan emosinya, dia jadi bungkam.

Sepanjang percakapan sore itu, ayahku yang tegar membiarkan mamamu terus bicara."

Cerita Kayesa terhenti lagi. Dan Antara hanya bisa menahan nafas. Tak sanggup ia berkomentar dengan semua cerita mengejutkan ini. Ia merasa seolah pipinya habis ditampar-tampar.

"Mamamu bahkan secara khusus menoleh ke arah ayah dia bilang begini. 'Pak Hari Samsir, saya tahu Anda itu cuma satpam bank rendahan. Tapi Anda tidak tahu kan kolega bisnis saya pemilik bank itu?

Dengan kekuasaan dan relasi saya yang besar, saya bisa membuat Anda kehilangan pekerjaan kalau putri Anda masih kegatalan menempel pada anak saya.'

Lalu setelah itu mamamu tertawa seperti nenek sihir jahat dan meninggalkan rumah kecil kami. Tentu setelah dia mengancamku dulu agar jangan pernah menceritakan ancamannya itu padamu."

Entah cerita ini sudah selesai belum, tapi Kayesa memberanikan diri untuk menatap Antara. Ia ingin tahu apa reaksi mantan pacarnya itu begitu mendengar kelakuan namanya yang ia puja-puja itu.

"Maaf, Kay. A--aku tidak tahu apa-apa." Antara menyahut pelan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, entah sejak kapan.

Kayesa tertawa dengan sumbang. Ia menggeleng dan melemparkan pandangannya lagi ke arah rembulan yang memantulkan sinarnya ke danau kecil di rumah itu.

"Ngapain minta maaf? Bukan salahmu. Cuma aku ingin kamu membuka mata. Tidak ada orang yang sempurna, termasuk mamamu. Dia bisa menjadi ibu peri baik hati di depanmu, tapi di depan orang lain dia bisa menjadi iblis juga.

Kudengar dia sakit. Entah sakit apa. Tapi jangan katakan ini padanya dan jangan salahkan dia. Toh ini juga sudah 7 tahun berlalu dan kita juga sudah tidak ada hubungan apa-apa. Itu kan kisah remaja beda kasta tak penting.

Aku yakin dia sudah cukup stress dengan papamu dan ancaman-ancamannya soal perebutan harta gono gini ini. Lagi-lagi aku cuma pion. Aku cuma orang kecil yang kalian peralat dalam kisah megah kalian."

Kata-kata Kayesa membuat Antara yang sudah membuka mulutnya jadi bungkam.

"Antara, aku hargai tawaranmu untuk membantuku keluar dari situasi ini. Tapi sudahlah. Biar kuselesaikan kontraknya. Biar kutelan sendiri pahitnya. Aku bisa menjaga diriku sendiri.

Jangan melibatkan dirimu dan pulanglah ke mamamu. Dia lebih membutuhkanmu." Kayesa berdiri dari duduknya dan berniat hendak pergi. Ia rasa sudah cukup percakapan berlarut-larut ini.

Yang jelas ada kelegaan sendiri di dalam hati Kayesa. Ia ingin Antara tidak menyalahpahami dirinya lagi soal putusnya hubungan mereka 7 tahun yang lalu.

Tak ada lagi yang ia takutkan. Beasiswanya dicabut? Silakan, ia bahkan sudah lulus S1. Ayahnya akan dipecat jadi satpam bank? Oh, ayahnya bahkan sudah meninggal. Pecat saja.

Tapi ancaman itu berbeda 7 tahun yang lalu. Bagi orang kecil macam meraka, ancaman Nyonya Sania sangat menakutkan. Kehilangan beasiswa sekaligus pekerjaan adalah mimpi buruk. Hidup mereka yang sudah susah bisa makin hancur.

"Kay! Tunggu, Kay!" Antara tiba-tiba sudah ikut berdiri juga dan menarik tangannya.

Kayesa menatap mata pria yang 7 tahun yang lalu membuatnya semangat berangkat ke sekolah itu. Ah, mata ini masih sama teduhnya seperti dulu. Sama memikatnya.

Tapi mata teduh itu kini mengalirkan titik-titik air mata ke pipinya. Rahangnya yang mengeras membuat garis ketampanannya yang kharismatik berubah menjadi garis kesedihan.

"Maaf," ucap Antara lirih.

"Apa yang perlu dimaafkan? Sudahlah. Bukan salahmu. Sekarang takdir kita sudah begini. Aku jadi mama tirimu. Oh,betapa lucunya dunia ini.

Sudahlah. Biarkan aku tidur. Siapa tahu aku bermimpi indah agar ketika bangun nanti aku tidak terlalu sedih menjalani kembali realita dunia nyataku yang menyedihkan ini," ujar Kayesa sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Antara.

Tapi ternyata Antara tidak melepasnya. Ia terus menggenggam dan bahkan kini makin merapatkan tubuhnya pada Kayesa.

"Kay, jangan pesimis. Please, izinkan aku untuk menebus semuanya. Aku akan membawa kamu keluar dari situasi ini, lalu kita memulai kisah yang baru. Hanya aku sama kamu," ucapan Antara dengan serius.

Kayesa menggeleng dan memaksakan senyum di bibirnya. Tangannya bergerak mengusap air mata Antara.

"No! Jangan menyusahkan dirimu untuk wanita yang tidak pantas sepertiku. Toh ketika kontrak pernikahan ini sudah selesai, statusku tetap jadi janda. Masa depanmu masih panjang. Jangan menyia-nyiakannya dengan berusaha menyelamatkanku.

Kamu hanya akan kesulitan. Kamu juga akan melawan ayahmu sendiri. Tidak usah. Aku bisa menanggung nasibku sendiri." Kayesa menggenggam tangan Antara agar tangan kekar itu melepaskannya dengan rela.

Antara menggeleng dan dalam sedetik ia merengkuh tubuh Kayesa tanpa ragu ke dalam pelukannya

Di bawah lampu taman juga kilat- kilat air kolam yang memantulkan cahaya bulan itu, dua insan itu merengkuh kembali kisah yang lama kandas.

***

"Win! Wini! Itu Nona Kayesa sama Mas Antara! Di taman lagi pelukan! Cepat ambil ponselmu. Cepat, Win! Kita harus lapor Pak Rius!" Seorang perempuan berseragam pelayan memanggil temannya dengan panik.

Dari balik kaca transparan rumah itu, mereka bisa melihat jelas dua sosok itu.

Cekrek!

Sebuah foto diambil.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!