9. Aku Tak Percaya

Rius duduk ruas di belakang mobil mewahnya. Dandy duduk di sampingnya. Sopir menjalankan mobil ini menuju ke tempat pertemuan yang disebut oleh pengacara pihak Sania alias mama Antara.

Rius tampak menempelkan ponselnya ke telinganya. Rupanya ia sedang menelpon seseorang.

"Kayesa dimana? Cari dia di seluruh penjuru rumah. Pastikan dia tidak sedang bersama Antara!" perintahnya kepada salah satu pelayan rumah.

"Nona sepertinya sudah masuk ke dalam kamarnya, Pak. Saya sudah melihat di sekeliling rumah dan dia tidak ada. Kalau mas Antara, dia sedang di taman. Duduk di samping kolam ikan sendirian."

Padahal pelayan rumah itu tidak tahu saja kalau ada Kayesa yang duduk di samping Antara. Hanya saja dari tempatnya mengintip, posisi Kayesa terhalang oleh ilalang. Jadi terlihat dari dalam rumah kalau Antara hanya sendirian saja.

"Oke, bagus. Kalau ada apa-apa lapor ke saya." Rius lalu mematikan ponselnya. Barulah setelah itu ia beralih fokus kepada Dandy yang sejak tadi tampak sudah menunggunya untuk menyampaikan sesuatu.

"Sania bilang apa, Dan?" tanya Rius.

"Katanya dia sudah mengajukan daftar aset dan properti perusahaan untuk diambil. Dan dia mengancam kalau pihak kita tidak menyetujui maka saat sidang cerai nanti dia akan membawa perempuan itu, Pak. Dia akan memanggil semua wartawan," ucap Dandy.

"Perempuan yang mana," tanya Rius sambil memijit-mijit pelipisnya sendiri. Air mukanya terlihat suntuk dan kesal.

"Tariksa Kamila. Dia pernah menjadi simpanan Anda beberapa tahun lalu. Nyonya Sania membayarnya untuk buka mulut. Pasti uangnya dalam jumlah besar. Karena kalau tidak, mana mungkin Tariksa yang sudah merintis karir menjadi selebriti itu mempertaruhkan harga dirinya dengan menyebut dirinya pernah menjadi simpanan Bapak?

Karirnya sedang turun. Mungkin dia butuh uang dan Nyonya Sania menawarkan rencana ini padanya."

"Sialan!" Rius mengumpat merespon laporan dari Dandy.

Dandy diam saja. Ia tahu bosnya itu akan kesal menerima laporan ini, tapi ia tetap harus melapor, kan?

Rius tahu Sania itu cerdas. Walaupun ia tidak berkecimpung di dunia bisnis dan mempercayakan semua padanya sejak awal mereka menikah, tapi otak dan instingnya cukup tajam.

Walaupun banyak aset dan properti yang sudah dipindah nama atas nama Kayesa, tetap saja Sania bisa mengakali dengan cara lain.

Bagi pelaku bisnis, nama baik itu sangat penting. Walaupun orang-orang di lingkaran mereka tahu Rius bukan pria setia dan sering main perempuan seperti banyak pria kaya lainnya, tapi kepercayaan publik sangat penting.

Konsumen dari produk-produk perusahaannya adalah masyarakat. Dan sekali namanya keluar dengan skandal yang menjijikkan apalagi menyangkut perselingkuhan, bisa-bisa saham perusahaannya turun. Angka penjualan produknya menurun dan ia bisa rugi besar bahkan bangkrut.

Lihat saja berapa banyak kasus macam begini di negeri ini? Publik bisa memboikot satu perusahaan beserta turunan produknya begitu tahu pemiliknya bermasalah.

Apalagi ancaman besarnya ini menyangkut soal Tariksa Kamila. Mungkin namanya sedang turun di dunia hiburan, tapi ia tetap selebriti. Sekali namanya mencuat dan menyeret-nyeret namanya, habislah ia. Rius tahu resiko ini besar.

"Apa memungkinkan kita tawari Tariksa dan kita bayar lebih besar biar dia bungkam?" Rius bertanya pada Dandy.

Dandy menggeleng lemah.

"Orang saya sudah hubungi manager Tariksa. Mereka bilang Nyonya Sania sudah membuat rekaman dan Tariksa sudah menandatangani perjanjian. Video itu tinggal dirilis. Nyonya Sania juga pengacaranya yang memegang file.

Kecuali mungkin surat perjanjiannya bisa dilenyapkan. Jadi kalau video itu dirilis, Tariksa bisa bilang kalau ia dibayar atau itu tidak benar. Hanya saja itu tidak mungkin, kan?" ucap Dandy dengan agak pesimis.

Rius mengumpat lagi. Ia tahu dia harus membuat rencana lain yang lebih hebat untuk mematikan langkah istri pertamanya itu.

***

Kembali lagi ke pinggir kolam atau mungkin bisa disebut danau kecil di taman yang rimbun oleh aneka tanaman itu.

Kayesa melepaskan pelukannya setelah puas menumpahkan tangisannya di pundak Antara.

Ia terlihat salah tingkah dan menunduk sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Sedangkan Antara diam saja, walaupun dalam hati ia senang juga. Bibirnya tersenyum. Ia lega Kayesa akhirnya percaya padanya.

"Pipi papa memerah, tapi cuma sebelah. Kamu apakan dia?" tanya Antara setelah mereka diam beberapa saat.

Kayesa tertawa. Bukan tawa karena menertawakan hal lucu, tapi ia menertawakan nasibnya sendiri yang sangat miris ini.

"Aku menamparnya. Tadi itu hal terkasar yang pernah kulakukan pada orang lain." Kayesa berkata dengan bibir bergetar.

"Ya, dia pantas mendapatkannya. Aku ingin melakukan hal yang sama sepertimu tapi mamaku mencegahku. Dia bilang nanti aku durhaka pada ayahku sendiri. Kamu sangat berani, Kay." Antara menyahut.

Kay adalah nama kesayangan. Antara selalu memanggil Kayesa dengan panggilan itu di saat teman-teman sekolah mereka yang lain dulu memanggilnya dengan nama Kayes.

"Kamu tidak tanya kenapa aku menamparnya?" tanya Kayesa sambil menatap Antara tanpa canggung lagi.

Antara balik menatapnya. Mata mereka bertemu. "Kenapa?" tanyanya dengan lirih.

"Papamu menyentuhku. Bukan sentuhan biasa. Kamu tahulah maksudku. Aku sedang meringkuk tidur karena terlalu sedih menangisi kematian ayahku, lalu dia datang ke kamar untuk sok menghiburku. Tapi tangannya merabaku di bagian-bagian yang tidak pantas.

Seharusnya aku tidak bodoh dan mempercayainya begitu saja saat dia bilang dia tidak akan menyentuhku atau menuntut pelayanan fisik apapun. Dan poin itu juga tertulis dalam perjanjian kontrak kita.

Tapi kamu dengar sendiri kan pengakuannya kemarin di meja makan. Katanya main perempuan itu wajar karena dia laki-laki. Pemikiran macam apa itu?

Dia tetap menyentuhku dan melanggar perjanjian. Aku marah dan menamparnya." Kayesa mengakhiri kalimatnya dengan menggeram kesal.

Antara tak bereaksi apa-apa. Ia hanya menatap Kayesa dengan tatapan bersalah. Ah, ia menilai mantan pacarnya ini terlalu dangkal. Seharusnya ia tahu Kayesa tak sebodoh itu dan merendahkan dirinya dengan menukar tubuhnya demi uang.

Kayesa tertawa pelan. "Kenapa? Kamu menyesal telah mengatai aku jual diri? Ya, secara kasar memang begitu. Aku menjual harga diriku demi uang untuk ayahku. Aku pikir aku sudah mengambil keputusan cerdas dan pintar dengan meletakkan poin tanpa sentuhan.

Tapi kurasa keputusanku kemarin begitu bodoh. Rius licik. Licik sekali. Perkataanmu soal penyebab kematian ayahku mungkin saja benar. Anak buah papamu sangat mungkin melakukannya. Entah bagaimana cara membuktikannya.

Tapi aku sudah terjebak di sini. Di situasi sulit ini. Sudah berapa dokumen yang kutandatangani dengan ceroboh. Entah. Aku kemarin begitu kalut."

Antara masih diam. Ya, semua terungkap jelas. Tipu muslihat dan kebusukan papanya terbongkar. Tapi terlalu terlambat untuk memperbaiki kekacauan ini.

"Aku bisa membantumu keluar dari situasi ini, Kayesa. Kamu cuma diperalat papa. Apa yang papa bilang soal Mamaku?" Antara bertanya lagi.

Kayesa menarik nafas panjang. Tangannya bertumpu pada rumput dan posisi duduknya agak ke belakang. Ia menatap rembulan dengan tatapan mata sedih.

"Ya seperti yang kamu dengar kemarin di meja makan. Dia bilang dia ingin cerai dan memisahkan harta karena mamamu selingkuh. Tapi kamu sudah membantah soal itu juga kan kemarin.

Entah mana yang harus kupercaya. Tapi urusanku hanya seputar isi perjanjian itu. Aku tidak ingin berurusan dengan mamamu. Aku tak peduli dia selingkuh atau tidak," ucap Kayesa dengan tersenyum kecut. Trauma soal pertemuan pertamanya dengan mama Antara masih membekas hingga sekarang.

"Percaya padaku. Mamaku orang paling baik sedunia. Dia korban papa. Dia tak pernah selingkuh walau papa sudah menghianati pernikahan mereka sejak aku dalam kandungan.

Mama mencoba sabar dan mempertahankan pernikahan demi aku. Katanya biar aku tetap mendapat kasih sayang papa. Tapi aku tak butuh. Papa nggak pernah berubah.

Aku sudah dewasa dan aku membujuk mama untuk cerai saja daripada dia disakiti terus-menerus. Dia mau. Tapi papa malah bertingkah begini dan mau merebut hak mama atas harta perusahaan.

Percayalah, mamaku tak pernah berbuat jahat. Dia orang paling sabar yang pernah kukenal seumur hidupku." Antara terus bercerita, memuji-muji mamanya seolah perempuan itu malaikat tanpa cela.

Kayesa tertawa sengau.

"Oh ya? Kurasa tidak. Mamamu juga bisa jahat. Dia bisa merendahkan orang bahkan mengancam dengan bengis. Bagiku, mamamu sama saja seperti papamu. Tipe-tipe orang kaya yang menindas orang miskin sepertiku." Kayesa berkata dengan nada menyiratkan dendam.

Antara terkejut setengah mati. Tak menyangka ia kalau Kayesa akan berkata seperti ini soal

mamanya.

"A--pa maksudmu, Kay?" Antara bertanya dengan wajahnya yang langsung berubah menjadi muram.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!