Kayesa bangun dan mandi dengan cepat. Ia tahu, Rius mewajibkannya muncul di meja makan setiap pagi seperti kesepakatan mereka dulu.
Saat sedang menyisir rambutnya di depan meja rias, Kayesa mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar cepat. Padahal mungkin saja yang mengetuk pintu itu Wini atau pelayan rumah lain. Tapi kata-kata Antara semalam membuat Kayesa takut juga. Jangan sampai Antara nekat dan sering-sering menemuinya diam-diam begini.
Kayesa takut hubungan mereka tercium Rius. Kayesa lebih takut lagi kalau Rius yang tak punya hati itu tega menyakiti anaknya sendiri.
Kayesa tahu hidupnya sudah sangat cukup menderita. Ia tak mau Antara menerima kesusahan karena membantunya.
Dibukanya kunci pintu itu perlahan. Kayesa mengintip dan merasa lega karena melihat yang berdiri di depan kamarnya bukan Antara, tapi Wini.
"Ada apa Wini?" Kayesa kini membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Wajah Wini tertutup buket bunga besar itu. Ia agak kewalahan juga. Ingin rasanya ia taruh saja bunga ini di lantai sekarang.
"Bunga dari pak Rius. Bisakah saya masuk untuk menaruhnya? Ini cukup berat." Wini tampak makin kewalahan.
Kayesa langsung menyingkir dari pintu. Ia membiarkan Wini terhuyung masuk ke kamarnya dan meletakkan bunga berukuran tak normal itu di atas meja.
Wini menepuk-nepuk wajahnya sendiri yang tadi terhimpit bunga. Kayesa berjalan mendekat ke arahnya.
"Nona, Bapak ke kantor pagi-pagi sekali. Dia mengirim ini dari florist. Dan dia juga menitipkan surat ini." Wini mengulurkan sepucuk surat pada Kayesa.
Kayesa menerimanya dengan agak bingung. Wini lalu pamit undur diri, tapi langkahnya tertahan di depan pintu karena ia melihat Antara datang.
"Menyingkirlah, Wini. Aku ingin mengobrol dengan ibu tiriku." Suaranya terdengar begitu santai.
Wini tahu Rius pasti akan marah besar kalau ia membiarkan Antara masuk ke kamar Kayesa. Tapi bagaimanapun juga, Wini hanya pelayan di rumah ini. Sedangkan Antara adalah majikannya. Bahkan anak itu sudah ia layani di rumah ini sejak masih kecil.
Wini mengangguk dan menyingkir dari pintu dengan ragu. Ia tahu ia harus segera turun ke bawah dan menelpon Rius. Ini darurat!
***
Kayesa berkacak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kenekatan Antara.
"Jangan tutup pintunya. Para pelayan akan bergosip dan mungkin akan melapor ke papamu. Kamu anak tiriku sekarang." Kayesa menatap Antara yang berjalan mendekat ke arahnya.
Antara hanya tertawa dengan santai. Oh, andai ia tahu kalau sejak semalam papanya sudah murka dengan tindakannya ini.
"Bunga dari papa? Oh, biar kutebak. Surat itu berisi permintaan maaf karena insiden semalam. Oh, percayalah, Kayesa. Papaku itu buaya. Jangan mau dirayu olehnya." Antara berkomentar dan duduk di tepi ranjang Kayesa.
Kayesa menatap ke arah Antara dengan perasaan tidak nyaman. Diliriknya pintu yang terbuka lebar itu dengan cemas.
Memang sih, kata Wini tadi Rius sudah berangkat ke kantor. Tapi tak bisa ia bayangkan kalau tiba-tiba lelaki itu masuk kamarnya dan mendapati mereka berduaan seperti ini. Entah apa reaksinya.
Kayesa masih berdiri di depan bunga besar yang tampak cantik menawan itu. Ia lalu membaca surat itu sekilas dan mengangguk-angguk.
Ya, ucapan Antara benar semua. Surat ini berisi permintaan maaf dan rayuan.
[ "Kayesa istriku, aku minta maaf karena telah kurang ajar padamu. Aku hanya tidak bisa menahan diri karena aku terlalu kesepian.
Sudah kuceritakan kan istri pertamaku selingkuh dan aku sudah lama tidak menyentuh perempuan. Maaf aku lepas kendali.
Kayesa, kamu boleh marah padaku, tapi tolong beri aku kesempatan. Aku akan memperlakukanmu dengan berharga. Kamu istriku, kan?
Ada sebuah pesta yang harus kau hadiri beberapa hari lagi. Persiapkan dirimu. Aku akan mengirim orang ke rumah siang nanti untuk mengurusmu." ]
Kayesa menarik napas panjang.
"Papamu bilang akan ada pesta dan dia akan mengirim orang ke rumah siang nanti? Pesta? Pesta apa maksudnya? Lalu katanya aku diminta datang?" Kayesa bergumam lalu melipat surat itu dan kembali memasukkannya ke dalam amplopnya.
Antara mengerutkan alisnya. Meminta Kayesa datang ke pesta? Artinya Kayesa akan diperkenalkan secara resmi di depan orang-orang? Antara heran kenapa papanya ceroboh mengambil langkah macam ini.
"Tunggu! Kamu tidak salah baca, kan? Mama belum resmi menggugat papa dan berita perceraian mereka juga belum rilis ke publik. Aku pikir papa akan menyembunyikanmu sementara.
Bagaimanapun kalau dia memperkenalkan istri keduanya di depan orang-orang sekarang, citra dirinya akan turun. Dia akan dianggap selingkuh duluan, makannya mama minta cerai.
Apa dia tidak salah langkah? Kay, aku yakin dia punya rencana lain." Antara tampak berpikir keras.
Kayesa jadi ikut berpikir juga. Amplop itu ia remas-remas di tangannya lalu ia ikut duduk di samping Antara.
Ia tahu suatu saat nanti ia akan diperkenalkan sebagai istri kedua. Begitulah yang Rius bilang. Kayesa pun sudah menandatangani kesepakatan itu juga. Tetapi kenapa secepat ini? Apalagi posisi Rius masih belum bercerai dari istri pertamanya alias Mama Antara.
Bukankah kalau ia dibawa ke pesta malah kehadirannya akan terlalu mencolok?
"Kay, aku yakin papa punya rencana picik. Please katakan padaku. Aku harus tahu rencananya. Oke?" Antara tiba-tiba memegang tangan Kayesa.
Entah kenapa pria itu sering sekali menyentuhnya begini. Dan Kayesa pun seolah terhipnotis. Ia membiarkan begitu saja.
Tok tok tok!
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar nyaring. Antara dan Kayesa menoleh bersamaan. Wini terlihat berdiri di depan pintu kamar Kayesa yang terbuka lebar itu dengan pucat. Tangannya memegang ponselnya.
"Ada apa Wini?" Antara yang bertanya lebih dulu. Matanya menatap curiga ke arah Wini.
"Maaf, Bapak hanya menelpon saya dan meminta saya datang ke sini untuk mengecek sendiri apakah istrinya suka dengan bunga yang dia kirim." Wini berkata dengan gemetar lalu ia mengacungkan ponselnya ke depan.
Antara masih tak paham dengan apa yang terjadi. Kayesa pun sama bingungnya. Tapi ketika Wini berjalan masuk ke depan dengan ponselnya yang layar depannya dihadapkan ke arah mereka, ia baru paham dan panik seketika.
Ternyata itu panggilan video.
Tangan Wini tampak gemetar. Matanya menatap Antara dengan perasaan bersalah. Ia lalu berhenti tepat di depan ranjang tempat Antara dan Kayesa duduk. Panggilan video yang berlangsung itu mengarah ke arah mereka.
Kayesa dengan spontan menjauhkan posisi duduknya agar tak terlalu rapat dengan Antara. Sungguh jantungnya serasa langsung pindah ke lutut begitu melihat wajah Rius kelihatan murka di layar ponsel Wini.
"Menyingkirlah dari ranjang istriku anak kurang ajar! Wini! Usir Antara dan jangan biarkan dia dekat-dekat dengan Kayesa. Tak sopan! Dasar berandal!"
Kayesa mencengkeram kasurnya saking ketakutan. Wajah Antara tak tampak takut sama sekali. Ia justru mengangkat wajahnya dan menatap ke arah wajah papanya dalam panggilan video itu dengan berani.
"Kenapa? Aku cuma ingin mengobrol dengan mama baruku. Bukankah Papa senang kalau anak Papa akrab dengan istri baru Papa?" Antara memasang wajah datar seolah ia tak bersalah.
Kayesa merasa nafasnya tinggal di ujung saja. Bahkan dari panggilan virtual begini saja, kemarahan Rius bisa ia rasakan seramnya.
"Anak br**gs*k!" Rius mengumpat kasar.
Antara hanya menyeriangi ke arah kamera lalu ia pergi. Ia sedikit memberi kode pada Kayesa dengan menempelkan jarinya ke telinga, seolah ia ingin bilang kalau ia akan meneleponnya nanti. Kayesa tak berani menatapnya.
Wini masih berdiri dengan kaku. Tangannya makin gemetar mengarahkan ponselnya ke arah Kayesa.
"Kayesa, sudah kubilang padamu kan sejak kemarin? Jangan dekat-dekat dengan Antara! Dia ingin menghasut kita. Lagipula dia anak tirimu. Aku tahu anak itu lebih muda dan tampan kita dibandingkan dengan aku yang tua bangka ini. Tapi aku suami sah-mu!
Kamu selalu bilang kalau kamu ini wanita yang punya harga diri, kan? Kamu bilang kamu bukan wanita murahan, kan? Sekarang buktikan harga dirimu yang tinggi itu! Wanita yang baik tak akan membiarkan anak tirinya yang kurang ajar masuk ke kamarnya. Apalagi membiarkan dia duduk di ranjangmu!
Sudah, Wini. Matikan panggilan ini. Terus awasi Nyonya mudamu itu. Kalau ada apa-apa, hubungi saya lagi. Kunci dia di dalam kamar. Turun ke maja makan pun tak akan aku izinkan!"
Wini lalu mengangguk walau ia tahu tuannya itu tak akan melihatnya. Ia mematikan panggilan dengan gugup.
"Ma--maaf, Nona. Sa--saya cuma disuruh Bapak. Saya akan antarkan sarapan ke kamar. Saya juga akan suruh satu pengawal untuk berjaga di depan pintu kamar, Nona." Wini menunduk sungkan lalu ia berjalan tergesa meninggalkan kamar.
Kayesa terbungkam. Didengarnya pintu kamarnya ditutup dari luar. Air matanya mulai jatuh perlahan.
Tamat sudah. Rius mulai menyadari kedekatannya dengan Antara.
Ditatapnya bunga kiriman Rius di depannya dengan air mata menggenang.
Ah, bunganya begitu cantik dan menawan. Tapi sayang harus terkurung di kamar ini. Bukankah bunga-bunga itu akan lebih bahagia jika dibiarkan tumbuh di taman?
"Ah, sama seperti nasibku. Aku terkurung di sini." Kayesa mulai terisak.
Ia sadar. Ia berurusan dengan orang yang salah. Ia begitu bodoh menandatangani banyak kesepakatan yang tak ia tahu konsekuensinya.
Kayesa hanya bisa menangis takut. Menyesali kenapa siang itu ia tak lari waktu Rius mengajaknya bicara di depan taman kantor MN Group.
Ah, nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlalu mustahil untuk lari.
***
Siangnya pintu kamar Kayesa diketuk. Seseorang yang tampak asing itu masuk ke kamarnya.
"Saya Megan. Saya ditugaskan pak Rius untuk mengawal Anda kemanapun mulai dari sekarang. Ingin keluar dari kamar atau berjalan-jalan di taman? Bapak memperbolehkan selama saya mendampingi."
Kayesa melirik dengan takut...
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments