Dari depan gedung megah ini, Antara melihat gegap gempita pesta yang sudah berlangsung meriah. Sang bintang utamanya alias papanya tentu datang belakangan. Antara melirik dari kaca spion.
Walaupun sudah bersiap seharian, mendengarkan instruksi sana-sini, melatih banyak hal; tapi Kayesa jelas terlihat gugup sekali. Rius menggenggam tangannya dan menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam sekaligus mengintimidasi.
"Kayesa, kamu tahu kan kamu harus apa? Panggil saya 'Mas.' Orang-orang akan heran kalau kamu memanggil suami kamu dengan sebutan 'Pak.'
Di depan banyak wartawan. Senyum saja. Jangan komentar apa-apa. Paham? Saya turun dulu. Biar kubukakan pintu," ucap Rius.
Rius mungkin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia mungkin lupa kalau Antara ada di antara mereka.
Selagi menunggu Rius membukakan pintu mobil, Antara menoleh ke belakang. Ia menatap mata Kayesa yang juga sedang menatapnya.
"Tenang, Kay. Jangan tegang. Ada aku. Oke?" ucap Antara lalu ia mengatupkan mulutnya ketika Rius sudah melongok ke dalam untuk membukakan pintu. Tangannya terulur untuk menggandeng Kayesa.
Dan jelas saja kedatangan Rius sambil menggandeng Kayesa ini menjadi pusat perhatian semua orang. Wartawan yang diundang untuk acara peresmian Golf Course MN Group yang baru itu terang-terangan memotret dan bertanya.
"Siapakah yang Pak Rius gandeng malam ini?"
"Halo Nona Cantik. Boleh komentarnya untuk kami liput?"
Dan aneka sahutan wartawan sana-sini itu sedetik kemudian dihalangi oleh Megan dan juga tim Rius yang datang menyusul dengan mobil lain.
Antara menarik nafas panjang. Ia membenci ini. Ia harus melewati gerombolan wartawan haus berita itu. Tapi ia tak punya pilihan lain. Kalau ia ingin memasuki area pesta, maka ia harus melewati mereka dulu.
"Mas Antara! Mas Antara ada komentar?"
"Siapa gadis tadi, Mas?"
"Siapa yang bersama Pak Rius, Mas?"
Antara hanya menjawab dengan senyuman diplomatisnya. Ia tidak ingin berkomentar apa-apa. Ia terus menerobos masuk untuk menghindari mereka.
Antara masuk ke area pesta dan menjelajahi seluruh ruangan dengan matanya. Ia tak terlalu suka acara seperti ini. Tapi ia akan tahan demi Kayesa dan mamanya.
Dikeluarkannya ponselnya dari saku celana. Antara ingin menghubungi mamanya. Apakah perempuan itu sudah datang? Kenapa tadi Dandy menyebut-nyebut soal Timothi? Pikiran Antara masih mengganjal soal ini.
"Halo, Ma? Mama sudah sampai?" tanya Antara di antara hiruk-pikuk berisiknya pesta itu.
"Sedang di jalan. Mungkin 5 menit lagi sampai. Kenapa, An? Apa ada masalah?" tanya Sania.
"Nggak papa. Mama datang didampingi siapa? Pak Timothi?" tanya Antara lagi.
"Tidak. Dia datang lebih dulu. Katanya untuk memata-matai Rius. Mungkin dia sudah sampai sejak tadi. Kenapa, Antara?" tanya Sania.
"Oh, nggak papa. Ya sudah, Ma. Aku mengamati situasi dulu. Aku akan menunggu Mama di dekat pintu masuk. Hati-hati, Ma. Di depan banyak wartawan," ucap Antara lalu ia menutup panggilan telepon itu.
Antara bilang ia ingin mengamati keadaan sekitar. Padahal yang ia amati hanya satu titik saja. Titik itu ada di depan sana.
Titik itu Kayesa.
Kayesa tampak mulai memainkan sandiwaranya. Rius menentengnya dengan bangga dan memperkenalkannya pada orang-orang penting itu. Orang-orang penting yang sengaja ia undang.
Antara benar-benar tidak mengerti apa yang merasuki Kayesa. Gadis itu terlihat membaur dan seolah-olah cocok bergabung di kumpulan itu. Kumpulan palsu penuh orang-orang busuk, batin Antara.
Sesekali mata Kayesa melirik ke arah Antara. Antara tahu Kayesa sangat tertekan dengan situasi ini. Tetapi di depan semua orang, Kayesa terlihat nyaman seolah-olah ini memang tempatnya untuk tampil.
"Ya nantilah. Jangan diumumkan sekarang. Simpan dulu. Ada waktunya," ucap Rius menanggapi celotehan kolega-koleganya soal pernikahannya dengan Kayesa.
"Wah keren! Dapat istri cantik, muda, pintar. Tapi harusnya jadi menantumu saja Rius," canda salah seorang pria berambut putih dan berbadan tambun itu.
Rius Madali tertawa. Semua pria di kumpulan itu terlihat senang-senang saja dengan kehadiran Kayesa. Bahkan Antara tahu mereka mencuri-curi pandang pada kecantikan Kayesa. Mungkin mereka iri, istri pertama mereka begitu galak. Rius dianggap hebat dengan keberaniannya menikah lagi.
Lalu bagaimana pandangan para perkumpulan wanita? Kebalikannya!
Mereka tentu berbisik-bisik dan menatap sinis. Antara tahu ini akan terjadi. Ini tak terhindarkan lagi. Kayesa seolah menjadi lelucon menjijikkan di dalam bisik-bisik wanita sosialita itu.
Antara mendengar suara agak ribut dari arah pintu depan. Ia tahu pasti wartawan sibuk menanyai mamanya dan meminta komentar untuk dimuat dalam berita.
Antara agak terkejut juga melihat mamannya datang dengan penampilannya yang sungguh anggun dan memukau. Entah kapan mamanya bersiap. Tapi Antara lega juga mamanya telah kembali dan mau membaur, setelah setahun terakhir ini menghilang karena sakit.
Dengan penampilan berkelas seperti biasa begini, Sania Narita tak terlihat kalau sedang sekarat. Bibir pucatnya tertutup lipstik. Wajah kuyunya dipalsukan oleh make up profesional yang pas.
Para tamu pesta tak akan mengira, Sania yang anggun sempurna bahkan masih terbaring pucat di rumah sakit sehari sebelumnya.
Sania Narita masih punya taring. Kalangan sosialita tentu memujanya karena kebaikan hatinya. Tentu ketika ia akhirnya muncul kembali setelah sekian lama menghilang, pusat perhatian yang tadinya mengarah pada Kayesa dan Rius langsung berubah ke arahnya.
Para wanita yang menetap benci ke arah Kayesa, kini berbondong-bondong menyambut kedatangan Sania.
Suasana mendadak menjadi tegang dengan sendirinya. Istri pertama menatap istri kedua suaminya dari jauh. Sungguh momen yang canggung sekaligus aneh .
Para tamu seolah terpecah menjadi dua kubu dengan sendirinya. Kubu Rius dan kubu Sania.
Antara mengawal mamanya di belakang. Ia bertemu mata dengan Kayesa dan mengangguk.
Antara yakin Kayesa sudah membaca suratnya dan ia tahu mamanya ada di sana untuk membuat posisinya tidak dianggap rendah atau dianggap sebagai perebut.
"Ya, aku baik. Ah aku cuma rehat sebentar lah."
"Oh ya, ya. Aku sibuk liburan sana-sini."
Sania Narita terus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Rata-rata mereka bertanya kemana ia menghilang selama ini.
Sania bilang ia hanya liburan. Padahal ia sedang berjuang di rumah sakit untuk kesembuhannya. Terapi sana-sini, cek ini itu.
Sania yakin para wanita sosialita itu ingin bertanya padanya soal gandengan baru Rius alias Kayesa. Tapi jelas mereka tak berani.
Rius menatap tajam istri pertamanya itu dengan tatapan tajam. Tangannya terus menggenggam tangan Kayesa. Kayesa jadi agak gugup.
Bagaimanapun walau Antara sudah bilang mamanya ada di situ untuk membelanya, tapi melihat wanita itu secara langsung lagi membuat Kayesa tegang. Ia teringat tentang perlakuan buruk Sania padanya 7 tahun yang lalu.
Mendadak ingatan itu membuatnya ragu juga. Benarkah ucapan Antara di surat itu kemarin? Sania Narita akan menebus kesalahan dengan merangkulnya seolah ia rela Kayesa jadi madunya?
Di tengah suasana yang memanas tanpa bisa dicegah, mata Kayesa bertemu dengan mata Sania. Sania tampak mengangguk padanya seolah memberi kode : saya akan penuhi janji saya.
Tapi sebelum semua itu terjadi, Timothi tiba-tiba mengalihkan perhatian Sania. Lelaki bertuxedo hitam itu memberi kode pada Sania agar ikut dengannya.
Sania mengangguk dan perlahan mundur dari keramaian. Ia tak curiga sama sekali. Ia pikir Timothi ingin memberintahukannya sesuatu yang penting.
"Ke sana, Nyonya. Aku punya rahasia penting soal rencana Rius." Timothi berbisik.
Sania Narita mengikuti Timothi tanpa ragu. Timo orang kepercayaannya. Mana menyangka kalau ini hanya jebakan.
Dandy mengawasi dari jauh. Ia mulai memanggil wartawan undangannya dengan kode tangannya.
"Kenapa harus bicara di sini Timo?" Sania tampak bingung karena Timo membawanya ke ruangan kosong yang agak gelap itu.
"Karena ini rahasia, Nyonya. Tidak boleh ada yang mendengar ini kecuali kita." Timothi tampak menegang wajahnya.
Sania menatap anak buahnya itu tanpa curiga. Ketegangan wajah Timo ia artikel sebagai tanda kalau ada sesuatu yang gawat mengenai rencana busuk Rius. Padahal rencana busuk itu sedang terjadi di sini.
Timothi mulai melepas tuxedo-nya membuka dua kancing tertatas kemejanya. Sania mulai curiga.
"Timo!" Sania makin merasakan kejanggalan ini ketika Timo tiba-tiba berjalan mendekat ke arahnya dan memojokkannya di dinding.
Sebelum sadar sepenuhnya atas apa yang terjadi, tiba-tiba ruangan gelap itu berubah menjadi terang benderang oleh sorot kamera.
Timo dengan lancang dan berani mengarahkan wajahnya ke wajah Nyonya-nya itu.
Jepret!
Cekrek!
Sania yang lemah tak kuat mendorong Timo. Ia merasa pusing dan semuanya mendadak menjadi gelap.
Wartawan yang diarahkan Dandy untuk menangkap basah mereka makin menggila.
Nyonya Sania ambruk...
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments