14. Negosiasi Sepihak

Hening.

Antara duduk di kursi penunggu pasien. Mamanya duduk bersandar di ranjang kamar VVIP rumah sakit itu dengan lemas. Matanya masih tampak basah habis menangis.

"Aku benci sekali fakta ini. Mama jahat sekali pada Kayesa dan ayahnya. Awalnya aku nggak ingin menemui Mama dulu karena aku masih marah. Tapi kalau aku marah dan memusuhi Mama, kita akan kalah.

Papa sudah mencium gelagatku yang berusaha mendekati Kayesa. Dia memang belum tahu soal hubungan masa lalu kita. Tapi sekarang Kayesa diawasi ketat. Bahkan untuk bicara dengannya saja sekarang sulit. Jadi makin rumit begini."

Antara bicara dengan menatap ke arah jendela. Dilihatnya di luar rupanya sedang hujan gerimis.

"Maaf, Mama pikir Mama dulu melakukannya demi kebaikan kamu." Sania bicara dengan penuh penyesalan.

"Tidak. Mama salah. Aku patah hati begitu berat. Di London aku tak bisa jatuh cinta dengan siapapun. Jatuh cinta sekali lagi pun pada orang yang salah dan berujung begini.

Umurku hampir 27 dan aku tak akan menikahi siapapun selain Kayesa. Kupikir aku hanya bisa mencintainya. Jangan cegah aku, Ma. Aku ingin merebutnya dari papa." Antara bersikeras.

"Antara..." Sania berkata lemah. Ia tahu kalau putranya sudah punya keinginan, ia akan mengejarnya.

Antara diam saja. Ia masih tak mau menatap wajah mamanya. Ia masih sedikit marah dan kecewa atas tindakan mamanya dulu. Bahkan sudah lewat 7 tahun lebih.

"Dulu Mama ingin kamu sekolah bisnis dengan fokus agar bisa merebut posisi papamu. Mama tak tahu apa-apa soal perusahaan, tapi firasat Mama benar, kan? Perusahaan itu dijalankan dengan cara yang salah. Cara kotor, penyuapan.

Perusahaan itu cikal bakalnya dari uang kakekmu. Mama tahan dan bertahan di pernikahan ini untuk mempersiapkan dirimu mengambil alih posisi papa. Tapi kamu tak mau. Kamu lebih memilih sekolah film.

Sekarang terlambat. Studimu terhambat karena mengurus mama yang sakit. Papamu makin menjadi-jadi. Mama pikir dengan membuat kamu berhenti jatuh cinta, kamu bisa fokus belajar saja. Mama salah. Maaf."

Antara masih diam. Ya, kata-kata mamanya barusan cukup menyentuhnya. Mamanya memang salah, tapi ia punya alasan untuk itu.

"Sekarang aku sudah menuruti apa mau Mama, kan? Aku akan merebut semua dari papa. Aku akan memperjuangkan hak-hak Mama. Aku tak perduli dianggap durhaka. Papa pantas disingkirkan. Semua tindakannya sudah keterlaluan.

Dia memperalat Kayesa, Ma. Kayesa kemarin terpaksa menandatangani kontrak dan persetujuan atas banyak hal karena demi ayahnya. Aku harus menyelamatkannya.

Dia bilang papa ingin membawa Kayesa ke pesta beberapa hari lagi. Aku curiga papa punya rencana licik. Mungkinkah Kayesa akan papa perkenalkan sebagai istri keduanya? Bukankah ini tindakan yang merugikan dia?

Mama belum menuntut cerai. Orang-orang akan berasumsi papa selingkuh dengan Kayesa dan Mama minta cerai. Kita harus bertindak, Ma." Dan sejak tadi, baru kali ini Antara menatap mata mamanya.

Nyonya Sania mengangguk. Ya, ada kelegaan tersendiri. Putranya mau memaafkannya. Putranya masih kau berada di sisi yang sama dengannya.

"Pesta? Mama akan suruh Timothi untuk mencari tahu. Mama harus datang kalau perlu." Sania bertekad.

Antara menatap mamanya dengan tak tega.

"Mama masih sakit. Bukannya selama ini Mama ingin menyembunyikan kesakitan Mama dari publik?" Antara berkata dengan lirih.

"Mama bisa minta dokter berjaga di mobil. Mama cemas di pesta itu Kayesa akan dipermalukan atau dicemooh orang-orang. Bagaimanapun umurnya sepantaran denganmu. Ia terlalu muda untuk papamu. Ia akan dianggap wanita gila harta yang menikahi lelaki tua demi uang.

Izinkan Mama menebus kesalahan Mama. Mama akan hadir. Dan jika orang-orang menghujatnya, Mama akan pasang badan. Tak apa kita kehilangan banyak aset dan properti yang direbut papamu. Kita tak akan membawa mati uang kita.

Kasihan Kayesa. Kamu sangat menyayanginya, kan? Jangan biarkan orang-orang merendahkan dirinya. Mama akan membelanya. Kalau Mama sebagai istri pertama terlihat tak keberatan dengan dia, orang-orang akan luluh."

Antara menatap mata mamanya tak percaya. Perempuan tua itu mengangguk padanya, meyakinkannya.

Antara tak mampu berkata-kata. Ia memeluk mamanya.

"Izinkan Mama menebus kesalahan Mama pada anak itu," bisiknya lirih.

Antara mengangguk dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.

***

Lalu siapa sebenarnya Timothi yang sejak kemarin disebut-sebut pihak Rius dan pihak Nyonya Sania itu?

Timothi Mandela bukan orang sembarangan. Ia adalah orang lama yang sudah belasan tahun mengabdi di keluarga Madali.

Lalu sejak pasangan suami istri itu mengalami perpecahan, Timothi memilih kubu Nyonya Sania dan sekarang ia menjadi orang kepercayaan Nyonya Kaya itu.

Lalu, dimanakah Timothi sekarang berada?

Timothi sedang duduk manis menikmati santapan makan siang mewahnya. Dandy mengajaknya bertemu di sebuah restoran Asia paling mewah di kota ini.

Di ruangan VVIP yang eksklusif itu, mereka hanya berdua saja. Saling berhadapan. Empat mata.

"Apa mau pak Rius? Katakan padaku, Dan. Jangan basa-basi begini. Tentu aku tahulah kau mau mengundangku makan siang bukan untuk berakrab atau beramah-tamah.

Aku sudah terlalu lama mengabdi di keluarga ini. Jadi aku tahu semua gelagat sok baik ini pasti ada alasannya." Timothi berkata lalu ia menyuap potongan daging itu ke dalam mulutnya.

Dandi tertawa pelan. Ia mengangkat gelas minumnya lalu minum dengan pelan. Ditaruhnya gelas itu di meja sambil matanya melirik kiri dan kanan, seolah takut obrolan ini akan didengar orang lain.

"Bapak ingin kamu pindah kubu. Bapak ingin kamu membantunya," ucap Dandy dengan serius.

Timothi meletakkan sumpitnya di meja. Ia lalu memusatkan perhatiannya secara penuh pada Dandy yang duduk di depannya itu. Tatapan matanya tajam lalu ia menyeringai sinis.

"Dan, sudahlah Kamu tahu aku seperti apa. Kita sama-sama bekerja dan mengeruk uang dari keluarga ini. Tapi aku loyal, Dan. Aku setia pada nyonya Sania.

Aku berhutang budi padanya. Nyonya telah membiayai seluruh pengobatan istriku bahkan sampai meninggal pun dia membantu uang pemakaman. Aku tidak mungkin berpaling dan berpindah ke kubu bapak," ucap Timothi dengan nada yang sangat tajam.

Dandy menarik nafas panjang. Ia tahu jawaban Timothi pasti akan begini pada awalnya. Tapi ia tidak akan mengundang Timothi ke sini kalau ia tak punya senjata.

"Yakin tak mau pindah? Apa Nyonya-mu itu bisa bantu masalahmu? Timothi, anakmu bermasalah. Sekarang sedang ditahan, kan? Aku tahu dia ditangkap karena kecanduan obat.

Sudah dua kali masuk rehabilitasi. Jadi yang ketiga kalinya ini, seperti apapun mengajukan banding, dia akan tetap berakhir di penjara.

Oh, aku lupa. Bahkan saat terakhir kali ditangkap dia menyimpan obat terlarang itu dengan jumlah cukup banyak. Ya, cukuplah untuk menuduh dia sebagai bandar," ucap Dandy lalu ia mengeluarkan sebuah berkas yang entah ia dapat dari mana.

Mata Timothi langsung berkilat-kilat. Ia menatap berkas itu dan menatap Dandy secara bergantian.

Dandy yang usianya lebih muda darinya beberapa tahun itu tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu hal ini akan membuat Timo tidak berkutik.

"Aku tak peduli pada anak itu! Sudah lama jadi aku mencoret namanya dari daftar keluargaku. Aku tak punya anak berandalan. Biarkan dia membusuk di penjara. Aku tak peduli!" ucap Timothi lalu ia membuang muka.

Makanan enak di depannya tak lagi membuatnya berselera.

"Yakin? Kamu tahu kan berapa gram yang dibawa anakmu? Bandar itu hukumannya bukan penjara lagi. Timo. Bisa jadi dihukum mati. Yakin tak peduli? Dia anakmu. Darah dagingmu. Anak kesayangan mendiang istrimu.

Tapi ya sudah kalau kau tak perlu bantuan. Nikmati traktiran makan siangmu. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Dandy lalu ia berdiri hendak pergi.

Ketika langkah Dandy hampir mencapai pintu, Timothy memanggilnya lagi. Dandy menoleh lalu tertawa.

"Kenapa Timo? Kau berubah pikiran?" Dandy bertanya dengan senyuman tersungging.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!