7. Sentuhan Terlarang

Antara menunduk. Ia tahu Kayesa pasti sedang merasa sangat terpukul dan ia butuh waktu sendirian.

Antara tahu momen ini tidak pas. Kayesa masih membencinya karena kata-kata kasarnya semalam, ditambah lagi ia sedang merasa sangat sedih sekarang.

"Kay, aku cuma mau..."

"Aku bilang aku nggak ingin bicara pada siapapun." Kayesa menyahut dengan suara marah tanpa menatap ke arah Antara.

Antara menarik nafas panjang.

Ya, semalam di pangkuan mamanya ia sudah memikirkan semua ini. Semua kemungkinan yang bisa ia lakukan untuk bicara serius pada Kayesa dan meyakinkan dirinya.

Kayesa harus tahu kalau ayahnya tak meninggal karena sakit. Tapi karena dibunuh anak buah Rius. Tapi bagaimana caranya?

Antara berusaha mengingat ucapan Dandy bersama anak buahnya. Ya, mereka bilang CCTV di bangsal dan kamar 34 C sengaja sudah dimatikan untuk memuluskan perbuatan kotor mereka. 

Jadi ia dapat bukti darimana soal itu? Bagaimana Kayesa akan percaya padanya kalau ia tak punya bukti? Tapi Kayesa tetap harus tahu soal ini. Ia sudah bertekad.

Antara bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Nekat begitu saja memberitahu Kayesa soal hal ini? Lalu apa? Apa Kayesa akan percaya padanya? Sekalipun Kayesa percaya, semua ini tetap akan sulit dibuktikan, kan? 

Tidak ada buktinya ayah Kayesa sengaja dicelakai dan dibunuh. Atau mereka mau melakukan otopsi? Bisa saja mungkin kalau atas persetujuan keluarga pasien yaitu Kayesa. 

Tapi apa yang mau dibuktikan? Bagaimana kalau tidak terbukti apa-apa? Bagaimanapun Antara tahu betul papanya punya saham besar di rumah sakit itu. Hasil otopsi bisa saja diakali atau dipalsukan olehnya. 

"Aku ada di rumah sakit semalam waktu ayahmu meninggal." Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Kayesa tampak mematung. Selendang hitamnya yang tadinya menutupi rambutnya itu tampak terjatuh ke pundaknya seiring angin pemakaman yang bertiup kencang tiba-tiba.

Antara mencoba membaca situasi. Sejujurnya jantungnya berdegup cepat memikirkan respon Kayesa terhadap kata-katanya barusan. Ia tak peduli dan nekat saja.

Ia ingin Kayesa secepatnya tahu agar ia tidak terlambat lagi seperti kemarin. Agar hal-hal yang buruk bisa dicegah. Agar jangan sampai terjadi penyesalan lagi.

Antara hanya ingin melindungi Kayesa, walaupun gadis itu mencampakannya beberapa tahun lalu dan membuatnya patah hati hingga bertahun-tahun. Tapi perasaan itu masih ada di sana. Bersemayam di dalam hatinya.

"Apa maksudmu?" Kayesa menoleh dan menatap mata Antara dengan nanar.

Antara menggigit bibirnya sendiri. Tangannya bergerak canggung sebagai respon tubuhnya yang gugup, salah tingkah, sekaligus bingung dalam waktu yang bersamaan.

Ditatapnya makam ayah Kayesa yang tanahnya masih basah itu. Rasanya tidak etis membicarakan hal itu di sini. Antara lalu memberanikan diri menatap mata Kayesa lagi.

"Kita bisa bicara di tempat lain?" ucap Antara dengan penuh harap.

"Tempat lain? Di mana?" tanya Kayesa. Suaranya tampak memendam sesuatu. Entah itu kemarahan atau apa. Tapi tatapannya terhadap Antara terlihat seakan ia sangat membenci pria itu.

"Mobilku mungkin?" ucap Antara dengan ragu karena ia tidak menemukan tempat manapun lagi yang terdekat dari sini, yang aman tanpa bisa didengar anak buah papanya.

"Di mobilmu? Berdua saja?" Kayesa lalu berdiri. Tampak gaun hitamnya kotor sekali di bagian lutut. Selendang di pundaknya itu lalu ia kalungkan di lehernya.

Antara mengangguk. Ia sedikit merasa bingung juga. Kenapa Kayesa menatapnya dengan tatapan mata setajam ini? Seolah-olah kalau amarahnya tak terbendung, gadis itu bisa mencekiknya atau membantingnya ke tanah.

"Ya. Atau mungkin kamu ingin di tempat lain?" Antara mengangkat bambunya dengan makin bingung.

Kayesa tambah mendengkus, seolah ia muak. Ia lalu menetap kembali Antara dengan tatapan yang makin nanar.

"Ingin mengajakku bicara di mobilmu atau di tempat lain berdua saja? Oh, Antara. Sopanlah sedikit. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau aku adalah mama tirimu sekarang?

Walaupun kita pernah menjalin hubungan, tapi sekarang posisi kita berbeda.

Iya aku tahu kamu ada di rumah sakit semalam saat ayahku meninggal. Papamu yang memberitahuku. Dia bilang dia sedang menyelidiki apa yang kamu lakukan di sana.

Kamu mungkin merasa jijik karena aku menikahi papamu, tapi aku menikahinya karena alasan. Aku ingin menyelamatkan nyawa ayahku yang kini telah meninggal. Berhati-hatilah, jangan sampai kebusukanmu terbuka. Mungkin saja kan kamu yang mencelakai ayahku?"

Nafas Kayesa naik turun tak karuan saat mengatakan hal ini. Antara menatap dengan tidak mengerti. Apa maksud Kayesa? Ia yang mencelakai ayahnya?

"Dokter bilang kondisi ayahku bagus dan hari ini seharusnya ia masuk ke meja operasi. Kemarin kondisinya stabil dan entah kenapa tiba-tiba dia mengalami gagal nafas, lalu kondisinya makin drop. Dan dalam hitungan menit dia meninggal.

Mungkin secara medis bisa dijelaskan. Ya, serangan akut itu bisa saja terjadi. Tapi perasaanku sebagai seorang anak mengatakan ini semua karena kamu!" ucap Kayesa dengan nada makin berapi-api.

"Hah? A--apa maksudmu? Aku?" Antara makin bingung dan panik. Kayesa seolah tak memberi jeda dan menyerangnya habis-habisan.

"Iya! Kamu! Entah mungkin kamu tiba-tiba masuk ke ruang rawat ayahku lalu mengatakan sesuatu yang buruk padanya atau membocorkan soal pernikahan kontrakku dengan papamu.

Atau mungkin kamu memakiku atau mengataiku jual diri di depannya. Aku tidak tahu. Tapi suster bilang ketika ayahku memencet tombol panggilan darurat, dia terlihat seperti orang yang sedang syok berat.

Antara, aku tidak ingin mengenalmu lagi sejak 7 tahun yang lalu. Sudah seperti kusangka, anak-anak orang kaya tidak akan pernah mengerti kehidupan yang dijalani orang-orang sepertiku yang rela menjual dirinya orang yang dia cintai.

Yang kamu tahu aku hanya perempuan murahan yang mengincar harta, kan? Makan pemikiran dangkalmu di dalam otakmu yang mahal itu! Aku tidak peduli dan aku tak ingin melihatmu di sini lagi!

Berani-beraninya kamu datang ke makam ayahku. Pergi sana!" ucap Kayesa. Dengan air mata yang menggenang membasahi pipinya ia berjalan pergi.

Deg!

Antara merasa seperti tersambar petir.

Kenapa? Kenapa jadi begini? Kenapa tuduhan ini berbalik mengarah padanya?

Antara tahu ini pasti ulah papanya. Tapi ini keterlaluan! Kayesa akan semakin membencinya dan menjauhinya kalau begini caranya.

Dengan spontan Antara menarik tangan Kayesa untuk mencegahnya pergi. Ia pikir dengan begitu gadis itu akan berhenti dan mau mendengar penjelasannya. Tapi ternyata ia salah.

Kayesa menampik tangannya lalu pergi dengan berlari.

Antara hanya bisa berdiri mematung dengan angin pemakaman yang berhembus makin kencang menerpa rambutnya yang kini jadi berantakan.

Dilihatnya dari kejauhan Kayesa masuk ke dalam mobil lalu mobil itu meluncur pergi meninggalkan area pemakaman. Antara menunduk lalu menatap makam ayah Kayesa itu.

"Maafkan saya, Om. Seharusnya saya datang lebih cepat semalam. Mungkin Om bisa tertolong kalau saya tidak bertindak bodoh dan malah memilih mengikuti Dandy. Maafkan saya," ucap Antara lalu ia berbalik badan dan pergi.

Antara menyusuri pemakaman untuk kembali ke mobilnya dengan langkah gontai. Di dalam kepalanya ingatan itu kembali terputar lagi.

"Jangan antar aku pulang, Antara. Kalau ayahku tahu, dia akan marah. Aku nggak boleh pacaran karena takut ganggu sekolahku. Kalau nilaiku turun, beasiswaku kan dicabut nanti. Kalau kita sudah kuliah lulus lalu aku punya karir sendiri dan kamu juga, aku akan mengenalkan kamu sama ayah. Aku janji."

Lalu senyuman yang ia biasa lihat sepulang sekolah itu hilang. Berganti dengan wajah ketus yang selalu membuang muka padanya.

"Udahlah! Kita nggak usah kayak gini. Aku mau fokus sekolah! Kamu nggak ngerti orang-orang miskin kayak aku harus berjuang lebih keras hingga nggak punya waktu untuk sekedar pacaran. Udahlah, Antara. Carilah gadis-gadis kaya lain. Kita memang nggak pantas bersandingan.

Aku akan dituduh menyukaimu karena kamu kaya. Dan selamanya orang-orang yang mengenalmu akan merendahkan aku karena statusku. Mungkin termasuk kamu sendiri dan keluargamu juga.

Sekarang mungkin belum, tapi nanti entah kapan, waktunya pasti akan datang. Daripada aku sakit hati nanti, lebih baik kita putus sekarang. Jangan pernah temui aku lagi."

Kata-kata Kayesa membuat  Antara sulit percaya dan sulit jatuh cinta lagi hingga ia sekarang berumur 26 tahun.

Mungkin itu hanya cinta monyet saja, tapi baginya kisahnya dengan Kayesa sangat berarti. Kayesa cinta pertamanya.

***

Malamnya Kayesa tampak meringkuk di kamarnya. Ia terlalu sedih untuk makan.

Ketika Rius tiba-tiba masuk ke kamarnya dan duduk di sampingnya, ia membiarkannya saja.

"Pelayan rumah bilang kamu tidak makan dari siang. Makanlah. Jangan sampai sakit. Nanti cantikmu hilang kalau kamu sedih begini," ucap Rius sambil meraba punggung Kayesa.

Kayesa memejamkan matanya. Api kecil amarah di dadanya mulai membesar seiring tangan Rius yang bergerak makin turun dan menjelajah di tempat-tempat yang seharusnya terlarang untuknya.

Kayesa langsung bangun dan menampar pipi pria yang secara hukum menjadi suaminya itu.

Plak!

Betapa tak punya hati Rius ini. Ayah Kayesa baru dimakamkan hari ini dan pria itu bertingkah kurang ajar macam begini?

Rius memegang pipinya lalu ia menyeriangi. Tangannya lalu bergerak cepat menangkap dan menarik tangan Kayesa, membuat tubuh Kayesa yang lebih kecil darinya itu merapat ke arahnya.

Dengan sekuat tenaga, Kayesa mendorong tubuh Rius hingga terjatuh lalu ia berlari keluar kamar.

Ia tadinya marah. Tapi mengingat seberkuasa apa Rius di rumah ini, amarahnya berubah menjadi ketakutan. 

Brak!

Dan di ujung tangga rumah megah itu ia menabrak Antara.

"Kay? Kamu kenapa?" tanya Antara yang melihat wajah Kayesa tampak panik seperti orang ketakutan.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!