"Ayo ikut naik. Kantor saya di lantai paling atas. Hanya saya dan beberapa karyawan yang punya akses khusus bisa naik ke lantai itu. Satu lantai itu tempat pribadi saya," ucap Rius yang begitu memencet tombol lift, semua orang menyingkir sambil menunduk takut.
Kayesa mendekap map-nya dengan tegang sekaligus antusias. Di depan lift bahkan ia bertemu dengan wanita berwajah sinis yang tadi memanggilnya wawancara. Wanita itu menatapnya dengan bingung. Kayesa merasa menang.
"Lihat kalau aku diterima di sini. Lihat apa wajah sinismu itu masih memandangku dengan remeh?" Kayesa mulai membatin dengan harapan setinggi langit.
Rius menekan angka di tombol lift. Kayesa hanya diam di sudut. Tentu hanya ada mereka berdua saja di lift ini. Seharusnya ia merasa takut atau waspada tapi entah mengapa Kayesa tak berpikir bahwa Rius ini cukup berbahaya untuknya.
Kayesa menahan nafasnya saat pintu lift terbuka.
Oke. Ia merasa seperti sedang memasuki set sebuah film mafia.
Lantai ini dijaga bodyguard. Ada dua pria bertubuh besar dan kekar menatapnya dengan bingung, tapi pandangan mereka langsung menunduk takut begitu Rius lewat di depan mereka.
Kayesa hanya mengikuti Rius seperti anak itik sedang mengikuti serigala. Ia tak tahu bahaya apa yang menantikannya di depan sana. Ia begitu polos.
Kalau kantor di lantai bawah bernuansa coklat, hangat, dan nyaman; maka lantai ini terlihat lebih menyeramkan. Dindingnya dicat abu-abu, semua furniture berwarna hitam dan didominasi logam.
Nuansa monokrom tapi agak seram, menggambarkan seolah-olah pemilik lantai ini ingin mengintimidasi setiap orang yang datang. Benar-benar seperti kantor boss mafia di film-film.
Entah kenapa Kayesa tidak merasa takut, tapi ia justru antusias.
Rius berjalan cepat dengan sepatu hitam mengkilatnya. Kayesa yang kesusahan berjalan dengan sepatu hak tinggi itu mengikutinya dengan terseok-seok.
"Duduklah," ucap Rius lalu ia mulai duduk di kursinya sendiri. Tangannya bergerak cepat menutup sebuah pigura foto yang ia pajang di meja kerjanya itu.
Entah kenapa ia melakukannya. Kayesa pun juga tidak sempat memperhatikan gerakan kecil itu. Andai saja ia duduk lebih cepat, maka ia akan melihat wajah seseorang yang ia kenali terpampang di foto itu. Seseorang yang membuatnya jatuh cinta dan patah hati.
"Oke, sekarang ceritakan soal diri kamu. Ya tentang pribadi kamu, latar belakang keluarga kamu, dan sebagainya. Kalau soal pendidikan, saya tidak meragukan. Kamu lulusan Abyakta. Sudah pasti kamu pintar, cerdas, dan pantas," ucap Rius yang lalu menyilangkan kakinya dan menatap Kayesa dengan matanya yang tajam itu.
Awalnya Kayesa agak bingung. Ia sudah melalui banyak tahap wawancara dengan banyak perusahaan tapi tidak ada yang bertanya soal pribadinya. Kenapa Rius ingin tahu tentang itu? Ia tentu ragu untuk menjawab.
Rius lalu tertawa. Ia kemudian mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kacanya itu dengan senyum terkembang.
"Kayesa, saya yakin tadi kamu menguping pembicaraan saya lewat telepon. Jadi kamu tahu kan saya mau bercerai. Saya sedang ribut dengan istri saya dan sebagainya.
Kamu sudah tahu soal pribadi saya, jadi saya ingin tahu juga soal kamu. Ceritakan saja. Anggap saja ini pendekatan pribadi karena saya ingin karyawan yang terbuka," ucap Rius.
Kayesa menelan ludahnya dengan susah payah. Ia lalu berusaha menjawab dengan tenang. Walaupun begitu tangannya tetap gemetar juga.
Ini kesempatan. Ia tidak boleh menyia-nyiakan ini. Kalau ia bercerita soal kesedihan keluarganya, mungkin Rius akan kasihan dan menerimanya bekerja. Begitulah isi pikirannya yang polos dan lugu.
"Saya anak satu-satunya dari ayah saya yang bekerja sebagai satpam bank. Ibu saya meninggal waktu saya kecil. Saya kuliah mengandalkan beasiswa dan kerja paruh waktu untuk bantu-bantu ayah saya.
Sebulan lalu ayah saya dipecat dari kantor karena sudah terlalu banyak absen karena dia harus menjalani pengobatan karena sakit. Dokter bilang ginjalnya bermasalah dan harus dioperasi. Karena kalau tidak katanya keadaannya akan makin parah.
Tabungan kami habis dan saya butuh kerja. Entah saya tidak tahu mau cerita apa. Hidup saya biasa saja dan membosankan," ucap Kayesa lalu ia tertawa dengan miris seolah-olah menertawakan nasibnya sendiri.
Rius tampak mengangguk-angguk. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Gesture yang menggambarkan ia makin tertarik dengan obrolan ini.
"Berapa umurmu? Kamu punya pacar? Ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat?" tanya Rius.
Pertanyaan ini memang cukup keluar dari konteks wawancara kerja pada umumnya. Tetapi Kayesa menjawab saja dengan kepolosannya.
"Saya 25 tahun. Agak telat lulus kuliah memang karena saya gap year karena harus bekerja dan menunggu kesempatan beasiswa tahun berikutnya. Saya tidak punya pacar dan saya belum berencana menikah.
Fokus saya cuma ingin mencari biaya untuk operasi ayah saya," ucap Kayesa yang ketika kembali menyebut-nyebut soal ayahnya yang sakit, matanya tanpa sadar berkaca-kaca.
Rius madali makin mengangguk-angguk. Matanya menyipit dan menatap Kayesa dengan senyuman kelicikannya.
"Kayesa, saya punya tawaran menarik. Kamu tidak harus bekerja, bahkan saya bisa biaya kamu S2. Kamu cukup potensial dan terlalu cantik untuk hidup bersusah-susah," ucap Rius dengan misterius.
Kayesa yang awalnya menunduk langsung mengangkat wajahnya dan menatap Rius dengan bingung. Tawaran semacam apa itu? Bermimpi akan melanjutkan S2 tentu tidak terbayang di kepalanya.
"Saya ingin kamu menikah sama saya. Menikah secara resmi, secara hukum perundang-undangan yang berlaku di negara ini. Mudah, kan? Jadilah istri kedua saya.
Saya akan membiayai operasi ayah kamu. Saya akan tanggung semua biaya pengobatannya sampai sembuh. Kamu akan jadi Nyonya. Kamu akan dihormati. Kamu hanya perlu menuruti kata-kata saya," ucap Rius Madali.
Kayesa mengerutkan alisnya. Air mukanya langsung berubah drastis.
Menikahi pria itu?
Ia tidak bisa menjawab apa-apa karena terlalu terkejut dengan semua ini.
"Kayesa, lihat saya. Saya baru 40-an tahun. Dulu saya menikah muda. Kalau kamu menikah di umurmu yang sekarang kamu sudah cukup pantas. Paling usia kita selisih 20-an tahun. Tapi apalah artinya umur?
Istri saya menuntut cerai dan ingin merebut semua hasil kerja keras saya ini. Kalau saya menikahi kamu, saya bisa memindahkan sebagian aset-aset ini atas nama kamu tanpa melanggar hukum apapun.
Jadi nanti saat sidang cerai, harta yang bisa dibagi atau ia tuntut sudah terpecah belah dan bagian yang dia dapat hanya sedikit.
Kita buat perjanjian tertulis. Setelah semua ini beres, beberapa tahun lagi kita bisa cerai baik-baik dan kamu tetap mendapatkan hak kamu. Harta yang atas nama kamu tentu akan saya alihkan lagi atas nama saya.
Tapi saya tidak sepelit itu. Kamu tetap mendapat bayaran yang layak. Ya selain pengobatan ayah kamu saya tanggung, kamu boleh lanjutkan kuliah, saya juga akan ngasih kamu rumah atau mobil dan modal usaha.
Ya biar orang-orang tidak curiga. Masak setelah menjanda kamu kembali miskin. Saya serius Kayesa." Rius berkata dengan entengnya.
Kayesa menelan ludahnya dengan keringat dingin yang tiba-tiba membasahi dahinya, padahal ruangan ini dingin dan ber-AC.
Ia punya pernikahan impian. Menikah dengan pria yang ia cintai, punya tiga anak, hidup di rumah sederhana bercat putih dan berhalaman luas. Ayahnya akan ikut tinggal bersamanya dan menikmati masa pensiun dengan memelihara ternak dan menanam sayur di pekarangan rumah seperti hobinya.
Lalu ini...
Pernikahan kontrak?
Tawaran macam apa ini? Tawaran yang menakutkan tapi menggiurkan.
Bayangkan! Kayesa yang dibuat pusing setiap hari karena takut tidak bisa membawa ayahnya ke meja operasi mendapatkan solusi yang mudah. Semua biaya akan ditanggung Rius Madali!
"Gimana Kayesa? Kenapa diam saja? Kamu takut sama saya?" tanya Rius lalu ia tertawa dengan tawanya yang arogan.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
black_jade
masih menyimak kak 😁
2023-07-02
0