15. Tekanan Tinggi

Antara kembali lagi ke rumah itu, tapi posisinya sudah tidak sebebas kemarin. Hal yang paling memungkinkan untuk membuatnya bertemu dengan Kayesa adalah saat di meja makan begini.

Kayesa, Rius, dan Antara. Mereka duduk di satu meja makan yang sama dengan membisu.

Sejak panggilan video dan amarahnya kemarin, Rius belum sempat bicara empat mata langsung dengan putranya itu. Tapi di meja makan ini, tanpa kata-kata, matanya berbicara.

Rius terus menatap tajam dan mengawasi Antara yang mencuri-curi pandang ke arah Kayesa.

Kayesa hanya bisa tertunduk. Posisi ini sulit baginya. Ia tahu ia hanya pion Rius. Kemana arah jalannya, Rius lah yang menentukan.

Kalau Antara berusaha menghalang-halangi, maka ia sendiri yang akan sulit. Kayesa tak mau Antara berkorban untuknya. Ia ingin menanggung semua keputusan bodohnya kemarin itu sendirian.

Sudah takdirnya begini. Itulah yang ia bilang kemarin.

"Aku tahu Papa belum mengizinkan aku bergabung ke perusahaan sebelum studi bisnisku tamat. Aku sedang cuti kuliah karena mengurus Mama. Jadi ya, aku hanya bisa menjadi penonton atas keputusan bisnis apapun yang telah Papa lakukan.

Tapi aku tetap bagian dari keluarga ini dan bagian dari perusahaan. Kudengar Papa akan mengadakan pesta kan untuk peresmian Golf Course baru MN Group?

Undangan itu tidak pernah datang padaku. Tapi aku akan tetap datang sendiri," ucap Antara membuka pembicaraan. Ia menatap mata papanya dengan berani.

Rius hanya tertawa kecil lalu ia mengangkat gelasnya. Ia minum sedikit lalu kembali menatap tajam Antara dengan mata menyipitnya.

"Oh ya, tentu saja. Datanglah. Papa tidak pernah melarang. Lagi pula memangnya kamu punya gandengan untuk datang? Kau segitu tak punya pacarnya sampai menggoda mama tirimu sendiri. Berlakulah yang pantas!" Rius menyindir.

Antara bukannya gentar. Ia hanya menyunggingkan senyum.

"Oh, betapa tak percaya dirinya Papa sampai cemburu padaku. Aku hanya mengajaknya mengobrol." Antara mulai menantang.

Pembicaraan makin panas. Kayesa merasa ingin pergi saja dari sini tapi kursi meja makan ini seolah menahannya.

Rius mendengkus. Emosinya mulai tersulut. Antara terus memancingnya. Memang ini tujuannya, kan?

"Mengobrol? Sambil memeluknya malam-malam? Lalu besoknya kau masuk kamarnya dan duduk di ranjangnya sementara aku tak ada di rumah. Berandal!" Amarah Rius makin naik.

Antara makin tertawa. Ia makin senang kalau papanya marah.

"Memangnya tak boleh? Aku juga sering memeluk mamaku. Sudah sepantasnya kan ibu dan anak saling menyayangi?" Antara makin berani.

Brak!

Rius menggebrak meja makan. Kayesa hampir tersedak. Antara makin girang.

"Jaga mulutmu! Kayesa pasti ketakutan di rumah ini dan tak berani melawanmu. Jangan sok jadi pahlawan di depannya. Dia milik Papa. Jangan sok tahu dengan pernikahan Papa! Urus urusanmu sendiri!" Rius makin memuncak emosinya.

"Ya. Ya. Oke. Dia milik Papa. Tapi tetap saja kan Papa tak bisa mengakuinya di depan semua orang? Papa akan dianggap pria menjijikkan karena menikahi gadis muda yang umurnya bahkan di bawahku." Antara meledek. Ia ingin memancing. Ia ingin papanya keceplosan membeberkan rencananya.

Wajah Rius berubah, ia tersenyum licik.

"Papa akan datang bersama Kayesa ke pesta itu nanti malam. Dan Papa akan memperkenalkannya secara resmi sebagai istri kedua Papa di depan semua orang. Bahkan di depan wartawan." Rius mengucapkan kalimat itu tanpa ragu.

Deg!

Antara terkejut. Tapi ia berhasil kan mengungkap rencana busuk pria itu? Ternyata benar. Kayesa akan dijadikan bonekanya di depan semua orang nanti malam.

Kayesa membeku di tempat. Oke, nanti malam ia akan ditatap dengan jijik oleh semua tamu pesta. Orang-orang mungkin akan tersenyum padanya karena sungkan pada Rius. Tapi di belakang, ia pasti akan menjadi bahan omongan dan olok-olok.

Baru membayangkan saja ia sudah lemas. Kayesa kadang merasa tak adil karena jalan hidupnya akan seterjal ini. Kapan bahagia itu akan datang padanya?

Kehilangan ibu. Hidup susah sejak kecil. Kesulitan ekonomi lalu ayahnya sakit keras. Terpaksa menjalani pernikahan kontrak demi kesembuhan ayah tapi ayahnya meninggal.

Lalu sekarang apa lagi? Seluruh kota akan mengecapnya sebagai istri muda. Istri kedua. Wanita penghancur rumah tangga. Wanita perebut. Wanita gila harta.

"Papa bilang ini bukan pernikahan kontrak dan Papa sungguhan mencintainya kan kemarin? Cinta, Pa? Papa akan membuatnya menjadi bahan olok-olok nanti malam. Kayesa tak pantas diperlakukan seperti itu.

Mungkin para tamu dan kolega Papa akan memberi ucapan selamat atas pernikahan kedua Papa. Tapi di belakang Papa, mereka bergunjing. Papa mungkin merasa senang dianggap keren karena berani menikah lagi oleh lelaki sejenis Papa yang menjijikkan itu.

Tapi Kayesa... . Pa? Pakailah hati Papa. Cukup sudah memperalatnya sebagai pengalih aset Papa. Jangan biarkan dia digunjing dan menjadi bahan olok-olok orang-orang.

Kay, jangan mau datang nanti malam. Pikirkan dirimu sendiri. Suamimu ini egois. Tak punya hati. Jangan pergi!" Antara menatap Kayesa lalu pergi begitu saja meninggalkan meja makan.

Kayesa tertunduk. Tapi ia tahu Rius menatapnya dengan tajam.

"Jangan dengarkan Antara. Apapun yang terjadi, kamu akan tetap datang nanti malam dengan gaun terbaik dan penampilan paling cantik. Desainer yang kemarin datang akan membawa timnya untuk persiapan.

Kamu akan siap malam nanti. Jangan membantah. Orang-orang akan menyukaimu. Aku akan bilang kalau kamu gadis cerdas yang memikatku dan mengobatiku yang kesepian karena istriku selingkuh.

Akan kubilang kau adalah pengobat laraku dan aku mencintaimu tanpa memandang usia." Rius mulai membual.

Kayesa diam saja. Dalam hati kecilnya ia ketakutan dan ingin lari.

"Rektor Kampus Abyakta akan datang. Dia relasiku. Aku mengundangnya. Tentu yang datang hanya tamu pilihan dari kalangan kelas atas.

Kamu salah satu lulusan terbaik Abyakta. Bahkan kamu penerima beasiswa khusus. Itu poin yang membanggakan, kan? Aku sudah bilang pada rektormu kalau tahun ini juga kamu akan melanjutkan studi magister di sana. Aku menyumbang dana besar untuk kampus itu.

Tenang, Kayesa. Orang-orang tidak akan meremehkanmu kalau mereka tahu kamu bukan gadis biasa. Mungkin akan ada yang tetap merendahkan. Tapi tidak akan ada yang berani menatapmu dengan rendah di depanku.

Kamu istriku dan aku menikahimu karena kamu pintar, cerdas, dan layak. Jadi jangan pernah menundukkan pandanganmu di pesta itu. Tegakkan dagumu dan tatap semua orang dengan berani. Jabat tangan semua orang dengan percaya diri.

Kamu akan dilatih untuk ini. Siang ini akan ada yang datang lagi. Pakar khusus dari sekolah kepribadian. Megan akan mendampingimu dan mengawasimu. Aku akan ke kantor sekarang," ucap Rius mengakhiri kalimat panjangnya.

Lalu tanpa menunggu respon dari Kayesa, ia berdiri dan pergi begitu saja.

Kayesa merasa matanya sudah berkaca-kaca tapi ia tidak ingin menangis di sini. Apalagi di ujung ruangan sana Megan sedang mengawasinya. Pengawal menyebalkan itu pasti akan senang kalau ia menangis dan terlihat lemah.

Kayesa mengangkat dagunya seperti yang diminta Rius. Ia menegarkan hatinya lalu makan lagi. Ia menghabiskan sarapannya lalu naik ke kamar tanpa mempedulikan Megan yang mengikutinya di belakang seperti biasa.

***

Muda, langsing, rambut hitam panjang, penampilan anggun dan kalem. Lalu ini yang paling penting. Lesung pipi dan senyuman yang manis.

Sempurna!

Rius tertawa senang lalu tangannya menunjuk ke arah pintu. Artinya ia meminta Dandy meninggalkannya sendirian di ruangan pribadinya ini.

Dandy mengangguk lalu keluar dan menutup pintu dari luar. Tak perlu ia tahu lagi apa yang terjadi di dalam sana. Adegan itu semacam makanan sehari-harinya. Ia tahu tabiat Rius luar dalam.

"Kemarilah, Manis." Rius merentangkan tangannya di sofa panjang itu. Lalu tangannya menepuk-nepuk pahanya sendiri.

Gadis manis yang penampilan fisiknya mirip Kayesa itu berjalan menghampirinya dan jatuh ke pangkuannya.

***

Lalu dimana sosok Kayesa yang asli? Ia duduk di depan meja rias. Rivanes dan timnya datang. Satu orang lagi datang membantunya.

Kali ini seorang wanita. Tubuhnya jangkung, matanya biru, rambutnya pirang, dan kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu pedas.

Namanya Elle. Ia mengkritik semua kelakuan Kayesa sepanjang siang itu. Kayesa sampai stress. Ia diajari ulang dari hal mendasar semacam cara duduk, minum, makan, bicara, tersenyum, bahkan tertawa.

Cara berdirinya pun dikritik. Elle benar-benar perfeksionis.

Kalau Rivanes dan segala kelakuannya membuat Kayesa risih, lain hanya dengan Elle. Elle galak seperti monster. Kayesa merasa tertekan dan ingin menangis saja.

"Anda akan menjadi pusat perhatian saat pesta nanti malam, Nona Kayesa. Jangan berdiri bungkuk seperti orang bodoh begitu. Pak Rius akan membatalkan pembayaran saya kalau Anda tetap berperilaku seperti wanita rendahan begitu.

Hei, Anda wanita berkelas! Anda istri pengusaha paling kaya di kota ini! Anda nyonya besar! Jangan memandang orang lain dengan takut-takut begitu. Kalau bisa, dari tatapan pun, Anda sudah harus memposisikan diri kalau Anda lebih tinggi dari mereka.

Anda bukan wanita biasa, Nona. Tatap saya dengan berani dan jangan berkaca-kaca begitu! Anda mau menangis? Lemah! Pak Rius akan membuat Anda menangis menyesal kalau saya tidak berhasil mendidik Anda dengan benar!

Sekarang jam dua siang. Pestanya jam delapan malam. Anda hitung saja, Anda punya waktu berapa jam untuk mengubah semuanya.

Rivanes hanya membantu mengubah Anda dari tampilan luar. Tapi yang paling penting, Anda yang harus mengubah diri Anda sendiri. Tegakkan dagu Anda!" Elle mengacungkan tongkat kecil entah apa namanya itu ke arah wajah Kayesa.

Kayesa merasa nafasnya naik turun tak karuan. Ia mengangkat dagunya dan menatap mata Elle dengan tatapan berkilat-kilat seolah ia bisa menerkam wanita sialan yang terus menekannya berjam-jam itu.

"Nah, bagus! Anda harus lebih galak dari saya. Anda harus lebih berani. Tapi yang terlihat di depan orang lain harus tetap anggun dan berwibawa." Elle lalu berjalan dengan hentakan sepatunya ke arahnya.

Kayesa tahu sesi ini akan panjang dan ini baru latihan. Medan tempur sebenarnya adalah nanti malam, di pesta itu.

Pesta mengerikan...

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!