4. Pertengkaran di Meja Makan

Kayesa terdiam seribu bahasa. Tangannya yang memegang garpu tampak gemetar. Nafasnya sesak. Kepalanya pening. Matanya berkaca-kaca.

Pria di depannya ini, oh sekarang sudah seutuhnya menjadi seorang pria. Begitu gagah, tampan, dan tampak lebih matang.

Antara yang ia kenal 7 atau 8 tahun yang lalu berbeda dengan Antara yang sekarang. Dari penampilan maupun gaya bicara dan sikapnya. Ah, seolah-olah mereka adalah dua orang yang berbeda.

"Kayesa, ingat aku, kan?" Antara menuang air ke gelasnya sambil menatap Kayesa dengan tatapan seolah menggodanya.

"Y--ya, ingat." Kayesa melepas garpu yang ia genggam erat sebelum melukai tangannya.

Trang!

Tangan gemetar Kayesa membuat garpu itu terjatuh. Kayesa begitu gugup.

"Apa kabar? Mana papa? Apa aku harus memanggilmu 'Mama' sekarang?" Antara menyuap makanannya lalu tertawa.

Antara mengulang pertanyaannya. Kayesa merasa ia sudah tidak punya muka lagi di depan mantan kekasihnya sewaktu SMA itu. Betapa malunya ia. Ia menikahi ayah Antara. Takdir macam apa ini?

Kemarin ia terlalu fokus memikirkan pengobatan ayahnya, hingga ia tidak menyelidiki lebih dulu siapa keluarga dari istri pertama Rius. 

Ah, andai ia tidak sebodoh itu kemarin. Tapi apa mau dikata. Semua sudah terlambat.

Antara terus menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Kayesa tak tahan lagi. Ia menahan tangannya di meja lalu mencoba untuk berdiri. Ia ingin lari menaiki tangga menuju kamarnya dan menguncinya. Ia ingin menangis kencang tanpa seorang pun yang mendengar.

Tapi sebelum semua itu terjadi, Rius sudah berjalan masuk ke meja makan sambil mengendurkan dasinya. Ia yang baru pulang dari kantor itu langsung menghentikan langkahnya.

Wajah Rius langsung berubah menjadi marah. Tangannya berkacak pinggang begitu melihat putranya yang berbulan-bulan pergi dari rumah itu kembali lagi.

"Kau pulang? Rupanya sudah kenalan dengan mama barumu." Rius Madali lalu menarik kursi dan duduk di kepala meja makan.

Kayesa yang hendak lari mau tak mau langsung duduk lagi dan menunduk menatap makanannya yang masih utuh belum tersentuh itu.

"Ya, Pa. Sudah. Tetapi sepertinya dia pemalu. Apa tidak ada perempuan lain, Pa? Mama baruku terlalu muda. Bahkan mungkin usia kita sama. Iya, kan?" Antara berkomentar dengan nada menyebalkan lalu ia tertawa dan makan dengan cuek.

Rius Madali menyeringai ke arah putranya. Putranya yang ia anggap membangkang dan memusuhinya itu.

"Tidak usah ikut campur urusan Papa! Sekarang bilang ke Papa. Apa tujuanmu pulang lagi? Pasti disuruh mamamu untuk memata-matai Papa, kan?

Antara, Papa mengenalmu. Kamu tidak akan mungkin merendahkan dirimu dengan kembali ke rumah ini kalau kamu tidak punya tujuan terselubung. Pulanglah. Kamu tidak akan mendapat apa-apa," ucap Rius yang memberi kode kepada pelayan rumah untuk mengambilkannya makanan.

Kayesa pura-pura menunduk dan makan. Pipinya memerah menahan malu. Tangannya berkeringat. Ingin rasanya lantai marmer yang mewah ini menenggelamkan dirinya. Biar ia menghilang saja ditelan bumi. Daripada menghadapi situasi canggung semacam ini.

Kayesa melirik Antara dengan cemas. Ia begitu takut Antara mengungkapkan jati dirinya dan mengatakan kalau mereka dulu pernah berpacaran. Jangan! Kayesa tidak ingin menambah suasana makin canggung lagi.

"Aku pulang karena aku memang ingin pulang. Memangnya kenapa? Ini rumahku. Ini rumah peninggalan kakekku. Aku dilahirkan di sini. Seharusnya aku yang tanya ke dia. Ngapain dia di sini?" tanya Antara sambil menatap Kayesa dengan wajah sinisnya.

Rius Madali membanting sendoknya. Matanya menyipit dan menatap putranya yang duduk di depannya itu dengan amarah di ubun-ubun, seolah ia ingin menerkamnya.

"Jangan bersikap tidak sopan pada istri Papa. Dia punya nama. Namanya Kayesa. Papa tahu kamu selalu bersikap kurang ajar pada Papa. Tapi tolong sopanlah padanya.

Papa mencintainya dan menikahinya. Lalu sekarang dia tinggal di sini karena dia istri Papa," ucap Rius lalu ia kembali mengambil sendok dan berusaha menetralkan sendiri emosinya yang hampir meledak itu.

Antara hanya tertawa. Tawa yang getir dan bercampur kesal.

"Tidak mungkin Papa menikahinya begitu saja. Aku mengenal Papa. Aku tahu semua wanita yang Papa kencani dan tiduri. Mau kusebutkan? Mantan sekretaris Papa di kantor, karyawan Papa, model-model yang mengiklankan produk perusahaan kita, selebriti yang Papa bayar.

Siapa lagi, Pa? Banyak. Selama ini Papa sudah terlalu banyak bersenang-senang di luar batas hingga menyakiti mama. Dan mama sudah capek. Dia lelah mempertahankan pernikahan ini lagi.

Tapi sekarang apa? Tiba-tiba Papa menikahi gadis ini. Pasti ada alasannya. Kenapa, Pa? Untuk Papa jadikan pengalih aset? Untuk mengakali Mama, kan? Aku tidak bodoh, Pa," ucap Antara.

Mata Antara menatap nanar ke arah papanya. Papa kandungnya. Ia tak peduli tentang ikatan darah apapun. Yang jelas kalau orang itu menyakiti namanya, Antara akan maju paling depan untuk membalasnya. Tak peduli ia siapa, termasuk ayah kandungnya sendiri.

"Jaga mulutmu! Papa serius menikahinya!" Rius mulai menujuk-nunjuk wajah putranya dengan garpu.

"Basi! Palsu!" Antara membanting sendoknya dengan kesal lalu ia menyeriangi dan mencondongkan tubuhnya ke depan, macam harimau yang hendak menyerang.

Kayesa merasakan tangannya makin gemetar. Situasi ini begitu menakutkan. Mana pernah terbayangkan di kepalanya ia akan mengalami situasi aneh macam ini. Suaminya dan mantan pacarnya ternyata ayah dan anak, lalu mereka saling bermusuhan.

"Diam! Pulanglah dan sembunyilah di ketiak mamamu. Kalian sama saja. Bilang padamu kalau mau menggugat cerai, silakan. Papa tak takut!" Rius makin beringas.

"Untuk apa aku pulang. Ini rumahku. Tempatku pulang ya di sini. Papa saja yang pergi angkat kaki dari sini. Ini rumah kakekku!" Antara makin berani.

Brak! Prang!

Gebrakan tangan Rius di meja membuat beberapa gelas terjatuh. Rius tak peduli. Pelayan hanya menunggu di ujung ruangan sampai kekacauan ini selesai dan siap dibereskan. Entah berapa perkakas lagi yang akan dirusak tuannya itu malam ini.

Antara tak takut. Ia justru makin mendongakkan kepalanya dengan berani. Rius berdiri dan bersiap melempar mangkuk mahal di meja makannya itu ke arah Antara. Antara malah mentertawakannya.

Kayesa yang gemetar menahannya sambil menangis. Rius akhirnya membanting benda keramik itu ke lantai.

Antara ikut berdiri. Kini mereka berdua seolah bisa saja saking serang dan melukai sama lain. Ayah dan anak. Dua-duanya sama-sama keras, tak ada yang mau mengalah.

Kayesa terlalu lemas untuk berdiri. Ia menjatuhkan diri di kursinya tadi sambil *******-***** tangannya sendiri dengan gugup. Ia takut. Sungguh takut. Antara yang dulu ia kenal tak kasar dan pemarah begini. Apa yang terjadi padanya?

"Mama punya bukti dari salah satu mantan simpanan Papa yang mengaku. Mama bisa menyebarkan ini ke media untuk menghancurkan nama baik Papa.

Selain itu sekarang toh Papa berbuat makin gila. Papa menikah lagi dengan gadis muda ini. Bukankah orang-orang akan menganggap mama yang tersakiti dan Papa yang jahat? Jangan sombong, Pa. Kami bisa hancurkan Papa!" Antara berkata dengan nada begitu dingin dan menyimpan dendam.

"Papa tidak jahat. Papa lelaki. Wajar main perempuan. Mama kamu yang tak tahu diri. Dia juga selingkuh dengan lelaki lain." Rius makin menujukkan sisi arogan dan liciknya.

'Laki-laki wajar main perempuan?' Kata-kata Rius Madali barusan membuat dada Kayesa sesak. Ya, dan sekarang ia terjebak dengan pria itu. Kayesa merasa ingin menangis.

"Jaga mulut Papa! Mama tidak serendah itu. Mama setia. Mama punya kehormatan. Dia mungkin lelah karena kelakuan Papa tak ada kapoknya. Bahkan mama bilang Papa main perempuan sejak aku masih dalam kandungan.

Pria macam Papa tak layak untuk perempuan manapun yang tulus dan setia seperti Mama! Cih!" Antara berkata setengah berteriak lalu ia menggebrak meja makan dan pergi.

"Anak kurang ajar!" Rius berteriak dan membanting piring keramik lagi.

Prang!

Kayesa terduduk di kursi meja makan itu macam patung. Rius lalu menarik kursinya dan duduk lagi.

"Jangan dengarkan omongannya. Anak dan ibunya sama saja. Tukang bohong. Saya hanya sebatas kesepian dan mengencani wanita-wanita itu karena iseng.

Sania-istri pertamaku alias ibu Antara tidak begitu. Ia selingkuh dengan satu pria dan ia menyerahkan seluruh perasaannya. Makannya dia mau cerai. Jangan sampai kamu terhasut." Rius menyuap makanannya seolah tak terjadi apa-apa.

Kayesa masih membisu. Entah siapa yang harus ia percaya. Rius atau Antara.

Kayesa justru menangis. Situasi ini ternyata membuatnya ketakutan...

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!