20. Istri Boneka

Kayesa merasa ini seperti mimpi buruk. Tapi deheman suara berat Rius membuatnya kembali tersadar.

Kayesa menatap sopan ke arah depan dan menundukkan kepalanya sedikit karena telah diperkenalkan.

Rius mengangguk bangga ke arahnya lalu ia mulai membual lagi.

"Tapi ternyata istri pertama saya datang. Sebenarnya saya bingung apa saya masih pantas menyebut dia istri. Kami sudah berpisah rumah hampir satu tahun. Dia sudah dengan kehidupannya sendiri, dengan lelaki yang ditangkap basah wartawan tadi.

Ya, lelaki itu dulunya juga karyawan saya. Bahkan salah satu orang kepercayaan saya. Tapi ya rupanya mereka lebih memilih menghianati saya begini."

Rius berhenti bicara lalu menunduk sedih. Kayesa sungguh muak dengan aktingnya itu. Palsu!

"Jangan katakan saya jahat karena saya menikah lagi. Ini bukan karena saya sudah tidak mencintai Sania lagi. Tapi memang sudah lama dia mencampakan saya. Saya masih berharap dia kembali tapi lihatlah sekarang. Insiden ini memalukan sangat mencoreng muka saya.

Mereka memang sudah menjalin hubungan sejak lama. Saya minta Sania menceraikan saya tapi dia mengulur-ulurnya. Bahkan saya sudah memohon.

Saya sudah berjanji pada mendiang ayahnya untuk mencintainya sampai mati. Kalau saya yang menggugat cerai, artinya janji suci saya gugur. Saya menunggu dia yang menggugat."

Kata-kata Rius sangat emosional dan menyakinkan. Semua orang tampak menatapnya dengan kasihan dan percaya.

Apalagi Rius menunduk dan pura-pura mengusap air mata palsu. Semua makin kasihan. Kayesa mau tak mau bergerak maju, berpura-pura menguatkan suaminya dan mengelus punggungnya.

Rius menyambut akting Kayesa dengan menggengam tangannya dan menatapnya dengan hangat, seolah ia sangat mencintainya. Padahal Kayesa ingin sekali meludahinya saking muaknya.

Rius lalu melanjutkan bicara. Kayesa mundur lagi.

"Saya sudah lama hidup kesepian dan depresi karena merasa gagal menjadi seorang suami. Tetapi gadis ini datang ke hidup saya. Dia begitu memikat saya karena kecerdasannya, kecantikannya, dan hatinya yang tulus.

Kayesa dulu saya rekrut sebagai sekretaris saya. Saya merasa ini takdir. Kehadiran Kayesa membuat saya merasa layak untuk dicintai lagi. Saya sudah bilang Sania kalau saya ingin dia menceraikan saya. Saya ingin menikahi gadis ini.

Tapi seperti yang saya bilang tadi, dia tidak mau diceraikan tapi lebih memilih jalan yang memalukan begitu. Saya sudah lelah. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk tetap menikahi Kayesa sebagai istri kedua saya.

Ya, kami sudah menikah resmi secara hukum dan tercatat sah sesuai aturan negara."

Ucapan Rius ditanggapi dengan riuh. Rius tahu kisah karangannya akan dianggap hebat, dramatis, dan romantis. Ia menatap Kayesa penuh arti.

Lelaki setengah baya malang yang dikhianati istrinya, bertemu dengan gadis muda nan cantik lalu mereka jatuh cinta.

Mungkin layak jika terjadi dalam film. Toh umur Rius baru 45 tahunan dan Kayesa 25 tahun. Masih tampak cocok. Apalagi Rius memang tampan. Garis tampan yang diturunkan juga pada Antara. Tapi sayang hatinya bengis.

Kalau di dunia ini hanya terisa satu lelaki saja, dan lelaki itu Rius, Kayesa lebih baik sendiri seumur hidup. Makin kesini ia makin tahu kalau kelakuan Rius begitu menjijikkan.

"Saya tidak ingin istri direndahkan, seolah dia menikahi saya karena uang saya. Tidak! Kayesa gadis yang tulus. Saya pun tidak menikahi dia karena kecantikannya semata. Dia memang layak menjadi pasangan saya."

Rius lalu menarik Kayesa ke arah podium. Kayesa tak bisa menolak. Ia hanya menunduk.

"Kayesa Malena Samsir lulusan cumlaude sekolah bisnis dari kampus Abyakta. Salah satu kampus bisnis terbaik di negara kita. Dia bahkan menerima beasiswa. Dan tahun ini ia akan menjalani program magister.

Dia bukan gadis sembarangan. Dia cerdas dan berpendidikan. Dia sangat berarti untuk saya. Jadi walaupun insiden malam ini telah memukul saya dan menghancurkan mental saya, saya bersyukur masih punya dia untuk tempat saya pulang.

Biarkan Sania dengan kelakuannya yang tidak pantas itu. Yang jelas sekarang saya tidak akan menunggu dia lagi untuk mengurus cerai. Saya sendiri yang akan menggugat lebih dulu. Sudah cukup sakit hati saya selama ini," ucap Rius lalu kata-katanya berakhir disertai bisik-bisik para tamu dan kamera wartawan yang makin membabi buta menyorot ke arahnya.

Rius turun dari podium. Dandy bergerak cepat mengawalnya. Dan Megan pun langsung mengambil posisi mengawal Kayesa.

Mereka pergi meninggalkan gedung ini. Rius berjalan menunduk seolah-olah sangat terpukul dengan insiden barusan. Padahal dalam hati, Rius sedang tertawa puas terbahak-bahak.

"Gandeng tanganku. Aku suamimu. Kamera masih mengarah pada kita. Ingat itu!" bisik Rius pada Kayesa di tengah kejaran wartawan yang masih belum puas meminta mereka bicara lagi.

Kayesa menggandeng tangan Rius yang kekar dan berbulu lebat itu dengan terpaksa.

Ya, di poin perjanjian tertulis kalau kontak fisik semacam rangkulan dan gandengan tangan di depan publik disepakati, karena ini untuk meyakinkan kalau pernikahan ini sungguhan.

Maka walaupun Rius merangkul pundaknya seperti sekarang ini, Kayesa tidak bisa menolak. Ini bagian dari perjanjian.

Mereka masuk mobil dengan kejaran wartawan. Barulah di dalam mobil itu Kayesa menghempaskan tangan Rius dari pundaknya dengan muak.

"Oh, kasar sekali!" komentar Rius begitu mobil mereka berjalan pergi meninggalkan gedung.

Kayesa merasa wajahnya memerah. Ia menjauhkan duduknya sejauh mungkin dari Rius. Rius menyeriangi ke arahnya.

"Kenapa galak begitu? Aktingmu bagus malam ini. Semua orang menatapmu dengan penasaran dan kagum. Pujian saya cukup terbukti, kan? Rektormu ada di sana. Saya tak mungkin bohong soal Abyakta.

Siap-siap saja profilmu akan dikuliti. Tapi tenang, timku sudah membereskan. Termasuk soal akun sosial mediamu. Kayesa, jangan naif. Semua orang ingin terkenal. Setelah ini kamu akan terkenal. Lebih tepatnya kita." Rius lalu tertawa puas.

Wajah Kayesa mengeras. Rahangnya tampak kaku. Persetan dengan terkenal. Ia justru ingin bersembunyi dari dunia.

Kayesa tahu tak ada nama baik keluarga yang perlu ia jaga. Toh keluarga besarnya tak peduli. Dan ayah yang ia cemaskan sudah meninggal. Tapi ia kan tetap punya teman dan orang-orang yang ia kenal. Walaupun tak terlalu dekat, tapi Kayesa tetap mencemaskan komentar mereka.

Terbayang namanya akan disebut-sebut menjadi bahan perbincangan di grup chat teman kuliahnya, dan banyak lagi.

Kayesa tersadar betapa dahsyatnya kekuatan media. Apalagi era digital macam sekarang. Terbayang sebanyak apa kamera yang tadi menyorot ke arahnya.  Ia langsung lemas.

"Akun sosial media pribadi saya sudah dihapus, kan?" Kayesa bertanya dengan cemas.

Rius menggeleng lalu ia tertawa. Kayesa menatap pria itu dengan tatapan bingung.

Kemarin saat menandatangani kontrak pernikahan, Rius minta Kayesa menyerahkan akun sosial medianya beserta password masuknya. Katanya ia takut Kayesa menggunakan akunnya untuk membongkar kontrak mereka atau berkata yang tidak-tidak.

"Akunmu masih ada. Timku mengelolanya. Kamu kupersiapkan untuk menjadi besar, Kayesa. Diamlah dan turuti saja mauku." Rius menyunggingkan senyum memukakkan itu.

Kayesa membuang muka. Ia merasa makin lemas.

Ia pikir akun itu dilenyapkan. Ia juga diminta membuang ponsel lamanya dan mengganti nomor. Lalu dalam surat Antara kemarin ia bilang ponselnya disadap maka ia tak berani menghubunginya? Astaga! Pantas saja!

Kayesa merasa dikendalikan. Sudah pula Megan mengawasinya 24 jam. Kini pergerakan ponselnya juga diawasi ketat. 

Ia benar-benar merasa menjadi boneka hidup sekarang.

"Bunuh saja aku, Pak." Kayesa berkata dengan suaranya yang lemah.

Rius menatapnya lalu tertawa. Tangannya justru mencengkeram kepala Kayesa dan mendekatkan wajahnya padanya. Kayesa tersentak kaget tapi tak bisa melawan.

Di mobil yang hanya berisi ia, Rius, dan sopir; posisi Kayesa terjepit.

"Hei, jangan bodoh. Kamu cantik, pintar, dan potensial. Semua gadis miskin yang tak punya kesempatan memimpikan posisimu!" Rius mendesis.

Kayesa bisa merasakan nafas pria menjijikkan itu menerpa wajahnya.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah megah itu.

Kayesa mendorong Rius lalu langsung keluar dari mobil dan berlari masuk. Megan turun dari mobil belakangnya lalu mengejar.

Sesampainya di depan kamar, Megan terlihat menahan pintu. Kayesa menampik tangannya lalu memelototinya dengan marah.

"Megan! Beri aku waktu sendirian! Menyingkir dari kamarku malam ini!"

Brak!

Kayesa yang badannya lebih kecil dari Megan itu berhasil mendorongnya dan menutup pintu. Dengan gerakan yang gemetar sambil menangis, Kayesa mengunci pintu kamarnya dan menjatuhkan diri di lantai.

Kayesa menangis meratapi nasibnya. Ia bersimpuh di lantai, tak peduli gaun mewah rancangan Rivanes yang diimpikan para gadis ini rusak atau sobek. Ia sungguh-sungguh tak peduli.

Ia hanya ingin menangis...

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!