3. Mama Tiri

Ada hal yang tak bisa ditawarkan oleh nasib. Ada hal yang sudah diperjuangkan tapi tetap tak tergapai. Ya, hidup memang tak adil untuk sebagian orang.

Mata Kayesa berkaca-kaca. Masa depan yang sudah ia rancang dengan indah di kepala itu akan hancur kalau ia menerima tawaran ini.

Sungguh ia tidak pernah bermimpi punya suami kaya raya semacam Rius. Ia hanya ingin menikahi pria berkepribadian hangat, bertanggung jawab, dan penyayang juga setia seperti ayahnya.

Rius menatapnya dengan tatapan yang arogan. Kayesa semakin merasa tak punya pilihan. Ia berhak menolak, kan? Tapi bagaimana nasib ayahnya?

Ia dapat pekerjaan pun harus menunggu sebulan untuk mendapatkan gaji. Gajinya pun pasti belum cukup juga untuk membawa ayahnya ke meja operasi. Bagaimana kalau ayahnya semakin sakit? Bagaimana kalau vonis dokter itu benar-benar terjadi?

Ayahnya mungkin tidak akan tertolong selamanya. Ayahnya satu-satunya keluarga yang ia punya dan Kayesa tidak ingin kehilangan pria itu. Ayahnya adalah cinta pertamanya, pahlawan hidupnya.

"Kamu takut? Perjanjiannya tertulis dan bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Kamu bisa menuntut saya kalau saya ingkar janji. Kamu tidak perlu khawatir dan takut saya akan berbuat macam-macam ke kamu di luar perjanjian.

Kayesa, kamu memang cantik, tapi di luar sana banyak juga perempuan lain yang lebih cantik. Yang bisa saya bayar untuk saya apakan saja. Saya tidak akan meniduri kamu. Saya tak akan menyentuh kamu.

Kalau itu yang membuat kamu ragu dan takut, kamu bisa tulis di perjanjian. Kamu hanya perlu menjadi nyonya palsu untuk membuat posisi istri saya yang sedang minta cerai ini terancam. Itu saja," ucap Rius Madali makin meyakinkan.

Oke. Pria itu rupanya bisa membaca isi pikirannya. Kayesa lalu memberanikan diri untuk menatap Rius Madali dengan tatapan penuh keberanian.

"Kalau banyak perempuan di luar sana yang bisa Anda bayar, kenapa tidak mereka saja yang Anda nikahi? Kenapa Anda menawarkan tawaran pernikahan kontrak ini ke saya?" tanya Kayesa. Sungguh pertanyaan yang cukup cerdas.

Rius Madali tertawa terbahak-bahak. Ia lalu mengusap dahinya dengan tangannya yang berbulu lebat itu dan kembali menatap Kayesa sambil tersenyum.

"Perempuan di luar sana itu hanya tahu uang. Otaknya uang, uang, dan uang saja. Saya tidak mau merendahkan diri saya dengan memilih mereka untuk menjadi istri palsu saya.

Saya akan tetap memilih yang terbaik. Kamu pintar, kamu cerdas, kamu lulusan kampus terpandang. Soal penampilan kamu, bisa saya poles agar lebih berkelas.

Istri saya mencampakan saya dan sebagai gantinya saya akan menenteng kamu kemana-mana. Ke acara bisnis, acara kelas atas. Saya perkenalkan kamu ke relasi saya sebagai istri baru. Saya tidak ingin mempermalukan diri saya dengan membawa wanita biasa.

Kamu pantas. Kamu cocok. Kamu pasti bisa membawa diri dan ya setidaknya bisa mengikuti obrolan. Otak kamu tidak kosong. Itu yang saya suka.

Dan yang paling penting, kamu butuh uang. Ayah kamu pasti dalam kondisi terhimpit ekonomi dan dia pasti tidak akan melarang-larang kamu. Kamu juga bisa kan berbohong soal pernikahan ini seolah-olah kamu menginginkannya dan jatuh cinta sungguhan sama saya. Itu kamu atur sendiri.

Ayolah, Kayesa. Ini tawaran yang sama-sama menguntungkan untuk kita," rayu Rius panjang lebar. Matanya menatap Kayesa dengan tatapan meyakinkan, penuh tipu daya, dan kelicikan.

Kayesa merasa debar jantungnya bertalu-talu seperti genderang yang ditabuh. Gendang telinganya sampai berdengung. Ini adalah adegan yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya.

Dan sambil menguatkan dirinya sendiri, keputusan besar itu ia ambil. Sebuah anggukan setuju membuat hidupnya berubah hari itu.

***

Kayesa mulai pandai bersandiwara di depan ayahnya. Ia bilang ia jatuh cinta pada boss-nya. Boss yang sempat menjadi atasannya waktu ia magang beberapa tahun lalu di kampus, yang kembali ia temui secara tidak sengaja saat wawancara kerja.

Ia bilang ia ingin menikahi lelaki itu. Ayahnya yang sakit-sakitan dan kebingungan mau tak mau setuju tanpa banyak tanya.

Kayesa bilang pengobatan ayahnya akan segera diurus. Pria tua sakit-sakitan itupun diurus oleh anak buah Rius. Ia dirawat di rumah sakit dengan fasilitas di VVIP. Namanya bahkan sudah masuk dalam daftar pasien operasi yang sudah diatur jadwalnya beberapa hari mendatang.

Kayesa cukup lega. Ia cukup kooperatif dan tidak banyak tanya. Apapun yang Rius dan anak buahnya lakukan padanya, ia hanya mengangguk setuju. Termasuk soal mengubah penampilannya, caranya berpakaian, gaya rambutnya, atau apapun itu.

Singkatnya pernikahan itu sah diresmikan dengan sedikit orang yang tahu. Perayaan tidak penting. Yang penting Rius sudah memegang surat resmi itu. Surat yang membuatnya bisa bebas mengalihkan banyak asetnya atas nama Kayesa karena mereka terikat pernikahan yang sah.

Kayesa membuat beberapa akun bank sesuai yang Rius mau. Ia tidak perlu repot-repot mengurus karena ia hanya perlu tanda tangan. Banyak sekali hal yang harus ia tandatangani.

Bahkan kadang ia tak sempat membacanya karena kalimat perjanjian itu begitu panjang. Ia percaya saja, yang penting ayahnya sudah mendapatkan jaminan kesembuhan. Itulah isi pikirannya.

Sejauh ini Rius juga bersikap sopan. Ia tidak pernah menyentuhnya hingga akhirnya ia diminta pindah ke rumah megah itu.

"Saya tinggal sendirian. Anak istri saya sudah beberapa bulan yang lalu keluar dari rumah ini. Kami cukup bermasalah. Sekarang kamu jadi Nyonya, Kayesa. Kamu tinggal di kamar terpisah. Saya menepati janji, kan? Sesuai perjanjian, saya tidak akan menyentuh kamu."

Rius meninggalkannya dengan pelayan-pelayan yang tunduk pada Kayesa dan akan melakukan apapun permintaannya. Ia nyonya rumah ini sekarang.

Kayesa duduk ranjang mewah kamarnya dengan bingung. Ia seperti burung kecil yang tiba-tiba dipindahkan ke sangkar emas.

Bahagiakah ia? Entahlah. Yang jelas tempat ini begitu asing dan mencekam. Satu-satunya hal yang menenangkan baginya adalah ayahnya yang sering menelpon dan bilang ia ditangani dengan baik di rumah sakit.

Kayesa meminta sejak awal pada ayahnya agar ia tidak bertanya-tanya banyak soal pernikahannya. Ayahnya hanya menangis waktu ia mengatakan itu. Mungkin dia itu sudah tahu atau merasa Kayesa menyembunyikan sesuatu demi pengobatannya.

Ayahnya hanya mengucapkan terima kasih berkali-kali dan mendoakan agar putri kesayangannya satu-satunya itu hidup berbahagia apapun pilihannya.

***

Sedangkan di belahan bumi yang lain, tak berapa jauh dari istana megah Kayesa, seorang pria berwajah dingin tampak menggenggam tangan mamanya sambil menatap sedih.

Ruangan rumah sakit ini hanya beberapa meter jaraknya dengan ruangan tempat ayah Kayasa dirawat. Sungguh, takdir bersinggungan setipis itu.

"Ma, apa kata Pak Budiman?" tanya Antara.

Budiman adalah pengacara mereka.

Sania Narita menggeleng pelan. Wajahnya pucat karena sakit yang sudah ia tanggung berbulan-bulan. Nyonya sosialita itu sekarat.

"Papa kamu menikah lagi. Diam-diam dia memindahkan semua aset perusahaan dan beberapa properti menjadi atas nama dia. Tentu kamu tahu kan ini hanya trik licik papa kamu. Gadis itu dimanfaatkan. Mama yakin itu. Dan kamu mau tahu siapa gadis itu?" tanya Sania dengan tatapan hampa dan putus asa.

"Siapa?" tanya Antara dengan bingung.

Sania menyerahkan satu map berisi data lengkap yang ia kumpulkan dari mata-matanya soal Kayesa.

Sania terkejut sekali begitu tahu siapa gadis yang menjadi madunya itu. Kayesa Malena Samsir adalah gadis yang ia temui diam-diam beberapa tahun lalu untuk ia ancam agar meninggalkan putranya. Gadis yang ia hina-hina karena miskin dan tidak selevel dengan Antara.

Antara membuka map itu dengan mata terbelalak. Ia menatap mamanya dengan wajah tidak percaya.

"Kayesa? Mama tidak bercanda?" tanya Antara dengan wajah terkejut.

Sania menggeleng. Ia lalu membuang muka. Tak tega ia menatap putranya.

Hening. Pasangan ibu dan anak itu sama-sama terdiam dan larut dengan pikiran masing-masing.

"Mama jangan larang-larang aku lagi. Terserah kalau Mama ingin menyerah dengan papa dan menyerah merebut kembali hak-hak Mama. Aku akan kembali ke rumah itu. Aku akan merebut kembali semua milik Mama sekaligus menyelamatkan Kayesa.

Mama jangan larang-larang aku, Ma. Mama fokus untuk kesembuhan Mama saja," ucap Antara lalu membawa map itu pergi meninggalkan mamanya sendirian di rumah sakit.

Perempuan itu menangis sambil menatap sedih ke arah cairan infus yang menetes-netes masuk ke tubuhnya.

***

Hari itu juga Antara yang sudah beberapa bulan lalu kabur dari rumah menyeret kembali kopernya. Ia kembali ke rumah itu diam-diam. Para pelayan tidak bisa berbuat apa-apa termasuk mengusir. Ini memang rumahnya, kan? Dari lahir ia tinggal di sini.

Malam itu Kayesa yang juga tidak tahu apa-apa turun dari kamarnya menuju meja makan.

Rius pasti belum pulang dari kantor. Ia tahu kebiasaan itu walau baru beberapa hari tinggal di rumah ini.

Kayesa duduk dengan tenang walau agak asing juga karena dilayani oleh banyak orang begini.

Tiba-tiba datanglah sesosok pria yang membuatnya terkejut. Pria itu adalah Antara-mantan pacarnya saat SMA dulu.

"Kenapa Kayesa? Terkejut? Atau pura-pura terkejut? Seharusnya aku yang terkejut karena tiba-tiba kamu tinggal di rumah ini. Ini rumahku.

Oh ya. Apa aku harus memanggilmu 'Mama?' Sekarang kamu ibu tiriku, kan?" Antara menarik kursi lalu ia duduk dengan santai.

Kayesa merasa tertampar. Ia merasa seolah-olah kepalanya sedang tersambar petir. Takdir macam apa ini?

Jadi Antara adalah anak Rius Madali? Kenapa selama ini ia tidak tahu?

Sekarang, mantan pacarnya menjadi anak tirinya...

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!