Kayesa merasa nyalinya menciut. Ditatapnya Megan dengan ekor matanya.
Wanita bertubuh jangkung yang memperkenalkan diri sebagai pengawal barunya alias suruhan Rius itu berambut pendek sebahu. Garis rahangnya begitu tegas. Otot-otot tangannya juga terlihat kalau ia pasti berlatih kekuatan fisik tak kalah seperti lelaki.
Sorot mata Megan cukup tajam dan seolah mengitimidasi. Kayesa jadi takut.
Megan masih berdiri di depan pintu dan menatapnya. Kayesa memejamkan mata dan memikirkan apa yang harus ia lakukan. Bagaimanapun ruang geraknya sekarang terbatas.
Tapi Antara... . Ah, ia ingin tahu nasib mantan pacarnya itu. Apakah setelah panggilan video itu Rius menelponnya secara langsung atau menyuruh orang juga untuk mengusirnya?
Ah, tapi kan Antara tidak mungkin terusir dari sini. Ia terus bilang ini rumah kakeknya.
Kayesa membuka matanya lalu menatap Megan dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan.
"Ya, jalan-jalan di taman boleh juga. Saya stress di kamar sejak pagi," ucap Kayesa lalu ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Dengan sigap Megan langsung mengambil posisi di belakangnya. Kayesa sengaja memelankan jalannya menuruni tangga sambil melirik ke arah pintu kamar Antara yang tertutup rapat itu.
Sungguh, walaupun hanya satu detik saja, ia ingin melihat lelaki itu. Ia ingin memastikan kalau Antara baik-baik saja karena ia sudah menunggu panggilan atau pesan dari Antara tapi tak ada. Kayesa tak tahu harus menghubungi nomor Antara kemana.
"Cepatlah turun, Nona. Tidak ada gunanya melihat ke pintu kamar yang tertutup itu. Mas Antara pergi keluar naik mobilnya. Mungkin menemui mamanya.
Baik sekali kan saya memberikan informasi ini pada Nona. Padahal bapak sendiri sudah bilang kalau tugas utama saya adalah memastikan Nona dan mas Antara tidak dekat-dekat, tidak berkontak lewat apapun, atau mengobrol.
Semuanya sama sekali tidak boleh. Dan kalau sampai tugas saya gagal. saya akan dipecat. Jadi tolong kerjasamanya. Jalan-jalan ke taman, kan? Anda yang tinggal di rumah ini. Anda nyonya rumahnya. Anda yang tahu taman itu dimana.
Taman ada di bawah, kan? Bukan di kamar itu!" ucap Megan dengan berani sambil menunjuk ke arah pintu kamar Antara yang tertutup.
Kayesa menghentikan langkahnya dan menatap mata Megan dengan tak kalah berani. Darahnya mendidih.
Baiklah. Oke. Sekarang untuk bernafas pun sulit untuknya. Seluruh pergerakannya diawasi dengan ketat. Kayesa hanya bisa pasrah.
"Bapak bilang satu jam lagi akan ada yang datang. Seorang desainer pakaian kenamaan dan asistennya akan datang. Anda harus datang ke pesta dan menyiapkan gaun yang cantik. Mereka akan datang untuk mengukur ukuran badan Anda agar gaunnya pas." Megan bicara lagi.
Kayesa mendiamkannya. Ia hanya ingin duduk di taman hingga Megan bosan menungguinya dan pergi. Tapi ternyata tidak.
Satu jam lebih hingga desainer yang dimaksud itu datang, Megan masih berdiri dengan santai satu meter di belakangnya. Kayesa jadi kesal.
Kayesa menatap sengit dan berjalan masuk ke dalam lagi. Ia menaiki tangga dengan langkah gusar. Desainer dengan asistennya itu sudah menunggu di kamarnya, begitu kata Wini tadi.
Megan mengikutinya di belakang. Langkah kakinya cukup panjang. Walaupun Kayesa sudah setengah berlari, tapi Megan tampaknya biasa saja. Ia tak kewalahan mengikuti langkah kaki Kayesa yang kecil dan pendek-pendek. Kayesa jadi makin sebal.
***
Kayesa melihat sosok itu. Desainer baju paling terkenal seantero negara ini berdiri di kamarnya dengan senyum terkembang.
Kayesa menelan ludahnya dengan susah payah. Sosok lelaki agak feminim itu menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti mesin pemindai.
"Oh ya, saya Rivanes. Sudah sering melihat saya di televisi atau di majalah mode? Atau mungkin entah di mana. Ya, itu saya.
Yang jelas, mulai sekarang saya akan menangani soal pakaian-pakaian Anda, Nona. Pakaian yang akan Anda kenalan di pesta, di acara jamuan, di acara-acara yang disorot publik, dan banyak lagi. Pokoknya semua.
Pak Rius menyerahkan semua urusan ini ke saya. Saya sudah dikontrak dengan jumlah yang sangat fantastis. Oke. Jadi bisa kita mulai sekarang, ya?" Rivanes berjalan dengan dramatis. Ia mengulurkan tangannya ke arah Kayesa.
Kayesa menerima uluran tangan itu dengan bingung sekaligus tertekan.
Situasi macam apa ini? Ia yang biasa memakai baju seadanya mendadak benar-benar harus diatur sebegini rupa. Bahkan oleh perancang busana ternama yang dulu hanya bisa ia lihat dari layar kaca.
Sekarang pria nyentrik itu ada di depannya, menjentikkan jarinya dengan gemulai dan mengarahkan asistennya untuk mengukur ini dan itu.
Tangan Kayesa merentang. Dagunya dinaikkan oleh jemari lentik bercat kuku warna ungu. Ia mendadak menjadi punurut.
Beberapa menit hal membingungkan ini terjadi lalu Kayesa diminta duduk. Megan masih berdiri di depan pintu sambil mengamatinya dengan tatapan datar.
"Oke. Saya sering bersinggungan dengan wanita-wanita pak Rius. Dari kalangan biasa, kelas kakap, sampai selebriti. Bahkan menangani baju nyonya Sania pun pernah. Saking banyaknya saya sampai hafal. Kebanyakan dari mereka itu norak, banyak mau, sok cantik padahal wajahnya permakan.
Nona Kayesa, Anda cantik alami. Semua asli. Rambut Anda yang sehat tanpa banyak zat kimia mampir ke sana. Wajah Anda tak perlu banyak polesan untuk terlihat menawan. Lesung pipi Anda tak ada duanya. Anda cantik seperti boneka.
Tapi kita tidak ingin menampilkan Anda seperti boneka pajangan saja. Pak Rius ingin Nona tampil dengan memikat, elegan, cerdas, berpendidikan tinggi. Anda lulusan cumlaude kampus bisnis ternama. Lalu sekarang sedang studi magister bisnis. Katanya itu yang harus ditonjolkan."
Rivenas terus bicara. Kayesa hanya diam saja. Perasaan Rius belum pernah menyebut-nyebut soal ia mengambil program S2 dalam waktu dekat.
Kepalanya terasa sakit. Ia ingin Rivenas dan asistennya menyingkir dari kamarnya segera. Tapi harapannya baru terkabul satu jam kemudian.
"Megan, tanya pak Rius apa aku boleh ke makam ayahku," ucap Kayesa sambil berbaring lemas di kasur.
Megan tak menjawab tapi tangannya sibuk menekan-nekan layar ponselnya. 5 menit kemudian ia baru menjawab.
"Katanya boleh. Selama saya mendampingi." Megan berkata dengan santai.
Kayesa bangun dari posisi berbaringnya. "Aku ganti baju dulu. Antar aku ke makam. Aku stress dan kepalaku ingin meledak."
Megan menjawab "ya" dengan singkat saja lalu ia keluar kamar, memberi privasi pada Kayesa untuk berganti pakaian.
***
Kayesa sedang berada di mobil dalam perjalanan ke makam ketika Antara sedang berdiri di tengah-tengah pintu ruang rawat mamanya.
Rahangnya terlihat mengeras dan tangannya terkepal. Ia sudah menunda beberapa jam sampai emosinya menurun hingga akhirnya ia berdiri di sini.
"Antara. Kamu datang, Sayang? Kenapa tidak menelepon Mama dulu." Perempuan itu menyambutnya dengan bibir pucatnya yang mencoba untuk tetap tersenyum ke arah putra kesayangannya.
Antara berjalan mendekati mamanya dengan kata-kata di kepala yang siap keluar dari mulutnya. Ia mencoba menahan tapi akhirnya terluap juga kata-kata itu.
"Sekitar 7 tahun lalu, Mama pernah datang ke rumah Kayesa? Mama meludah dengan arogan lalu merendahkan mereka? Bahkan yang terparah mengancam mereka?" Antara memulai pembicaraan ini dengan suaranya yang bergetar.
Ekspresi sumringah mamanya karena ditengok langsung berubah menjadi ekspresi muram. Perempuan tua yang sedang sekarat itu menunduk.
"Jawab Ma! Mama pernah mengancam mencabut beasiswa Kayesa dengan memanfaatkan posisi Mama sebagai donatur yayasan? Lalu Mama juga mengancam akan membuat ayah Kayesa kehilangan pekerjaan di bank?
Apa lagi Ma? Mama memaksa Kayesa agar menjauh dariku dan memutuskan hubungan kita? Jawab, Ma! Aku aku butuh kejujuran! Aku butuh pengakuan Mama langsung!"
Tidak ada jawaban. Nyonya Sania menangis di hadapan putranya.
"Maafkan Mama..."
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments