17. Rencana Balasan

Kalau ini cerita dalam dongeng, maka Kayesa adalah tuan putrinya dan Antara adalah pangeran yang siap mengulurkan tangannya dengan gentlemen dan mengajaknya berdansa romantis.

Tapi tentu ini bukan kisah dongeng. Ini kisah dalam dunia nyata Kayesa yang rumit.

Beberapa detik berlalu dan mereka saling bertatapan. Terutama Antara. Mata pemuda tampan itu tak lepas-lepas menatap kecantikan Kayesa.

Kayesa adalah gadis sederhana yang paling cantik yang pernah ia temui di awal masa remajanya. Saat mereka SMA, ketika para gadis lain sibuk belajar merias diri, memakai aksesoris ini itu untuk menunjang penampilannya; maka Kayesa tampil dengan sederhana. Ia tampak biasa saja tapi itulah yang memikat Antara.

Bahkan kini penampilan sederhana itu musnah dari dalam diri Kayesa yang baru. Kayesa tampil dengan modis, berkelas, dan elegan.

Tak sia-sia juga rupanya Rivanes dan Elle bekerja keras seharian ini untuk merombak penampilannya.

"Nona Kayesa, saya salah info. Pak Rius baru akan sampai beberapa menit lagi. Sekarang naiklah kembali ke kamar. Tunggulah di dalam kamar saja," ucap Megan sambil melirik sinis ke arah Antara.

Dan Kayesa tak membantah. Ia berbalik badan dan naik kembali menyusuri tangga itu tanpa menoleh ke arah Antara yang tak lepas-lepas masih terus memandangnya hingga punggungnya hilang dari pandangan.

***

Dimanakah Rius? Dia sedang merapikan dasinya yang tadi berantakan lagi. Perempuan penggoda yang mirip Kayesa ini ternyata lama-lama jadi agresif juga.

Bahkan di dalam mobil ini, perempuan itu masih saja berusaha merayunya. Rius agak kewalahan tapi ia menahan. Ia tahu ia punya rencana penting malam ini dan ia tidak ingin mengacaukannya demi perempuan ini.

Toh besok-besok ia bisa bilang Dandy lagi agar menghubunginya untuk menemaninya.

"Kenapa aku nggak boleh ikut ke pesta?" ucap perempuan itu sambil memegangi lengan Rius dengan manja.

"Tidak bisa. Ini acara penting. Kamu itu cuma gadis bayaranku saja, Sayang. Aku akan datang bersama istriku ke pesta. Pulanglah. Nikmati uang bayaranku untuk bersenang-senang," ucap Rius dengan dingin.

Lalu wajah manja gadis itu berubah menjadi sedih. Bagaimanapun, kata-kata Reus agak keterlaluan juga.

Gadis itu langsung duduk menjauh dan punggungnya tegak menatap ke depan. Sampai akhirnya ketika Rius turun di depan rumah megahnya dan sopir itu mengantarnya pulang, gadis itu baru berani mengusap air matanya.

Oke. Ia memang gadis bayaran. Tapi tetap saja rasanya menyakitkan ketika ada orang yang mengatainya serendah itu secara terang-terangan di depan mukanya.

"Pak, saya turun di Hotel Reksa depan sana saja, ya. Saya naik taksi saja pulangnya," ucap gadis itu.

Sopir Rius mengangguk.

***

"Kayesa mana?" tanya Rius dari bawah tangga.

Megan muncul lalu mengangguk dan memanggil Kayesa dari kamarnya.

Antara yang tadinya berada di teras samping lalu masuk ke dalam rumah. Rupanya ia belum berangkat. Ia sengaja mencuri momen ini untuk membuat papanya sebal.

Rius melirik ke arah putranya. Firasatnya sudah buruk. Anak ini pasti akan main-main dengannya lagi dan mengganggunya.

"Kenapa belum berangkat? Katanya mau datang ke pesta?" tanya Rius berbasa-basi

"Mobilku tidak menyala mesinnya. Sepertinya besok harus kupanggil orang bengkel untuk mengecek. Jadi aku ingin menumpang mobil Papa saja," ucap Antara sambil berkacak pinggang. Matanya tak lepas-lepas menatap ke ujung tangga. Ia ingin melihat sekali lagi keanggunan Kayesa yang berjalan turun bagaikan Tuan Putri.

Rius tertawa. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gemas sekaligus kesal.

"Mobil Papa banyak terparkir di garasi. Kamu tinggal pilih dan tinggal tunjuk. Mau pakai sopir juga tinggal pilih. Ada tiga sopir menganggur di rumah ini. Jangan cari-cari alasan dan jangan membuat Papa marah, Antara.

Papa tidak ingin mencari gara-gara. Malam ini sangat penting untuk Papa. Wartawan menunggu dan tamu-tamu penting sudah menanti. Sana pergi dengan mobilmu sendiri!" ucap Rius dengan sebal.

Tapi Antara rupanya mengabaikan begitu saja ucapan papanya. Matanya justru sibuk menatap Kayesa yang turun melangkahi anak tangga itu satu per satu dengan anggun.

Rius lalu memalingkan wajahnya dan menatap istri mudanya itu. Senyum cerah tersungging di wajahnya. Rivanes dan Elle mengikuti langkah Kayesa di belakang.

"Kerja bagus, kalian! Kalau hasilnya memuaskan malam ini, aku kirim bonus," ucap Rius lalu ia berjalan maju dan mengulurkan tangannya ke arah Kayesa.

Kayesa tersenyum ke arah Rius. Senyum yang sangat manis. Senyum yang bahkan sangat jarang ia berikan pada sembarang orang. Tapi ia harus melakukannya karena Elle telah menginstruksikan padanya.

Anggap saja pemanasan. Karena di sepanjang pesta nanti ia akan menatap suaminya dengan tatapan mesra sepanjang malam sampai mereka pulang.

Kayesa berusaha untuk mengabaikan Antara. Walaupun sejujurnya Antara membuatnya tidak fokus. Kehadiran Antara hanya akan menjadi gangguan untuknya. Ia harus berakting lebih dari bintang film manapun.

Aktingnya akan berlangsung panjang untuk meyakinan siapapun itu yang akan Rius kenalkan padanya nanti. Kayesa pikir kalau Antara tidak ada, Kayesa akan lebih leluasa memalsukan dirinya

Rius melirik penuh kemenangan ke arah Antara. Kayesa yang cantik sudah ada di gandengannya. Mereka berjalan berdampingan menuju ke arah mobil yang sudah siap di depan.

Tapi bukan Antara namanya kalau ia tidak berlaku menyebalkan dan mengganggu kesenangan papanya.

Ketika papanya dan Kayesa sudah duduk dan siap di jok belakang, Antara menyerobot masuk dan duduk di jok depan-tepat di samping sopir.

"Berandal! Anak kurang ajar! Keluar dari mobil Papa!" ucap Rius yang emosinya langsung naik ke ujung kepala.

"Sudahlah, Pa. Toh kita juga satu tujuan. Hematlah energi. Biar sopir Papa yang lain juga bisa istirahat. Aku menumpang saja di sini. Aku tidak mau turun. Kalau Papa mau, Papa saja yang turun," ucap Antara lalu ia memasang sabuk pengamannya dengan santai.

Sang sopir melirik ke arah bosnya. Ia menunggu instruksi. Rius tentu tak ingin buang-buang waktu dan energi untuk berdebat. Ia membiarkan saja putranya itu ikut satu mobil dengannya.

Mobil pun melaju menuju ke tempat pesta itu berlangsung.

***

Selain ingin mengawal Kayesa dan memastikan gadis itu baik-baik saja, kehadiran Antara di mobil ini juga ia sengajakan untuk membuat gerakan papanya sedikit tersendat.

Kalau papanya ingin mengancam Kayasa atau menyuruhnya macam-macam, maka ia tidak bisa karena ada Antara.

Di tengah perjalanan, Dandy menelepon papanya. Antara menguping.

"Timothi sudah siap, Pak." Suara Dandy terdengar begitu jelas hingga Antara yang duduk di jok depan ikut mendengar sekilas.

"Ya sudah. Pastikan semua lancar." Lalu Rius menutup telepon. Ia tidak ingin berbincang terlalu banyak dengan Dandy soal Timothi karena kalau Antara mendengar, bisa kacau semuanya.

Antara melamun di sepanjang perjalanan itu. Timothi? Kenapa Dandy menyebut-nyebut nama Timothi?

Perasaan kemarin lelaki itu menghadap pada mamanya. Antara pun menyaksikan sendiri Timothi bilang ia berhasil memata-matai soal pesta dan meyakinkan mamanya untuk ikut datang walau tak diundang.

Apa maksud Dandy? Timothi sudah siap? Atau mungkin mamanya sudah sampai duluan dan Timothi pengawalnya, lalu Dandy melapor? Antara mencoba berpikiran positif.

Ia tak tahu saja. Timothi sudah berhasil papanya hasut untuk berpindah kubu. Dan rencana besar untuk pesta sedang dibuat.

Rencana balasan ...

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!