Kayesa menatap Elle dan Rivanes yang mengobrol dengan akrab sambil menikmati minuman di taman rumah megah ini.
Rupanya mereka sebelumnya sudah saling kenal. Kayesa lalu membuang muka. Dua orang itu begitu menyulitkannya dua hari terakhir ini.
Sekarang hari sudah sore dan kelas untuk mempersiapkannya ke pesta sedang rehat.
Kayesa duduk di pinggir kolam. Ini membuat pikirannya sedikit rileks. Elle dan Rivanes mungkin juga butuh jeda mengajarnya. Pelayan rumah menjamunya dan mereka asyik sendiri tanpa mempedulikannya.
Kayesa menatap sekitar lagi. Alisnya mengernyit begitu menyadari Megan yang tadinya duduk di dekat pot itu kini tampak menghilang. Mungkin ia sedang ke toilet atau sedang mandi? Atau entahlah kemana.
Megan membuatnya risih. Dan jika wanita berekspresi datar itu tidak mengawasinya, tentu Kayesa senang.
Kayesa lalu menatap danau lagi. Ia tidak tahu kalau di atas balkon sana Antara sedang mengawasinya. Antara sudah memberi kode dengan berbagai macam gerakan tapi rupanya Kayesa tidak melihatnya.
Antara tak kehilangan akal. Ia beralih masuk kamar untuk mencari kertas dan pena. Antara ingin Kayesa tahu kalau ia masih di sana. Masih dengan keputusan yang sama. Yaitu untuk menolongnya keluar dari situasi ini.
[ "Kay, mata-mata Mama bilang ponselmu disadap. Jadi aku tidak berani menghubungimu demi keamanan kita semua. Cobalah pakai ponsel lamamu dengan nomor lama untuk menghubungiku. Ini nomorku.
Aku cuma ingin kamu tahu kalau aku akan datang nanti malam ke pesta. Mama juga akan datang. Mama minta maaf padamu soal kejadian 7 tahun lalu. Dia bilang dia ingin menebusnya.
Kalau nanti malam kamu menjadi badut di pesta itu karena papa, Mama akan datang merangkulmu dan membela. Kalau kalian terlihat akur maka pandangan orang-orang berubah. Kamu tidak akan dianggap menggeser posisinya sebagai istri pertama.
Mama akan berakting seolah ia tahu pernikahan kedua papa dan ia setuju dengan itu. Tenanglah, aku akan ada." ]
Lalu surat yang ia tulis dengan buru-buru itu ia remas hingga menjadi bulatan kecil. Antara melihat Elle dan Rivanes sibuk di sisi seberang. Ia menunggu waktu yang tepat.
Lalu dengan penuh keyakinan, dilemparnya remasan kertas itu ke arah Kayasa.
Pluk!
Kayesa merasakan ada sesuatu yang jatuh di atas kepalanya tadi. Ia melihat sekitar dan menemukan remasan kertas itu jatuh di atas rumput.
Kayesa memungutnya diam-diam lalu ia menoleh ke belakang. Matanya langsung terkejut melihat Antara yang melambaikan tangan ke arahnya dari balkon lantai dua.
Kayesa ingin tersenyum dan membalas lambaian tangan itu tapi Megan rupanya sudah kembali ke posisinya semula. Ia jadi mengurungkan niatnya dan melihat ke arah kolam lagi dengan jantung berdebar-debar.
Kayesa berharap Megan tidak menangkap basah kelakuan Antara.
Kayesa terdiam seperti patung beberapa menit, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk melihat ke belakang. Dilihatnya Antara sudah tidak ada di balkon dan Megan sibuk dengan ponselnya.
"Baguslah." Kayesa menggumam lega.
Kini tangan Kayesa membuka kertas itu dengan hati-hati dan membacanya.
Sungguh, hatinya tersentuh juga. Nyonya Sania minta maaf dan ingin menebus salahnya? Air matanya tak terasa menetes. Kayesa mengusapnya dengan cepat. Elle akan mengomelinya kalau tahu ia habis menangis.
Kayesa meremas kembali kertas itu tapi ia tidak ingin membuangnya. Surat dari Antara terasa begitu berharga.
Ia lalu melihat sepatu hak tingginya yang ia pakai untuk latihan berjalan itu. Kayesa melepasnya dan meletakkan gulungan kertas itu di dalam, lalu menginjaknya. Setidaknya hingga kamar nanti, kertas ini akan aman.
Kayesa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia tahu ia harus berdamai dengan keadaan. Semakin ia melawan, posisinya akan semakin sulit.
Maka ia bertekad akan melakukan apapun untuk membuat Rius puas dan senang. Agar setelahnya jalannya mudah. Lalu tinggal menunggu waktu saja.
Setelah tuntunan cerai dari istri pertama Rius disahkan pengadilan dan dia mendapatkan harta-harta dan juga aset yang ia mau, maka Kayesa bisa bebas.
Perceraian kedua bisa diurus setelahnya. Ya, negara ini melegalkan pria menikahi lebih dari satu wanita. Posisi hukum pernikahan dipandang cukup kuat. Makanya peralihan harta perusahaan Rius menjadi nama Kayesa itu sah-sah saja di mata hukum, karena mereka suami istri.
"Kayesa, kamu lulusan sekolah bisnis. Kamu tentu tahu banyak hal picik bisa dilakukan untuk mengakali aturan, termasuk aku menikahimu begini untuk menjadi pengalih asetku.
Kamu tahu kan pengusaha besar yang tahun lalu bercerai dan menghebohkan publik itu? Menurutmu mereka sungguh bercerai? Aku yakin kamu cukup cerdas untuk menyimpulkan mereka cerai karena bangkrut.
Harta yang tersisa dibawa sang istri agar nanti jika si lelaki dituntut ganti rugi dan bayar denda, ia tak punya uang. Lalu harta mereka yang tersisa selamat dibawa sang istri yang minta cerai itu.
Hei, aku kenal mereka. Mereka berdua masih hidup bahagia kok sampai sekarang. Itu cuma cerai pura-pura. Buka matamu. Ini hal biasa."
Itulah yang Rius katakan ketika ia menandatangani berkas persetujuan kemarin.
Ya, Kayesa cukup cerdas untuk tahu kalau di kalangan atas begini, hal-hal paling mustahil pun bisa terjadi. Pernikahan karena bisnis contohnya.
Pun ada juga pernikahan yang bertahan demi bisnis. Pasangan suami istri yang sudah tidak saling mencintai. Mereka punya pasangan masing-masing lagi tapi tak cerai. Secara hukum dan di depan publik mereka tetap menjadi suami istri dan berakting harmonis. Tentu saja mereka melakukannya karena kalau mereka cerai, membagi hartanya akan rumit.
Tapi Nyonya Sania sepertinya tidak mau begitu. Rius sudah menawarinya untuk berbuat bebas juga. Rius dengan kelakuannya yang semaunya sendiri, main perempuan sana sini, dan menjalankan bisnis dengan cara-cara kotor yang tidak disukai Sania. Ia ingin Sania juga berbuat semaunya asal mereka tak cerai.
Nyonya Sania menolak. Ia dibesarkan dengan keyakinan bahwa pernikahan itu hal sakral. Bukan hal yang bisa dibuat main-main begini.
Ia mantap minta cerai dan meminta Rius mengembalikan semua uang modal mereka dulu yang kini sudah menjadi saham di perusahaan MN Group.
Rius mencak-mencak tak rerima. Ia yang merasa membesarkan perusahaannya hingga sukses begini. Ia merasa istrinya tidak berhak atas itu.
Makanya ketika tiba-tiba Kayesa muncul di depan matanya, hatinya terpikat. Bukan hanya karena Kayesa cantik. Tapi gadis itu juga dalam posisi terhimpit. Rius merasa ia bisa mempereratnya. Lalu akhirnya beginilah takdir ini tersambung dengan rumit.
***
Kayesa sudah berganti pakaian. Gaun cantik rancangam Rivanes membungkus tubuhnya dengan sempurna. Riasan tipis di wajahnya membuatnya terlihat menonjol karena mempertahankan kenaturalannya.
Lalu tatanan rambut yang sederhana tapi berkelas itu makin menyempurnakan penampilannya. Rivanes menyemprotkan parfum mahal sebagai sentuhan akhirnya dan Kayesa memejamkan mata.
Semakin detik jam itu menuju ke angka 8, dadq Kayesa makin berdebar-debar.
Megan berdiri di dekat pintu seperti biasa dan Elle yang sikapnya sama dinginnya sepertinya tampak tertarik mengobrol dengannya.
Cocok jadi teman. Dua-duanya sama-sama seperti robot. Yang satu diprogram untuk selalu bersikap dingin. Dan yang satunya doorogram untuk galak seperti monster.
"Turunlah. Sebentar lagi pak Rius akan datang." Megan berkata pada Kayesa yang sudah siap itu.
Kayesa berdiri lalu berjalan dengan anggun seperti yang diajarkan Elle tadi.
Elle berkacak pinggang dan menatap Kayesa yang ia anggap seperti hasil karyanya itu dengan puas. Rivanes pun sama. Ia tahu tangannya seperti berkekuatan magis. Apapun yang ia sentuh akan menjadi sempurna. Termasuk Kayesa.
Kayesa berjalan menuruni tangga. Tapi di bawah anak tangga itu bukan Rius Madali yang ia lihat. Ternyata justru Antara yang berdiri di sana.
Antara berdiri dengan gagah dengan wajah tampannya. Tuxedo hitam yang membuatnya makin terlihat menawan.
Kayesa yang sudah mengangkat dagunya dengan percaya diri itu mendadak berhenti di tengah anak tangga. Tatapan Antara membuatnya tidak fokus.
Kenapa ia begitu tampan?
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments