Dandy tanpa mengobrol lagi dengan anak buahnya. Tapi kali ini suaranya lebih pelan. Antara jadi sulit menangkap percakapan itu dari tempat persembunyiannya.
"Sudah. Nanti akan makin parah kondisinya. Ya paling tidak besok lah selambat-lambatnya. Tidak diapa-apakan saja juga penyakitnya sudah parah. Ayo pergi!" Suara Dandy terdengar jelas lagi.
Antara masih berjongkok dan menguping. Ia rasa itu posisi paling aman untuk memata-matai mereka.
"Saya takut, Boss." Pria satunya yang Antara duga adalah anak buah Dandy terdengar takut.
"Halah. Rumah sakit ini milik pak Rius. Nggak akan ada yang curiga. CCTV bangsal dan kamar sudah dimatikan. Makannya ayo cepat pergi!" Dandy terdengar kesal.
Antara menahan napasnya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara dua langkah kaki pergi menjauh.
Mata Antara terpejam. Oke. Ia tahu Dandy berbuat sesuatu di kamar 34C, alias kamar ayah Kayesa. Haruskah ia segera mengecek? Atau ia ikuti Dandy dan anak buahnya dulu untuk menguping lagi rencana mereka?
Antara di ambang kebingungan. Ia berusaha berpikir cepat menentukan pilihan. Tapi ia takut kehilangan jejak. Ia segera berdiri lalu berjalan mengendap-endap mengikuti Dandy.
Antara akhirnya melihat Dandy berjalan hendak masuk mobil. Anak buahnya yang tampaknya menyopirinya sudah di belakang kemudi. Dandy mengurungkan niatnya untuk masuk mobil karena tiba-tiba ponselnya menyala. Ia lebih memilih mengangkat telepon dulu di luar mobil.
Antara merasa ini kesempatan bagus untuk menguping lagi. Ia lalu melihat sekitar untuk mencari titik persembunyian terdekat agar lebih jelas menguping percakapan Dandy.
"Sial! Jaraknya terlalu jauh!" Antara mengumpat sendirian. Ia bersembunyi di balik dinding sedangkan Dandy berada jauh di depan sana.
Antara memperhitungkan resiko. Kalau ia berjalan ke sisi seberang, Dandy yang sibuk menerima telepon mungkin tak akan melihatnya, tapi anak buahnya yang sudah berada di dalam mobil pasti akan melihatnya dan langsung mengenalinya.
Di antara kebingungannya itu, akhirnya potensi Antara untuk terus memata-matai sirna sudah. Dandy menyelesaikan panggilannya dan ia masuk mobil dengan segera.
Mobil hitam berkaca gelap itu akhirnya meninggalkan area parkir rumah sakit. Antara muncul dari tempat persembunyiannya.
"Sial!" umpatnya sambil berkacak pinggang dan mendecakkan mulutnya dengan sebal.
Ia hanya berhasil menguping soal Dandy yang melakukan sesuatu di kamar rawat ayah Kayesa. Entah apa yang dia lakukan untuk mencelakai pria itu.
Tunggu! Tunggu!
Kata-kata Dandy barusan...
Poin-poin percakapan itu seolah tiba-tiba baru tersambung di kepala Antara.
Tadi dia bilang paling lambat besok? Pak Rius ingin menyingkirkannya? Tidak diapa-apakan pun dia akan meninggal karena sakitnya parah?
Antara ingin memukul kepalanya sendiri. Ini terlalu jelas!
Arah pembicaraan ini bermuara pada satu hal. Ya, ayah Kayesa akan dibunuh papanya!
Antara langsung pucat. Kenapa ia baru menyadari sekarang?
Tadi ia begitu terlena untuk membututi Dandy. Seharusnya ia tidak usah ke sini dan langsung ke kamar 34 C saja untuk mengecek keadaan atau mungkin memanggil dokter dan suster yang lebih paham kondisinya.
Bagai orang kesetanan, Antara langsung berlari menuju kamar 34 C. Jantungnya berdegup cepat seiring dengan langkah kakinya yang lebar-lebar berlari menyusuri lorong rumah sakit itu.
Namun sepertinya ia terlambat.
Ketika ia sampai di depan kamar itu, para tim medis sudah datang berlarian dan sebagian sudah ada di dalam ruangan.
"Apa yang terjadi, Sus?" Antara dengan dahi berkeringat dan bibir pucatnya menarik tangan salah satu perawat yang hendak masuk ke dalam ruangan itu.
"Alarm darurat berbunyi. Kami cek segera. Pasien tiba-tiba mengalami gejala akut dan kondisinya makin parah dalam hitungan menit," ucapnya lalu ia berlari masuk ke dalam.
Antara hanya bisa berdiri dengan wajah pasrah di antara paramedis yang melakukan tindakan.
Di depan pintu ruang rawat itu ia merasa tolol dan bodoh. Seharusnya ia lebih cepat mengecek dan memanggil dokter atau suster. Eh, ia malah mengikuti Dendy ke tempat parkir. Antara merasa ia salah fatal dalam mengambil keputusan tadi.
Ranselnya masih di pundak. Antara mau mengusap dahinya yang makin berkeringat hingga akhirnya paramedis itu keluar satu persatu dari ruangan dengan muka tertekuk.
"Ada apa, Dok?" Antara tak bisa menahan diri lagi. Pria berjubah putih yang ia duga adalah dokter itu ya cegat langkahnya dengan nafas memburu.
"Pasien di kamar 34 C meninggal baru saja. Oh ya, Anda siapa?" tanya dokter itu.
Antara merasa jantungnya terhenti beberapa detik lalu dia hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Tidak mungkin kan ia mengaku kalau ia keluarga pasien?
Dokter itu lalu mengabaikannya dan kemudian memanggil perawat sambil berjalan entah ke mana. Tapi samar-samar Antara bisa mendengar percakapan mereka.
"Kabari keluarga pasien ya, Sus. Catat jam kematiannya. Pukul 21.35 Pak Hari Samsir dinyatakan meninggal karena gejala akut tiba-tiba. Kosongkan juga jadwal operasi beliau yang dibatalkan besok agar bisa diisi pasien lain."
Antara langsung duduk dengan lemas di kursi tunggu. Di titik ini ia menyadari, papanya yang ia benci karena melukai hati mamanya dan menjalankan perusahaan dengan cara-cara kotor itu ternyata lebih parah lagi kelakuannya.
Antara mungkin mewarisi nama Madali di belakang namanya, tapi dia tidak mewarisi sifat Rius Madali yang bengis tak punya hati macam ini.
"Dasar lelaki iblis!" Antara mendesis marah dengan tangan terkepal seolah ingin meninju sesuatu untuk melampiaskan amarahnya.
Ia tahu papanya sangat berkuasa dan sering melakukan cara-cara culas untuk bisnisnya. Tapi ini hal lain.
Antara tahu papanya dan Kayesa membuat perjanjian nikah kontrak dengan imbalan ayah Kayesa ia tanggung semua biaya operasi dan pengobatannya. Tapi mungkin karena papanya tidak mau repot, pria itu malah disingkirkan.
Entah dengan cara apa Dandy dan anak buahnya melakukannya. Mungkin dengan memasukkan obat mematikan tertentu, atau mungkin melepas alat yang penting untuk menunjang kesehatan ayah Kayesa. Entahlah, Antara tak bisa membayangkan cara sekeji itu untuk membunuh orang.
Antara merasa buntu. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipi.
Antara merasa bodoh. Malam ini sikapnya mungkin terlalu berlebihan saking marahnya ia pada papanya. Dan pengendalian dirinya yang buruk membuat mulutnya berkata sembarangan dan membuat hati Kayesa terluka akan kata-katanya.
Kayesa pasti marah padanya karena ia tidak sengaja bilang kalau ia wanita murahan yang menjual diri pada papanya.
Antara lalu berdiri dan berjalan dengan gontai menuju ruang rawat mamanya. Ya, mamanya dirawat tepat di lantai bawah bangsal ini.
Antara mengusap air matanya. Ia berusaha tegar dan menerima kalau papanya memang lebih buruk dari yang ia kira. Pria itu jahat seperti iblis yang tak punya hati. Di kepalanya hanya ada harta dan kuasa saja, hingga keluarganya bahkan istri dan anaknya sendiri ia abaikan demi memenuhi ambisinya.
Antara masuk ke dalam lift dengan amarah dan dendam yang ia pendam. Di antara semua kejadian ini, bukankah selain mamanya ada Kayesa juga yang menjadi korban?
Kayesa diperalat, ayahnya dibunuh, lalu apa lagi nanti?
Ingin rasanya ia lari pulang ke rumah itu untuk menemui Kayesa lalu mengguncang pundaknya agar gadis itu sadar kalau jalan yang ia pilih salah besar.
Tapi bagaimanapun Kayesa sudah menandatangani sesuatu yang mengikatnya. Antara paham betul kalau papanya sangat licik. Kayesa tidak akan bisa membatalkan semua ini.
"Bagaimana mungkin aku menemuinya? Dia pasti masih sangat marah padaku karena kata-kataku tadi. Apalagi setelah ia dikabari kalau ayahnya meninggal. Kayesa akan jijik melihatku," ucap Antara dalam hati.
Antara masuk ke dalam ruang rawat mamanya. Mamanya terlihat sedang duduk dengan seorang perawat menyisir rambutnya.
"Antara," panggil Sania senang.
Terakhir kali Antara meninggalkan ruang rawatnya ini, ia tampak marah. Tentu melihat anak itu datang, Sania senang sekaligus lega. Putra satu-satunya itu kembali menengoknya.
Antara langsung berjalan ke arah mamanya dan memeluk perempuan itu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hatinya membatu, lelaki itu menangis. Bukan karena ia lemah. Bukan. Ia hanya merasa bersalah karena telah kalah dan terlambat untuk menolong Kayesa.
"Kenapa, Sayang?" tanya Sania yang kebingungan sambil mengelus punggung putranya itu.
Suster yang tadinya mendampinginya dan menyisir rambutnya langsung menyingkir keluar. Ia tahu mereka butuh privasi.
"Papa jahat, Ma. Dia membunuh ayah Kayesa. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, tapi aku tidak bisa membuktikan semuanya. Kayesa hancur, Ma! Ia terlalu polos. Ia diperalat papa. Kita harus menyelamatkannya!" Antara berkata dengan penuh emosional.
Sania hanya menggeleng lemah. Bibirnya masih sepucat biasanya.
"Sulit, Nak. Papamu licik."
***
Esok harinya.
Ayah Kayesa dimakamkan dengan prosedur pemakaman sederhana. Tanpa dipulangkan ke rumah lebih dulu, ia langsung dibawa dari rumah sakit menuju pemakaman.
Lagi pula rumah kontrakan yang ditempatinya bersama Kayesa itu berada di gang sempit. Terlalu sulit akses ambulance menuju ke sana.
Tampak hanya ada beberapa pelayat yang datang. Maklum, Kayesa sudah tidak punya keluarga dekat. Ayahnya hidup sebatang kara dan setelah mamanya meninggal saat melahirkannya, keluarga besarnya menjauh dan menganggapnya seolah tak ada.
Rius Madali memakai kacamata hitamnya. Ia berdiri untuk formalitas saja di situ.
Kayesa bersimpuh di gundukan makam itu dengan air mata masih bercucuran. Gaun hitamnya tampak kotor terkena tanah tapi ia tak peduli.
"Pulanglah kalau sudah lelah menangis. Saya masih ada urusan di kantor. Saya akan suruh sopir untuk menunggu kamu di mobil. Jangan terlalu lama bersedih. Fokus aja sekarang pada rencana kita. Ingat, kamu sudah tanda tangan kontrak," ucap Rius dengan nada datarnya.
Tak ada sedikitpun nada empati terdengar dari mulut culasnya.
Rius lalu berbalik badan dan pergi diikuti anak buahnya, yang salah satu di antara mereka adalah Dandy.
Kayesa pura-pura tuli. Ia tidak ingin mendengar satu patah kata pun kata-kata tidak mengenakkan itu dari mulut Rius. Ia hanya ingin menangisi kepergian ayahnya dengan segala kenangan manis semasa hidupnya dulu.
Sedangkan di dalam mobilnya, Antara tampak mengawasi papanya pergi hingga rahang yang mengeras. Lalu setelah memastikan mobil papanya sudah jauh, ia baru turun dari mobil.
Langkah kakinya terasa berat tapi ia tahu ia harus menemui Kayesa. Dilihatnya gadis itu masih bersimpuh sambil memegangi nisan ayahnya yang bertaburan bunga.
"Kay...," panggil Antara dengan lirih.
Kayesa menoleh. Matanya terlihat bengkak dan basah.
"Ngapain kamu ke sini? Pergi sana! Aku tidak ingin bicara dengan siapapun, terlebih dirimu," ucap Kayesa singkat lalu ia membuang muka.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments