Kayesa mengusap air matanya sambil berpura-pura menelan makanannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain melanjutkan makan dan pura-pura tak terjadi apa-apa.
Rius mendengar Kayesa menangis tapi seolah ia tak peduli. Ia terus makan. Lelaki berhati batu itu rupanya memang menganggap Kayesa boneka pajangan saja.
"Tidak usah cengeng. Kamu sudah tanda tangan. Antara memang begitu orangnya. Mulutnya pedas. Istirahatlah di kamar. Ayahmu akan dioperasi besok. Anak buahku akan mengantarmu ke rumah sakit besok.
Yang terpenting dari semua ini adalah ayahmu, kan? Anggap saja ini pemanasan. Ke depannya akan lebih sulit lagi keadaannya. Antara itu kepala batu. Ia akan tinggal di sini dan mengganggu kita. Biarkan saja sampai ia menyerah dan pergi sendiri."
Rius meletakkan garpunya dan mengambil minum. Para pelayan rumah mulai kembali melayaninya di meja makan.
Sebagian dari pelayan itu malah sudah ada yang bergerak gesit membereskan kekacauan dari pecahan kaca yang diakibatkan dari amukan Rius.
Baik para pelayan itu maupun Rius bersikap biasa-biasa saja seolah hal itu hal yang lumrah terjadi di rumah ini.
Kayesa hanya bisa memundurkan kursinya perlahan lalu berdiri. Ya, tanpa kata-kata ia bersiap hendak meninggalkan meja makan.
Tapi ternyata ketika ia baru berjalan beberapa langkah, Rius memanggilnya.
"Kenapa diam saja? Tidak punya mulut?" Rius yang mungkin masih emosi kembali berkata kasar.
Kayesa berbalik badan dan menatap Rius dengan nanar. Nafasnya naik turun dengan cepat, tanda kalau ia sedang merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Ya, sesuatu itu adalah amarah yang tertahan.
"Ya. Apa saya harus mengucapkan terima kasih? Bukannya kita impas. Anda bantu ayah saya lalu saya turuti kemauan Anda untuk mengalihkan aset?" Kayesa yang perasaannya tak karuan mendadak menggunakan bahasa formal. Seolah memberi jarak di antara mereka.
Rius Madali meletakkan gelasnya di meja makan dengan gerakan yang kasar.
"Kenapa sikapmu berubah? Kamu harus membiasakan diri bersikap manis di depanku. Hanya menunggu waktu saja, cepat atau lambat kamu akan kukenalkan kepada semua orang sebagai istriku.
Jangan munafik. Kita semua punya kepentingan di sini. Apa kamu terpengaruh dengan ucapan Antara barusan? Sudah kubilang, kan. Jangan hiraukan dia!" Rius mulai bicara dengan nada melunak tapi matanya tetap menatap tajam ke arah Kayesa.
Sungguh Kayesa merasa perlu lari untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak tahan lagi menghadapi situasi ini. Ia ingin segera kabur tanpa memperdulikan kata-kata Rius. Tapi ketika ia berbalik badan lagi matanya bertemu dengan mata Antara.
Antara tampak sedang berjalan membawa ransel. Untuk mencapai area pintu utama memang harus melewati area meja makan ini.
Mata Antara menatap mata Kayesa dengan tajam. Dalam hati Antara sebenarnya ia merasa iba, bingung, sekaligus bimbang dengan perasaannya sendiri.
Antara tahu Kayesa terpaksa melakukan semua ini karena demi pengobatan ayahnya. Tapi di sisi lain ada rasa jijik dan benci. Kayesa yang muda, cerdas, dan potensial harusnya menempuh jalan instan ini dan menikahi pria yang usianya 20 tahun lebih di atasnya. Dan pria itu adalah ayah kandungnya sendiri.
Antara merasa cemburu, marah, sekaligus bingung. Tapi ekspresi dan sikap yang ia tunjukkan malah terkesan ia kalau ia benci dan merendahkan Kayesa. Padahal maksudnya bukan begitu.
Mata Kayesa berbalik menatap mata Antara. Kali ini ia mengangkat wajahnya dan tak menunduk lagi seperti tadi. Biar! Ia sudah membuang jauh-jauh rasa malunya itu. Antara juga sudah menghinanya tanpa mencoba mengerti keadaan yang ia hadapi.
Kini mata Kayesa yang habis menangis itu membuang muka.
Sedangkan Rius yang duduk di meja makan itu tampak melirik sinis sambil mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya ke meja. Ia mengamati pemandangan di depannya seolah itu tontonan.
Gadis muda yang kini menjadi istrinya dan putranya satu-satunya yang usianya mungkin sebaya dengannya sedang bersitegang. Rius tentu tak tahu hal ini akan terjadi. Mana ia menyangka Antara tiba-tiba pulang lagi ke rumah lalu membuat rusuh begini.
Ah, andai Rius tahu istri dan putranya pernah menjalin hubungan. Entah apa responnya.
"Kamu mau ke mana? Nggak tahan kan tinggal di rumah ini lagi? Mau pergi kembali ke mamamu? Silakan! Papa justru senang kamu pergi tanpa Papa repot mengusir," ucap Rius lalu ia tertawa.
Antara yang tadinya menatap tajam mata Kayesa langsung mengalihkan perhatiannya menatap ayahnya yang beberapa menit yang lalu terlibat perdebatan yang sengit dengannya itu.
"Aku cuma mau pergi keluar. Nanti aku pulang lagi ke sini. Jangan pernah keluar kata-kata mengusir lagi dari mulut Papa yang lancang itu! Sudah kubilang kan ini rumah kakekku.
Rumah ini peninggalan beliau untuk aku dan mama. Ingat, aku cucunya! Derajatku lebih tinggi! Papa cuma menantunya! Tak berhak Papa sok berkuasa begitu. Apalagi gadis ini! Gadis murahan yang menjual dirinya demi..."
"CUKUP!" Kayesa memotong perkataan Antara lalu berlari menuju tangga. Air matanya jelas bercucuran.
Entah apa yang terjadi dengan anak dan ayah itu di lantai bawah sana. Kayesa tak peduli. Mau mereka saling lempar atau saling pukul pun ia tak ingin tahu. Sudah cukup beban mentalnya ini ia tenangkan sendiri.
Dengan napas masih ngos-ngosan, Kayesa mengunci pintu kamarnya lalu ia terduduk di lantai. Ia menjatuhkan dirinya begitu saja dengan air mata yang makin deras bercucuran.
Ya, ia paham kalau antara jijik padanya. Dulu saat memutuskan pria itu, ia bilang membenci pria kaya karena hanya bisa merendahkan dirinya. Ironi, sekarang ia menikahi lelaki kaya demi uangnya.
Tapi mengapa Antara sampai hati mengatainya murahan dan menjual diri? Kayesa merasa sakit hati.
***
"Oh, jadi ini hasil didikan mamamu setengah tahun ini. Papa akui papa br**gs*k, suka main perempuan, tapi Papa tak setajam itu merendahkan perempuan apalagi mengatainya murahan dan jual diri." Rius berjalan pergi meninggalkan Antara.
Antara masih berdiri mematung dengan ransel di pundaknya.
Ah, keterlaluan-kah sikapnya barusan?
Tiba-tiba muncul setitik rasa bersalah dan menyesal di dalam hatinya. Kayesa pasti sakit hati...
Antara menghela nafas panjang lalu ia pergi keluar menuju mobilnya. Mamanya bilang ayah Kayesa dirawat di rumah sakit yang sama dengannya. Antara berniat membesuk.
Perasaan Antara masih mengganjal soal sikap kasarnya pada Kayesa. Ia menyesal tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya tak dapat ditarik lagi.
Di sepanjang perjalanan di lorong rumah sakit itu Antara melamun, hingga akhirnya langkahnya terhenti begitu mendengar suara pria yang ia kenal.
Itu suara Dandy! Logatnya dan suara seraknya sama. Antara hafal betul itu. Dandy adalah orang kepercayaan papanya. Antek-anteknya yang setia.
Antara langsung bersembunyi di balik tembok. Diintipnya Dandy baru keluar dari ruang rawat 34C. Ruang yang hendak Antara tuju. Itu ruang rawat ayah Kayesa.
"Beres? Bapak ingin pria itu disingkirkan malam ini. Biar tidak usah merepotkan katanya." Dandy berkata pelan, tapi suaranya cukup jelas terdengar dari tempat Antara bersembunyi.
Deg!
A--apa maksudnya? Disingkirkan? Pria itu?
Tiba-tiba ia merasakan firasat buruk...
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments