8. Sudah Terlambatkah?

Nafas Kayesa terasa memburu seperti ia sedang dikejar monster saja.

Antara menyadari galagat Kayesa lalu ia mencegahnya yang hendak berlari turun lagi ke bawah tangga. Tangannya menarik tangan gadis itu dan tangan satunya memegang pundaknya.

"Kamu kenapa," tanya Antara sekali lagi.

Antara tidak menemukan jawaban karena Kayesa bungkam seribu bahasa. Tapi sorot mata ketakutan ini masih terlihat jelas di mata Antara.

Hingga akhirnya Rius Madali menyusul mereka turun, tapi langkahnya terhenti begitu melihat Antara sedang memegang pundak Kayesa dan posisi mereka sangat berdekatan seperti orang yang baru saja berpelukan.

Kayesa menoleh ke arah Rius di ujung tangga dan dengan spontan ia mendorong tubuh Antara agar menjauh darinya.

Kayesa tidak lari, tapi ia berhenti dan berdiri di belakang Antara seolah bersembunyi di punggungnya.

Antara menatap sinis ke arah papanya. Rius Madali mempunyai kulit yang putih dan genetik itu menurun pada Antara. Dilihatnya kulit putih di bagian pipi pria 40-an tahun itu tampak memerah, tapi hanya sebelah.

Antara memicingkan matanya dan menyimpulkan sesuatu.

Ia makin yakin saat melirik ke arah tangan Kayesa yang mengepal. Entah habis dipukul atau ditampar, tetapi Antara yakin bekas merah di pipi papanya itu pasti perbuatan Kayesa.

"Naiklah ke atas lagi ke kamarmu. Kita suami istri. Kita harus bicara, Kayesa.

Dan kamu, Antara. Sana menyingkirlah dan jangan ikut campur," ucap Rius dari ujung tangga. Matanya terlihat berkilat-kilat.

Kayesa tak bergerak. Mungkin ia sedang mempertimbangkan dan berpikir bagaimana caranya ia lari. Ia tahu rumah ini dijaga ketat oleh banyak penjaga.

Kalau pun ia berhasil kabur keluar pun mau lari ke mana? Tidak ada taksi yang lewat atau kendaraan apapun. Area ini cukup elit hingga tidak dilalui kendaraan lain selain milik para penghuninya.

"Sayang, kita harus menyelesaikan ini kan, Sayang? Ayolah. Pertengkaran suami istri itu wajar. Jangan biarkan anak kita mendengarnya. Antara masih terlalu kecil dan bodoh. Ia tak layak untuk tahu urusan kita. Ayo, Sayang." Rius berkata dengan nadanya yang menjengkelkan.

Mendengar kata "sayang" terucap dari mulut Rius itu, Kayesa rasanya makin muak. Antara pun sama. Ia jijik mendengar papanya bicara sok manis begitu pada Kayesa.

Sungguh, Kayesa berharap ada keajaiban datang. Ia tidak ingin bicara apapun pada Rius sekarang. Terlebih lagi ada Antara.

Andaikan saja tinggal mereka berdua saja, Kayesa pasti akan memberanikan diri untuk mengungkit-ungkit perjanjian mereka.

Tidak ada sentuhan. Tidak ada pelayanan fisik seperti layaknya suami istri. Yang Rius lakukan barusan itu melanggar perjanjian.

Sudah jelas, kan? Surat itu ditandatangani dan disahkan oleh saksi. Bahkan ada pengacara juga yang terlibat di sana. Kayesa tidak mau dibodohi dan ia terlalu menyayangi tubuhnya untuk diberikan cuma-cuma pada pria menjijikan itu.

Melihat Kayesa tidak merespon dan Antara yang terus memasang badan seolah menghalang-halangi, Rius mulai kehilangan kesabaran. Ia lalu menuruni anak tangga itu perlahan sambil matanya menatap tajam ke arah Antara.

Hingga akhirnya mereka bertiga berdiri dengan jarak berdekatan di tengah-tengah tangga. Antara menggeser posisinya agar tetap melindungi Kayesa di belakangnya. Dan entah kenapa Kayesa merasa aman karena ada Antara di depannya.

"Jangan sok ikut campur, Antara. Menyingkirlah dari istriku!" ucap Rius sambil menggeram.

Antara tertawa. Tawa yang ia buat semenyebalkan mungkin agar papanya makin kesal padanya. Agar papanya tahu ia tidak pernah takut sekalipun padanya.

"Aku tidak akan menyingkir sebelum Papa menjelaskan kepadaku. Apa yang Papa katakan pada Kayesa soal aku yang berada di rumah sakit malam tadi? Papa menuduh aku yang tidak-tidak?

Oh, aku lupa bilang. Aku mendengar percakapan anak buah Papa soal CCTV bangsal dan kamar 34 C yang dimatikan. Pertanyaanku, selama CCTV itu dimatikan, apa yang terjadi? Aku bahkan baru datang waktu anak buah Paka itu pergi. Bisa Papa cocokkan dengan CCTV di lokasi lain. Papa berani?

Apa Papa bisa jelaskan itu pada Kayesa sekarang? Katakan padanya kalau orang yang terakhir kali masuk ke dalam ruang rawat ayahnya semalam adalah anak buah Papa.

Orang itu Dandy dan satu orang lagi aku tidak tahu namanya siapa. Tapi kalau Papa bawa orangnya ke sini di hadapanku sekarang, aku bisa mengenalinya dengan jelas. Aku berani bersumpah atas nama apapun, kalau aku melihat mereka keluar dari ruangan itu semalam dengan mata kepalaku sendiri."

Rius memundurkan tubuhnya ke belakang. Itu adalah respon spontan yang menggambarkan keterkejutannya. Ternyata akal-akalannya untuk berbalik menuduh Antara bisa dibantah oleh putranya itu. Ia salah perhitungan.

Kayesa yang mendengar kata-kata Antara yang terdengar sangat lugas, jelas, dan berani itu langsung perlahan menyingkirkan kecurigaannya. Apalagi setelah ia melihat respon Rius sendiri yang tampak seperti orang yang sedang tertangkap basah.

Antara melihat ke belakang, ke arah Kayesa. Mata mereka bertemu, selama beberapa detik mata mereka saling tatap.

"Berani-beraninya kamu! Kamu jadi nuduh Papa berbuat yang tidak-tidak? Hah? Dokter sudah menjelaskan kalau ayah Kayesa memang kena serangan akut atas penyakitnya.

Dandy jelas ada ruangan itu karena dia yang Papa beri tugas untuk mengurus ayah Kayesa sejak awal dia ke rumah sakit," ucap Rius membela diri dengan kata-katanya yang terdengar sedikit goyah.

Di balik punggung Antara, Kayesa bisa melihat pasangan ayah dan anak itu saling tatap dengan sengit, seolah-olah di antara dua kepala yang sedang bersitegang itu ada api berkobar yang sangat membara.

Tapi beberapa detik ketegangan itu berlangsung, tiba-tiba Dandy berlari dari arah lantai bawah. Ia berdiri di anak tangga paling bawah lalu mendongak. Matanya tertuju ke arah Rius.

"Pak, ada masalah serius. Gawat! Ini soal..."

Lalu kata-kata Dandy terhenti. Ia menyadari ada Antara di sana. Awalnya ia ingin mengatakan kalau ini adalah soal Sania alias mama Antara.

"Soal apa?" Rius langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Dandy. Ia tahu dan bisa membaca situasi. Kalau Dandy panik begini, pasti ada masalah serius. Dan kalau ia menghentikan kata-katanya lalu melirik ke arah Antara, berarti ini soal Sania.

"Oke, saya turun sekarang," ucap  Rius lalu ia turun perlahan menuruni anak tangga itu satu per satu, meninggalkan Kayesa dan Antara yang masih berdiri di tengah-tengah anak tangga.

Sebelum mencapai anak tangga terbawah, Rius menoleh lagi ke belakang. Tepatnya ke arah Kayesa.

"Istriku, kita bicara lagi nanti, ya. Saya ada urusan penting. Ingat pesan saya. Jangan dekat-dekat dengan Antara. Dia pembohong licik dan keberadaannya di rumah ini hanya ingin mengganggu kita. Kembalilah ke kamarmu dan kunci pintumu. Kalau ada apa-apa telepon saya," ucap Rius dengan lemah lembut, seolah-olah ia suami yang paling baik sedunia.

Rius tersenyum ke arah Kayesa seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka, kemudian ia pergi dengan Dandy mengawalnya di belakang.

Dandy melirik ke arah Antara. Antara membalasnya dengan tatapan tajam.

Antara dan Kayesa masih berdiri di tempat yang sama hingga akhirnya mereka mendengar suara mesin mobil melaju meninggalkan area rumah.

"Yang tadi itu Dandy, yang namanya kusebut. Kamu tahu kan dia siapa?" Antara berkata lirih tapi suaranya terdengar yakin.

"Aku tahu." Kayesa menyahut dengan suaranya yang serak.

***

Malam itu di bawah cahaya vulan dan temaramnya lampu taman halaman belakang rumah megah itu, Antara dan Kayesa duduk di atas rumput.

"Maafkan aku, Kay. Atas kata-kataku soal dirimu kemarin. Aku tidak bermaksud merendahkanmu dan..."

"Ya sudahlah. Jangan bahas itu lagi." Kayesa memotong kata-kata Antara. Matanya menatap ke arah lampu temaram dengan tatapan hampa.

"Entah kamu mau percaya padaku atau tidak. Tapi aku berani bersumpah semalam aku sama sekali tidak masuk ke ruang rawat ayahmu. Aku bermaksud begitu sebelumnya. Tapi untuk menengok saja.

Tidak pernah terlintas dalam kepalaku kalau aku ingin membongkar rahasiamu atau apalah. Aku hanya ingin mengintip keadaannya dari pintu. Tapi aku melihat Dandy dan satu anak buahnya keluar dari sana.

Aku tidak ingin mengulang kata-kata yang kudengar dari mereka. Terlalu menyakitkan untukmu. Yang jelas mereka bilang sesuatu soal Papa yang ingin menyingkirkan ayahmu agar tidak merepotkan lagi kedepannya.

Kamu boleh mengiris lidahku kalau tidak percaya," ucap Antara saking ia tidak tahu lagi harus berkata apa untuk meyakinkan Kayesa.

"Ya. Aku percaya. Rapi sudah terlambat, kan? Kontrak itu mengikatku dengan kuat. Aku bisa dituntut atau disingkirkan juga seperti ayahku." Kayesa tiba-tiba menatap Antara dengan matanya yang membulat dan sudah mengembang menurunkan air mata di pipinya.

"Kay..." Antara tidak tahu harus berkata apa. Tapi tangannya bergerak otomatis untuk memeluk Kayesa. Kayesa membalas pelukannya tanpa perlawanan.

Kayesa yang masih cintai diam-diam di dalam hatinya.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!