Malam ini sesuai janji Vano akan membawa Raya menonton.Sebelum nya Raya sudah mengabari sang ibu bahwa ia akan pulang terlambat karena akan menemani Vano.Beruntung ibu nya tidak banyak bertanya dan langsung mengiyakan.
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Vano wajah tampan nya terlihat berseri dan menyunggingkan senyum tipis.Hal itu tampak menarik perhatian Raya,ia sesekali melirik duda tampan yang sedang fokus mengemudikan mobil nya.
"Kalo mau liat,liat aja sini,ga usah lirik-lirik."celetuk Vano,seperti nya Vano menyadari jika raya sedang mencuri-curi pandang pada nya.
Raya yang malu lalu membuang pandangan nya keluar.Membuat Vano semakin semangat menjahilinya."Malu ya ketahuan."ucap Vano meledek.
"Tuan apa sih."Raya merengek membuat Vano semakin gemas.
"Bisa nggak sih kalo berdua gini nggak usah panggil Tuan."pinta Vano.
"Terus apa dong."
"Sayang gitu."
"Ih ngaco."Raya tampak kesal.
"Hahahahaha."seperti nya Vano memiliki hobi baru yaitu membuat Raya kesal.
"Kita ke apartemen saya dulu ya."ucap Vano kemudian.
"Mau ngapain?"
"Ya mau mandi lah ganti baju,emang kamu mau nonton bau asem gitu.Kalo saya sih ogah."
"Oh...tapi saya nggak bawa baju ganti,gimana dong?"tanya Raya.
"Ada banyak baju wanita di apartemen saya."jawab Vano santai.Ia tidak sadar jika ucapan nya mengundang kecurigaan Raya.
Raya melirik Vano tajam,ia sedang berfikir apakah Vano sering membawa wanita ke apartemen nya.Jika ia maka ia harus waspada.
Seperti nya Vano menyadari hal itu."Jangan mikir macem-macem,baju-baju di apartemen saya adalah milik almarhumah istri saya.Mama nya Vania."ucap Vano penuh penekanan membuat Raya jadi tak enak hati.
"Maaf Tuan saya sudah mikir macem -macem."
Di Apartemen
Vano menunjukkan koleksi baju milik mendiang sang istri.Ia meminta Raya memilih baju yang Raya sukai.
Raya lalu melihat-lihat koleksi baju yang tersedia disana.Baju-baju mahal dengan brand-brand terkenal itu tampak terawat.Raya jadi ragu untuk memakai salah satu dari baju tersebut.Ia takut baju itu tidak pantas untuk nya.
Sedang Vano lebih memilih untuk mandi terlebih dahulu.
Raya lalu duduk di sofa yang tersedia di kamar Vano.Ia mengedarkan pandangan dan tampak berpikir.Menurut Raya Vano selalu pulang ke rumah tapi apartemen ini terlihat sangat bersih dan terawat.Seperti ada yang menempati.Raya jadi bergidik ngeri memikirkan hal itu."Hiiiii......"Raya menggeleng-gelengkan kepala nya.Bersamaan dengan Vano yang keluar dari kamar mandi.
"Ngapain kamu."tanya Vano.
"Astagfirullah Tuan."Raya menutup mata dengan kedua telapak tangan nya saat melihat Vano hanya mengenakan handuk kimono.
Sedang Vano tampak cuek lalu melenggang santai menuju lemari untuk mencari baju yang akan ia kenakan.
"Kenapa nggak pake baju sekalian sih."
"Saya lupa bawa."jawab Vano santai lalu masuk kembali ke kamar mandi membawa baju yang telah dipilih nya.
Tidak lama Vano keluar dari kamar mandi.Vano menggosok-gosok rambut basah nya dengan handuk kecil ditangan nya,membuat Vano terlihat berkali-kali lipat lebih tampan menurut Raya.
"Ngeliatin nya ntar lagi.Sekarang mandi sana!"ucapan Vano membuyarkan lamunan Raya.
"Mana baju yang kamu pilih."tanya Vano.
"Saya belum memilih nya,saya bingung Tuan."jawab Raya.
Vano lalu membuka satu persatu pintu lemari itu lalu mulai memilih baju yang ia anggap cocok untuk Raya.Pilihan nya jatuh pada rok mini berbahan levis dan hoodie warna hitam.Baju yang senada dengan yang ia kenakan saat ini.Tidak lupa juga Vano membawa satu heels koleksi sang istri agar dipakai oleh Raya.
"Nih baju nya buruan mandi sana."titah Vano.
Raya lalu menurut,ia masuk ke kamar mandi dengan membawa baju yang telah dipilih Vano untuk nya.Tidak membutuhkan waktu lama,Raya terlihat sudah keluar dari kamar mandi.Sesaat pandangan Vano dan Raya bertemu lalu Vano memutuskan pandangan nya.Ia tidak ingin semakin jatuh pada pesona gadis abg itu.Vano tetap berusaha menjaga wibawa nya.
"Saya pinjam meja rias nya ya Tuan."pinta Raya sopan,ia ingin memoles tipis wajah nya,dengan make seadanya yang selalu tersedia di tas sekolah nya.
"Silahkan."
Raya tampak mengikat rambut nya tinggi-tinggi khas anak muda pada umumnya.
"Saya sudah siap Tuan."ucap Raya.
Vano mendekati nya."Rambut nya nggak usah diikat."Vano berkata sembari menarik tali yang mengikat rambut Raya.
"Yah berantakan lagi dong."Raya tampak cemberut pada Vano.
"Nggak...kalo kamu ikat rambut gitu bikin saya malas keluar tau nggak."ucap Vano.
"Apaan sih nggak jelas."jawab Raya yang memang tidak mengerti apa maksud dari ucapan Vano.
"Udah ayo,nih pake."ucap Vano sembari memberikan heels yang tidak terlalu tinggi.
"Saya nggak biasa pake gituan Tuan."
"Dibiasain...saya seperti jalan dengan kurcaci kalo kamu pake sepatu."ucap Vano.
"Ngeselin."walau kesal Raya tetap menurut.
.
.
.
Vano dan Raya sudah tiba di gedung bioskop.Vano tampak berada dibarisan orang-orang yang sedang mengantri tiket.Sedang Raya memilih duduk di salah satu kursi yang tersedia disana.
Sudah lama Vano tidak pergi menonton seperti ini, terakhir saat masih berpacaran dengan Kasandra.Dan setelah sekian lama Vano baru merasakan nya kembali dengan ditemani gadis muda anak pembantu nya sendiri.
Setelah mendapatkan dua tiket ditangan nya.Vano segera mendekati Raya.Mereka sepakat untuk nonton film horor.
Lalu mereka pun masuk ke dalam ruang bioskop dan segera menempati kursi sesuai nomor tiket yang Vano beli.
Tidak lama lampu pun mati,disusul dengan suara dari film horor yang sedang diputar.Raya tampak memejamkan matanya dan meremas telapak tangan Vano yang sengaja ia genggam untuk mengurangi rasa takut nya.
"Hmmm..tadi kamu yang minta nonton film horor."ucap Vano meledek."Eh tau nya ketakutan."
"Biasa nya saya nonton di tv nggak seseram ini Tuan tapi disini suara nya kenceng banget saya jadi merinding."jawab Raya.
Melihat Raya terus memejamkan matanya.Vano lalu berucap."Apa kita pulang aja.Kamu nya merem terus."
"Jangan-jangan,saya masih pengen menonton."ucap Raya memohon."Saya takut tapi saya suka."tambah nya.
Vano lalu tersenyum,kemudian ia menarik Raya lalu merangkulnya."Jangan takut ada saya."
Raya mendongak menata Vano,kemudian Vano tersenyum dan mengecup kening Raya."Udah nonton lagi."ucap Vano kemudian.
Raya tersenyum malu-malu,lalu kembali fokus menonton.
Senyum diwajah Vano tampak mengembang.Jalan bareng abg membuat nya berasa menjadi abg lagi begitu pikir nya.
Yang masih berasa abg🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments