Akhir-akhir ini pikiranku selalu saja dipenuhi tentang nya.Entah mengapa aku juga selalu mengkhawatirkan dia.Setelah melihat dia dekat dengan seseorang yang menurutku tidak baik,aku pun merasa harus melindungi nya.
Mengapa aku sangat yakin menyimpulkan kalau seseorang yang sedang dekat dengan Raya itu tidak baik.Dia adalah salah satu dari gang motor yang cukup terkenal,aku dapat mengetahui nya dari jaket yang selalu ia kenakan.Mungkin Raya tidak menyadari hal itu,dan aku pun enggan untuk memberitahu nya.Meurutku perlahan Raya pasti akan tahu kebenaran nya.
Menurutku Raya gadis baik dan masih terlalu polos,aku tidak ingin terjadi sesuatu pada nya.Selain ingin melindunginya aku pun merasa nyaman bila bersama nya.Aku tidak tahu perasaan apa ini.Seperti siang ini, selesai bertemu dengan client aku merasa muak melihat kebersamaan Raya dan laki-laki itu.Melihat nya tertawa bahagia membuatku semakin kesal.Hingga aku membawa nya bersamaku.Aku pun tak sadar mengapa aku bisa melakukan hal itu.Menjadi pusat perhatian orang.Hal yang sama sekali belum pernah ku lakukan selama hidup ku.Kalau saja mommy dan daddy melihat nya pasti mereka akan menertawakan kebodohanku.Ah,,,,,aku malu sendiri mengingat nya.
Selain membuatku merasa seperti orang bodoh ternyata tindakan yang kulakukan menyakiti Raya.Aku tak tega melihat nya menangis.Tak ada yang dapat ku lakukan selain menenangkan nya.Ku biarkan ia menangis dipelukanku.Setelah tangis nya mereda ku lepaskan pelukanku lalu ku angkat dagu nya agar ia bisa menatap ku.
"Maaf."Lagi dan lagi hanya itu yang mampu ku ucapkan.Raya tak menjawab,pandangan nya kosong.Aku memilih diam dan membiarkan Raya menenangkan diri nya.
Perlahan aku melajukan mobilku,tak lama terdengar panggilan masuk di ponselku.
"Kamu dimana Van?"tanya Daddy tampak kesal.
"Masih dijalan Dad,bentar lagi sampai."
"Daddy tunggu."
"Iya Dad."
Huh aku sudah terlambat satu jam,karena gadis ini bisa-bisa nya aku mengabaikan pekerjaanku.Ku lirik dia yang masih saja terdiam.
"Ikut ke kantor dulu ya."sebisa mungkin aku berkata lembut agar tak semakin membuat nya sedih.
"Iya tuan."jawab nya pasrah.Entah mengapa aku tak menyukai cara nya memanggil ku.Ada rasa ingin lebih dekat dengan nya lebih dari sekedar majikan dan pembantu.Namun aku bingung bagaimana caraku menyampaikan,toh kenyataan nya memang aku majikan nya.
Sesampai nya di kantor aku lalu mengajak Raya menuju ruangan ku.Kali ini aku tidak ingin daddy melihat keberadaan Raya karena itu pasti akan menimbulkan kecurigaan.Mengapa aku selalu bersama nya sedang aku sama sekali tak ada keperluan dengan nya.
"Kamu tunggu disini dulu,jangan kemana-mana sampai saya kembali."titah Vano pada Raya.
"Iya Tuan."
.
.
.
"Maaf Dad menunggu lama tadi macet."Vano terpaksa memberi alasan agar sang daddy tidak banyak bertanya.
"Hmm...mana hasilnya?"tanya daddy Andrew.
Vano lalu memberikan beberapa berkas kepada daddy Andrew.
"Oke bagus,Daddy percaya padamu."ucap daddy Andrew setelah mengecek berkas yang Vano berikan."Hari ini daddy akan mengunjungi proyek kita."lanjut nya.
"Mendadak sekali Dad."tanya Vano,tidak ada jadwal kunjungan kesana mengapa tiba-tiba daddy Andrew akan mengunjungi proyek nya.
"Ada beberapa masalah,satu jam yang lalu kepala proyek menghubungi Daddy."
"Hmmm."Vano tampak mengangguk-anggukan kepala nya tanda mengerti.
"Oke daddy akan pergi sekarang,dan kamu bisa kembali ke ruangan mu."
"Baik Dad."Vano lalu keluar dari ruangan sang daddy dan kembali keruangan nya.
.
.
.
Tiba di ruangan nya Vano terkejut dengan apa yang ia lihat,Raya tertidur dengan posisi menyamping dengan posisi kaki nya menjuntai ke bawah membuat rok yang ia kenakan sedikit terangkat.
"Astaga ini anak."Vano lalu membenarkan posisi tidur Raya dan melepaskan jas nya untuk menutupi kaki Raya.
Vano segera melanjutkan pekerjaan nya,ia kembali fokus pada laptop yang ada dihadapan nya.Sesekali Vano melirik Raya,sedang Raya masih terlelap.Sepertinya Raya lupa dimana ia berada,hanya beralaskan sofa kantor tidur Raya terlihat nyenyak.Membuat Vano diam-diam menyunggingkan senyum nya.
"Eghhhh...."perlahan Raya membuka mata lalu mengedarkan pandangan nya.
"Sudah bangun?"suara lembut Vano menyadarkan Raya.
"Ma....maaf Tuan,saya ketiduran."
"Ketiduran itu kalo cuma sebentar,lah ini dua jam."Vano terkekeh melihat tingkah Raya.
"Kenapa Tuan tidak membangunkan saya?"tanya Raya.
"Saya tidak tega kamu tidur sangat nyenyak."ucap Vano.
"Kamu pasti lapar kan,ayo kita makan."Sebenarnya kalo mau jujur Vano lah yang lapar,karena menunggu Raya ia melewatkan makan siang nya.
"Saya boleh ke toilet dulu nggak Tuan?"
"Boleh,mau saya temani?"tanya Vano santai.
"Hissss."
"Hahahaha..."Vano tertawa melihat Raya kesal."Toilet nya ada disana."tunjuk Vano.
Setelah Raya keluar dari toilet Vano beranjak dari kursi nya menuju sofa yang di tempati Raya.Saat Raya tertidur tadi Vano sudah memesan tiga porsi makanan.Satu untuk diri nya dan dua untuk Raya.Ayam goreng krispi lengkap dengan nasi nya.Vano teringat ketika membawa Raya dan Vania jalan-jalan tempo hari,Raya begitu lahap menyantap makanan nya.Maka saat ini Vano berinisiatif memesan dua porsi untuk Raya.
"Kok ada tiga Tuan,satu lagi untuk siapa?"
"Untuk kamu."jawab Vano seraya tersenyum meledek.
"Ih nyebelin."
"Udah ayo makan jangan kesel terus ntr malah kamu yang saya makan."ucap Vano santai.
Raya tidak mengerti apa yang di ucapkan Vano.Ia menganggap Vano sedang ngelantur saja maka Raya pun memilih diam tak menanggapi.
"Suapi saya ya,saya masih banyak kerjaan."pinta Vano sembari memperlihatkan laptop yang berada di depan nya.
Raya tak menolak dan langsung menuruti perintah Vano.Raya seolah terkesan pasrah dan selalu mengiyakan yang Vano kata kan.Karena menurut Raya memang seperti itu seharusnya.Bukan hanya kepada Vano,Raya pun selalu menurut dengan perintah nyonya Amira,tuan Andrew dan juga Vania.Ia sadar akan posisi nya.
Raya bergantian menyuapi Vano dan diri nya sendiri.Seperti biasa jika sedang duduk dekat seperti ini Raya selalu terkesima melihat wajah tampan Vano.Tanpa sadar Raya pun tersenyum.
"Saya tau saya tampan,tapi ga usah senyum-senyum gitu saya jadi takut."ucap Vano asal.
"Hiss.."karena kesal Raya mencubit lengan Vano.
"Au...au...au"teriak Vano lebay.
Raya lalu melepaskan kan cubitan nya."Maaf Tuan saya tidak sengaja."ucap Raya takut-takut.
"Udah mulai berani ya,beneran saya makan loh ntr kamu."
"Apaan sih dari tadi makan-makan mulu."Raya yang tadi merasa bersalah pun seketika merasa kesal.
"Hahahaha."lagi-lagi Vano tertawa melihat Raya kesal menurut nya itu sangat lucu.
"Sebentar lagi kerjaan saya selesai,nanti kita jalan yuk."ajak Vano.
"Kemana?"tanya Raya.
"Nonton mau?"tanya Vano
"Boleh."Raya menjawab antusias.
Vano mengusap pucuk kepala Raya,gemas sekali.Vano merasa sedang berbicara dengan Vania versi abg.
Udahan dulu,,,,,
Terimakasih yang udah baca jangan lupa like komen dan vote😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Enung Samsiah
iiihhh,,,, ngpain lgi bawa-bawa kekantor sgla,,
2023-10-18
0