Satu buah notifikasi masuk di grup WhatsApp kelas Vania.("Anak-anak sudah bisa di jemput ya🙏").
"Ma Vano pamit ya,mau jemput Vania."kata Vano kepada mama mertua nya.
"Oke deh,kamu hati-hati ya."
"Iya ma."
Vano sudah menganggap mama mertua nya itu seperti orang tua nya sendiri.Vano juga selalu terbuka dan bercerita apapun tentang diri nya.Seperti saat ini Vano sampai lupa waktu untuk menjemput sang anak karena sedang bersama mama mertua nya.
"Maaf saya terlambat Miss."ucap Vano tak enak pada guru Vania.
Saat Vano datang,sekolah Vania sudah tampak sepi.Hanya ada Vania dan Miss.Clara yang sedang duduk di kursi depan kelas.
"Oh tidak apa-apa Pak Vano."jawab Miss.Clara sopan.
"Papa lama banget."Vania merajuk.
"Maaf sayang."jawab Vano."Udah yuk kita pulang kata nya mau es krim."ajak Vano kemudian.
Mendengar kata es krim kekesalan Vania hilang begitu saja."Ayuk..."jawab Vania dengan semangat.
"Pamit dulu sama Miss.Clara."titah Vano.
"Miss Nia pulang dulu ya."Vania lalu mencium tangan Miss.Clara.
"Iya,hati-hati ya Nia."jawab Miss.Clara sembari mengelus pipi Vania.
"Da.....da Miss."
"Da....da sayang."
.
.
.
"Pa makan es krim nya Nia mau sama teteh."pinta Vania.
Vano hanya mendesah pasrah,niat hati ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Vania nyata nya gagal.Vania tetap meminta ingin jalan-jalan bersama Raya.
Saat Vano tiba di depan gerbang rumah nya.Ada sebuah motor sport yang berhenti disana.Motor sport tersebut menghalangi mobil Vano yang akan masuk.Vano tampak geram,ia kemudian mengklakson berulang kali lalu berteriak melalui kaca mobil nya yang terbuka.
"Minggir."teriak Vano
Mat melirik sekilas."Gue balik Ray."Ya dia adalah Mat teman sekolah Raya.
"Iya hati-hati."jawab Raya.
Mat lalu menggeber dan melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi.
Mobil Vano pun langsung melesat masuk ke dalam halaman rumah nya,melewati Raya yang berdiri mematung didepan sana.Raya tampak gemetar ketakutan melihat kemarahan Vano.Kenapa sampai marah begitu pikir nya.
"Nia tunggu disini dulu ya,papa akan berbicara sebentar dengan teteh Raya."titah Vano pada Vania.
"Iya Papa."
Vano berjalan ke arah Raya,semakin Vano mendekat detak jantung Raya semakin tak karuan,ia takut Vano akan marah pada nya.Tepat di depan Raya Vano berkata"Saya nggak suka liat ada orang asing yang datang ke rumah saya,kalo kamu mau di antar pacar kamu sampai satpam depan saja.Jangan sampai depan rumah sini."
"Ma...maaf Tuan,lain kali nggak lagi."Raya sampai gemetaran menjawab ucapan Vano
"Bagus.Sekarang siap-siap,30 menit lagi saya tunggu kamu disini.Vania ingin ditemani jalan-jalan."titah Vano penuh penekanan.
"Baik Tuan."
Vano tidak suka ada orang asing datang ke rumah nya.Bahkan ia akan membuat janji diluar jika ingin bertemu dengan rekan-rekan nya.Hanya kerabat dekat saja yang diperbolehkan untuk datang ke rumah.Hal itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
.
.
.
Sudah lima belas menit lama nya Raya menunggu didepan rumah.Ia sampai melupakan makan siang nya,karena takut Vano akan kembali marah kalau sampai menuggu diri nya.Raya juga hanya berpamitan lewat pesan singkat kepada ibu nya,karena Raya tak sempat menemui sang ibu.
Setelah lebih dari tiga puluh menit menunggu,barulah terlihat Vano dan Vania keluar dari pintu rumah nya.Vano dan sang anak sudah tampak segar,karena selain membersihkan diri mereka pun menyempatkan untuk makan siang terlebih dulu.Berbeda dengan Raya yang hanya mandi alakadar nya dan membiarkan perut nya kosong.
Vano membawa Raya dan sang anak ke mall terbesar di kota itu.Sesampai nya disana tempat pertama yang mereka kunjungi adalah kedai es krim.Demi membuat sang anak bahagia Vano rela mengantri untuk mendapatkan es krim tersebut.Beruntung nya saat ini antrian tidak terlalu panjang.Tidak menunggu lama Vano sudah mendapatkan dua cup es krim di tangan nya.Satu untuk Vania dan satu untuk Raya.
Vania dan Raya tampak menikmati es krim nya.Saat melihat mulut Vania yang belepotan dengan es krim Raya lalu mengelap mulut Vania dengan tisu yang ia bawa di tas selempang nya.
"Pelan-pelan Nia makan nya."kata Raya
"Hiiiii..iya teteh."
Vano tampak terenyuh melihat sikap Raya terhadap Vania.Vano sudah mengerti sekarang,mengapa Vania sangat menempel pada Raya walau mereka belum lama saling mengenal.Raya sangat lembut,usia nya masih muda namun bisa memperlakukan anak seusia Vania dengan baik.Melihat sikap Raya Vano jadi teringat pada sang istri.Kasandra pun seperti itu mempunyai sifat yang lembut dan penyayang.
Setelah menghabiskan semua es krim nya.Vano membawa sang anak ke tempat bermain.Vania tampak senang ia terus mencoba satu persatu wahana permainan yang tersedia disana.Biasa nya Vania hanya bermain sendiri dengan diawasi oleh Vano atau mbak Ana,namun kali ini berbeda ia mencoba semua wahana dengan di temani Raya.
Raya yang memang masih remaja juga terlihat menikmati nya,ini adalah hal yang jarang di jumpai oleh Raya.Ia pernah datang ke area bermain seperti ini dulu saat ia masih seusia Vania.
Dari kejauhan Vano hanya memperhatikan sang anak dan Raya.Vano selalu merasa senang jika melihat sanga anak tertawa bahagia.
Setelah lelah bermain,Vania dan Raya menghampiri Vano.
"Papa Nia laper."
Raya tampak senang mendengar ucapan Vania,pasalnya ia pun lapar namun ia tak punya keberanian untuk mengatakan itu pada Vano.
"Udah main nya."tanya Vano.
"Udah."jawab Vania.
"Yaudah yuk kita cari makan."ajak Vano lalu menggandeng tangan Vania.Raya terlihat mengikuti di belakang.
Vania memilih restoran cepat saji yang menyediakan ayam goreng kesukaan nya.Vano meminta Raya membawa Vania duduk disalah satu kursi yang kosong di area makan itu.Tidak lama Vano datang membawa beberapa potong ayam dan nasi serta minuman ke meja mereka.
Seperti biasa Vania hanya makan ayam goreng nya saja.Sedang Vano hanya memesan minuman untuk dirinya.Lain hal nya dengan Raya,ia yang sudah merasa lapar sejak tadi langsung melahap nasi dan ayam goreng itu.Vano sampai menelan ludah nya melihat Raya makan.
Melihat masih ada satu bungkus nasi yang masih tersisa,Raya meminta kepada Vano untuk menghabiskan nya dan Vano pun mengizinkan.Vano sampai heran melihat ada wanita yang makan nya bar-bar seperti Raya.
"Kalo masih kurang saya pesankan lagi."kata Vano pada Raya.
"Nggak Tuan sudah cukup."jawab Raya malu-malu.
Bodo amat Vano mau mikir apa tentang nya pikir Raya.Yang terpenting saat ini adalah perut nya sudah terisi.
Lanjut lagi besok ya.......
Terimakasih yang sudah baca jangan lupa like komen dan vote ya 🙏🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments