Satu bulan setelah kejadian itu di sini Melisa tampak lemas usai melayani tamu. Tubuhnya mendadak lemas kepalanya pusing bahkan pandangan matanya sangat gelap saat itu juga. Melisa terduduk ia tak perduli dengan jumlah uang yang di berikan oleh sang klien.
"Apa jangan-jangan..." satu ingatan membuat Melisa membulatkan mata membungkam bibirnya syok.
Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Melisa tidak ingin jika apa yang ia takutkan akan terjadi. Segera wanita itu bergegas memakai pakaian dan meninggalkan kamarnya. Menuju apotik untuk membeli sesuatu. Dengan wajah pucatnya ia menyebutkan satu barang yang ingin ia beli.
"Testpack yang mana mba?" tanya seorang pelayan apotik itu.
Takut-takut Melisa mengambil satu produk yang ia yakini hasilnya akurat.
Singkat cerita Melisa sudah berada di kos. Kepulangannya bahkan di sambut dengan tamparan di wajah dari sosok Reza. Pria paruh baya itu nampak murka melihat Melisa yang baru pulang sejak kemarin. Tubuh lemasnya terlempar di atas kasur. Melisa hanya diam, untuk kali ini ia tidak ingin bertengkar dengan pria tua ini. Melisa memilih mengacuhkan saja cercaan dari Reza.
"Dari mana saja kamu, Mel? Jawab!" teriak Reza.
"Dari mana kamu?" tanyanya kembali saat mencengkram kuat kedua bahu Melisa.
"Aku kuliah dan ada tugas kelompok." tuturnya berbohong.
Keharmonisan mereka sudah sejak lama tak lagi bisa terasa, semua bersamaan dengan hilangnya harta yang di miliki oleh Reza. Bahkan sampai saat ini pria itu masih saja bermalas-malasan tanpa berniat mencari kerja. Semua uang yang Melisa bawa pulang akan ia pakai untuk biaya hidup mereka.
"Kamu jangan berani berbohong, Melisa. Kamu itu wanita saya jangan pernah kamu berani berbuat hal memalukan di luar sana. Ingat itu." Setelah membiarkan Reza melampiaskan amarah, kini Melisa berlalu menuju kamar mandi. Ia segera melancarkan niatnya untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Satu detik, dua detik, hingga kurang lebih satu menit ia bisa melihat jelas hasil dari benda tipis itu. Air mata pun meleleh begitu saja. Melisa menggeleng tak bisa menerima jika ini benar-benar terjadi. Dua garis merah sudah bisa menjelaskan jika ada hal yang sangat besar yang akan ia hadapi saat ini.
"Melisa!" tiba-tiba teriakan kembali terdengar dari luar kamar mandi.
Melisa hanya fokus dengan apa yang ia lihat saat ini tanpa perduli bagaimana suara menggema di luar sana.
"Tidak. Aku tidak mungkin hamil. Aku tidak mungkin hamil. Ini tidak boleh terjadi, aku tidak mau menikah di usia mudaku." Lemas rasanya Melisa membayangkan nasibnya yang entah jadi apa saat ini.
Jaminan hidup nyaman sudah tidak ia dapatkan lagi, dan sekarang di rahimnya justru ada janin yang sudah tumbuh.
***
Kejadian saat itu berlalu begitu cepat. Tak terasa Melisa si gadis yang hidup dengan terlunta-lunta di masa lalu kini sudah bekerja sebagai sekertaris di salah satu perusahaan.
Jabatan yang tidak begitu tinggi namun sudah cukup memenuhi gaya hidup wanita yang pernah melenyapkan janinnya itu. Yah, Melisa dengan tekad bulat membayar jasa dokter untuk mengambil janin yang masih berbentuk darah itu. Demi masa depan yang cerah, Melisa benar-benar menjadi wanita yang sangat tega.
Jangan di tanya di mana Reza saat ini. Pria itu sudah lama di tinggal Melisa sejak usai praktek kuliah dan lulus. Melisa bertekad untuk memulai hidup baru dengan kerjaan yang ia dapatkan saat ini. Hidup bersama sang ibu benar-benar berhasil ia wujudkan. Dari Desa Weni di jemput olehnya untuk ke kota. Di desa tinggallah sang suami bersama ketiga anaknya yang memiliki usaha masing-masing. Sedangkan Vanda memilih untuk melanjutkan bengkel sang ayah.
"Sayang, ini bekal untukmu." ujar Weni menyerahkan rantangan pada sang anak.
Melisa tersenyum jelas ia senang hidup tenang bersama sang ibu tanpa ada orang yang mengusik mereka lagi. Jika di masa lalu ia menjadi wanita yang tidak memiliki hati, kini berbeda dengan Melisa yang saat ini begitu mencintai sang ibu dan juga hidupnya.
Melisa berubah menjadi wanita yang sangat baik. Ia berkerja dengan tekun untuk mencukupi kebutuhan hidupnya bersama sang ibu.
"Terimakasih yah, Bu. Masakannya pasti enak banget ini. Ibu juga jangan lupa makan di rumah yah. Melisa pulangnya agak sore nanti. Jadi ibu istirahat saja jangan menunggu Melisa pulang." tuturnya memberi tahu jadwal kerja hari ini.
Weni mengangguk. Ia tersenyum. "Yasudah kamu hati-hati yah, nak."
Keduanya pun berpisah saat itu. Melisa memilih bekerja dengan naik kendaraan umum sementara Weni memilih untuk membuat kue seperti biasa. Ia diam-diam membuat kue untuk di jual via online dengan jasa kurir. Jika saja Melisa tahu pasti ia akan meminta sang ibu untuk istirahat saja. Sayang Weni sebagai ibu tak sampai hati membiarkan sang anak bekerja seorang diri.
"Sayang kamu seperti itu, Ayah. Kita memiliki anak yang begitu baik. Kenapa kamu justru mengabaikan Melisa seperti ini? Kita begitu beruntung memiliki Melisa yang sangat tulus kasih sayangnya pada kita." gumam Weni mengingat sang suami.
Rasanya sedih jika mengingat sang suami yang begitu keras pada mereka. Sebagai seorang istri tentu saja ia begitu mencintai sang suami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments