Melisa sepanjang jalan terus saja mengomel pada Reza. Ia tidak mau kembali ke kos lamanya. Namun, Pak Reza tak perduli ia hanya diam saja mendengarkan keluhan dari Melisa. Meski rasanya kepalanya pusing, namun ia tetap bersabar. Saat ini hanya Melisa yang tersisa bersamanya. Ia tak boleh membiarkan gadis ini pergi darinya.
"Bagaimana ini, Pak? Tolong berpikir dong. Saya harus bayar kuliah sebentar lagi. Dimana saya bisa dapatkan uang?" ujarnya gelisah.
Pak Reza masih saja enggan menjawab. Ia memijat kepalanya yang terasa pusing saat ini. Jangankan memikirkan kehidupan Melisa, dirinya sendiri saja ia begitu bingung harus bertahan hidup dengan cara apa dengan hidup sebatang kara. Apalah daya, sebagai anak yatim piatu ia hanya di angkat derajatnya oleh orang tua Aisyah. Keluarga yang begitu baik bahkan sampai mempercayakan semua harta yang ia miliki pada Reza. Sayang, wasiat itu justru membuat Pak Reza benar-benar lalai hingga kehilangan semuanya.
Hingga keduanya tiba di kos lama milik Melisa, mereka pun turun untuk menanyakan ketersediaan kamar. Keputusan terakhir mereka akan tinggal di situ sementara sebab uang yang Melisa miliki hanya cukup untuk bayar kos kecil itu.
"Pak Reza bisa kan cari tempat tinggal sendiri?" ketus Melisa menatap pria di depannya saat ini.
Mendengar ucapan Melisa rasanya ia ingin marah. "Melisa, uang itu jika saya tarik kembali tentu adalah milik saya. Dari mana lagi memangnya kau mendapatkan uang selain dari saya?"
Melisa terdiam mendengar ucapan dari Pak Reza.
Ia tampak terduduk lemas melihat seisi kamar itu. Melisa benar-benar tidak menyangka kehidupannya akan kembali mengalami kesulitan seperti ini.
"Mau kemana kamu?" tanya Reza kala melihat Melisa yang hendak mengambil tas.
"Mau cari kerja." jawab Melisa begitu berbeda dari biasanya.
Jika biasa ia selalu berucap dengan sabar dan lemah lembut, kini sangat berbeda. Melisa terkesan tak ada menghormati lagi dirinya lantaran tak bisa memberikan uang.
Sendirian di kos, sejak Melisa pergi yang di lakukan Reza hanyalah berbaring malas-malasan. Pikirannya belum bisa bekerja untuk mencari uang saat ini. Terlalu lama menduduki posisi pemilik restoran membuatnya enggan untuk mencari kerja apalagi jika bekerja dari titik bawah.
Di sisi lain, kini Melisa tampak benar-benar mencari uang. Bukan dengan bekerja keras seperti biasa. Di sini ia bertemu dengan teman pria yang biasa bersamanya di luar. Gery, yah pria itu yang saat ini bersama dengan Melisa.
"Carikan aku klien untuk hari ini. Bisa kan?" tanya Melisa tanpa basa basi.
Gery yang mendengar seolah merasa terkejut. Ia terkekeh mendengarnya. "Mel, gue nggak salah dengar nih?" tanyanya dengan meledek.
"Gue butuh uang buat bayar kuliah, Ger." jawab Melisa melemah. Matanya menatap nanar, takut jika sampai ia tidak bisa membayar kuliahnya kali ini.
Mendengar itu dan melihat wajah Melisa yang sungguh-sungguh Gery kini percaya. Ia menganggukkan kepala paham.
"Oke oke...gue cariin sekarang juga. Tapi bayar gue dulu okey?" Pasrah Melisa paham yang di minta oleh Reza. Keduanya pun kini bergegas menuju sebuah hotel yang di pilih oleh Gery.
Satu jam kini berlalu, merasa puas dengan hasil kerja Melisa Gery segera menghubungi sang teman. Melisa duduk tenang sesuai permintaan dari Gery.
"Dia sebentar lagi akan tiba. Bersiaplah." pintah Gery.
Sejak kejadian itu Melisa mulai melakukan segala hal untuk mendapatkan uang dengan cara instan. Bahkan tak jarang ia berkelahi dengan Reza yang menuntutnya untuk melayani setiap pulang kerja. Merasa lelah dengan kerjaan di luar Melisa sering kali menolak. Bahkan ia mulai berani meminta Reza harus pergi dari kos.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments