Hari demi hari terus berlalu tak terasa Melisa telah menyelesaikan sekolah menengahnya. Semua kebutuhan ada banyak campur tangan orang-orang hingga Melisa bisa berada di titik ini. Ada perjuangan sang ibu yang menyisihkan uang dapur untuk ia kirimkan pada anaknya. Ada bantuan dari sang paman dan tante dan juga bantuan dari beberapa orang yang di tempati Melisa bekerja. Hingga kini akhirnya tibalah waktu dimana biaya yang keluar akan semakin banyak.
Melisa sendiri merasa bingung kemana harus mencari uang untuk biaya kuliah. Kebutuhan yang di perlukan tidak sekecil saat sekolah menengah. Satu bulan sudah ia mengumpulkan uang dengan berbagai pekerjaan nyatanya semua tidak terkumpul dengan banyak. Ada biaya untuk membayar kos dan juga makan. Tak jarang ia harus berpuasa senin kamis demi mengirit pengeluaran.
"Kemana lagi aku harus mencari uang yah? Pendaftaran kuliah dan biaya semester besar sekali jumlahnya." air matannya gadis remaja itu jatuh melihat beberapa berkas dari kampus yang ia pilih saat ini. Hingga satu nama yang ia ingat menjadi tujuan Melisa saat ini.
"Pak Reza, semoga saja beliau mau membantuku." tutur Melisa tersenyum penuh harap.
Pria yang di kenalkan oleh sang paman merupakan pemiliki restauran besar di kota itu, Melisa pun pernah bekerja bersamanya sebagai pelayan. Dan orangnya begitu baik dengan siapa pun.
Segera tak ingin membuang waktu, Melisa bergegas menuju restauran itu dan menemui salah satu teman yang bekerja bersamanya.
"Itu Pak Reza sedang mengantar Bu Nila ke bandara. Paling sebentar lagi kembali." tutur pelayan itu. Melisa tampak tenang menunggu sembari membantu-bantu temannya untuk bersih-bersih.
Sosok yang memang sangat rajin itu begitu di sukai para teman kerja dan juga sang atasan. Hingga beberapa menit kemudian Melisa melihat mobil sang bos terparkir rapi di depan restauran itu. Mobil mewah yang memang sudah di kenal dari nomor polisinya.
"Loh Melisa?" sontak Pak Reza pun terkejut melihat mantan karyawannya datang kembali. Sebab setahunya Melisa sudah harus mengurus keperluan kuliahnya saat ini.
Melisa berdiri menyambut kedatangan Pak Reza dengan menunduk, tak berani menatap wajah pria paruh baya di depannya ini. Pak Reza sosok pria yang baik pada semua karyawannya.
"Ada apa, Mel? mau kerja lagi di sini?" tanya Pak Reza.
Ragu Melisa mengangkat wajah dan menatap sang mantan bos, rasanya begitu gugup kala berhadapan dengan sang bos. Reza melihat gelagat tak biasa Melisa akhirnya memilih untuk mengajak bicara di ruang kerjanya.
"Sa-saya ada perlu dengan Bapak. Saya mau minta bantuan, Pak." tutur Melisa.
Keduanya berjalan menuju ke ruang kerja Pak Reza, hingga akhirnya mereka berdua duduk saling berhadapan. Jelas terlihat cantiknya wajah polos Melisa saat ini. Tak ada yang tahu arti dari tatapan pria paruh baya di depan kini. Melisa yang gugup hanya bisa menggenggam tangannya takut.
"Ada perlu apa, Melisa? Katakan." ujar Pak Reza.
Melisa pun dengan susah payah memberanikan diri untuk menjelaskan jika uang untuk pembayaran kuliahnya masih kurang banyak, dan ia meminta tolong pada Reza untuk meminjamkan uang padanya.
"Saya akan ganti, Pak. Saya akan bekerja kembali di sini paruh waktu. Bapak bisa potong langsung gaji saya." tutur Melisa dengan wajah memohon.
Mendengar hal itu Pak Reza tampak menghela napas. Memperkirakan jumlah untuk Melisa bayar ke depannya tentu saja tidak sebanding dengan pekerjaan yang ia kerjakan apa lagi paruh waktu.
"Biaya yang kamu butuhkan sangat mahal, Melisa. Apa tidak mau dengan cara lain? Saya punya jalan yang bagus untuk kamu. Itu pun kalau kamu setuju." ujar Pak Reza.
Melisa baru berani mengangkat wajah dan menatap sosok pria di hadapannya kin. Ia sungguh penasaran jalan apa sebenarnya yang akan di berikan oleh Pak Reza. Sejenak keadaan hening saat pria itu menarik sebuah laci di hadapannya. Beberapa lipatan uang ia keluarkan dan masukkan ke dalam amplop.
"Lima juta khusus untuk bayar kuliah kamu. Ini saya anggap bonus jika kamu menerima tawaran saya. Dan jika kamu menerimanya maka saya akan tanggung semua biaya selama kamu kuliah termasuk makan dan sehari-hari keperluanmu. Bagaimana?"
Susah payah Melisa meneguk salivahnya, tentu saja ia begitu kaget dan senang mendengar tawaran menggiurkan ini. Ia pun memajukan tubuh dan bertanya kembali.
"Tawaran apa itu, Pak Reza? saya pasti mau, Pak." ujarnya dengan semangat.
Bukannya menjawab, Pak Reza justru mengangkat tangannya dan meletakkan di atas tangan mungil milik Melisa. Ia teresenyum hangat. "Jadilah milik saya tanpa ada yang tahu, Melisa. Hidupmu dan sekolahmu akan saya jamin. Masa depanmu akan saya pastikan baik-baik saja. Asal kamu berjanji tidak akan berpacaran dengan siapa pun selain dengan saya."
Terkejut tentu saja Melisa begitu tak menyangka jika di balik sikap baik Pak Reza ternyata pria ini begitu sangat buruk etikanya. Melisa tak bisa berbuat apa-apa saat ini apalagi jika marah. Ia benar-benar membutuhkan uang di depannya.
"Baik, Pak. Saya terima." tuturnya yakin.
Melisa bertekad akan melakukan apa pun itu demi masa depannya sukses. Ia akan kuliah dan membuktikan pada sang ayah jika ia bisa sekolah tanpa biaya dari ayahnya. Entah apa yang membuat pikiran gadis polos dan baik ini bisa berubah begitu buruk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments