Sepulang dari berjalan akhirnya Weni bergegas untuk memasak. Suasana rumah begitu terasa beda saat tak ada lagi sosok Melisa yang membantunya dalam segala hal. Di sudut rumah mana pun tampak bayangan sang anak yang selalu tersenyum. Tak terasa air mata Weni berjatuhan. Rasa rindu dan cemas seketika menyelimuti hati wanita beranak empat itu.
"Bagaimana kabar kamu di sana, Nak? Ibu sangat cemas. Semoga kamu bisa sukses kelak ibu dn ayah akan bangga padamu." gumam Weni mendoakan sang anak.
Beberapa saat di depan rumah terdengar suara ramai anak-anak gadis Weni yang sudah kembali dari bengkel sang ayah. Mereka begitu heboh memeriksa setiap sudut mobil mewah yang sudah mereka parkir rapi di depan rumah.
"Kamu begitu tega dengan anak kamu sendiri, Ayah. Melisa yang berjuang saat ini justru kamu terlantarkan. Mereka yang sudah berkecukupan menerima pemberian kamu justru semakin kamu manja." ujar Weni.
Tak habis pikir rasanya memikirkan sang suami yang entah apa tujuannya.
"Bu, sudah masak belum?" tanya Yuyun yang baru saja tiba di dapur menemui sang ibu.
Gadis itu mengusap perutnya merasakan lapar saat jam makan siang. Ia sengaja pulang untuk meminta makan siang. Weni menoleh melihat binar bahagia sang anak. Ia sungguh miris melihat keadaan sang anak yang baru saja mendapatkan sindiran dari tetangga.
Bukannya menjawab, Weni justru menatap tajam sang anak pertamanya.
"Yuyun, ibu mau bicara." ujar Weni.
Yuyun melihat jam tangannya waktu sudah sangat mepet untuk ia bekerja. Siang itu salonnya begitu ramai hingga rasanya Yuyun tidak bisa melakukan hal lain di luar rumah.
"Bu, bicaranya nanti saja. Salon ku sedang sangat ramai hari ini. Aku hanya punya waktu untuk makan siang." Weni mendengar penuturan sang anak pun hanya bisa menghela napas kasar.
Selalu saja seperti ini hubungannya dengan kedua anaknya. "Jaga sikap kamu, Yun di luar sana. Jangan sampai melakukan hal di luar batas. Kamu tahu kan bagaimana orang-orang di desa kita ini?"ujar Weni dalam hatinya.
Bukannya mendengar ucapan dari sang ibu, Yuyun justru seketika meninggikan suaranya. "Bu, sudahlah. Aku ini sudah dewasa tolong jangan membatasi aku. Usiaku sudah cukup saat ini. Ah jadi hilang selera makan ku." geram Yuyun pun begitu murka dan meninggalkan rumah tanpa mendengar panggilan dari sang ibu.
"Yuyun!" teriak Weni memanggil sang anak.
Sayangnya, gadis itu sudah pergi begitu saja tanpa mau menghiraukan panggilan dari ibunya.
"Loh Bu, Kak Yuyun kenapa?" tanya Arini yang masuk ke dalam rumah setelah melihat sang kakak pergi begitu saja.
Ia memperhatikan raut wajah sang ibu yang begitu sedih.
"Sudah. Ayo makanlah. Keburu dingin." ujar Weni tak ingin menjawab pertanyaan sang anak.
Ragu Arini duduk di kursi meja makan menikmati makan siangnya dengan Vanda sang adik. Ia tak berani berbicara sedikit pun melihat wajah sedih ibunya.
***
Berbeda halnya dengan Yuyun yang duduk berdua makan siang dengan sang ayah. Ia mengeluhkan sikap sang ibu padanya. Wajah dewasa itu tampak memajukan bibir cemberut.
"Ibu itu keterlaluan, Ayah. Masa marah denganku tanpa ada kejelasan. Pakai ngatur-ngatur segala lagi. Pokoknya aku ingin secepatnya punya rumah sendiri." ujarnya menuntut sang ayah.
Fery mulanya menggelengkan kepala. Perihal rumah adalah hal yang tidak mudah. Tidak semudah yang Yuyun ucapkan.
"Yun, sabar. Adik kamu baru saja meminta mobil baru. Bahkan itu saja belum lunas masih ayah cicil. Sabar dong. Setelah itu baru kamu, yang terpenting keuntungan salon kamu juga sisihkan untuk rumah nant ayah bantu kok." ujarnya meminta sang anak bisa sabar.
"Loh kok gitu sih yah? Arini saja mobilnya uang dari ayah semua. Keuntungan salon yah semuanya buat kebutuhan aku dong ayah." tutur Yuyun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments