Keadaan rumah akhirnya terasa begitu mencekam. Perkelahian yang terjadi berakhir dengan keadaan wajah dua gadis itu sama-sama tampak merah. Cap tangan sang ayah begitu jelas terlihat membekas. Dan Weni yang baru saja pulang membawa sayur masak begitu heran melihat keadaan semua yang duduk di kursi. Masa bodoh tak ingin ikut campur dengan sang suami serta anaknya. Ia berjalan melewati begitu saja menuju ke dapur. Memilih mengerjakan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.
"Bu, kok baru pulang sih?" Vanda tiba-tiba saja mendekati sang ibu dari arah belakang.
Ia pun memilih menghindari keadaan tegang di ruang tamu. Berada di dapur bersama sang ibu rasanya jauh lebih tenang bagi Vanda. Bocah itu turut membantu menata makanan kedalam mangkok serta mengeluarkan nasi dari tempatnya.
"Ada apa barusan di rumah? kakakmu buat ulah lagi yah?" tebak Weni bertanya pada sang anak.
Vanda menganggukkan kepala mengiyakan. Lantas bocah itu dengan lengkap menceritakan semuanya hingga tak terlewatkan satu pun kejadian di rumah tadi. Bahkan sampai memperagakan bagaimana aksi dari kedua kakaknya yang saling menghajar hingga berakhir tamparan mendarat di kedua wajah mereka. Weni yang mendengar pun hanya bisa menghela napasnya kasar seraya menggelengkan kepala.
Mau heran tapi itulah keluarganya. "Yasudah panggil mereka makan. Ibu mau cucian dulu." Ia pun memilih ke rumah bagian belakang untuk mencuci pakaian.
Meski rasanya takut, namun Vanda tetap saja bertekad untuk memanggil. Hingga semuanya berkumpul di meja makan tak ada juga yang mengeluarkan suara. Fery melihat kursi tempat biasa sang istri duduk nampak kosong. Ia pun kembali fokus dengan makannya tanpa perduli jika Weni belum makan hingga saat ini.
"Mulai sekarang mobil itu kamu saja yang pakai, Yun. Ayah akan balik nama mobil itu menjadi nama kamu." ucapan dari Fery benar-benar membuat Arini tak terima. Ia berdiri menggebrak meja dengan tidak sopannya.
"Ayah, ini apa-apaan sih? Tidak. Itu kan mobil aku, ayah." ujarnya merasa sulit menerima.
Sayang ucapan Arini di acuhkan dengan Fery. Pria paruh baya itu memberikan kunci mobil yang berhasil ia ambil tadi kepada Yuyun anak pertamanya. Setelah mengatakan hal itu ia pun bergegas meninggalkan meja makan menuju ruang belakang menemui sang istri.
"Anakmu itu di didik yang benar. Jangan hanya mendukung anak pembangkang itu saja." Weni mendengar ucapan sang suami rasanya begitu sangat kesal. Namun, ia sadar tak ada gunanya juga menjawab sang suami dan lebih memilih diam.
Di rumah setelah kepergian sang ayah, Yuyun pun pergi dengan senang hati membawa mobil baru sang adik. Ia merasa memenangkan hati sang ayah saat ini. Arini yang marah merasa kesal pada sang kakak. Bukannya berniat kerja hari ini, justru ia merencanakan sesuatu dengan sang kekasih, Andi.
"Oke sayang. Tenang saja, aku akan ikuti semua perintah dari kamu. Rencana akan beralan mulus pastinya." ujar Andi di seberang telepon sana.
Arini memilih nongkrong di warung bersama beberapa temannya. Tak ada rasa bersalah sedikit pun pada sang ayah. Hanya pikiran untuk membuka aib sang kakak tujuannya saat ini agar mendapatkan pembelaan dari sang ayah kembali. Dan yang pasti mobil pun juga kembali ke tangannya.
Jika di hari libur di desa para saudara tengah sibuk berebut mobil berbeda halnya dengan di kota. Di sini Melisa yang biasa bekerja tanpa libur justru berbanding terbalik dengan sekarang. Ia tengah berlibur tanpa ada hari kerja untuk ke depannya.
Sebuah koper mini telah ia bawa menuju mobil yang di pakai khusus untuk mereka bertemu. Yah, di hari minggu pak Reza sengaja mengajak liburan keluar kota. Setidaknya mereka akan jauh dari orang-orang yang mengenali mereka tentunya.
"Bagaimana sudah siap, Mel?" tanya Pak Reza dan Melisa menganggukkan kepala tersenyum.
Sebelum mobil berjalan pria paruh baya itu menyempatkan diri untuk meraup bibir ranum gadis belia itu. Rasanya begitu candu menikmati wangi khas tubuh Melisa yang masih segar.
"Tubuh kamu ini buat saya rindu terus. Kalau bisa saya ingin menikahi kamu." tuturnya tak puas dengan hubungan gelap yang mereka jalin.
"Loh kok kalau bisa, Pak? memangnya kenapa?" tanya Melisa tampak mengernyitkan kening heran.
Saat ini Melisa sudah nampak tak polos lagi, ada jiwa yang ingin terus di puaskan dengan uang. Hingga ia lupa akan tujuannya ke kota.
"Bagaimana jika istri saya sampai tahu, Melisa? Semua kekayaan yang saya miliki adalah kekuasaan mertua saya. Bisa habis kita jika mereka sampai tahu." terangnya tak ingin menutup-nutupi.
Reza ingin mencari aman setidaknya Melisa tak akan berbuat hal di luar dugaan jika sudah semakin merasa tak puas akan apa yang ia berikan. Melisa yang mendengarnya pun hanya bisa menganggukkan kepala. Wajahnya nampak murung seketika. Harapannya sebelumnya tentu saja ingin menguasai pria di sampingnya agar hidupnya lebih terjamin. Sayang, harapan tak sesuai dengan kenyataan.
Keduanya pun melajukan mobil menuju ke arah kota lainnya demi menghibur diri yang ingin bebas. Sementara di kos tampak sepasang suami istri mengetuk pintu beberapa kali namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Mereka adalah Haidar dan Ina yang datang ingin menjenguk sang keponakan serta membawakan kue yang di buat dari rumah oleh Ina.
"Kok sepertinya nggak ada Melisanya?" ujar Ina pada sang suami.
Haidar juga turut mengiyakan. "Sepertinya memang benar. Yasudah tunggu di sini sebentar. Biar Mas tanya sama teman sebelah kamar."
Haidar pun mengetuk pintu kamar sebelah di mana ada seorang wanita yang baru saja membuka pintu dengan pakaian tidur lengan panjang. Tampaknya ia juga baru saja bangun siang itu.
"Ada apa yah, Om?" tanyanya mengucek kedua mata.
"Em saya mau tanya Melisa. Apa dia keluar yah?" tanya Haidar dengan sopan.
"Oh saya nggak tahu. Tapi semalam ada kok mungkin lagi kerja kali, Om."
Mendengar hal itu Haidar pun berinisiatif menitipkan makanan untuk sang keponakan tak lupa ia memberikan sebagian pada wanita yang di titipkannya itu.
Haidar dan Inda paham jika Melisa sibuk kerja tentu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya. Segera mereka pun memberi kabar pada Weni yang sudah menantikan kabar dari mereka.
"Kami kembali nanti sore lagi, Kak. Kebetulan Ina juga akan kontrol dengan dokter siang ini. Setelah itu kami akan kunjungi Melisa lagi untuk memastikan dia baik-baik saja." ujarnya.
Segera panggilan pun terputus dan Weni bisa tersenyum lega saat ini menatap Vanda yang juga menatapnya.
"Syukurlah Kakak baik-baik saja. Sekarang ibu sudah tenang kan?" tutur Vanda tersenyum dan Weni menganggukkan kepala.
Tanpa ia ketahui jika di lain tempat tengah terjadi keributan yang begitu menegangkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments