Duduk termenung seorang diri di ruang kerja milik Fery yang berada di bengkel. Matanya menatap kosong ke arah dinding pembatas ruang kerja dengan bengkel miliknya. Ada pikiran yang tak habis-habisnya ia terus pikirkan saat ini. Semua kebutuhan hidup sudah cukup untuk ia penuhi saat ini, namun tidak dengan tuntutan anak-anaknya. Di sini Fery yang baru saja usai membelikan mobil baru sang anak kedua justru harus kembali memikirkan rumah atas permintaan anak pertamanya.
"Rumah itu tidak sedikit uangnya. Aku bisa saja membelikan rumah dengan mencicil. Tapi, rasanya terlalu berat dengan cicilan motor, mobil dan juga rumah sekaligus." gumamnya pusing.
Tanpa ia tahu jika di sini Yuyun tengah melayani seorang pelanggan di salonnya yang merupakan seorang pria. Ia tersenyum lembut kala melihat siapa yang datang saat ini. Yuyun menyambut pria itu dengan sedikit membelai lengannya.
"Mas Furqon mau di potong apa rambutnya?" tanya Yuyun dengan ramah.
Gerakan sensual tentu saja bisa di lihat siapa pun yang ada di ruangan itu. Beberapa mata menatap tak suka dengan tingkah Yuyun yang begitu menggelikkan. Bukan tak mengenali siapa pria yang bernama Furqon itu. Dia pria yang di kabarkan sebentar lagi akan menikah atas dasar perjodohan.
"Em saya mau creambath saja, Yun. Bisa kan?" Furqon pun tersenyum penuh arti saat mengatakan hal itu. Dan Yuyun menganggukkan kepala setuju mendengar hal itu. Dimana ruang creambath sedikit ada celah untuknya berduaan.
Keduanya menuju ruangan yang berbeda dari tempat memotong rambut. Tampak beberapa kali Yuyun menurunkan tangannya bergerak menelusuri dada bidang pria itu. Wajahnya pun ia dekatkan menuju telinga dari Furqon. Berbagai sentuhan mulai pria itu nikmati. Inilah yang di sebut creambath oleh pria itu. Dan Yuyun sudah begitu paham.
"Tinggal bilas yah, Mas." ujar Yuyun berbicara seolah hendak menyelesaikan pekerjaan dimana ia kini berubah posisi dengan berjongkok di depan pria itu.
Furqon tersenyum puas atas pelayanan wanita pemilik salon ini. Tak mereka sadari jika di depan sana beberapa wanita tampak berbicara buruk pada Yuyun.
"Labelnya saja masih gadis. Bahaya sekali yah anak-anak gadis Pak Fery ini. Semua bisa di sikat kalau begini caranya." ujar salah satu pelanggan yang sedang menunggu giliran memotong rambut.
"Iyaa, nanti kalau kita mau nikah harus hati-hati memang. Bahaya bisa-bisa nikah kita batal gara-gara di kasih rasa sama Yuyun."
Mereka begitu memandang buruk Yuyun yang kini keluar dengan wajah tersenyum puas. Tampak lipstik yang ia pakai pun sudah tidak utuh lagi di bibirnya. Hingga akhirnya Furqon melangkah pergi keluar salon dengan wajah yang juga tak kalah segar dari senyum Yuyun saat itu.
"Ayo giliran siapa yang potong rambut?" tanya Yuyun menatap beberapa pelanggan yang menunggu.
Beda halnya dengan keadaan di kota. Melisa untuk pertama kalinya selesai menjalani masa ospek. Ia berharap hari ini ia bisa menemukan pekerjaan.
"Semoga aku bisa dapat kerja. Setidaknya bisa makan uang dari ibu waktu itu." ujar Melisa penuh harap.
Bagaimana mungkin ia bisa menyentuh uang dari ibunya malam itu, saat ini Melisa masih belum menemukan kerjaan. Makan hanya memakai bahan yang sudah di belikan oleh sang paman dan tante. Berharap semua itu akan cukup sampai ia menemukan kerjaan yang bisa mendapatkan hasil untuk kebutuhan sekolah.
"Jadi tukang pel cafe? Kayaknya boleh. Iya semoga masih ada lowongannya." Setelah cukup lama menelusuri jalan kini akhirnya Melisa melihat cafe yang mencari tenaga kerja untuk bersih-bersih. Tanpa berpikir panjang ia pun datang melamar. Dan hari itu juga Melisa mendapatkan kerjaan dalam hitungan gaji harian. Tak pernah mengeluh sedikit pun dengan tekun ia membersihkan semua sudut tanpa sisa.
Setidaknya bisa mendapatkan izin dari asrama untuk bekerja di luar sudah begitu membantu bagi Melisa. Hanya asrama saja yang bisa menampungnya dengan gratis. Dan itu begitu berharga untuk pelajar seperti Melisa.
"Ini upah kamu. Besok bisa kembali datang kan?" tanya sang bos dan Melisa menganggukkan kepala cepat.
"Bisa, Pak. Saya pulang sekolah langsung ke sini." jawab Melisa.
Melihat semangat kerja gadis remaja ini sungguh begitu mengharukan bagi pria pemilik cafe itu.
"Bagus, saya tunggu besok yah?" Segera Melisa pun pergi dari cafe.
Melihat hari masih belum begitu sore, Melisa sejenak berjalan kaki kembali. Uang di tangannya baru ada empat puluh ribu. Ia masih ingin mencari tambahan untuk tabungan sekolah. Melisa menelusuri kota hingga tak lama matanya menangkap pedagang bakso yang sangat ramai. Tumpukan piring kotor jelas ia tahu itu tengah membutuhkan tenaga. Pelan ia mendekati sang penjual dan kembali menawarkan tenaganya untuk mencuci piring.
"Pak, saya mau nyuci piring bisa nggak?" tanyanya dengan sopan.
Sang penjual melihat Melisa, matanya kembali melihat keadaan pembeli yang ramai.
"Upahnya nggak banyak neng." jawab tukang bakso itu. Melisa tersenyum.
"Tidak apa-apa, Pak. Yang penting ada." ujar Melisa.
Sungguh sedih mendengar kata-kata Melisa hingga penjual bakso itu tersentuh hatinya untuk mengiyakan. Melisa duduk mulai mengusap sabun pada setiap piring. Ia terus membersihkan meski piring kotor terus berdatangan juga. Terik yang terpancar pun membuat Melisa bercucuran keringat, namun tak ada lelah yang ia rasakan saat ini. Ada nilai uang yang akan membuat tubuhnya tetap kuat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments