Hari pertama adalah hari masa pengenalan dan ospek. Melisa berkenalan dengan beberapa teman sekelas dan juga beberapa anak yang ternyata berada tempat tinggal tidak jauh darinya. Melisa yang memang berasal dari anak yang mudah akrab tentu saja tidak sulit untuknya mendapatkan teman baru. Sayang, di waktu istirahat ia harus memilih di kelas menikmati bekal yang ia bawa dari asrama.
Jika di kota Melisa yang hidup serba sangat irit berbeda halnya dengan suasana di desa. Tepat setelah tiga hari kepergian Melisa, Fery tampak membawa sebuah mobil baru yang di antar oleh orang penjual kredit di desa itu.
Semua wajah beberapa orang di bengkel pun tampak antusias melihat keadaan mobil yang terparkir rapi di depan bengkel sana. Dengan tampak masa bodoh Fery melangkah masuk bengkel. Sembari pria itu berbicara melalui telepon oleh sang anak.
"Arini, kemari. Ayah di bengkel. Permintaannmu sudah ayah belikan." tutur Fery menelpon sang anak.
Meski merasa benar jika apa yang di katakan sang ayah adalah permintaannya, Arini tak ingin kecewa. Ia lebih memilih memastikan kembali pada sang ayah.
"Ayah, permintaan apa?" tanyanya dengan wajah begitu antusias.
"Sudah kemarilah. Ayah sedang sibuk kerjaan ini." titah Fery kembali.
Tak ingin bertanya lagi, Arini pun bergegas meninggalkan toko kosmetik miliknya. Ia buru-buru melajukan motor menuju bengkel sang ayah. Wajah cantiknya berbinar menerka-nerka apakah benar yang ia tebak sebelumnya. Selang beberapa menit kemudian akhirnya Arini tiba. Bukan hanya dirinya saja yang berada di sana. Tetapi sang adik yang bernama Vanda juga baru tiba dengan sepedanya.
"Kak Arini? tuh mobilnya keren sekali loh." ujar Vanda berseru saat melihat mobil baru yang begitu mengkilat.
"Apa sih, Van? ngaco kamu. Masa mobil baru itu punya kakak?" celetuk Arini yang begitu girang dalam hatinya meski saat ini ia berusaha menahan senangnya.
"Ayah benar-benar the best deh. Kamu baru minta bulan lalu sudah di belikan sekarang mana baru lagi. Aku kapan yah di belikan juga?" celetuk Yuyun sang kakak tertua.
Mereka bertiga akhirnya berkumpul saat itu di depan bengkel sang ayah hingga Fery pun keluar menemui para anaknya setelah mendengar panggilan dari sang anak buah. Pria paruh baya itu tampak melenggang dengan bangganya.
"Anak yang nurut dengan ayah pasti akan senang dan sukses. Lihat Arini kamu sudah ayah penuhi permintaan kamu. Sekarang lihat bagaimana nasib adik mu itu? Itulah resiko anak yang pembangkang. Ayah tidak akan memberi belas kasih sama Melisa itu." ujar Fery nampak kesal kembali mengingat sosok anak ketiganya.
Mereka pun tampak bersenang-senang sampai pada akhirnya lewatlah sosok wanita yang tak lain adalah Weni, sang istri. Ia mengendarai motor melewati bengkel sang suami hendak membeli sayuran. Entah mengapa air matanya tiba-tiba saja menetes melihat bagaimana bahagianya kehidupan sang suami dan anak-anaknya tanpa ia dan juga Melisa.
"Kasihan sekali kamu, Nak. Ibu janji akan mengusahakan membantu kamu sekali pun nyawa ibu yang menjadi taruhannya." gumam Weni dalam hati.
Ia pun tiba di tempat sayur dan mendengar kembali ocehan yang sering mengusik telinganya.
"Bu, itu si Yuyun semalam sama siapa sih? Kok tengah malam banget keluyuran mana sama suami orang lagi. Hati-hati loh bahaya anak perempuan di bebaskan seperti itu." Weni hanya bisa diam saat mendengar ucapan tetangga satu kampungnya itu.
Ia tak tahu harus menjawab apa. Ingin membela namun ia sendiri tidak tahu kebenarannya. "Em...mungkin ibu salah lihat kali. Yuyun semalam ada sama Arini di rumah." jawabnya berusaha membela sang anak.
"Awas bu, laki-laki orang yang di ganggu mungkin aman-aman saja. Tapi kalau sampai laki saya, nggak akan tinggal diam saya. Saya bisa tuntut ke polisi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments