Peran Seorang Menantu

Kepergian Melisa pagi itu di iringi air mata oleh sang ibu. Berat rasanya meninggalkan desa tempat kelahirannya, namun ada impian yang harus ia kejar saat ini. Melisa melangkah tak ingin lagi menoleh ke belakang. Ia menaiki sebuah trevel yang akan melaju ke arah kota. Semua keluarga begitu kagum dengan kegigihan Melisa yang ingin memiliki pendidikan tinggi. Tak jarang juga banyak yang menghujatnya sebab memandang sebelah mata perihal pendidikan.

"Sudah jangan sedih. Anakmu satu itu anak yang hebat. Jangan membuatnya berat untuk pergi." ujar Eni ibu dari Weni.

Weni mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar barulah ia melepaskan sedihnya saat itu. Weni masih begitu merindukan sang anak. Bayangan semalam mengusap rambut panjang sang anak masih terasa begitu nyata saat ini.

Tanpa ia tahu jika Melisa dengan terpaksa turun dari kendaraan roda empat saat melihat mobil yang sangat ia kenali sudah terparkir di tepi jalan. Usai menghubungi Melisa, Pak Reza pun menyebutkan dimana dirinya berada saat ini.

"Hai Mel," sapa pria paruh baya itu dengan wajah tanpa dosanya.

Ia tidak sadar jika telah membuat Melisa benar-benar tak nyaman dengan keinginannya saat ini. Dimana seharusnya Melisa bisa menikmati waktu berkumpul dengan keluarga dan neneknya justru ia harus segera kembali lagi ke kota.

Bukan ke kota lebih tepatnya. Ia harus kembali bersama pria ini yang entah ingin membawanya kemana. Sudah jelas jika mobil yang di gunakan Pak Reza biasa mereka gunakan jika ingin pergi keluar kota.

"Kita akan liburan lagi, Pak?" tanya Melisa menebak.

Bukannya menjawab, Pak Reza justru menggenggam dagu lancip milik Melisa yang sudah ia treatment dengan alat canggih.

"Kita akan bersenang-senang, Mel." serunya begitu bahagia.

Tak perduli bagaimana respon wajah Melisa yang nampak biasa saja saat ini. Ia memilih memejamkan mata menikmati perjalanan di kesunyian itu. Jika mengingat beberapa saat lalu, Melisa melewati jalanan desa ke kota penuh dengan perjuangan dan ketakutan. Kali ini ia sudah begitu biasa tanpa beban pikiran lagi. Semua bisa ia kendalikan dengan uang yang ia dapat dari Pak Reza tentunya.

Suasana yang berbeda tampak di rumah milik keluarga baru Yuyun. Hidup yang ia pikir akan mudah di jalani kini terasa semua berbanding terbalik. Sang mertua yang selalu menampakkan wajah ramah di luar kini tampak seperti singa yang baru saja beranak. Wajah ketus dan bibir yang selalu di tekuk.

"Yun, ini kenapa nggak di bersihkan? Itu di bawah meja aja kamu nggak sapu loh. Yang bersih kalau nyapu itu." ujar sang mertua membuat Yuyun begitu rendah derajatnya saat ini.

Meski sebenarnya ini bukanlah hal rendah atau tinggi derajat seorang wanita. Namun, sebagai menantu sudah menjadi kewajiban untuk membantu mertua mengurus rumah tentunya. Terlebih Furqon sebagai suami belum bisa memberikan rumah untuk istrinya.

"Iya, Bu. Ini kan sudah di sapu. Sudah yah aku juga capek nyuci piring begitu banyak." tutur Yuyun memohon belas kasih dari sang mertua.

Mendengar keluhan itu sang mertua justru tampak acuh. Ia berjalan memasuki kamar mengambil tas dan dompet lalu keluar dari rumah meninggalkan sang menantu. Tak lupa sebelum keluar ia sempatkan berteriak.

"Rumah jangan lupa di pel habis itu yah."

Hanya bisa mencela dari belakang yang Yuyun lakukan saat ini. Tidak mungkin ia berani berbuat ulah di saat hari pernikahan ini baru menginjak usia dua hari.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!