Pengangkatan Ambareesh sebagai Prajurit baru telah diumumkan bersamaan dengan kenaikan pangkat para prajurit yang berkontribusi besar dalam perang.
Belum ada satu jam setelah pengangkatan Ambareesh sebagai Prajurit baru, Raja De luce melemparkan sihirnya ke arah Ambareesh untuk membunuhnya. Namun, itu adalah serangan kecil bagi Ambareesh. Ambareesh menghindarinya kemudian, Ambareesh menunjukkan pedang sihirnya yang dia beri nama Hinoken itu di leher Raja Akaiakuma dihadapan Rakyatnya.
Tentunya, ini adalah hal yang memalukan bagi Raja De luce dan hal yang kurang ajar yang dilakukan Ambareesh.
Ha nashi menghentikan Ambareesh, sebelum pertikaian yang lainnya datang. Ha nashi mengumumkan dengan keputusan secara sepihak bila Ambareesh adalah tangung jawabnya dan akan berada di garda pasukan 0 (Zero).
Raja De luce, menjalin sebuah kontrak kecil dengan Ambareesh untuk tidak berhak memerintah Ambareesh dengan alasan pribadi.
...----------------●●●----------------...
KEESOKAN HARINYA
Ambareesh datang memasukki Istana Akaiakuma setelah diangkat menjadi Prajurit Akaiakuma dan berada dibawah perintah Ha Nashi secara langsung. Raja Akaiakuma, tak berhak memerintah Ambareesh karena la terjalin perjanjian dengannya.
Ambareesh berhasil membuat seorang yang memiliki drajat tertinggi di Akaiakuma tunduk dihadapan pedang sihirnya yang berwarna biru langit.
Raja Akaiakuma, bersumpah akan mengabulkan satu keinginan Ambareesh.
Saat itu, Ambareesh membawa empat temannya yang terdiri dari Luka, Megi, Tera, dan satu teman perempuannya yang ikut selamat dalam pertempuran itu.
Ambareesh yang masih berusia 19 tahun tidak serakah. la, meminta dengan sopan agar empat temannya dimasukkan kedalam keprajuritan Akaiakuma dengan pangkat yang sama dengannya.
Raja, tidak menyetujuinya begitu saja. Ia memberi syarat, bisa menyembuhkan putranya dari traumanya dan menjadi seorang guru bagi putra ke-duanya.
"Baiklah! Beri aku tempat tinggal yang layak selama aku menjadi Guru Pangeran ke-2" Ambareesh menyetujuinya.
Dalam hati Ambareesh, dia akan membuat sang Pangeran ke-2 membenci keluarganya dan membuat Pangeran ke-2 sadar atas kelakuan keluarganya itu tidak benar.
Negosiasi panjang itu, ditengahi oleh Ha nashi. Keduanya menandatangangi surat kontrak kerja tambahan itu.
Ha nashi mengatarkan Ambareesh hingga didepan pintu kamar Arnold yang selalu tertutup. Ha nashi, sempat bercerita kepada Ambareesh bila Pangeran ke-2 mengalami kecelakaan saat belajar sihir pedang hingga melukai kedua telapak tangan dan bagian dadanya.
"Ya, apapun trauma, itu adalah hal kecil yang sengaja di buat untuk menakut-nakuti pria kecil itu"
Ambareesh masuk kedalam kamar Arnold tampa mengetuk pintu. Dia menggunakan sihir teleportnya untuk masuk ke kamar Arnold.
Ambareesh terdiam sejenak ditempat saat mendengar suara gesekan antar kertas dengan pensil. Suara itu, merindukan ditelinga Ambareesh. Ambareesh mendekat dan melihat Arnold sedang fokus mengambar benteng dan meriam.
"Anda suka menggambar ya?" Suara Ambareesh yang halus membuat Arnold terkejut setengah mati.
Arnold menatap Ambareesh sambil memegang dadanya yang berdebar.
"Apa dia penyusup?" Arnold berusaha memastikannya.
Dia melihat kening Ambareesh yang aneh. Ada satu tanduk disana. Raut Arnold langsung berubah. "Ih, kau Iblis abnormal" Mulut Arnold yang buruk karena didikkan ayahnya sangat lamis.
Ambareesh sengaja mengeluarkan tanduknya di hadapan Arnold agar Arnold tidak merasa terimitidasi dengan sihir pelindung Ambareesh yang selalu aktif untuk mencegah orang lain membaca isi pikirannya serta mempermudah dirinya menemukan musuh.
"Apa aku tidak cocok dengan tanduk ini?" Tanya Ambareesh.
Arnold kembali melihat seluruh tubuh bagian liar Ambareesh. Telinga Ambareesh adalah telinga Elf. Kemudian, warna iris Ambareesh lebih gelap bila di katakan bangsa Malaikat ataupun Bangsa Elf Blue.
Arnold mendekat ke arah Ambareesh dan membuka jubah maron dengan dalaman biru (Pemberian Skyzen). Arnold mengendusnya. Kemudian, dia mendonggakkan kepalanya melihat Ambareesh dan segera mundur kebelakang.
Ambareesh tersenyum sambil mengangkat ke dua tangannya. "Aku tidak membawa senjata berbahaya~" Ucap Ambareesh.
"Kau seorang pembunuh" Ucap Arnold sambil membersihkan tangannya dengan sapu tangan.
Ucapan Arnold, menusuk Ambareesh.
"Aku bukan pembunuh. Aku adalah guru barumu" Ucap Ambareesh sambil mengendus pakaiannya sendiri.
Sebenarnya, Arnold tidak mencium aroma seorang pembunuh dari Ambareesh. Arnold memiliki kepekaan yang tinggi terhadap orang lain. Hingga hal ini, membuat Arnold dengan mudah mengetahuinya.
Arnold meraih pisau buah yang ada di dekatnya. Kemudian, dia tunjukkan kepada Ambareesh. "Keluar dari kamarku atau aku teriak penyusup?" Kedua tangan Arnold tampak bergetar.
Ambareesh melihatnya.
"Baiklah. Aku akan mengalah sekarang, tapi tidak untuk berikutnya. Wosh" Ambareesh keluar dari kamar Arnold dengan sihir teleportnya.
Ambareesh termangun sejenak di depan kamar Arnold. Dia melirik pintu kamar Arnold.
"Kenapa aku bisa menggunakan sihir teleportku? Padahal, aku belum pernah kemari sekalipun." Ambareesh memegang kepalanya. "Dadaku terasa sesak seolah aku telah melupakan sesuatu yang penting. Ah, sialan. Nanti juga ingat dengan sendirinya" .
Ha nashi baru saja kembali setelah di panggil oleh Raja De luce beberapa saat yang lalu.
"Ambareesh, ada apa?" Tanyanya sambil mendatangi Ambareesh.
Ambareesh berhenti memegang kepalanya dan mendatangi Ha nashi. "Aku kesulitan untuk berkomunikasi dengannya" Jawab Ambareesh.
"Coba, nanti kembali lagi sambil membawakan Pangeran Arnold makanan ringan" Saran Ha nashi.
"Tsk, sejak dulu aku tidak pernah dekat dengan anak-anak selain Bianca. Itupun, dia duluan yang menempel" Gumam Ambareesh.
"Oh iya, mumpung kau disini, ada banyak hal yang ingin ku tanyakan. Sekalian, tunjukkan dimana tempat istirahatku" Pinta Ambareesh.
Ha nashi mengkernyitkan keningnya.
"Apa orang tuamu tidak membiasakan berkata minta tolong?" Tanya Ha nashi sambil melipat lengannya di dada.
"Walau salah satu dari mereka masih ada sekarang, kurasa mereka tidak akan memperdulikannya" Jawab Ambareesh.
Ha nashi menunjukkan tempat khusus untuk Ambareesh. Tempat itu, berupa rumah yang letaknya di sebelah barat gedung pelatihan prajurit. Tempat itu, adalah rumah penjaga istana.
Ambareesh memprotesnya. Namun, Ha nashi menyelanya terlebih dahulu. "Kau dilarang protes. Kita akan satu rumah" Ucap Ha nashi sambil memberi kunci rumahnya pada Ambareesh.
Mulut Ambareesh langsung comat-camit sangking kesalnya dengan keputusan Ha nashi yang lagi-lagi sepihak karena Raja De luce telah menawarkan kamar tamu istana untuk Ambareesh.
Ambareesh masuk ke rumah itu dan langsung duduk seperti di rumah sendiri. "Karena sudah tidak ada orang lain disini. Aku ingin kau membantuku untuk mencari data seseorang yang sedang ku cari. Namanya, Belial Ken. Dia berusia 23 tahun sekarang" Ucap Ambareesh langsung pada intinya.
Ha nashi geleng-geleng kepala karena Ambareesh adalah anak buahnya yang tidak memiliki sopan santun sedikitpun.
Namun, Ha nashi terdiam sejenak.
"Belial?" Ha nashi sangat ingat dengan marga itu dan nama Ken, Ha nashi juga sangat mengenal pemilik nama itu.
"Untuk apa kau mencarinya?" Ha nashi mulai merasa ragu dengan keberadaan Ambareesh yang bisa saja membahayakan bagi dirinya juga.
"Ada hal penting yang harus ku bicarakan dengan Iblis itu. Mengenai segala hal yang tak ku tau" Jawab Ambareesh.
"Apa hubunganmu dengannya?"
Ambareesh mulai kesal dengan pertanyaan Ha nashi. Dia berdiri sambil menarik kera pakaian Ha nashi.
"Hei, apa kau berniat mengintrogasiku?" Tanya Ambareesh.
Mata Ha nashi terbelalak kemudian dia melihat ke arah lain. "Maafkan aku. Kebiasaanku keluar begitu saja" Ha nashi, membawa kebiasaannya yang sering mengintrogasi para prajurit penghianatnya.
Ambareesh melepas kera pakaian Ha nashi. "Jadi, kau bisa apa tidak? Soalnya, aku dengar dia menjadi prajurit disini." Ucap Ambareesh sambil menghilangkan tanduknya dan kembali duduk.
Ha nashi tidak pernah tau bila Ken pernah menjadi prajurit disini.
"Aku akan membantumu. Tapi, ini akan membutuhkan waktu yang cukup panjang" Ucap Ha nashi.
"Tidak masalah, aku orang yang cukup sabar untuk mencari informasi. Kemudian, apa kau pernah dengar tentang Kerajaan Siluman Rubah Putih yang bermarga Alba?" Tanya Ambareesh.
Ha nashi duduk di kursi depan Ambareesh.
"Tentu saja. Siapa yang tidak tau dengan marga kerajaan yang sejajar dengan De luce itu?" Jawab Ha nashi dengan santai.
"Sejajar dengan De luce? Apa maksudmu?" Tanya Ambareesh.
Ha nashi menaikkan kaki kanannya di atas lutut kirinya.
"Alba dan De luce itu memiliki silsilah yang sangat dekat. Dua marga ini, memiliki hubungan darah berupa se-ayah. Sebelumnya, Alba dan De luce itu bukan nama marga. Itu adalah nama dari dua anak yang lahir dari dua wanita yang berbeda dengan satu ayah. Aku tidak tau apa nama marga aslinya. Aku bisa mengatakan ini karena pernah membaca silsilah itu dibuku yang sangat dilarang untuk dibaca oleh Kerajaan Akaiakuma" Ucap Ha nashi.
"Ha? Tapi, kenapa kau membacanya?"
"Karena aku penasaran" Jawab Ha nashi dengan santai sambil meringis.
"Ini alasanku membenci sebuah aturan" Batin Ambareesh sambil tersenyum pasrah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments