Kini Ambareesh berada di ruang isolasi yang terang dan putih. Ambareesh mengedip-ngedipkan matanya yang buram.
"Paman Zen, kenapa kau mengirimku ke neraka?"
Bibir Ambareesh kering dan pecah-pecah karena efek obat yang masuk ke dalam tubuhnya. Tubuhnya seakan mati rasa. Ia hanya bisa mengedipkan matanya dan menggunakan indera pendengarannya yang masih berfungsi dengan baik.
"CKLAK!" Pintu ruang isolasi Ambareesh terbuka. Vivi, asisten Wandlle mendorong ranjang yang digunakan Ambareesh keluar dari ruangan isolasinya.
"Dia mau membawaku kemana lagi? Kenapa mereka tidak membunuhku saja?"
Vivi membawa masuk Ambareesh ke dalam ruangan asing yang lainnya. Disana, telah ada Wandlle yang menunggunya.
Besi yang dipanaskan dalam bentuk satuan angka telihat sangat merah diangkat olehnya.
"Apa yang mau dilakukan dengan benda panas itu?"
Vivi membalik tubuh Ambareesh ke sisi kanan. Dia menarik pakaian Ambareesh pada bagian lengan kiri hingga ke atas.
"Apa yang akan mereka lakukan?"
"CSSSSSSSSHHHHHHHHH" Besi panas itu, ditempelkan oleh Wandlle pada lengan kiri Ambareesh.
Ambareesh membelalakkan matanya. Kulitnya terbakar. "HEMMMMP!!!" Dia mengigit keras bibirnya hingga berdarah. Angka 227 tercetak pada lengan kiri Ambareesh.
"Bagaimana perkembangan 227?" Wandlle memberi Ambareesh infus untuk pemulihannya.
"Objek masih belum menunjukkan penolakan. Tubuhnya menerima obat dengan baik" Jawab Vivi sambil mengeluarkan sihir medis miliknya. Sihir itu, terlihat seperti layar merah yang transparan. Di dalam layar itu, ada detak jantung Ambareesh masih berjalan dengan normal.
Dada Ambareesh terasa panas. Bahkan, kedua telapak tangannya tidak mampu mencengkram tali pengikatnya dengan baik.
Wandlle mulai memeriksa satu persatu bagian tubuh Ambareesh yang berkemungkinan mengeluarkan tanduk.
Belum ada benjolan yang terlihat. Walau begitu, Wandlle belum patah semangat.
"Untuk obat nanti malam, tambah dosis untuk gen manusia"
"Apa? Bisa Anda ulang Dokter?" Tanya Vivi.
"Aku ingin 227 memiliki gen manusia di dalamnya" Jawab Wandlle.
"Baik"
"Apa maksudnya itu? Aku-aku ingin cepat keluar dari sini. Kapan Paman akan datang?"
"Kemudian, tentang orang yang membawa 227, buat dia mati. Dia telah mengetahui tempat ini"
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Saya sudah mengaturnya. Saya tinggal melaporkan data tentang dirinya ke Istana" Ucap Vivi.
"Xixixi, Aku tidak sabar menunggu kabar kematiannya pada kabar utama koran Akaiakuma" Wandlle terkekeh.
...----------------●●●----------------...
Tiga hari berlalu begitu cepat. Ambareesh menjadi sosok yang pendiam dan dia mulai diperbolehkan untuk tidak diikat lagi.
Ambareesh menggaruk kepala bagian kanannya tepat pada telinga kanan bagian atasnya.
Dia mulai stres dengan sekitarnya. Ruangan putih sendirian dan tak ada barang lain selain kasurnya membuat pikiran Ambareesh semakin jenuh.
Dia berjongkok di lantai dan bersandar pada kayu kasurnya sambil mengigit kulit ibu jari kirinya. "Aku harus keluar dari sini. Apapun itu"
"SRUUT!" Kulit ibu jarinya terkelupas. Setitik darah keluar darisana. Ambareesh tidak merasa pedih sedikitpun. Ini karena efek obat penghilang sakit yang di berikan kepada Ambareesh.
"CKLAK!!" Pintu ruangannya berbunyi.
"Tidak! Jangan lagi!" Ambareesh segera bersembunyi di bawah lantai kasurnya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Sepasang kaki terlihat berhenti di depan pintu kamarnya.
"227! Dimana kau? Lihatlah, aku membawa kabar gembira dari pamanmu~ Dia akan dipancung hari ini~"
"Dipancung? Apa itu?"
"Pamanmu beruntung sekali, dia akan mati tanpa merasakan rasa sakit yang lama"
Ambareesh langsung terbelalak. "Tidak mungkin".
"Tep!" Koran itu, dijatuhkan oleh Wandlle di sebelah kasur Ambareesh. Dia tau tempat persembunyian anak-anak itu.
"Aku hanya ingin memberi itu saja padamu"
Ambareesh menarik koran itu. Dia tidak bisa membaca tulisan itu. Dia tidak mengenal huruf. Ambareesh membuang koran itu hingga mengenai kaki Wandlle.
"Kenapa? Apa kau terkejut?" Tanya Wandlle.
"Pergi! Dasar Monster!!!" Teriak Ambareesh.
"Pfft! PUAHAHAHAHA! MONSTER?! AKU! MALAIKAT PENOLONGMU! GREP! SYUUT!!"
Wandlle menari kaki Ambareesh hingga terseret keluar. Dia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ambareesh. "Sore ini, aku ingin kau bertarung dengan Objek 106. Yang paling kuat akan hidup dan yang lemah akan mat-CUIH!"
Ambareesh meludahi wajah Wandlle bagian kiri. Wandlle refleks menoleh ke kanan. Dia mengusap pipi kirinya yang diludahi Ambareesh dengan sapu tangan.
"GRET!" Wandle mencengkram pipi Ambareesh yang tirus. "Aku ingin, kau tetap hidup apapun caranya" Wandlle melepasnya dengan kasar kemudian dia pergi dari ruang isolasi Ambareesh.
Ambareesh menggaruk kepalanya kembali.
...----------------●●●----------------...
Ambareesh tidak bisa sihir sedikitpun. Dia mengenal mana namun, Dia tidak tau bagaimana cara mengeluarkannya.
Jam dinding terus berjalan. Ambareesh berkeliling di ruangan putih itu seperti orang gila sambil mentap-tap tembok.
Wandlle melihat Ambareesh dari layar monitor merasa aneh dengan perilakunya. "Sedang apa bocah itu?" Ucap Wandlle sambil melepas kaca matanya untuk melihatnya dengan jelas.
"Syuut" Tangan seorang wanita, mengalung pada leher Wandlle hingga dadanya dari belakang. "Dokter, apa Anda yakin ini akan berhasil membuatnya mengeluarkan mana?"
Wandlle melihat wajah dari tangan itu. Wanita itu adalah Vivi, asisten Wandle. Wandle melepaskan kedua tangan Vivi dari lehernya. Dia berdiri sambil memakai kacamatanya.
"Tentu saja. Dia ternyata tidak seakrab yang kukira dengan pamannya. Harusnya, bila aku memberikan koran itu padanya, itu bisa membuat pemicu untuk dirinya. Ini tidak sesuai dengan yang ku pikirkan. Atau, dia punya alasan lain yang menjadi penyebab dia tidak bisa mengeluarkan mana?" Gumam Wandlle.
"YA! Selain kesedihan, ketakutan bisa menjadi pemicunya. Aku akan membuat bocah itu ketakutan saat bertarung dengan Objek 106" Lanjut Wandlle sambil menepuk tangannya.
"Objek 106? Bukankah itu berbahaya dokter? Saya sendiri kewalahan karena Objek 106 itu. Apa lagi dengan Objek 227?" Tanya Vivi.
"Percayalah padaku. Yang menang hanyalah yang terkuat. 227 memiliki potensi untuk menjadi yang terkuat dari semua Objek-objek disini. Dia satu-satunya yang mampu pulih dari obat itu dalam waktu dua hari. Objek yang lain mengalami lumpuh selama tiga bulan karena obat yang kita berikan. Objek 106 mengalami kelumpuhan selama lima Minggu. 227 itu, berbeda dari 149 objek disini" Jelas Wandlle sambil menunjukkan seringaiannya yang lebar.
Wandlle sudah gila.
Ayahnya adalah seorang dokter yang memiliki bakat alami dalam menyatukan gen satu dengan gen yang lainnya tanpa memberi obat-obatan seperti ini. Wandlle terlahir karena obsesinya pada setiap tanduk iblis yang ada di Negri ini.
"Darimana asalnya tanduk Iblis?"
"Tentu saja berasal dari gen"
Bagi mereka yang tidak memiliki tanduk, itu adalah sebuah penyakit di mata Wandlle. Namun, pandangan Wandlle kini berubah 100%. Sosok yang terlahir tanpa tanduk hanyalah hewan liar yang tidak memiliki rumah.
Wandlle sangat kukuh akan pendiriannya terhadap sesuatu yang berbau sains. Hingga dia tidak mudah percaya dengan sosok yang bergelar sebagai TITISAN.
"Ayah, Titisan itu tidak ada. Mereka hanya dongeng untuk menakuti Keturunan Bangsa Iblis. Mereka hanya kumpulan orang otak kosong, suka drama, sok ceramah yang berkata bila Negri ini harus berdamai. Namun, pada nyatanya, mereka adalah pelaku utama kekacauan di Negeri ini"
Wandlle orang yang idealis dan perfeksionis. Apapun yang Dia lakukan harus sempurna. Dia berani mengambil banyak tindakan untuk mewujudkan IMPIANNYA. Bahkan, Wandlle menjadikan ayahnya sebagai kelinci percobaan pertamanya.
Tanduk keluar pada kedua mata ayahnya dan muncul pada bagian dalam tubuh ayahnya tepat pada sumber mananya berada. Hingga menyebabkan jantungnya meledak akibat pengujian itu.
Wandlle sudah kehilangan hati nuraninya. 79 orang menjadi korban akibat keinginan Wandlle dalam menciptakan sosok yang baru untuk mengubah tatanan Negri ini.
"Aku ingin menciptakan mesin pembunuh hidup. Bukankah keren bisa menciptakan makhluk seperti itu? Makhluk yang memiliki darah dari lima Bangsa. Makhluk yang tidak memiliki rasa kasihan walaupun telah memisahkan semua anggota tubuh"
Itu keinginan yang bodoh. Wandlle, kau pasti akan menyesalinya suatu hari nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments