49 adalah nomor urut Ambareesh di akademi. Jantung Ambareesh memacu dengan cepat saat Tera yang memiliki nomor urut 48 kembali di barisannya. Dia mulai panik saat nomor urutnya dipanggil.
Tera melihat Ambareesh yang tidak sedikit pun berekspresi, "Seperti biasa, aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku sangat benci wajah itu" Batin Tera yang salah paham dengan wajah Ambareesh.
Ambareesh mengambil jalan yang paling jauh daripada melewati teman-teman akademinya. Dia berusaha mengindari tatapan mereka.
"Kenapa dia lewat sana?" Lirih Tera pada Luka.
"Biasa, mungkin lagi caper" Jawab Luka.
Semua mata sedang menatap Ambareesh.
Bisikan aneh tentang dirinya, mulai terdengar di telinga Elfnya.
"Tanduk? Dia bangsa apa? Hei, bukannya bangsa Iblis tidak diundang"
Berada diposisi Ambareesh, benar-benar serba salah.
Ambareesh mengangkat pandangannya untuk mulai berbicara. Sontak suara bisikan itu hilang sekejap. "Kenapa mereka berhenti berbisik? Ini membuatku semakin gugup"
Hal ini terjadi karena Ambareesh memberi tatapan mengintimidasi pada mereka. Mereka yang berada di barisan depan segera menundukkan pandangan mereka.
"Aku eh, Saya Ambareesh nomor urut 49 dari Desa Shinrin" Ucap singkat Ambareesh.
"Bangsamu?" Tanya salah satu pengajar disana.
"Aku adalah keturunan campuran dengan fisik yang lebih dominan bangsa Malaikat" Ambareesh mengosok keningnya dengan tidak sengaja ke arah kanan. Tanduk itu menghilang dalam sekejap.
"Eh?! TANDUKNYA HILANG?!!!!" Mereka yang sedang melihat Ambareesh sama terkejutnya.
Mungkin, ini adalah sebuah keberuntungan yang beruntun terjadi pada Ambareesh. Sebenarnya, Ambareesh hanya mengulangi hal yang pernah terjadi di kehidupannya di masa lampau. Sehingga, rasa Deja vu yang dirasakan Ambareesh menjadi pemicu hal ini terjadi.
Ambareesh tidak banyak panjang lebar lagi. Dia memanfaatkan hal ini untuk menghindari kebencian mereka yang merupakan bangsa non-Iblis.
"Lihatkan? Tanduk tadi hanyalah tanduk yang digunakan untuk menyimpan sebagian besar sihirku"
Efeknya, tubuh Ambareesh menjadi panas dan berat. Ambareesh masih belum terbiasa dengan kapasitas sihirnya itu.
Ambareesh juga, merasakan energi sihirnya yang mulai meluap keluar. Untuk pertama kalinya, dia berusaha agar tanduk itu, muncul kembali.
Dia berusaha tenang dan tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Salah satu dari perempuan di hadapannya yang menjadi siswa pelatihan akademi tersebut mengangkat tangannya.
"Apa Ambareesh tidak memiliki marga?"
"Ya, aku kehilangan margaku" Jawab Ambareesh.
"Ah, pasti karena bangsa Iblis ya.... Berapa usiamu?"
"17 tahun" Jawabnya.
Ambareesh berpikir bila tanduk itu menghilang saat dia mengusapnya ke arah kanan, ada kemungkinan bila dia mengusapnya di arah yang berlainan tanduk itu akan muncul kembali.
Pemikiran Ambareesh sangat tepat. Tanduk itu muncul kembali. Untuk pertama kali dari kedua kalinya, Ambareesh bersyukur dengan adanya tanduk itu karena mengurangi beban tubuhnya menahan kapasitas sihirnya.
Ambareesh menunjukkan senyuman tipisnya secara tidak sadar. "Guru, bolehkah saya kembali ke tempat?" Tanyanya.
Tera dan Luka melihat senyuman itu. Keduanya saling melihat. Seolah mereka saling bertanya. "Apa kau melihat yang ku lihat?"
Guru itu, memegang kepala Ambareesh. Ambareesh membelalakan matanya karena itu adalah area sensitif Ambareesh.
Ambareesh memegang lengan kanan pengajar itu dan menariknya dengan keras. Ambareesh membungkukkan tubuhnya dan membanting pengajar itu hingga punggung pengajar tersebut terhantam dengan keras di tanah.
"BKAKH!" Sekejap, pengajar itu merasa sesak di dadanya.
Semua orang yang berada di sana membelalakan matanya kemudian para calon siswa bersorak.
"Eh?! Guru! Ma... Maafkan Saya!"
Ambareesh tersadar atas tindakan yang telah dia lakukan. Sontak, dia segera mengulurkan tangannya pada pengajar tersebut.
Pengajar tersebut menyadari bila tidak semua remaja suka dipegang di bagian kepala. Dia menerima uluran tangan Ambareesh.
"Apa tujuanmu belajar sihir?"
Ambaressh mengangkat salah satu alisnya saat mendengar ucapan tersebut.
"Menghancurkan pemerintahan Raja Akaiakuma yang mutlak" Ucap Ambareesh.
Pria itu tersenyum.
"Itu hal yang mustahil" Ucapnya.
"Kau berkata mustahil karena kau belum menjalankannya" Jawab Ambareesh sambil menarik Pengajar laki-laki tersebut, kemudian kembali di barisannya.
...----------------●●●----------------...
Pelatihan akan dimulai setelah masa orientasi yang dijalankan selama tiga hari.
Hal ini, memiliki tujuan untuk mengenalkan satu sama lain sebagai pengajar dan sebagai naradidik.
Salah satu teman se-kamar asrama Ambareesh adalah Megi. Megi adalah bangsa Manusia non-campuran dan dia merupakan putra dari Pengajar yang telah Ambareesh banting.
"Kau... Kuat sekali, Ambareesh. Aku ingin sepertimu...." Lirih Megi pada Ambareesh saat mereka bertiga (Megi, Ambareesh, dan Luka) mandi bersama.
Ambareesh melirik Megi. "Jangan melukai dirimu sendiri dengan berusaha menjadi orang lain. Saat kau mengatakan itu lagi, aku akan menghajarmu seketika" Ancam Ambareesh.
Ambareesh benci dengan membanding-bandingkan. Sejak kecil, Ambareesh telah kenyang di banding-bandingkan dengan kakaknya dan saat bersama Wandlle, dia kenyang karena berusaha menjadi nomor satu demi bertahan hidup.
Luka menepuk punggung Megi. "Lupakan tentang cara menjadi kuat seperti Ambareesh. Dia itu, hanya mesin tanpa ekspresi dan menjalankan apapun yang diperintahkan. Kau tidak perlu menjadi seperti itu" Luka menyindir Ambareesh secara halus.
Sayang sekali, Ambareesh sungguh tidak bisa membedakan sindiran dengan perkataan yang tulus.
"Itu benar. Sungguh lebih enak bila menjalan apapun dengan keinginanmu sepenuhnya" Jawab Ambareesh.
Luka mendecih dan membuang pandangannya.
Pada saat makan malam, seperti biasa Ambareesh memilih untuk makan sendiri daripada berkumpul dengan yang lain.
Walau begitu, Ambareesh populer dikalangan naradidik perempuan berkat wajahnya. Malam itu, Ambareesh tidak bisa makan sendirian. Dia banyak dikelilingi oleh remaja perempuan seumurannya.
"Ambareesh, kau suka daging babi atau ikan?"
"Ikan" Jawab Ambareesh.
"Kebetulan sekali! Ayo makanlah~"
"Aku juga memiliki ikan. Aaa..." Mereka tidak membiarkan Ambareesh berhenti mengunyah sedikitpun.
Penampakan itu, semakin membuat Luka geram dengan Ambareesh.
"Ah, aku ingin juga disuapi seperti itu" Lirih Megi sambil mengunyah makanannya.
"Dih, iri dengan begituan. Kau punya tangan sendiri untuk makan anjir!" Ucap Luka sambil mengigit paha ayam yang sedang dia makan.
...----------------●●●----------------...
Pukul 21.00 semua naradidik yang menjalan masa orientasinya di hari ketiga sedang menikmati pertunjukkan sihir yang dipamarkan para pengajar.
Para pengajar yang sedang memamerkan sihir dan keunggulannya itu, tidak jarang menunjuk naradidik yang antusias menonton pertunjukkan itu.
Ambareesh lebih memilih menonton pertunjukkan itu dari kejauhan. Dia sadar, bila dia disana, dia tidak akan bisa istirahat dengan tenang.
Sorak gembira dan tepuk tangan terdengar riuh disana. Ambareesh menatap langit yang penuh dengan awan dengan hawa yang dingin.
Dia menarik syalnya hingga menutup dibagian dagunya sambil melirik ke arah mereka yang bersenang-senang disana.
"Bukankah, kalian terlalu bersenang-senang di Neraka yang penuh Iblis ini? Akankah kalian mampu mempertahankan tawa riang kalian itu?" Batin Ambareesh sambil turun dari dahan pohon besar tempat dia tidur-tiduran.
Ambareesh berjalan menghindari keramaian menuju tempatnya beristirahat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments