Masa pelatihan telah dimulai.
Suara dentingan dari antar besi yang saling diketukkan menandakan bila naradidik harus terbangun.
Ini masih pukul 3 dini hari.
Walau demikian, ini adalah aturan yang harus mereka terapkan untuk mencapai kedisiplinan yang harus mereka raih.
Ambareesh terbangun karena dentingan itu menganggu telinga Elfnya. Dia melihat Luka yang menutup kepalanya dengan bantal dan Megi sedang duduk sambil menguap. Kemudian, dia juga melihat Tera sedang mengikat rambut panjangnya yang berantakan.
"Ambareesh, apa kau tidur dengan nyenyak?" Tanya Megi sambil berdiri dan meregangkan tubuhnya.
"Setidaknya, aku tidak pernah setenang ini saat tertidur" Batin Ambareesh sambil mengangguk.
Apel pagi telah dimulai pada pukul 04.30, mereka mulai latihan berbaris sebelum pemanasan.
Pemanasan dimulai dari latihan dasar. Mulai dari peregangan hingga pengenalan kembali terhadap mana dan sihir.
Pelatihan itu, membosankan bagi Ambareesh. "Pelatihan ini, terlalu santai dan terlalu mengkasihani para didiknya"
Batin Ambareesh tidaklah salah. Hanya saja, Wandlle mengajarkan segala sesuatu pada Ambareesh melalui cara yang kasar dan cenderung menimbulkan efek jera kepada naradidiknya. Sehingga, tidak ada satupun dari mereka yang berani bersantai untuk melakukan apapun.
Pelatihan itu juga, menyisipkan gurauan disetiap pelatihannya.
"Disini, kalian bisa menggunakan pedang sihir semuakan?"
"Ya!" Tegas mereka semua.
"Baiklah, aku ingin melihat kalian berduel dengan teman kalian. Dan akan ada sisa satu orang yang akan berduel dengan salah satu pengajar disini. Sebelum pembagian dimulai, apa ada relawan yang mau berduel dengan pengajar?"
Ambareesh langsung mengangkat tangannya.
Dia tidak bisa melawan teman-temannya. Ambareesh takut bila dia kelewatan saat mengeluarkan sihirnya ketika menyerang.
"Woah, Ambareesh? Kenapa?" Tanya Pengajar disana.
"Saya tidak bisa mengendalikan sihir yang keluar saat saya menyerang orang lain. Singkatnya, saya takut melukai mereka yang akan menjadi lawan sparing saya" Jawab Ambareesh.
Itu adalah keputusan yang tepat.
...----------------●●●----------------...
Pelatihan hari pertama telah dimulai.
Ambareesh memanfaatkan lawannya sebagai tolak ukur atau batas maksimum orang biasa mampu menerima serangannya.
Ambareesh tidak berani untuk menggunakan 100% sihirnya. Dia mencoba untuk menggunakan sihirnya sebanyak 80%.
Ambareesh baru pertama kalinya menjadikan orang lain sebagai tempat untuk penguji cobaan standar sihir yang bisa diterima dan dibalas oleh bangsa lain. Dia belum pernah bertarung dengan ayahnya Luka. Selama ini, Ambareesh hanya menyerap Ilmu dari Ayah Luka dan menolak semua tentang berduel dengannya.
Ambareesh menarik napas dengan panjang. Dia mengatur pola napasnya sebelum melapisi pedang kayu yang dia pengang dengan mana.
"Siap?" Tanya pengajar tersebut.
Ambareesh mengangguk sambil mengusap pedang kayu itu untuk dialiri mana miliknya.
"Maju!" Tegasnya.
Ambareesh melesat dengan cepat ke arah pengajar itu. "TUAKKK! PRAK!!!"
Pengajar tersebut, terkejut dengan kecepatan dan pola serang Ambareesh. Dia bahkan, belum bergerak sedikitpun untuk menangkis serangan Ambareesh. Alhasil, pedang kayu yang dipengang oleh Pengajar itu patah dan melesat.
Pengajar itu terbelalak melihat Ambareesh kini berada dihadapannya, setelah pandangannya tertutup dengan asap dari pantulan mana Ambareesh dengan mana miliknya yang bertabrakan.
"Ahk, maaf. . ., Saya terlalu bersemangat" Ucap Ambareesh sambil membungkuk pada Pengajar itu.
Pengajar itu dan beberapa pengajar yang lain termasuk beberapa peserta didik yang melihatnya, mereka seketika melongo dan termangun ditempat.
"Jadi, ini maksud tidak bisa mengendalikan sihir miliknya?"
Pengajar yang ada di depan Ambareesh melihat kedua tangannya yang bergetar. Dia segera memasukkan tangan kirinya di saku jubahnya.
"Tidak masalah, Haha, sekarang coba pelan-pelan. Aku akan membimbingmu hingga bisa" Ucap Pengajar itu sambil mengusap tengkuknya.
"Pengajar ini, apa paham betul dengan yang ku maksud?" Batin Ambareesh sambil mengangkat pandangannya.
"Baik! Mohon bimbingannya!" Tegas Ambareesh sambil memberi postur tubuh siap.
Pengajar yang malang. Kau hanya dijadikan samsak oleh Ambareesh. Di hari pertama, pengajar itu mengalami patah tulang di bagian lengan kanannya saat berusaha menahan serangan 50% milik Ambareesh.
Pelatihan itu, diistirahatkan selama empat jam karenanya.
Ambareesh tidak merasa bersalah sedikitpun akibat tindakannya itu. Sebab, Ambareesh dilatih selama sembilan tahun untuk tidak menerima rasa kasihan, rasa mengkasihani, ataupun rasa penyesalan.
Dibalik pelatihan yang sangat penting bagi para peserta didik ini, para pengajar ternyata memiliki niat lain terhadap pelatihan yang mereka selenggarakan secara cuma-cuma ini.
Alih-alih membantu mereka yang kurang mampu untuk menerima pendidikan bela diri, ternyata mereka menjadi 49 peserta didik itu, sebagai calon budak raja Akaiakuma. Mereka, sebanyak 8 Pengajar berbangsa Non-Iblis telah menandatangai kontrak jiwa dengan Raja De luce ke-9.
Sehingga, mereka ber-8 tidak bisa membocorkan tentang kontrak itu.
Selama satu setengah tahun berlalu, Ambareesh tidak mengetahui hal ini. Surat dari seekor burung merpati, turun ditangannya. Itu adalah surat kematian ayahnya Luka.
Ambareesh memberikan surat itu kepada Luka dan Tera. Mereka terpukul atas kabar tentang kematian ayahnya yang tiba-tiba.
Kemudian, kabar lain menyusul. Kerajaan Akaiakuma, mencari prajurit baru untuk perluasan wilayah dibagian Tenggara.
Sebagian dari 49 peserta yang ikut dalam pelatihan itu, menolak tawaran itu dengan tegas. Namun, berbeda dengan Ambareesh. Ini akan mengarahkannya menuju tujuan dia berlatih sihir.
Sebelum itu, Ambareesh harus menemukan rumah keluarganya yang di kabarkan berada di sekitar wilayah Greendarea.
Penolakan para peserta yang berujung dengan demonstrasi yang riuh. Sangat jauh dari pemikiran Ambareesh.
Demonstrasi itu, dipelopori oleh Luka yang terbawa suasana pasca kematian ayahnya yang terungkap bila mati di tangan Prajurit Akaiakuma. Demonstrasi itu, terbagi menjadi dua kubu. Dimana kubu pertama, beranggapan bila 'Dengan menjadi Prajurit Akaiakuma, kehidupan akan terjamin di kedepannya' .
Kemudian, pada kubu Luka beranggapan bila 'Kita hanya dijadikan tumbal untuk pelebaran wilayah itu'.
Ambareesh tidak berada di salah satu pihak itu. Megi terobsesi dengan Ambareesh, sehingga dia menahan dirinya untuk berada di kubu Luka dan lebih memilih di jalan Netral seperti Ambareesh.
Selama demonstrasi itu terjadi, Ambareesh mulai mencari alamat rumahnya yang ada di gulungan kertas pemberian Elvry dan di temani oleh Megi.
Hubungan pertemanan antara Ambareesh dengan Megi, semakin membaik seiring berjalannya waktu.
"Ambareesh, apa adik perempuanmu itu cantik?" Tanya Megi dengan nada malu-malu.
Ambareesh memberi tatapan kesal pada Megi. "Walaupun adikku cantik dan tertarik padamu, kau adalah orang pertama yang harus dia hindari. Lagi pula, laki-laki itu. . .," Ambareesh seolah ragu untuk mengatakannya.
". . ., Tidak akan membiarkanmu pergi setelah menyentuhnya" Lanjutnya.
*Maksud kata laki-laki itu: Kakak laki-laki Ambareesh yang bernama Belial Ken.
Megi mendengus tipis. "Sekejam itukah kakakmu Ambareesh?" Tanya Megi.
"Sekejam apapun dia, aku tidak akan pernah takut dengan laki-laki itu. Suatu hari nanti, dia akan bersujud dan memohon padaku" Ucap Ambareesh sambil menghilangkan tanduknya karena melihat Prajurit Iblis di depannya.
Empat Prajurit itu, mencegat jalan Ambareesh dan Megi.
"Kalian, akan memasuki wilayah keamanan Kerajaan Akaiakuma. Tunjukkan idetitas kependudukan kalian bila ingin memasuki area ini" Ucap salah satu Prajurit Iblis itu.
Megi menarik jubah Ambareesh. "Hei, kitakan belum memiliki surat itu..." Lirih Megi.
Ambareesh mengeluarkan gulungan kertas dari saku dalam jubahnya.
"Kami dari pusat pelatihan yang akan dikirim sebagai calon prajurit untuk pelebaran wilayah Tenggara Akaiakuma" Ambareesh menunjukkan surat yang dia curi dari ruangan Pengajar secara diam-diam.
Megi mengigit bibir bagian bawahnya sendiri. "Sialan! Sebersih ini rencanamu Ambareesh?. A.. Aku semakin ingin menjadi sepertimu"
...----------------●●●----------------...
"Oh, Calon Prajurit kiriman. Ada tujuan apa memasukki wilayah pusat Greendarea?"
"Kami ingin membeli perlengkapan obat sebagai persediaan pribadi" Jawab Ambareesh.
Bualan Ambareesh dipercaya oleh mereka. Ambareesh dan Megi, diizinkan untuk memasuki kawasan itu.
Kini Ambareesh sedang tersenyum puas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments