Tatapan kebencian dan ketakutan selalu ada disekeliling Ambareesh. Tidak ada Objek satupun yang berani menatapnya.
Ambareesh sering berkeliling ke tempat pelatihan untuk para objek yang memiliki kemampuan baik dalam bertarung. Tak jarang baginya, melawan mereka atas perintah Wandlle.
"227!" Wandlle melambaikan tangannya pada Ambareesh dari jarak kejauhan. Kini Ambareesh berusia 13 tahun. Dia melihat Wandlle sedang menuntun anak kecil berambut putih panjang.
Anak kecil itu, berlari ke arah Ambareesh "GREP! KAKAK! TOLONG AKU!" Anak kecil itu memeluk Ambareesh dengan erat sambil menangis.
Ambareesh mendorong keras bocah itu hingga bocah itu terjungkal ke belakang. Mata Ambareesh menatap bocah itu dengan tatapan dingin. Bocah itu menatap Ambareesh dan berdiri lagi kemudian memeluknya. "Kakak tolong Aku!!! Tolong carikan Kak Ranu!!!"
Ambareesh sempat terbelalak melihat warna iris keemasan bocah itu mirip dengan ayahnya yang hampir dia lupakan. "Tuing!"
Ekor putih keluar dari bagian belakang bocah itu. Ambareesh terkejut melihatnya. "HIIIH!" Dia tidak bisa mengatur ekspresi wajahnya. Mimik Ambareesh terlalu jujur.
"Dia Bangsa Siluman Rubah ras putih. Aku cukup beruntung mendapatkan Objek seperti itu" Ucap Wandlle sambil melipat lengannya di depan dada.
"Dokter, lepaskan dia dariku" Ambareesh berusaha melepaskan pelukan bocah itu.
"Sementara ini, biarkan dia bersamamu. Aku memepercayakannya dan jangan mengatakan sesuatu yang buruk tentangku. Kalau bisa, sampaikan padanya kalau dia mau menerima obatku, aku akan memberinya permen" Suruh Wandlle sambil pergi dengan membawa koper besar.
"Kau mau kemana?" Tanya Ambareesh.
"Mengubur" Jawab Wandlle.
Ambareesh menghela napas sambil melihat bocah yang memeluknya. Ambareesh melihat pakaian bocah itu. Pakaian itu, adalah pakaian mahal dan halus.
"Hei, lepasin kalau gam mau ku tebas tanganmu" Ucap Ambareesh.
"HUAAAAAAAAAA" Bocah itu semakin kencang menangis.
Ambareesh menatap ke arah taman yang sepi. "Diamlah. Mau bermain?" Tanya Ambareesh.
Bocah itu mengeleng.
"Makan?"
Bocah itu masih mengeleng.
"Mandi?"
Dia mengeleng. Urat kesabaran Ambareesh langsung putus. Ambareesh memegang kedua bahu bocah itu kemudian dia mendorong dan menahannya. "SIALAN! LALU APA MAU M-" Ambareesh melihat wajah bocah itu.
Bocah itu adalah seorang perempuan dengan wajah yang mungil. Seketika Ambareesh teringat sosok yang sangat ingin dia ajak bermain sejak kelahirannya. Dia teringat Bella, adik perempuannya.
"Maaf" Ucap Ambareesh. Gadis kecil itu kembali memeluk Ambareesh. Kali ini, dia mengalungkan tangannya di leher Ambareesh. "Berapa umurmu?"
"Hiks! Del...delapan" Ucapnya.
Dia selisih 4 tahun dengan Ambareesh yang artinya, dia juga seumuran dengan Bella. Adik Ambareesh.
Ambareesh berdiri dan mengendongnya. Ekor gadis kecil itu terasa lembut saat mengenai kulit tangan Ambareesh.
"Siapa namamu?"
"Al..ba"
"Hah?" Ambareesh hanya mendengar gumaman.
"Bianca" Jawabnya.
"Oh, Bianca. Kalau begitu, berhentilah bernapas di tengkukku" Ucap Ambareesh.
Ambareesh membawa Bianca ke gedung kedua. Disana dia menurunkan Bianca untuk melanjutkan pelatihannya yang akan di mulai.
Saat ini, Ambareesh sudah bisa menggunakan sihirnya. Ive mengajari Ambareesh untuk melakukan sihir teleportasi. Sebenarnya, sihir ini sangat dilarang oleh Wandlle untuk melatihnya. Sebab, sihir ini akan membuat objek yang ada disana kabur dengan mudah.
Ini adalah tujuan Ive. Dia ingin membebaskan Ambareesh dari sana. Adik Ive yang dirumorkan menjalan pengobatan disini, mati akibat penolakan dirinya terhadap obat-obatan. Ive sudah menganggap Ambareesh sebagai adiknya.
"Bukankah aku dilarang menggunakan sihir itu?" Tanya Ambareesh sambil menahan Bianca yang masih menempel padanya.
"Tolong turuti saja ucapanku. Aku akan membantumu keluar dari sini" Bisik Ive pada Ambareesh.
Ambareesh mulai membuka hatinya kepada Ive "Apa kau tidak berbohong?" Tanya Ambareesh.
"Aku berani bersumpah" Ucap Ive.
Ive mulai melatih Ambareesh menggunakan sihir teleportasi yang paling dasar. Ive memberikan contoh pada sebuah batu kecil. Batu itu adalah Ambareesh. Ive melatih Ambareesh untuk memusatkan mananya pada dua titik. Titik pertama adalah pada batu dan titik kedua adalah pada tempat yang ditentukan oleh Ive.
Ambareesh memiliki tugas untuk memindahkan batu itu ke tanda yang telah di tentukan.
"TUAK!" Percobaan pertama. Batu itu melesat ke arah wajah Ambareesh dengan keras hingga hidung Ambareesh mimisan. Bianca menjerit dengan histeris melihatnya. Ambareesh segera menutup mulut Bianca.
"PFFT! PUAHAHAHAHA!" Ive menertawakan Ambareesh dengan kencang.
Percobaan ke-2 batu itu melesat ke arah kening Ive hingga menghentikan tawanya. Ini terjadi, karena Ambareesh memusatkan mananya ke telapak tangannya dan dia melepaskannya untuk memindahkannya namun gagal.
Ambareesh meringis sambil melihat ke arah Bianca.
Sore hari latihan itu berakhir. Ambareesh masih belum bisa menggunakan sihir serumit itu. Kini, Wandlle mendatangi Ambareesh sambil membawa makanannya untuknya.
"Dia sangat menempel padamu 227" Ucap Wandlle di depan Ambareesh.
"Entahlah. Cepat bawa dia. Aku ingin istirahat"
"Tidak bisa" Ucap Wandlle.
"Hah?"
"Untuk sementara ini, biarkan dia bersamamu. Oh iya, besok ada Objek 269. Dia akan menjadi targetmu yang berikutnya"
"Apa yang akan ku dapatkan? Aku tak ingin hanya pengurangan obat" Nego Ambareesh.
"Aku akan memberimu gadis kecil itu" Jawab Wandlle.
Ambareesh melihat Bianca yang masih memeluknya. "Apa maksud ucapan Dokter?"
"Aku tidak akan menjadikan bocah itu sebagai objek. Dia adalah keturunan kerajaan siluman. Ya, lebih tepatnya.... Dia adalah seorang Putri dari Kerajaan Alba. Kerajaan Siluman ras tertinggi, Ras Rubah putih" Jawab Wandlle.
Ambareesh membelalakan matanya sambil melihat ekor Bianca. "Kalau kau tidak mau, terpaksa dia akan menjadi Objek ke 304. Aku akan mentranfer gennya ke tubuhmu" Ucap Wandlle setengah bercanda.
Bianca menatap mata Ambareesh. Mata itu, seolah meminta pertolongan. Ambareesh membuang napasnya sambil menutup matanya. "Jangan bercanda!" Tegas Ambareesh sambil melihat Wandlle.
"Xixixi, iya iya.... Dia akan tetap menjadi Objekku walau kau membunuh 269" Jujur Wandlle.
"Kenapa kau ingin menjadikannya Objekmu? Bukankah, bangsa Siluman masih memiliki perlindungan?"
"Aku hanya penasaran dengan warna rambut dan matanya yang mampu berubah dari hitam ke keemasan, serta munculnya ekor bangsa itu saat mereka takut ataupun marah" Jawab Wandlle sambil mengusap rambut putih Bianca.
Ambareesh melihat rambut Bianca. "Dia takut? Atau sedang marah?" Batinnya.
"Kalau begitu, bagaimana dengan aku akan membiarkanmu untuk menjadikan gadis kecil itu mainanmu. Ya, aku tidak akan menyentuhnya sedikitpun. Ah, tapi aku akan mengambil darahnya sebagai sample satu kali dalam jangka tiga bulan" Ucap Wandlle.
Itu tawaran yang tidak menguntungkan bagi Ambareesh. Tawaran itu, bersifat menguntungkan bagi Wandlle dan Bianca adalah pihak yang dirugikan.
"Baik. Tapi, beri dia ruangan yang hangat" Ucap Ambareesh.
"Untuk apa? Dia akan sekamar denganmu. Aku tidak ingin buang-buang uang untuk bocah yang bukan objekku" Sahut Wandlle sambil membelakangi Ambareesh.
"Ha? Lalu kenapa kau mengambilnya?"
"Hanya untuk bersenang-senang~" Jawab Wandlle sambil meninggalkan Ambareesh dan melambaikan tangannya.
"Dokter sialan"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Yaser Levi
bagus thor ..lanjut seru oi
2024-07-31
0