BAB 1 [Objek 227]

Zen mendengar cerita Ambareesh hingga usai. Dia tau bila Ravel adalah ketua dari agensi gelap itu.

Zen mengusap tengkuk Ambareesh saat melihat mata Ambareesh yang berlinang. "Jadi, apa Ambareesh mau pergi bersama Paman? Paman akan mengenalkanmu kepada orang yang membantu Paman menumbuhkan tanduk ini" Tawar Zen.

Ambareesh melihat Zen. "Apa aku akan bisa sihir? Aku tidak bisa mengeluarkan manaku dengan benar Paman"

"Apa kamu tidak ingin melindungi Ibumu?"

"Sudah ada kak Ken. Untuk apa aku memikirkan Ibu? Ibu takkan khawatir bila Aku mati" Ucap Ambareesh.

Zen menutup mulut Ambareesh perlahan. "Kamu salah Ambareesh. Ibumu sangat mengkhawatirkanmu. Paman kemari karena dimintai tolong olehnya."

Ambareesh langsung teringat ucapan Ayahnya yang ketiga. Dia harus memiliki pandangan yang luas.

"Ambareesh, mau ya berlatih sihir dan menumbuhkan tanduk di desa terluar dan terjauh dari Pemerintahan Akaiakuma?" Tanya sekali lagi.

Ambareesh mengangguk. Ia tidak memiliki sedikit pun akan tempat yang akan menjadi bencana baginya.

...----------------●●●----------------...

Lambaian diberikan Ambareesh pada Bella atau adiknya berusia 2 tahun. Ibu Ambareesh membalik tubuhnya dan membawa Bella masuk sebelum Dia melambai balik tangannya untuk Kakaknya itu.

Ambareesh tidak sedikitpun terlihat seperti Bangsa Iblis. Dia 100% seperti Malaikat bahkan, telinga runcingnya tidak seruncing Elf. Dia didiskriminasi karena itu.

Ambareesh menutup matanya dan menghela napas. "Paman ayo" Tangan kecil Ambareesh mengengam tangan Zen yang besar dan bersarung tangan.

Lingkaran sihir keluar dari telapak tangan kanan Zen kemudian, Lingkaran sihir itu membesar saat dilepaskan.

Ambareesh melirik Ken, dia sedang meringis padanya. Ambareesh mengkernyitkan keningnya, kemudian dia membalas Ken dengan seringaian.

Ya, mereka adalah anak kecil. Hal ini salah namun, lumrah bagi mereka.

...----------------●●●----------------...

Ambareesh kini berdiri di depan pagar beton setinggi 10 meter. "Wohh..." Lirih Ambareesh yang takjub melihatnya. Ia merasa sangat kecil dihadapan peagar beton itu.

Dua penjaga Iblis melihat seragam dan pangkat Zen sebagai Wakil Kepala Pasukan Iblis Akaiakuma langsung menunjukkan tombak sihirnya.

Zen mengangkat kedua tangannya. Ambareesh ikut-ikutan sambil melihat Zen.

"Aku sudah janjian dengan Dokter Wandlle"

"Atas keperluan apa?" Tanyanya sambil mendekatkan tombak sihirnya itu pada leher Zen.

"Objek 227" Jawab Zen.

Penjaga itu membelalakan matanya. "Apa anak ini?" Kemudian, menunjuk Ambareesh

"Ya"

Dia menghilangkan tombaknya dan menatap Ambareesh dengan raut pilu.

"Tuan, lebih baik Anda bawa pulang dia. Dokter Wandlle Clov, sudah meninggal sejak-"

"Tapi ada anaknya kan? Aku sangat berharap besar. Aku ingin keponakanku ini bebas melakukan apapun. Tolong persilahkan kami untuk masuk" Ucap Zen.

Penjaga itu menundukkan tubuhnya ke Ambareesh. "Semangat ya" Ucap penjaga itu kemudian membuka pintu gerbang yang terbuat dari besi hitam dan tertutup.

Tempat luas dan hijau menyegarkan mata Ambareesh. Tempat itu, terlihat sangat ramah. Mereka berdua bertemu dengan perempuan berpakaian jubah putih bersih.

"Objek 227?" Tanya Wanita itu.

"Ya, dia keponakanku" Jawab Zen.

"Baik, Anda hanya boleh mengantarnya sampai disini" Ucap wanita itu.

"Eh? Apa aku tidak boleh bertemu dengan Dokter Wandlle secara langsung?"

"Beliau sedang berkepentingan" Jawab singkat wanita berbangsa siluman itu.

"Baiklah" Zen melihat ke arah Ambareesh dan menepuk kedua bahu kecilnya. "Paman akan mengunjungimu seminggu sekali"

Ambareesh mengangguk.

"Mari" Ajak wanita itu sambil memberikan jalan untuk Ambareesh.

Mata Ambareesh masih melihat ke belakang. Zen melambaikan tangannya. Wajah Zen sangat sedih dibalik topengnya. "Sakitmu akan sebentar Ambareesh, jadilah yang terkuat dari yang paling kuat" Ucap Zen dibalik topengnya.

...----------------●●●----------------...

Suara teriakan dan tangisan terdengar mengema saat Ambareesh baru saja masuk ke dalam gedung tinggi bercat putih itu.

"Siapa yang menangis?" Dengan polosnya, Ambareesh bertanya pada wanita itu.

"Objek sepertimu Mereka tidak mau makan bubur dan minum obat" Jawab singkat wanita itu.

"Kenapa mereka tidak mau minum obat? Apa obatnya pahit?" Tanya Ambareesh.

"Kau akan tau sendiri nantinya"

"Apa? Aku minum obat juga? Aku tidak sakit. Oh! Untuk menumbuhkan tanduk! Apa itu ben-" Ambareesh berhenti berbicara saat wanita itu menatapnya dengan tajam.

"Anak kecil, tidak boleh banyak bertanya" Ucap wanita itu sambil menarik kasar tangan Ambareesh.

Ambareesh kini menjadi diam dan melihat setiap jalan yang dilaluinya. Jalan-jalan itu, penuh dengan pintu besi putih.

"Kenapa mereka menggunakan pintu besi?"

Ambareesh dimasukkan ke dalam ruangan paling ujung lorong tersebut. Bau obat tercium menyengat.

Seorang Iblis laki-laki berjubah putih dan menggunakan sarung tangan medis mendekat ke Ambareesh. Pria itu mengenakan kacamata. Dia melepas kacamatanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Ambareesh.

Matanya yang merah dan jernih, terlihat dalam.

"Bangsa Malaikat huh?"

Ambareesh mengangguk.

"Malaikat itu, lebih lemah dari manusia. Dia pasti mati sebelum seminggu disini. Kenapa kau merekomendasikannya Vivi?" Tanya Pria Iblis itu sambil berdiri dengan tegak dan meninggalkan Ambareesh.

"Dokter Wandlle, apa Anda tidak membaca dokumen objek 227?" Mendengar kata Objek 227 Wandlle berhenti sejenak.

"Objek 227 apa?"

Pria itu, bernama Wandlle. Dia sedang melanjutkan aktivitasnya untuk menyiapkan dosis obat bagi para Objek Percobaannya.

"Sudah saya duga bila Anda tak'kan membacanya. Objek 227 memiliki darah empat Bangsa"

"PRANKKKKK!!!" Wandlle terkejut mendengarnya. Dia tidak sengaja menjatuhkan nampan berisi kapas. Kini, Wandlle tengah menatap Ambareesh.

"Ayahnya terlahir dari seorang wanita berbangsa Siluman dan Pria berbangsa Malaikat. Namun, Ayahnya Objek 227 ini memiliki wujud Malaikat dan mampu menggubah warna matanya seperti bangsa siluman. Kemudian Ibunya terlahir dari wanita berbangsa siluman yang menjalin perkawinan dengan Elf ras biru. Sesuai data yang saya dapatkan Objek 227 ini, memiliki kesempatan untuk-"

"Segera tes darah dia. Aku akan menjadikan dia Objek utama dan bila memang benar, maka buang Objek 106" Ucap Wandlle sambil pergi keluar dari ruangan itu.

Wandlle masuk ke dalam bilik pribadinya dan segera menutup pintu. Dia mencengkram kera pakaiannya sediri dan mengigit kuku-kuku jarinya.

"Hah.... Empat...Bangsa.... dalam... hah... satu... tubuh...."

Wandlle adalah dokter gila yang membunuh ayahnya sendiri demi obsesinya dia terhadap tanduk Iblis. Dia ingin menciptakan dunia yang dipenuhi oleh Bangsa Iblis.

Wandlle memandang bangsa Non-Iblis sebagai hewan yang cacat dan butuh pertolongan seorang dokter.

Disinilah, sosok Ambareesh yang lain terlahir.

...----------------●●●----------------...

"HUAAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHH!!!!!"

Jarum disuntikkan ke leher Ambareesh saat lengan, pergelangan tangan, mulut, paha, pergelangan kaki, dada, pinggang, dan kening Ambareesh diberi pengikat yang membuatnya tak bisa bergerak dan mengigit.

"Xixixi, kau akan menjadi karyaku yang paling bagus 227" Wandlle mengusap kening Ambareesh yang berkeringat dingin.

Mata Ambareesh berair dan napasnya terasa berat.

"Vivi, tambah dosis suntikkan kedua 20%" Ucap Wandlle sambil membuka mata kiri Ambareesh untuk disuntik dibagian kelopak bawah matanya.

"IIIDAK!!" Ambareesh melirik kearah Vivi sambil menangis.

Dosis pada suntikkan kedua telah ditambahkan. Suntikan obat kedua telah di tangan Wandlle. Dia menyeringai gila pada Ambareesh.

"Aku akan membuat irismu menjadi merah" Ucap Wandlle sambil mengarahkan ujung jarum suntik pada bagian dalam kelopak mata bawah.

Ambareesh berusaha melepaskan tubuhnya yang tak bisa bergerak.

Cairan berwarna merah itu, mulai disuntikkan. Terasa penuh dan mengembung. Ambareesh berteriak karena merasa pedih.

Tubuh Ambareesh mulai lemas karena obat yang disuntikkan pada lehernya. Kesadaran Ambareesh perlahan menghilang saat mata kanannya disuntik oleh Wandlle.

Terpopuler

Comments

Yaser Levi

Yaser Levi

dasar ilmuan gila..

2024-07-31

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kematian]
2 BAB 1 [Malaikat Berdarah Dingin]
3 BAB 1 [Penghianatan Dan Kebusukan]
4 BAB 1 [Objek 227]
5 BAB 1 [Neraka Dan Keinginan]
6 BAB 1 [Keberuntungan]
7 BAB 1 [Guru]
8 BAB 1 [Alba Bianca]
9 BAB 1 [Rasa Yang Paling Ditakuti]
10 BAB 1 [Sosok Yang Sama]
11 BAB 1 [Perjuangan Tulus]
12 BAB 1 [Awal Dari Kehidupan Barunya]
13 BAB 1 [Teman Dan Penghianat]
14 BAB 1 [Penyimpangan Sosial]
15 Bab 1 [Akademi]
16 BAB 1 [Masa Orientasi]
17 BAB 1 [Pelatihan Dan Kabar]
18 BAB 1 [Pertempuran]
19 BAB 1 [AKHIR PERTEMPURAN DAN PERTEMUAN]
20 BAB 1 [Pekerjaan Baru]
21 BAB 1 [De luce Arnold]
22 BAB 1 [Kagum Atau Suka]
23 BAB 1 [Tenggelam]
24 BAB 1 [Cerberus Dan Serigala Sihir]
25 BAB 1 [Tentang De luce Arnold]
26 BAB 1 [Rencana Berikutnya]
27 BAB 1 [Permulaan]
28 BAB 1 [Rasa Asing Dan Kerinduan]
29 BAB 1 [Ingin Memelukmu]
30 BAB 1 [Markas Para Bandit Aokuma]
31 BAB 1 [Ketemu Lagi]
32 BAB 1 [Kelemahannya]
33 BAB 1 [Posisi Ha nashi]
34 BAB 1 [Hubungan]
35 BAB 1 [Persaudaraan]
36 BAB 1 [Hanya Untukmu]
37 BAB 1 [Pemaksaan]
38 BAB 1 [Tujuan Akhir]
39 BAB 1 [Misi Terakhir]
40 BAB 1 EPILOG [Kematian & Kutukan]
41 BAB 2 PROLOG [Aosora Arthur]
42 BAB 2 [Kehidupan Baru]
43 BAB 2 [Harta Terbesar]
44 BAB 2 [Rahasia Marsyal]
45 BAB 2 [Ingatan]
46 BAB 2 [Orang Tidak Normal]
47 BAB 2 [Naomy Xilea]
48 BAB 2 [Kebenaran 1]
49 BAB 2 EPILOG [Kebangkitan]
50 BAB 3 PROLOG [Pertemuan dan Tugas]
51 BAB 3 [Serpihan Ingatan]
52 BAB 3 [Kemiripan]
53 BAB 3 [Pulang]
54 BAB 3 [Naluri]
55 BAB 3 [Kebencian]
56 BAB 3 [Nyasar]
57 BAB 3 [Kegigihan Aosora Arthur]
58 BAB 3 [Taruhan]
59 BAB 3 [Artl Kyzen]
60 BAB 3 [Percobaan]
61 BAB 3 [Firasat]
62 BAB 3 [Dua Titisan Dan Ruri]
63 BAB 3 [Penerimaan]
64 BAB 3 [Kegilaan]
65 BAB 3 [Anggota Baru]
66 BAB 3 [Aoelabi Darla]
67 Bab 3 [Sosok Aosora Arthur]
68 BAB 3 [Tubuh]
69 BAB 3 EPILOG [Kesadaran]
70 BAB 4 PROLOG [Ilusi]
71 BAB 4 [Kepulangan]
72 BAB 4 [Kemampuan]
73 BAB 4 [Kedatangan Alba ve Ranu]
74 BAB 4 [Pertemuan Yang Tidak Direncanakan]
75 BAB 4 [DI LEMA]
76 BAB 4 [Istirahat]
77 BAB 4 [Berbaikkan]
78 BAB 4 [Razel]
79 Bab 4 [Hal Baru]
80 BAB 4 [Pengubah Alur]
81 BAB 4 [Kabar Baik]
82 BAB 4 [Gangguan]
83 BAB 4 [Percayalah]
84 BAB 5 PROLOG [Deklarasi I]
85 BAB 5 [Pertama]
86 BAB 5 [Luciel Sang Malaikat Jatuh]
87 BAB 5 [Kesadaran]
88 BAB 5 [Harta Terpenting]
89 BAB 5 [Kebangkitan Gairah]
90 BAB 5 [Sosok Yang Mencintai]
91 BAB 5 [Ketahuan]
92 BAB 5 [Perubahan Berskala]
93 BAB 5 [Genderang]
94 BAB 5 [Pembebasan]
95 BAB 5 [Kerinduan]
96 BAB 5 [Sistem Monarki]
97 BAB 5 [Penculikan Dua Orang Besar]
98 BAB 5 [Kompasku]
99 BAB 5 [Nakal Dikit, Gak Ngaruh]
100 BAB 5 [Napas Buatan]
101 BAB 5 [Sosok Yang Dicari]
102 BAB 5 [Keraguan]
103 BAB 5 [Saingan]
104 BAB 5 [Hobi Daeva?]
105 BAB 5 [Alasan Takdir Harus Di Rahasiakan]
106 BAB 5 [Waspada]
107 BAB 5 [Jangan Meninggalkannya]
108 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-1]
109 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-2]
110 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-3_Selesai]
111 BAB 5 [Artl Kyzen 2]
112 BAB 5 [Artl Kyzen-3_Selesai]
113 BAB 5 [Kambuh]
114 BAB 5 [Kesalahan Besar]
115 BAB 5 [De luce Arnold_Selesai]
116 BAB 5 [Kebangkitan dan Pemulihan]
117 Bab 5 Epilog [Kembali]
118 BAB 6 [Kedatangannya Dalam Fisik Lain]
119 BAB 6 [Mengeluarkan]
120 BAB 6 [Ketidaksadaran Alter]
121 BAB 6 [Tipu Muslihat]
122 BAB 6 [Keraguan Alder]
123 BAB 6 (Rencana)
124 BAB 6 (Doa dan Diam)
125 BAB 6 [Protagonis Lain]
126 BAB 6 (Perbedaan Keduanya)
127 BAB 6 [Sisi Tak Aman]
128 BAB 6 [Pengusik]
129 BAB 6 [Sisi Lain]
130 BAB 6 [Kesadaran]
131 BAB 6 [Tekad Untuk Hidup]
132 BAB 6 [Jalan Hidup]
133 BAB 6 [Pertemuan Yang Tak Disengaja]
134 BAB 6 [Kesinisan]
135 BAB 6 [Makan Malam]
136 BAB 6 [Janji Mati dan Permintaan Akhir]
137 BAB 6 [Serangan Dalam]
138 BAB 6 [Kehilangan]
139 BAB 6 [Perpisahan]
140 BAB 6 [Pembebasan Archie II]
141 BAB 6 [OVT]
142 BAB 6 [Rencana Penghianatan Luciel]
143 BAB 6 [Keinginan]
144 BAB 6 [Pemulaan Rencana Luciel]
145 BAB 6 [Perasaan Tersembunyi]
146 BAB 6 [Ketetapan Tekad Luciel]
147 BAB 6 [Menuju Rencana Luciel]
148 BAB 6 [Misi Di Aokuma-1]
149 BAB 6 [Misi Yang Terganggu]
150 BAB 6 [Pilih Yang Mana]
151 BAB 6 [Keaslian]
152 BAB 6 [Pertunjukan Atas Namamu]
153 BAB 6 [Permainan Akhir]
154 BAB 6 [Pertengahan Rencana Luciel]
155 BAB 6 [Keberuntungan]
156 BAB 6 [Mending Gak Tanya]
157 BAB 6 [Di Lema II]
158 BAB 6 [Buat Aku Penasaran]
159 BAB 6 [Saling Memanfaatkan]
160 BAB 6 [Pertunjukkan Terakhir Luciel-Penyerangan]
161 BAB 6 [Akhir Dari Rencana Luciel]
162 BAB 6 [Awal dari Akhir]
163 EPILOG [TAMAT]
Episodes

Updated 163 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kematian]
2
BAB 1 [Malaikat Berdarah Dingin]
3
BAB 1 [Penghianatan Dan Kebusukan]
4
BAB 1 [Objek 227]
5
BAB 1 [Neraka Dan Keinginan]
6
BAB 1 [Keberuntungan]
7
BAB 1 [Guru]
8
BAB 1 [Alba Bianca]
9
BAB 1 [Rasa Yang Paling Ditakuti]
10
BAB 1 [Sosok Yang Sama]
11
BAB 1 [Perjuangan Tulus]
12
BAB 1 [Awal Dari Kehidupan Barunya]
13
BAB 1 [Teman Dan Penghianat]
14
BAB 1 [Penyimpangan Sosial]
15
Bab 1 [Akademi]
16
BAB 1 [Masa Orientasi]
17
BAB 1 [Pelatihan Dan Kabar]
18
BAB 1 [Pertempuran]
19
BAB 1 [AKHIR PERTEMPURAN DAN PERTEMUAN]
20
BAB 1 [Pekerjaan Baru]
21
BAB 1 [De luce Arnold]
22
BAB 1 [Kagum Atau Suka]
23
BAB 1 [Tenggelam]
24
BAB 1 [Cerberus Dan Serigala Sihir]
25
BAB 1 [Tentang De luce Arnold]
26
BAB 1 [Rencana Berikutnya]
27
BAB 1 [Permulaan]
28
BAB 1 [Rasa Asing Dan Kerinduan]
29
BAB 1 [Ingin Memelukmu]
30
BAB 1 [Markas Para Bandit Aokuma]
31
BAB 1 [Ketemu Lagi]
32
BAB 1 [Kelemahannya]
33
BAB 1 [Posisi Ha nashi]
34
BAB 1 [Hubungan]
35
BAB 1 [Persaudaraan]
36
BAB 1 [Hanya Untukmu]
37
BAB 1 [Pemaksaan]
38
BAB 1 [Tujuan Akhir]
39
BAB 1 [Misi Terakhir]
40
BAB 1 EPILOG [Kematian & Kutukan]
41
BAB 2 PROLOG [Aosora Arthur]
42
BAB 2 [Kehidupan Baru]
43
BAB 2 [Harta Terbesar]
44
BAB 2 [Rahasia Marsyal]
45
BAB 2 [Ingatan]
46
BAB 2 [Orang Tidak Normal]
47
BAB 2 [Naomy Xilea]
48
BAB 2 [Kebenaran 1]
49
BAB 2 EPILOG [Kebangkitan]
50
BAB 3 PROLOG [Pertemuan dan Tugas]
51
BAB 3 [Serpihan Ingatan]
52
BAB 3 [Kemiripan]
53
BAB 3 [Pulang]
54
BAB 3 [Naluri]
55
BAB 3 [Kebencian]
56
BAB 3 [Nyasar]
57
BAB 3 [Kegigihan Aosora Arthur]
58
BAB 3 [Taruhan]
59
BAB 3 [Artl Kyzen]
60
BAB 3 [Percobaan]
61
BAB 3 [Firasat]
62
BAB 3 [Dua Titisan Dan Ruri]
63
BAB 3 [Penerimaan]
64
BAB 3 [Kegilaan]
65
BAB 3 [Anggota Baru]
66
BAB 3 [Aoelabi Darla]
67
Bab 3 [Sosok Aosora Arthur]
68
BAB 3 [Tubuh]
69
BAB 3 EPILOG [Kesadaran]
70
BAB 4 PROLOG [Ilusi]
71
BAB 4 [Kepulangan]
72
BAB 4 [Kemampuan]
73
BAB 4 [Kedatangan Alba ve Ranu]
74
BAB 4 [Pertemuan Yang Tidak Direncanakan]
75
BAB 4 [DI LEMA]
76
BAB 4 [Istirahat]
77
BAB 4 [Berbaikkan]
78
BAB 4 [Razel]
79
Bab 4 [Hal Baru]
80
BAB 4 [Pengubah Alur]
81
BAB 4 [Kabar Baik]
82
BAB 4 [Gangguan]
83
BAB 4 [Percayalah]
84
BAB 5 PROLOG [Deklarasi I]
85
BAB 5 [Pertama]
86
BAB 5 [Luciel Sang Malaikat Jatuh]
87
BAB 5 [Kesadaran]
88
BAB 5 [Harta Terpenting]
89
BAB 5 [Kebangkitan Gairah]
90
BAB 5 [Sosok Yang Mencintai]
91
BAB 5 [Ketahuan]
92
BAB 5 [Perubahan Berskala]
93
BAB 5 [Genderang]
94
BAB 5 [Pembebasan]
95
BAB 5 [Kerinduan]
96
BAB 5 [Sistem Monarki]
97
BAB 5 [Penculikan Dua Orang Besar]
98
BAB 5 [Kompasku]
99
BAB 5 [Nakal Dikit, Gak Ngaruh]
100
BAB 5 [Napas Buatan]
101
BAB 5 [Sosok Yang Dicari]
102
BAB 5 [Keraguan]
103
BAB 5 [Saingan]
104
BAB 5 [Hobi Daeva?]
105
BAB 5 [Alasan Takdir Harus Di Rahasiakan]
106
BAB 5 [Waspada]
107
BAB 5 [Jangan Meninggalkannya]
108
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-1]
109
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-2]
110
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-3_Selesai]
111
BAB 5 [Artl Kyzen 2]
112
BAB 5 [Artl Kyzen-3_Selesai]
113
BAB 5 [Kambuh]
114
BAB 5 [Kesalahan Besar]
115
BAB 5 [De luce Arnold_Selesai]
116
BAB 5 [Kebangkitan dan Pemulihan]
117
Bab 5 Epilog [Kembali]
118
BAB 6 [Kedatangannya Dalam Fisik Lain]
119
BAB 6 [Mengeluarkan]
120
BAB 6 [Ketidaksadaran Alter]
121
BAB 6 [Tipu Muslihat]
122
BAB 6 [Keraguan Alder]
123
BAB 6 (Rencana)
124
BAB 6 (Doa dan Diam)
125
BAB 6 [Protagonis Lain]
126
BAB 6 (Perbedaan Keduanya)
127
BAB 6 [Sisi Tak Aman]
128
BAB 6 [Pengusik]
129
BAB 6 [Sisi Lain]
130
BAB 6 [Kesadaran]
131
BAB 6 [Tekad Untuk Hidup]
132
BAB 6 [Jalan Hidup]
133
BAB 6 [Pertemuan Yang Tak Disengaja]
134
BAB 6 [Kesinisan]
135
BAB 6 [Makan Malam]
136
BAB 6 [Janji Mati dan Permintaan Akhir]
137
BAB 6 [Serangan Dalam]
138
BAB 6 [Kehilangan]
139
BAB 6 [Perpisahan]
140
BAB 6 [Pembebasan Archie II]
141
BAB 6 [OVT]
142
BAB 6 [Rencana Penghianatan Luciel]
143
BAB 6 [Keinginan]
144
BAB 6 [Pemulaan Rencana Luciel]
145
BAB 6 [Perasaan Tersembunyi]
146
BAB 6 [Ketetapan Tekad Luciel]
147
BAB 6 [Menuju Rencana Luciel]
148
BAB 6 [Misi Di Aokuma-1]
149
BAB 6 [Misi Yang Terganggu]
150
BAB 6 [Pilih Yang Mana]
151
BAB 6 [Keaslian]
152
BAB 6 [Pertunjukan Atas Namamu]
153
BAB 6 [Permainan Akhir]
154
BAB 6 [Pertengahan Rencana Luciel]
155
BAB 6 [Keberuntungan]
156
BAB 6 [Mending Gak Tanya]
157
BAB 6 [Di Lema II]
158
BAB 6 [Buat Aku Penasaran]
159
BAB 6 [Saling Memanfaatkan]
160
BAB 6 [Pertunjukkan Terakhir Luciel-Penyerangan]
161
BAB 6 [Akhir Dari Rencana Luciel]
162
BAB 6 [Awal dari Akhir]
163
EPILOG [TAMAT]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!