Zen mendengar cerita Ambareesh hingga usai. Dia tau bila Ravel adalah ketua dari agensi gelap itu.
Zen mengusap tengkuk Ambareesh saat melihat mata Ambareesh yang berlinang. "Jadi, apa Ambareesh mau pergi bersama Paman? Paman akan mengenalkanmu kepada orang yang membantu Paman menumbuhkan tanduk ini" Tawar Zen.
Ambareesh melihat Zen. "Apa aku akan bisa sihir? Aku tidak bisa mengeluarkan manaku dengan benar Paman"
"Apa kamu tidak ingin melindungi Ibumu?"
"Sudah ada kak Ken. Untuk apa aku memikirkan Ibu? Ibu takkan khawatir bila Aku mati" Ucap Ambareesh.
Zen menutup mulut Ambareesh perlahan. "Kamu salah Ambareesh. Ibumu sangat mengkhawatirkanmu. Paman kemari karena dimintai tolong olehnya."
Ambareesh langsung teringat ucapan Ayahnya yang ketiga. Dia harus memiliki pandangan yang luas.
"Ambareesh, mau ya berlatih sihir dan menumbuhkan tanduk di desa terluar dan terjauh dari Pemerintahan Akaiakuma?" Tanya sekali lagi.
Ambareesh mengangguk. Ia tidak memiliki sedikit pun akan tempat yang akan menjadi bencana baginya.
...----------------●●●----------------...
Lambaian diberikan Ambareesh pada Bella atau adiknya berusia 2 tahun. Ibu Ambareesh membalik tubuhnya dan membawa Bella masuk sebelum Dia melambai balik tangannya untuk Kakaknya itu.
Ambareesh tidak sedikitpun terlihat seperti Bangsa Iblis. Dia 100% seperti Malaikat bahkan, telinga runcingnya tidak seruncing Elf. Dia didiskriminasi karena itu.
Ambareesh menutup matanya dan menghela napas. "Paman ayo" Tangan kecil Ambareesh mengengam tangan Zen yang besar dan bersarung tangan.
Lingkaran sihir keluar dari telapak tangan kanan Zen kemudian, Lingkaran sihir itu membesar saat dilepaskan.
Ambareesh melirik Ken, dia sedang meringis padanya. Ambareesh mengkernyitkan keningnya, kemudian dia membalas Ken dengan seringaian.
Ya, mereka adalah anak kecil. Hal ini salah namun, lumrah bagi mereka.
...----------------●●●----------------...
Ambareesh kini berdiri di depan pagar beton setinggi 10 meter. "Wohh..." Lirih Ambareesh yang takjub melihatnya. Ia merasa sangat kecil dihadapan peagar beton itu.
Dua penjaga Iblis melihat seragam dan pangkat Zen sebagai Wakil Kepala Pasukan Iblis Akaiakuma langsung menunjukkan tombak sihirnya.
Zen mengangkat kedua tangannya. Ambareesh ikut-ikutan sambil melihat Zen.
"Aku sudah janjian dengan Dokter Wandlle"
"Atas keperluan apa?" Tanyanya sambil mendekatkan tombak sihirnya itu pada leher Zen.
"Objek 227" Jawab Zen.
Penjaga itu membelalakan matanya. "Apa anak ini?" Kemudian, menunjuk Ambareesh
"Ya"
Dia menghilangkan tombaknya dan menatap Ambareesh dengan raut pilu.
"Tuan, lebih baik Anda bawa pulang dia. Dokter Wandlle Clov, sudah meninggal sejak-"
"Tapi ada anaknya kan? Aku sangat berharap besar. Aku ingin keponakanku ini bebas melakukan apapun. Tolong persilahkan kami untuk masuk" Ucap Zen.
Penjaga itu menundukkan tubuhnya ke Ambareesh. "Semangat ya" Ucap penjaga itu kemudian membuka pintu gerbang yang terbuat dari besi hitam dan tertutup.
Tempat luas dan hijau menyegarkan mata Ambareesh. Tempat itu, terlihat sangat ramah. Mereka berdua bertemu dengan perempuan berpakaian jubah putih bersih.
"Objek 227?" Tanya Wanita itu.
"Ya, dia keponakanku" Jawab Zen.
"Baik, Anda hanya boleh mengantarnya sampai disini" Ucap wanita itu.
"Eh? Apa aku tidak boleh bertemu dengan Dokter Wandlle secara langsung?"
"Beliau sedang berkepentingan" Jawab singkat wanita berbangsa siluman itu.
"Baiklah" Zen melihat ke arah Ambareesh dan menepuk kedua bahu kecilnya. "Paman akan mengunjungimu seminggu sekali"
Ambareesh mengangguk.
"Mari" Ajak wanita itu sambil memberikan jalan untuk Ambareesh.
Mata Ambareesh masih melihat ke belakang. Zen melambaikan tangannya. Wajah Zen sangat sedih dibalik topengnya. "Sakitmu akan sebentar Ambareesh, jadilah yang terkuat dari yang paling kuat" Ucap Zen dibalik topengnya.
...----------------●●●----------------...
Suara teriakan dan tangisan terdengar mengema saat Ambareesh baru saja masuk ke dalam gedung tinggi bercat putih itu.
"Siapa yang menangis?" Dengan polosnya, Ambareesh bertanya pada wanita itu.
"Objek sepertimu Mereka tidak mau makan bubur dan minum obat" Jawab singkat wanita itu.
"Kenapa mereka tidak mau minum obat? Apa obatnya pahit?" Tanya Ambareesh.
"Kau akan tau sendiri nantinya"
"Apa? Aku minum obat juga? Aku tidak sakit. Oh! Untuk menumbuhkan tanduk! Apa itu ben-" Ambareesh berhenti berbicara saat wanita itu menatapnya dengan tajam.
"Anak kecil, tidak boleh banyak bertanya" Ucap wanita itu sambil menarik kasar tangan Ambareesh.
Ambareesh kini menjadi diam dan melihat setiap jalan yang dilaluinya. Jalan-jalan itu, penuh dengan pintu besi putih.
"Kenapa mereka menggunakan pintu besi?"
Ambareesh dimasukkan ke dalam ruangan paling ujung lorong tersebut. Bau obat tercium menyengat.
Seorang Iblis laki-laki berjubah putih dan menggunakan sarung tangan medis mendekat ke Ambareesh. Pria itu mengenakan kacamata. Dia melepas kacamatanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Ambareesh.
Matanya yang merah dan jernih, terlihat dalam.
"Bangsa Malaikat huh?"
Ambareesh mengangguk.
"Malaikat itu, lebih lemah dari manusia. Dia pasti mati sebelum seminggu disini. Kenapa kau merekomendasikannya Vivi?" Tanya Pria Iblis itu sambil berdiri dengan tegak dan meninggalkan Ambareesh.
"Dokter Wandlle, apa Anda tidak membaca dokumen objek 227?" Mendengar kata Objek 227 Wandlle berhenti sejenak.
"Objek 227 apa?"
Pria itu, bernama Wandlle. Dia sedang melanjutkan aktivitasnya untuk menyiapkan dosis obat bagi para Objek Percobaannya.
"Sudah saya duga bila Anda tak'kan membacanya. Objek 227 memiliki darah empat Bangsa"
"PRANKKKKK!!!" Wandlle terkejut mendengarnya. Dia tidak sengaja menjatuhkan nampan berisi kapas. Kini, Wandlle tengah menatap Ambareesh.
"Ayahnya terlahir dari seorang wanita berbangsa Siluman dan Pria berbangsa Malaikat. Namun, Ayahnya Objek 227 ini memiliki wujud Malaikat dan mampu menggubah warna matanya seperti bangsa siluman. Kemudian Ibunya terlahir dari wanita berbangsa siluman yang menjalin perkawinan dengan Elf ras biru. Sesuai data yang saya dapatkan Objek 227 ini, memiliki kesempatan untuk-"
"Segera tes darah dia. Aku akan menjadikan dia Objek utama dan bila memang benar, maka buang Objek 106" Ucap Wandlle sambil pergi keluar dari ruangan itu.
Wandlle masuk ke dalam bilik pribadinya dan segera menutup pintu. Dia mencengkram kera pakaiannya sediri dan mengigit kuku-kuku jarinya.
"Hah.... Empat...Bangsa.... dalam... hah... satu... tubuh...."
Wandlle adalah dokter gila yang membunuh ayahnya sendiri demi obsesinya dia terhadap tanduk Iblis. Dia ingin menciptakan dunia yang dipenuhi oleh Bangsa Iblis.
Wandlle memandang bangsa Non-Iblis sebagai hewan yang cacat dan butuh pertolongan seorang dokter.
Disinilah, sosok Ambareesh yang lain terlahir.
...----------------●●●----------------...
"HUAAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHH!!!!!"
Jarum disuntikkan ke leher Ambareesh saat lengan, pergelangan tangan, mulut, paha, pergelangan kaki, dada, pinggang, dan kening Ambareesh diberi pengikat yang membuatnya tak bisa bergerak dan mengigit.
"Xixixi, kau akan menjadi karyaku yang paling bagus 227" Wandlle mengusap kening Ambareesh yang berkeringat dingin.
Mata Ambareesh berair dan napasnya terasa berat.
"Vivi, tambah dosis suntikkan kedua 20%" Ucap Wandlle sambil membuka mata kiri Ambareesh untuk disuntik dibagian kelopak bawah matanya.
"IIIDAK!!" Ambareesh melirik kearah Vivi sambil menangis.
Dosis pada suntikkan kedua telah ditambahkan. Suntikan obat kedua telah di tangan Wandlle. Dia menyeringai gila pada Ambareesh.
"Aku akan membuat irismu menjadi merah" Ucap Wandlle sambil mengarahkan ujung jarum suntik pada bagian dalam kelopak mata bawah.
Ambareesh berusaha melepaskan tubuhnya yang tak bisa bergerak.
Cairan berwarna merah itu, mulai disuntikkan. Terasa penuh dan mengembung. Ambareesh berteriak karena merasa pedih.
Tubuh Ambareesh mulai lemas karena obat yang disuntikkan pada lehernya. Kesadaran Ambareesh perlahan menghilang saat mata kanannya disuntik oleh Wandlle.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Yaser Levi
dasar ilmuan gila..
2024-07-31
0