"227!" Elvry memegang tangan kanan Ambareesh dan meletakkannya di dada kirinya. "He'!"-"Bunuh aku. Rasa ini, membuatku sulit untuk bernapas. Dadaku sesak dan panas. Racun itu, mungkin sekarang sudah menyebar keseluruh darahku. Bunuh aku 227. Aku tidak akan menyesal bila mati di tanganmu" Elvry mengengam erat tangan Ambareesh.
"Apa maksudmu?"
...----------------●●●----------------...
Elvry memeluk Ambareesh dari depan. Dia menarik tengkuk Ambareesh hingga kening Ambareesh menempel di bahu kanannya.
"227, aku menyayangimu. Aku hanya sedikit membantumu. Sisanya, lakukan dengan usahamu. Aku sudah menulis alamat rumahmu yang baru di duplikat datamu itu. Rumahmu yang lama, sudah tertinggal. Aku mendengar kabar bila kakak kandungmu, menjadi salah satu anggota prajurit Akaiakuma. 227, kau masih memiliki sayap untuk bisa terbang ke langit. Capai kebebasanmu itu 227. Sebelum kau pergi, bunuhlah aku sekarang. Anggaplah ini sebagai balas budimu padaku. Aku ingin kau yang menumbuhkan sayap kebebasan untukku 227"
Ambareesh melihat kaki Elvry yang tak beralas. Dia masih tak mengerti dengan ucapannya.
Elvry memegang tangan kiri Ambareesh. "NYUUUUT!" Jari manis Ambareesh berdenyut. "PSSSSHHHH!" Pedang mana biru keluar dari tangan Ambareesh dan diikuti dengan cahaya biru yang menjadi cincin di jari manisnya.
Mata Ambareesh membelalak melihatnya. Ambareesh mengangkat pandangannya dan melihat Elvry sedang menatapnya dengan raut iba.
Air mata Elvry menetes. "Dikehidupan kedua pun, aku masih belum bisa menjadi yang terbaik untukmu, Alfarellza. Maafkan aku. JLEEEB!" Elvry menusukkan dirinya dengan pedang mana yang ada ditangan kiri Ambareesh.
Ambareesh masih tidak mengerti. Dia melihat tangan kirinya dan pedang mananya yang berpola seperti teratai berakar menembus perut Elvry.
Elvry, memegang kedua pipi Ambareesh. Ambareesh tidak tau mengapa. Tapi, dia merasakan sesuatu yang sesak di dadanya. Kening Elvry menempel pada kening Ambareesh. Mata Ambarresh meneteskan air matanya.
Dia merasa De javu.
"Jangan melupakanku Alfarellza dan segera kembali seperti Alfarellza yang dul.... Syuuut! Tep!" Tubuh Elvry melemas. Dia terjatuh dan ditangkap oleh Ambareesh.
"Hei...." Ambareesh jatuh perlahan mengikuti tubuh Elvry.
Elvry, memegang pipi Ambareesh. "Wajahmu, masih tetap seperti dulu... Sayangnya, perasaanmu yang berubah... Walau begitu, aku tidak merasa kecewa sedikitpun. Berjuanglah rajaku... Tep!" Tangan Elvry jatuh lemas.
Ive berteleport di depan Ambareesh dan langsung menghajarnya dengan keras pada bagian wajah kirinya.
Ambareesh melihat Ive marah padanya.
Ambareesh duduk sambil menselonjorkan kakinya di sebelah mayat Elvry. Ambareesh membuka mulut bagian kirinya dengan menarik bibirnya dengan tangan kirinya.
"Kau suka sekali melesatkan tanganmu kepadaku, Lihatlah, betapa menyedihkannya mulutku ini hingga penuh darah" Ucap Ambareesh sambil menyipitkan kedua matanya pada Ive.
Ive menarik baju Ambareesh hingga dia terangkat. "Mau memukulku lagi? Pukul saja" Ucap Ambareesh.
Namun, Bianca menahan tangan kanan Ive. Ive melihat Bianca yang menangis sambil mengelengkan kepalanya.
Ive segera melepas pakaian Ambareesh yang dia tarik. Ambareesh terlihat memegang tangan Elvry kemudian mengusap kepalanya dan memeluk jasad itu dengan perlahan.
Ambareesh merasakan rasa yang tidak enak di kerongkongannya hingga di dadanya. "Rasa apa ini?"
Sosok itu masih memperhatikan Ambareesh dari kejauhan. "Elvry yang malang. Walau begitu, kau sudah berjuang. Aku akan memberi satu hadiah untukmu. CTAK!" Pria itu mematikkan jarinya.
DAN- "BLAAAAARRRRR!!!!"
Api merah langsung keluar dari jasad Elvry. Ambareesh membelalakan matanya saat melihat api merah itu membakar tubuhnya dan tubuh Elvry.
Mata Ambareesh segera tertuju pada satu titik dimana pria itu berada. Pria itu membelalakan matanya saat dia merasa Ambareesh menatapnya. Dan benar- "WOSH! SYUUUUT!" Ambareesh berteleport menuju orang itu dan melesatkan pedang sihir birunya bersamaan.
Pria itu berpindah di belakang Ambareesh dan sekeliling Ambareesh muncul senjata seperti ujung tombak yang lancip sedang menunjuk padanya.
Pria itu melihat Ambareesh dan menunjukkan senyumannya. "Kau, Iblis yang waktu itu. Apa-apaan kau ini!?" Tegas Ambareesh.
"Kau tau, ini adalah kesempatanmu untuk pergi dari sini. langkahkan kakimu ke kiri. Itu adalah kebebasanmu" Iblis itu, mengulurkan data duplikat yang telah dibuat oleh Elvry.
Ambareesh melihat Bianca sedang berlari ke arahnya dan meneriakkan namanya.
"Dia akan aman disini. Dia bukan siluman rubah biasa. Dia akan selalu menunggumu" Ucapnya.
"Jangan sia-siakan perjuangan wanita itu" Iblis itu menepukkan gulungan kertas berpita merah itu pada kepala Ambareesh.
"Itu benar. Bianca tunggulah disini selama aku mencari rumahmu" Ambareesh segera mengambil gulungan itu.
"Siapa namamu? Aku akan mengingatnya" Ucap Ambareesh.
Pria Iblis itu membelalakan matanya kemudian dia melihat ke arah lain sambil menyeringai. "Tak ada gunanya kau bertanya namaku. Lakukan saja tugasmu dengan benar. Bwessshhhh" Pria itu menghilang seperti angin.
"Orang aneh" Ambareesh menerjunkan tubuhnya dari atas tembok itu.
"AMBAREESH!!!!!" Teriakan Bianca begitu keras. Sayangnya, dia sudah tidak didengar oleh Ambareesh.
Ambareesh mendarat dengan mulus di depan para penjaga. Sontak, tiga penjaga yang disana langsung terkejut. Mereka melihat lengan kiri Ambareesh yang memiliki tato 227.
"Eh! Dia Objek! Dia turun dari atas! Cepet tangkap!"
Mereka bertiga, segera bertindak dan mengerjar Ambareesh.
Tentunya, Ambareesh tidak bisa menggunakan sihir teleportnya. Sebab, Ambareesh tidak bisa mengingat jalannya pulang menuju rumah. Bukan hanya itu saja, ingatan Ambareesh terasa berantakan sejak mendengar ucapan Elvry.
Ambareesh memanfaatkan kelemahannya yang tidak bisa memancarkan energi auranya. Kelemahan itu, adalah sebuah kelebihan Ambareesh yang selalu dianggap kecacatan oleh orang-orang sekitarnya.
Dia bersembunyi dibalik jalan yang berbelok. Pedang sihir ditangan kiri Ambareesh masih belum menghilang.
Suara derapan kaki dari riuh dari penjaga yang kebingungan mencarinya semakin mendekat. Mereka bertiga berhenti di pertigaan jalan tempat Ambareesh bersembunyi.
Ambareesh melihat mereka, dia menunjukkan jari telunjuk kanannya ke arah leher mereka.
"Cyclamen Nisqa Flecha"
Cahaya biru keluar dari tangan kanan Ambareesh dan membentuk sesuatu yang memiliki panjang tak lebih dari 45 cm. Sesuatu yang panjang itu, sekilas terlihat seperti anak panah namun, sebenarnya itu adalah sebuah bunga dengan ujung seperti sayap kupu-kupu dengan ujung yang runcing.
"Lepas..." Lirih Ambareesh.
Bunga anak panah itu, melesat dengan cepat ke arah leher penjaga yang berada di ujung kanan.
"TRASSSSSH! CRRAAAT! BRUK! BAM!!!"
Anak panah itu terlalu cepat. Kecepatannya mampu memotong leher tiga perajurit itu bersamaan dan sihir itu meledakkan tubuh mereka bertiga.
Aroma amis dan aroma terbakar menjadi satu.
"Aku benci aroma ini"
Ambareesh meninggalkan tempat itu. Dia berjalan dengan tenang sambil berusaha untuk melepas cincin yang ada di jari manis kelingkingnya. Walau sulit, Pedang sihir itu menghilang dengan sendirinya.
"Sialan! Bagaimana cara menghilangkan ini?" Cicin itu berhasil lepas namun, kembali pada jari manis Ambareesh.
Ambareesh sudah mencoba melepasnya kembali berulang kali dan hasilnya sama. Cincin itu, kembali lagi muncul di jari manisnya meski sempat menghilang.
Ambareesh sudah menyerah dengan cincinnya. Kini, pandangan semua orang tertuju pada Ambareesh.
"Iblis abnormal!"
"Ih, kenapa Bangsa Malaikat bertanduk?"
"Ibu... Kakak itu, tanduknya ada satu" "Sssh, jauhi dia!"
Iblis bertanduk satu adalah salah satu sosok Iblis yang dipercaya oleh Akaiakuma akan membawa ke hancuran yang lebih parah dari Iblis yang terlahir tanpa tanduk. Iblis bertanduk satu, telah tercantum dalam buku sejarah yang telah ada sejak berdirinya kerajaaan Akaiakuma.
Kabar tentang keberadaan Iblis bertanduk satu dengan mata biru, telah sampai di telinga Raja Akaiakuma ke IX.
"Cari Iblis itu! Dan bawa dia kemari dalam keadaan hidup atau mati! Siapapun yang berhasil membawanya! Akan ku kabulkan apapun permintaannya asal masuk akal!" Sayembara itu, menyebar ke penjuruh Negri Arden dengan cepat.
Tentu saja, ini membuat Ambareesh bersembunyi dan dia berusaha memotong tanduknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments