"....apa kau menginginkan hal itu?" Mata Ayah Luka kembali bergetar.
"Hal itu apa yang kau maks-"
"Cup!" Ayah Luka mencium celana Ambareesh bagian depan.
"-sud?"
...----------------●●●----------------...
"DAGH!!!"
Ambareesh menyikut keras leher Ayah Luka dengan lutut kanannya.
Ayah Luka terjatuh. Ambareesh mundur kebelakang.
"Sialan! Apa yang kau lakukan?!"
Marah dan jijik dirasakan Ambareesh menjadi satu.
Ayah Luka terbatuk-batuk dan dia kesulitan bernapas karena sikutan Ambareesh itu tepat di jakunnya.
Malam telah berlalu.
Ambareesh kembali bersikap biasa di pagi hari. Dia melakukan aktivitas sehari-harinya dengan berlatih sihir bersama dengan Luka dan adiknya bernama Tera. Tera hanya selisih 2 tahun dengan Luka. Sehingga usia Tera kini mengijak 15 tahun.
Kembali ke topik utama.
Ambareesh menghindari kontak fisik dengan Ayahnya Luka dan dia selalu berjaga dalam kondisi tidurnya. Walau begitu, dia masih mau belajar sihir darinya.
Hari demi hari berlalu. Ayahnya Luka mulai mengajarkan sihir teleportasi yang bisa digunakan untuk masal. Sihir itu adalah sihir gerbang teleportasi.
Di sela itu, Ambareesh diajarkan sihir pengucapan oleh Iblis yang selalu menolongnya itu.
"Sihir pengucapan itu, sebenarnya sihir yang sederhana mekanismenya. Alfarellza, kau hanya perlu menyelipkan manamu dalam setiap ucapan yang kau keluarkan" Ucap Iblis itu.
Ambareesh menggaruk tengkuknya.
"Berhenti memanggilku Alfarellza" Ambareesh menghela napas dan mulai mempraktekkan sihir yang di arahkan oleh Iblis itu.
"Aku akan tetap memanggilmu dengan nama itu. Dan, apa kau percaya dengan sosok titisan?" Tanya Iblis itu.
Ambareesh melihat Iblis itu dengan kesal. "Aku tidak percaya karena mereka tidak pernah ada untuk menolongku" Jawab Ambareesh.
Iblis itu terkekeh ringan.
"Itu karena prioritas mereka adalah orang lain. Hingga, terkadang mereka melupakan masalah mereka sendiri. Yang merupakan, sumber dari segala kehancuran di Negri ini" Ucapnya.
"Apa maksudmu, Titisan itu musuh yang sebenarnya?" Tanya Ambareesh.
Iblis itu, sekejap terlihat membelalakkan matanya. Kemudian, dia terkekeh kembali.
"Aku tidak mengatakannya~" Ucap Iblis itu dengan nada.
Memang tidak aneh. Seseorang yang memiliki pangkat, terkadang melupakan dirinya sendiri. Mereka terlalu fokus dengan hal-hal yang terjadi di depannya.
Ambareesh, tidak menyadari bila dirinya adalah seorang Titisan.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Iblis itu, tidak pernah muncul lagi di depan Ambareesh setelah Ambareesh berhasil menguasai sihir pengucapan.
Ayah Luka mendapatkan undangan untuk pelatihan akademi sihir di Desa Greendarea. Desa Greendarea adalah desa yang mayoritas penduduknya adalah keturunan Elf.
Dia menunjukkan surat undangan itu pada Luka, Tera, dan Ambareesh.
Desa Greendarea adalah Desa tujuan Ambareesh. Siur burung tentang keberadaan Iblis bertanduk satu mulai hilang. Untuk berjaga-jaga, Ambareesh tetap melatih dirinya untuk menghilangkan tanduk itu.
Dia sangat membenci.
Perjalanan mereka menuju Desa Greendarea dimulai pada awal musim dingin.
Kepribadian Ambareesh yang angkuh karena lingkungannya saat bersama Wandlle, tidak sedikit membuat Luka dan Tera merasa tidak nyaman dengannya.
Ambareesh, lebih banyak menghindari percakapan dengan kakak beradik itu.
"Hei, Ambareesh ikan gorengnya sudah matang. Mari makan" Tawar Tera.
Ambareesh melihat ikan berwarna kecokelatan yang masih panas itu. "Makan saja sendiri" Ambareesh teringat dengan sosok ayahnya.
Luka mengkernyitkan keningnya sambil melihat Ambareesh. "Apa yang salah denganmu?!"
"Hah?" Ambareesh melihat Luka seperti tidak punya salah sedikitpun. Namun, karena wajahnya yang cenderung datar, Luka melihat Ambareesh seperti sedang menatapnya dengan ekspresi yang dingin.
Karena melihat ekspresi itu dari wajah Ambareesh, Luka terbawa emosi.
"Tidak bisakah kau berterima kasih sedikit saja pada Tera?! Dia sudah manawarimu baik-baik!" Tegas Luka.
Lagi-lagi, Ambareesh tidak peduli.
"Lalu?" Tanya Ambareesh sambil membaca buku tentang teknik sihir.
"Cih! GREP!"
Luka berdiri dan dia menarik syal biru milik Ambareesh. Ambareesh melihat mata Luka yang berwarna Hazel cenderung ke abu-abu-cokelat.
"Sobek sedikit saja syal ini, kau akan ku banting" Ancam Ambareesh.
Tera beranjak untuk memisahkan ke duanya. "Kak! Sudah!" Sebab, Tera tau serangan Ambareesh lebih kuat dibanding Kakaknya ataupun Ayahnya.
Bila Ambareesh menyerang Luka, ini hanya akan menghambat perjalanan mereka menuju Desa Greendarea.
Tera memeluk erat kakaknya. "Kak! Hiks! Ayah sudah hiks. . . berpesan untuk tidak bertengkar!" Tera menangis di bahu Luka.
Ambareesh memutar pandangannya. "Perempuan sama saja. Hanya bisa menangis"
Sebenarnya, Ambareesh tidak bermaksud merendahkan perempuan. Dia hanya teringat dengan Bianca dan Elvry yang menangis. Ambareesh, hanya tidak mampu untuk mengatur kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Tentunya, ucapan Ambareesh tadi menjadi sebuah kesalahpahaman bagi Luka.
"DUUAAAAGHHH!"
Luka adalah sosok kakak yang sangat menyayangi adiknya. Tidak ada yang boleh menyakiti hati adiknya sedikitpun. Dia tidak peduli itu orang lain, seorang guru, ataupun kerabatnya sendiri.
Pipi kiri Ambareesh, menerima pukulan keras dari Luka. Ambareesh terjatuh setelah menerima pukulan itu.
Seringaian muncul dari wajah Ambareesh saat kepalanya menunduk ke sisi kanan.
Ambareesh meludah darah. Dia membuka mulutnya dan menunjukkannya pada Luka.
"Aku ingin tau, reaksi ayahmu setelah mendengar kabarmu. TEP! DUAGGHHH!!!!" Ambareesh menumpukan telapak tangannya di tanah. Dia melesatkan punggung kakinya pada dagu Luka.
Luka kehilangan keseimbangannya dan di tangkap oleh Tera.
"Ambareesh! Hentikan! Kakakku! Tidak bisa menang bila melawanmu!" Tegas Tera sambil menunjukkan pedang mana putihnya pada Ambareesh.
Ambareesh melihat Tera dan selalu terbayang wajah Bianca. Bianca selalu melakukan hal yang sama saat Ive terlalu keras pada Ambareesh.
"Apa ini yang dinamakan kesal?" Batin Ambareesh sambil mengosok tengkuknya.
Luka tidak sadar setelah menerima tendangan itu. Ambareesh harus bertanggung jawab untuk bengkak yang ada di dagu Luka.
"Hah~ Dagunya, seperti habis mencium tembok yang keras" Lirih Ambareesh dengan nada yang datar.
Mulut Ambareesh yang terluka sembuh seketika karena bakatnya sebagai seorang Titisan. Ambareesh tak kunjung menyadarinya.
Seminggu setelah perjalanan mereka, akhirnya mereka sampai di akademi yang diadakan secara cuma-cuma itu.
Akademi itu, menyediakan asrama bagi mereka yang mau berlatih. Asrama itu, memiliki sekitar 10 kamar dan calon siswanya berjumlah 49 orang.
Mereka menempatkan calon siswanya sesuai dengan no urut kedatangan mereka tanpa membedakan jenis kelamin, ataupun usia, bahkan penyakit yang menjangkit siswanya.
Ambareesh ditempatkan di kamar no 10 dengan 4 anggota; Tera, Luka, Ambareesh, dan Megi.
Megi adalah putra dari salah satu relawan yang menjadi pembimbing mereka disana.
Apel pagi untuk memulai akademi telah berlangsung.
Ambareesh berada dibarisan belakang karena malu dengan tanduknya.
"Sekarang mari lakukan perkenalan satu persatu. Kalian maju sesuai nomor urut kalian"
Ambareesh hanya bisa membatin satu kata. "Sialan!" Itu adalah umpatannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments