"Oh, Calon Prajurit kiriman. Ada tujuan apa memasukki wilayah pusat Greendarea?"
"Kami ingin membeli perlengkapan obat sebagai persediaan pribadi" Jawab Ambareesh.
Bualan Ambareesh dipercaya oleh mereka. Ambareesh dan Megi, diizinkan untuk memasuki kawasan itu.
Kini Ambareesh sedang tersenyum puas.
...----------------●●●----------------...
udara dan dinding atmosfer yang berbeda dengan wilayah Greendarea bagian ujung Barat daya terasa berbeda di kerongkongan Ambareesh.
"Inikah, tekanan dari kekuasaan mutlak itu?"
Ambareesh terus bertanya pada batinnya selama di perjalanan.
Suara teriakan dan tangisan mengema di kedua telinga Elf Ambareesh dari segala penjuru. Ambareesh menutup kepalanya dengan tudung jubah miliknya.
"Kenapa?" Megi mengkhawatirkan perubahan wajah Ambareesh yang semakin berkulit pucat.
"Tidak ada apa-apa"
Teriakan itu, mengingatkan masa sulit Ambareesh di pusat penelitian itu.
Ambareesh harus bisa menghilangkan rasa ketakutan yang masih mengumpul dibenaknya. Rasa mual dan pusing itu, seolah seperti darah rendah yang sedang menyerang Ambareesh.
Ambareesh beristiharat sejenak untuk menenangkan pikirannya. Kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Secara tidak sengaja, Ambareesh melihat majalah dinding yang di tempeli dengan sayembara, pengumuman, penobatan, dan aturan-aturan baru.
"Ini, membuatku jijik saat membacanya" Batin Ambareesh sambil menarik satu brosur tentang pencarian guru untuk Pangeran ke-2 Akaiakuma.
Lembar lain terjatuh saat Ambareesh pergi melanjutkan perjalanannya.
Lembar itu berisi sosok yang sedang Ambareesh cari. Yakni, Belial Ken yang telah diangkat sebagai Raja Nekoma setelah menikahi Putri Mahkota Nekoma.
Andai saja Ambareesh tau dengan lembar yang tersembunyi itu, kemungkinan besar dia tidak akan pernah bertemu dengan De luce Arnold. Bahkan, bertemu dengan Aosora Alex hanyalah kemungkinan kecil.
...----------------●●●----------------...
Perjalanan itu berakhir sebelum fajar tenggelam. Rumah yang Ambareesh cari adalah rumah kosong yang telah lama tidak berpenghuni. Rumah itu, di penuhi dengan rumput dan semak belukar.
Megi merasa ada yang tidak beres dengan latar belakang Ambareesh. Dia melihat Ambareesh yang termangun seolah dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat dihadapannya saat ini.
"Ambareesh, apa kita salah alamat?" Tanya Megi dengan hati-hati.
"Tidak, kurasa rumah yang ku cari memang tidak pernah ada" Ucap Ambareesh sambil meninggalkan tempat itu.
Ambareesh memegang dadanya yang terasa sesak. Dia ingin sekali merobek seluruh bagian dirinya untuk menghilangkan rasa sakit ini.
"*Haruskah aku melarikan diri lagi?"
"Ini membuatku lelah. Aku hanya ingin merasakan kehangatan keluarga. Sulitkah 'tuk aku mendapatkan hal sesederhana itu?"
"Ah, sepertinya aku memang harus mencari laki-laki itu didalam Kerajaan Akaiakuma*"
Ambareesh kembali menemukan tujuan keduanya.
Mereka berdua kembali ke bagian Barat daya Greendarea menggunakan sihir gerbang milik Ambareesh. Sebenarnya, hal ini sangat dilarang. Namun, apa fungsi aturan bila tidak ada yang melanggarnya? *Tolong jangan ditiru bagian yang ini.
Ambareesh dan Megi dikejutkan dengan hancurnya tempat pelatihan itu. Kebakaran dimana-mana. Teman-temannya yang terluka dan tidak sadarkan diri tergeletak secara tidak beraturan di tanah yang lembab.
"Apa yang telah telah terjadi?" Tanya keduanya bersamaan.
"Lupakan tentang bertanya semacam itu. Segeralah untuk memadamkan api sebelum para Prajurit Iblis menyadarinya" Lirih Ambareesh sambil mengeleng kepalanya agar bisa berpikir secara spontan.
Api itu berhasil padam setelah 15 menit berlalu Ambareesh memadamkannya dengan sihir miliknya.
"Sialan!" Ambareesh memaki karena ini adalah tindakan seseorang yang tidak memiliki otak.
Kemudian, Ambareesh membantu Megi untuk menggunakan Heal-nya (Sihir penyembuhannya) kepada 26 orang disana yang terluka.
Kapasitas mana Ambareesh tidak terbatas. Sehingga, dia tidak akan merasa lelah meski telah mengeluarkan energi sihir dalam jumlah banyak dalam jangka yang berdekatan.
Dari 49 peserta didik. Hanya 34 orang saja yang mampu untuk menjadi prajurit untuk pelebaran wilayah Tenggara Akaiakuma.
"Ini menjengkelkan. Kenapa kau harus bertindak sejauh ini Luka?" Ambareesh sangat marah pada Luka. Dia menarik kera Luka dengan erat.
Luka tidak berani menatap balik Ambareesh. Dia menyesali dengan apa yang telah terjadi dihadapannya.
Tera masih saja membela Luka. Dia menarik lengan Ambareesh yang kuat untuk melepaskan kakaknya.
"Ambareesh! Dia hanya ingin memperjuangkan hak-hak kami saja!" Tegasnya.
"Hak?" Ambareesh bertanya sambil melihat Tera. "Hak apa yang kau bicarakan disini? Menuntut kebebasan? HAHA! Kebebasan tidak dituntun melalui suara mana yang paling banyak diantara kubu-kubu itu. Kebebasan, hanya bisa diraih melalui tindakan. Sadarilah akan fakta itu" Ucap Ambareesh.
Tera terdiam karena ucapan Ambareesh tidak salah.
Megi menepuk bahu Ambareesh. "Ambareesh, atur intonasimu. Dia perempuan" Ucap Megi.
"Apa peduliku bila dia perempuan? Saat di medan perang nanti, musuhmu tidak akan melihatmu sebagai laki-laki ataupun perempuan. Dimataku pun, seperti itu. Aku memandang segalanya itu setara. Baik wanita tua, wanita muda, wanita hamil, remaja perempuan, anak-anak, ataupun bayi. Bila memang mereka adalah musuhku, aku tidak segan untuk melesatkan pedangku ke arah mereka" Ucap Ambareesh sambil melirik Megi dengan wajahnya yang datar.
"Aku akan menilai segalanya dari sudut pandang lain. Bila musuhku membutuhkan pertolongan, aku tidak akan segan untuk menolongnya" Lanjut Ambareesh.
Ambareesh telah mengalami diskriminasi sejak kecil. Sehingga, Ambareesh membentuk keyakinan dihatinya untuk memandang semua jenis makhluk itu setara baik dari gender maupun dari ciri khas yang membedakan mereka.
Megi dan Tera melepas Ambareesh. Mereka berdua memiliki ketakutan yang sama terhadap Ambareesh yang teguh dengan pendiriannya itu.
Luka hanya bisa meminta maaf kepada Ambareesh.
"Jangan meminta maaf padaku. Aku tidak merasa kau telah berbuat salah dengan ku. Pergilah menuju tempat orang-orang yang terluka itu dan minta maaflah dengan benar. Cih, menjengkelkan sekali!"
Ambareesh melepas kera baju Luka dan segera beristirahat karena esok adalah mereka sebanyak 34 orang untuk menuju di Istana Akaiakuma sebelum keberangkatan mereka.
...----------------●●●----------------...
Sebelum Fajar terbit, sebanyak 34 òrang itu telah dikumpulkan disatu titik untuk bertemu dengan pasukan yang lainnya.
Pasukan pemuda sejumlah 34 orang itu dan beberapa pasukan muda dari prajurit-prajurit baru hingga kini berjumlah 50 orang, diwajibkan untuk berada di garda terdepan untuk penyerangan.
"SUDAH KUKAKATAN! KITA INI! HANYA DIJADIKAN UMP-Diam" Ambareesh menggunakan sihir pengucapannya untuk mendiamkan Luka.
Ambareesh menepuk punggung Luka dan mendekatkan bibirnya pada telinga Luka. "Tenanglah, Kalian berempat tidak akan mati selama ada aku disekitar kalian" Ucap Ambareesh.
Hanya 34 orang itu yang tidak memakai Zirah pelindung. Keberhasilan mereka untuk kembali dengan selamat, hanya sedikit peluangnya.
Dihadapan Mereka adalah pasukan terbaik Kerajaan Heraklesh. Kerajaan Heraklesh adalah kerajaan tertua bangsa Siluman ras serigala. Bangsa siluman ras ini, adalah bangsa siluman terkuat kedua setelah ras rubah putih.
"PASUKAN GARDA TERDEPAN! MAJULAH! HINGGA DARAH PENGHABISAN UNTUK AKAIAKUMA DAN RAJA DE LUCE!!!!" Ucap komandan mereka.
"Raja Akaiakuma sialan, Dia ternyata selicik ini untuk memperkecil populasi kami sebagai Bangsa Non-Iblis"
Semua orang yang berada dibarisan depan berlari untuk melakukan penyerangan.
Pasukan Kerajaan Heraklesh bagian terdepan, melesatkan anak panah mereka yang beracun.
Ambareesh berjalan dengan santai dan berusaha untuk tidak terburu. Dia menengadahkan salah satu tangannya ke langit.
"Sihir ledakan, **Angin"
"WOSH! BWOSH**!"
Ambareesh mengeluarkan sihirnya di udara dan membuat arah anak panah yang melesat itu berantakan dan jatuh ke tanah begitu saja.
Sosok Iblis yang selalu memantau Ambareesh, menyeringai lebar dari kejauhan sambil duduk diatas dahan pohon besar.
"Haha, Alfarellza jalan kehidupanmu sangatlah mulus dan sangat teratur. Itu tidak diragukan lagi karena jiwamu itu, diciptakan atas sifat kesempurnaan yang sempurna. Ah~ Bila seperti ini terus, aku bisa kalah darimu untuk mendapatkan Aosora Arthur" Iblis itu, tertawa sambil menutup mata dengan tangan kirinya. Dia menarik rambutnya kebelakang dan warna iris matanya berbeda satu sama lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments